Senin, 02 Desember 2019

I B U




Tik tik tik … Bunyi hujan di atas seng rumah. Tanda musim penghujan sudah tiba. Kuambil baskom untuk menadah air yang menetes dari atap yang bocor. Rencana Ibu untuk memperbaiki atap rumah terhalang lagi.  Uang yang rencananya untuk membeli pengganti seng yang bocor kupakai untuk membayar uang sekolah.

Yah, beberapa bulan ini aku mesti menunggak pembayaran sekolah karena Ibu lagi sakit. Ibu terkadang masuk kerja kadang tidak. Ibu bekerja di rumah Hajjah Susanti. Di sana Ibu bekerja mencuci pakaian dan piring. Bukan cuma di sana tetapi juga di rumah tetangga yang memerlukan jasa Ibu. Maklum Ibu tidak punya pendidikan untuk melamar pekerjaan yang lebih dari itu.

Ibu pernah membuka usaha kelontong namun gulung tikar akibat kurangnya pembeli. Karena pembeli lebih suka membeli di Alfa Mart dan Indomaret. Begitulah, Alfa Mart dan Indomaret merangsek ke pemukiman penduduk. Banyak yang angkat tangan dalam bersaing dengan toko retail itu. Ibu juga pernah membuka usaha pulsa. Namun, usahanya kandas karena banyak yang pinjam dulu baru bayar kemudian. Untung kalau membayar, kalau pembayarannya tak kunjung tiba. Modal yang ada bisa ludes. Begitulah, akhirnya modal pun terkikis perlahan-lahan. Dan ibu menyatakan good bye dengan usaha perpulsaan.

Ibuku bekerja keras membanting tulang setelah Ayah meninggal dunia. Tak ada kata lelah baginya, yang penting anak semata wayangnya bisa makan, berpakaian serta mengeyam pendidikan yang layak. Tidak pernah Ibu mengeluh sekalipun walaupun dalam keadaan sakit. Jika ia masih bisa bangun, maka ia akan pergi bekerja. Tapi, beberapa hari ini Ibu menyerah dengan sakitnya. Ia tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Sepertinya ia demam. Sambil memijit kening Ibu, aku memulai percakapan dengannya.

“Ibu, besok kita ke Rumah Sakit, yah!”
“Ah, tidak usah, Nak. Nanti juga baikan kok.”
“Lho, kok Ibu ndak mau. Yang penting kita tau Ibu sakit apa.”
“Oh, iya klo begitu, baiklah Nak. Kita ke Puskesmas besok.”

Begitulah sosok Ibu. Kesehatannya sendiri tidak terlalu ia pikirkan.  Yang terpenting baginya adalah bagaimana ia bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kami dan menyekolahkanku setinggi-tingginya. Dari hasil kerja kerasnya itulah aku bisa sampai pada penghujung pendidikanku di bangku SMA sekarang. Aku juga mendapat bantuan pendidikan dari pemerintah selama menempuh pendidikan. Namun, bantuan itu tidaklah cukup karena sekolah yang kutempati termasuk sekolah yang cukup mahal pembayarannya. Rencananya selepas lulus SMA nanti, aku ingin menempuh pendidikan keperawatan. Semoga aku bisa mendapatkan beasiswa nanti.

Akhirnya tibalah pendaftaran mahasiswa baru di sebuah Akademi Keperawatan. Aku sudah bertekad bulat untuk serius belajar. Godaan untuk menjalin hubungan alias pacaran dari beberapa lelaki kutampik begitu saja. Bukannya aku tidak tertarik. Sebagai manusia biasa tentu saja aku juga punya ketertarikan dengan lawan jenis. Namun, aku berpikir menjalin hubungan atau pacaran bisa menyebabkan pendidikanku terganggu. Saat ini aku hanya mau serius belajar. Jika sudah usai kuliahku, aku mau bekerja dulu baru menjalin hubungan serius alias langsung menikah saja tanpa melalui proses pacaran.   Aku kasian dengan Ibu yang kerja keras menguliahkanku sementara aku asyik pacar-pacaran. Aah…ndak deh. Apalagi aku mulai belajar agama. Dan aku sudah mulai paham batas-batas dalam pergaulan.

Beberapa semester berlalu terasa begitu cepat. Keseriusanku dalam menempuh study mendapat ganjaran yang setimpal. Aku berhasil mendapatkan nilai-nilai yang memuaskan dari semua mata kuliah yang diajarkan di bangku kuliah. Dan, akhirnya akupun lulus dengan memuaskan sebagai lulusan terbaik tahun ini.  Dalam acara wisuda, ibuku menghadiri acara itu. Dengan mata berkaca-kaca, Ibu memelukku setelah acara selesai. Ia sangat bangga denganku.  Walaupun kondisi keuangan kami yang tidak memadai, aku bisa menyelesaikan kuliah dengan baik. Aku percaya semua ini berkat doa Ibu yang senantiasa ia lantunkan di sepertiga malam yang hening.

***********************

Selepas kuliah aku tidak mau berlama-lama menganggur. Aku ingin bekerja. Aku ingin meringankan bebannya yang selama ini dipikulnya. Aku mencoba melamar pekerjaan di sebuah rumah sakit. Namun, sudah  tiga kali aku memasukkan lamaran kerja. Tak satupun yang merespon dengan baik lamaranku. Lamaranku ditolak. Ternyata, nilai-nilai mentereng di ijazahku tidak serta merta membuatku bisa diterima dengan mudah bekerja. Atau mungkin Dewi Fortuna belum berpihak padaku.

Aku kecewa dan segala kekecewaanku kuutarakan kepada Ibu. Aku belum bisa membalas segala jasa dan kebaikan Ibu selama ini. Aku belum mendapatkan pekerjaan. Padahal dengan bekerja, aku yakin bisa membahagiakan Ibu. Aku bisa membelikan apa yang diinginkan Ibu. Dan kalau bisa aku ingin sekali mewujudkan cita-cita Ibu yang ingin sekali berkunjung ke baitullah. Harapan yang selama ini mustahil terjadi karena kondisi keuangan kami yang serba terbatas.

Ibu tersenyum mendengar semua keluh kesahku. Ibu berkata, “Nak, bersabarlah. Insya Allah suatu saat engkau akan bekerja juga. Tapi, jangan putus asa. Coba lagi besok, yah. Doa Ibu selalu menyertaimu, Nak.” Melihat teduhnya senyum Ibu dan perkataannya yang menyejukkan hati aku terhibur dan itu sudah cukup membangkitkan kembali semangatku untuk mencoba melamar pekerjaan kembali. Ayoo semangat gaes !!

Keesokan paginya, aku sudah siap berangkat kembali. Mencoba peruntungan.  Siapa tahu rezekiku sudah terbuka hari ini. Aku melangkah memasuki parkiran area rumah sakit yang cukup ternama di kota Makassar, Rumah Sakit Awal Bross. Dengan perasaan dag dig dug der, dumba-dumba’ istilahnya orang Makassar, menunggu para petugas kesehatan berdatangan.  Kayaknya aku kepagian datangnya. Rupanya aku terlalu bersemangat kali ini. Hehehe..

Akhirnya aku berhasil memasukkan surat lamaran kerjaku dengan sukses. Dari hasil perbincangan dengan para petugas kesehatan di rumah sakit, ternyata pada saat ini rumah sakit lagi membutuhkan beberapa perawat karena perawat yang lama ada yang sudah resign, ada yang cuti hamil dan ada yang berhenti tanpa alasan yang jelas. Wow…kebetulan sekali. Semoga kali ini aku bisa diterima bekerja di sini. Kata petugas yang menerima berkas lamaran kerjaku, “Dik, tunggu telpon dari kami, yah! Apakah Adik diterima bekerja di sini atau tidak tergantung dari pimpinan rumah sakit.” Jawabku sambil tersenyum, “Baik, Bu. Aku tunggu telponnya.  Aku berharap bisa diterima bekerja di sini.” Aku pulang dengan perasaan riang. Sepertinya, kali ini aku akan diterima bekerja, deh. Pikirku penuh harap.

Seminggu kulalui dengan penuh harap. Detik demi detik aku menunggu panggilan dari rumah sakit tempatku melamar pekerjaan. Tiap kali smartphoneku  berdering, aku akan segera mengangkatnya. Siapa tahu panggilan itu berasal dari pihak rumah sakit. Tapi ternyata, tiap menerima telepon aku mesti kecewa. Karena yang menelepon bukan dari yang kuharapkan. Sampai suatu saat kudengar hpku berdering lagi. Aku yang sementara berselancar di dunia maya tidak segera mengangkat teleponnya. Aku pikir panggilan itu panggilan nyasar. Karena nomornya tidak tersimpan di nomor kontakku.
Namun, tiba-tiba aku terkesiap, jangan-jangan telepon itu dari rumah sakit. Aku mencoba menghubungi kembali nomor yang menghubungiku tadi. Alhamdulillah, panggilan diterima.

“Halo…Assalamu alaikum, selamat siang” Aku mulai menyapa
“Waalaikum salam,” jawab seorang Ibu dari seberang sana.
“Iya Bu, mau bicara dengan siapa? Tanyaku.
“Oh, iya, Dik. Apa Adik yang bernama Safira Nur Khadijah?”
“Betul…Aku yang bernama Safira. Ada apa yah? Oh, yah dengan Ibu siapa?
“Saya, Ibu Rina dari Rumah Sakit Awal Bross. Adik yang melamar kerja di Rumah Sakit Awal Bross, kan? tanya Ibu Rina. Lanjutnya, “Adik diminta hadir ke rumah sakit besok untuk proses wawancara. Alhamdulillah, Adik diterima bekerja di tempat kami. Selamat yah, Dik. Semoga sukses.”
“Alhamdulilah... Terima kasih banyak atas infonya, Bu. Insya Allah, aku akan datang besok ke rumah sakit.

Ibu Rina mengucapkan salam mengakhiri percakapan kami via telepon. Aku sendiri merasa belum percaya dengan apa yang terjadi. Kucubit-cubit pipiku untuk membuktikan bahwa ini bukan mimpi. Aduuh…Sakiit. Rupanya aku tidak sedang bermimpi. Ini kenyataan gaes. Sepertinya aku mau berteriak seperti anak kecil…Horeee…Aku diterima kerja. Sya la la la. Aah alay deh… Astagfirullah. Mestinya aku lebih banyak bersyukur. Alhamdulillah wa syukurillah.

Aku langsung mencari Ibu yang sementara berada di halaman. Ibu sedang menikmati keindahan bebungaan yang sementara bermekaran. Ibu memiliki hobbi menanam bunga. Aku tinggal menikmati keindahan bunga itu. Hasil tangan dingin Ibuku yang tersayang.

“Ibuu…Aku diterima kerja, Bu.”
“Iya, Nak. Betulkah itu? Alhamdulillah.”
“Iya, Bu. Alhamdulillah.”

Aku memeluk Ibu dengan erat sambil mencium pipinya. Ibu kelihatannya sangat bahagia melihatku  riang kembali. Setelah beberapa hari ini kelihatan murung.  Akibat menunggu panggilan kerja yang tak kunjung tiba. Ibu sebenarnya tak mempermasalahkan aku yang belum bekerja. Rupanya ia ingin menjodohkan aku dengan anak teman baiknya. Tapi aku menolak karena aku belum kepikiran untuk segera menikah. Aku mau bekerja dulu seperti yang pernah kucita-citakan dahulu.


************************

Akhirnya, aku bekerja sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Awal Bross. Rumah sakit bertaraf internasional. Gajinya lumayan untuk kehidupan sehari-hari dan sisanya bisa kutabung. Ibu kuminta untuk berhenti bekerja. Ibu bersedia berhenti bekerja membantu tetangga. Tetapi dengan satu syarat, ia ingin  membeli mesin jahit. Ia ingin bekerja menjadi penjahit. Kebetulan ia pernah kursus menjahit. Aku menyetujui keinginan Ibu.

Usaha jahitan Ibu ternyata berkembang. Dari hari ke hari, Ibu semakin banyak menerima orderan jahitan. Menurut pemakai jasa Ibu, jahitan Ibu cukup rapi dan ongkosnya cukup terjangkau. Namun, Ibu tak bisa mengambil terlalu banyak orderan. Karena tenaganya yang terbatas. Lagi pula kadang orderan  yang masuk serba mendadak. Ini hari dibawa, besok sudah mau diambil. Mana bisa?? Kecuali hanya menjahit rok yang sobek. Itu bisa dikerja dalam hitungan menit. Aku meminta kepada Ibu supaya jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja.

Suatu hari Ibu kelihatan meringis di depan mesin jahitnya ketika ia ingin menyelesaikan orderan jahitannya. Aku sangat mengkhawatirkan keadaan Ibu. Sudah beberapa hari ini Ibu tampak kurang sehat. Aku mengajaknya ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan Ibu. Dari hasil diagnosa, Ibu menderita penyakit gagal ginjal. Penyakitnya itu sebenarnya sudah lama Ibu derita. Mungkin Ibu terlalu kelelahan bekerja dan kekurangan asupan cairan sewaktu bekerja. Ternyata, selama ini Ibu menyembunyikan penyakitnya. Ia tidak pernah menceritakan penyakitnya padaku. Sepertinya Ibu takut aku bersedih jika aku mengetahui bahwa ia sedang sakit.

Kesehatan Ibu semakin memburuk. Apalagi ia mesti menjalani hemodialysis. Tubuhnya semakin mengurus. Karena ia tidak berselera makan. Hanya satu keinginannya sekarang, ia ingin melihatku menikah sebelum ajal menjemputnya. Keinginannya aku turuti. Aku menerima lamaran seorang pria. Pria itu anak teman baik Ibu. Saya percaya Ibu tidak salah memilihkan jodoh buatku. Kata Ibu, anak temannya itu sering ke rumah bersama ibunya sewaktu kami kecil. Katanya, aku pernah berteman dan bermain bersama dengannya. Dulu waktu aku dan dia masih kecil. Aku sudah lupa masa-masa itu. Ia dan keluarganya kemudian pindah ke kota lain. Namun, hubungan Ibu dan temannya itu masih terjalin dengan baik sampai saat ini. Apalagi dengan fasilitas media sosial yang tersedia sekarang. Komunikasi berjalan dengan lancar yang penting ada kuota data internet.

Ibuku meninggal setelah beberapa hari aku menikah. Aku sangat bersedih karena kepergian Ibu terlalu cepat. Sungguh....Aku terpukul dengan kepergian Ibu. Aku merasa belum cukup berbakti kepadanya. Dan aku belum bisa membahagiakannya. Namun aku harus merelakan kepergiannya. Selamat jalan, Ibuku tercinta. Doaku selalu menyertaimu…

*************************

Setelah Ibu meninggal, aku masih tetap bekerja di rumah sakit. Tentunya dengan seizin suamiku. Suatu ketika, saat aku sedang berjalan ke kamar untuk memeriksa keadaan pasien. Aku melihat seorang pria separuh baya yang sedang berbaring lemah di atas tempat tidur. Ia kaget melihatku. Rupanya, ketika ia melihatku seperti ia sedang mengingat seseorang. Ia memanggilku dengan memberi isyarat tangan. Aku berjalan ke arah bapak itu.

“…S a f i r a Nur Khadijah...” Bapak itu membaca papan nama di bajuku.
“Iya, Pak. Ada apa?” tanyaku.
“Kamu mengingatkan aku kepada seseorang, Nak…” jawab Bapak itu.
“Siapa pak?” Aku cukup penasaran dengan si Bapak.
“Seorang perempuan yang pernah kutinggalkan berpuluh tahun yang lalu. Dia adalah isteriku. Aku meninggalkannya dengan anakku yang masih sangat kecil. Anakku itu seorang perempuan. Namanya mirip dengan namamu. Safira Nur Khadijah. Siapa nama ibumu, Nak?”
“Ibuku bernama Nurul.”
“Kok bisa sama yah, nama ibumu dengan nama isteriku. Nama anakku dengan namamu. Apakah engkau adalah anakku, yah?”
“Oh tentu bukan, Pak. Kata ibuku, ayahku sudah lama meninggal. Waktu aku masih kecil. Sampai sekarang, aku tidak mengingat wajah ayahku. Foto-foto ayahku disimpan oleh Ibu dalam lemari. Mungkin ia bersedih kalau ia melihat kembali foto Ayah. Ia akan terkenang dengannya. Dan aku tidak pernah mencoba meminta Ibu untuk memperlihatkan foto-foto Ayah.”
“Mungkin, engkau ingin melihat foto isteri dan anak bapak.  Foto itu kutaruh di dompet.”

Bapak itu kemudian mengambil sebuah dompet. Ia mengambil sehelai foto dan memperlihatkannya padaku. Di dalam foto itu tampak seorang bapak, seorang ibu dan anak perempuannya. Wajah perempuan yang ada dalam foto itu mirip sekali dengan wajah Ibu. Mungkinkah itu Ibuku? Mungkinkah anak perempuan yang ada dalam foto itu adalah aku? Dan mungkinkah bapak yang ada dalam foto itu adalah ayahku? Dan kini Ayah sedang berada tepat di hadapanku. Perasaanku berkecamuk. Berbagai pertanyaan timbul dalam benakku. Mengapa Ibu tidak pernah menceritakan ini semua padaku? Mengapa dan Mengapa?

“Kalau Engkau ingin membuktikan bahwa aku ini bapakmu dan engkau adalah anakku," kata bapak itu. Lanjutnya, “Cobalah buka lemari ibumu. Dan ambil album foto di dalamnya. Engkau bisa menyamakan foto ini dengan foto-foto yang berada dalam album itu.”

Aku minta izin pulang kepada dokter penjaga. Ia mengizinkan aku pulang cepat. Aku ingin segera membuktikan kebenaran ucapan bapak yang mengaku ayahku itu. Sejak dulu aku tidak pernah sedikitpun berpikir bahwa Ayah masih hidup. Kuambil motor dan kupasang helm di kepalaku. Aku meluncur ke arah rumahku. Tak lama kemudian aku tiba di rumah. Suamiku sedang tak ada di rumah. Ada jadwal mengajar hari ini di kampus.  Aku langsung masuk ke kamar Ibu. Dan menghampiri sebuah lemari antik. Aku mencari kuncinya. Kuncinya ternyata ada di atas lemari. Lemari itu terbuka. Aku mengambil album foto di dalam laci lemari. Album foto yang sudah tua. Aku membuka album foto itu. Foto yang diberikan bapak itu mirip dengan foto-foto yang kutemukan di dalam album foto itu.

Aku tidak tahu mau berbuat apa. Aku merasa syok. Aku tidak tahu apakah aku mesti bahagia atau marah. Kalau memang ia ayahku, kenapa ia meninggalkan kami? Apakah Ayah tidak mencintai Ibu atau paling tidak, mencintai aku, darah dagingnya sendiri? Mengapa dulu Ayah begitu tega meninggalkan aku yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah?

Pertanyaan silih berganti merasuki alam pikiranku. Aku harus segera mendapat jawabannya. Kularikan kembali motorku ke arah rumah sakit. Aku ingin segera menjumpai bapak itu kembali. Dan menanyakan semua yang mengganjal di benakku. Sang bapak menjelaskan mengapa ia meninggalkan Ibu dan aku.

Waktu itu, ketika mereka menikah mereka masih belia. Karena rasa cinta yang begitu besar antara mereka. Mereka tidak bisa dipisahkan lagi. Mereka bagaikan Romeo dan Juliet. Di mana ada Ayah, di situ ada Ibu. Sehingga mereka dinikahkan oleh orang tua mereka.  Namun, ternyata dalam perjalanan pernikahan mereka kerap terjadi pertengkaran. Sikap perhatian antara mereka berubah setelah menikah. Apalagi ketika sang isteri hamil, tentunya butuh perhatian lebih, tapi sang suami malah asyik bermain dengan teman-temannya. Ketika ada masalah, tak ada yang mau mengalah. Sampai suatu ketika ada perempuan lain yang memikat hati Ayah. Ayah yang kepincut, memilih kawin lari dengan perempuan itu. Ia meninggalkan Ibu dan aku yang masih kecil. Kemudian ia tersadar dan kembali mencari Ibu dan aku. Namun, ia tidak menemukan kami. Ternyata, kami sudah pindah ke kota lain. Dan ia tidak menemukan jejak mereka.

Setelah mendengar penjelasan Ayah, aku tidak tahu mau bersikap bagaimana. Seharusnya aku marah kepada Ayah karena ia telah meninggalkan kami, Ibu dan aku. Tetapi, entah mengapa rasa marah itu sirna melihat kondisi Ayah saat ini. Yang terbaring lemah di pembaringan.

“Aku minta maaf padamu, Nak,” pinta bapak. Lanjutnya, “Ijinkanlah Ayah untuk ketemu ibumu!”
“Untuk apa, Pak? Ibu sudah melupakan semuanya.”
“Bapak hanya ingin minta maaf kepada ibumu, Nak.”
“Minta maaf…Minta maaf sudah tidak bisa lagi, Pak.”
“Kenapa, Nak?” tanya Bapak. Lanjut bapak, “Padahal Ayah sangat berharap bisa meminta maaf kepada ibumu, sebelum ajal menjemputku.”
“Soalnya, Ibu sudah meninggal dunia, Pak.”
“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Ya, Tuhaan, aku belum sempat memohon maaf padanya.”

*************************

Aku meninggalkan Ayah yang bersedih mendengar kabar tentang Ibu. Penyesalan datang menghinggapinya tanpa terbendung. Aku sendiri belum bisa menerima kehadiran Ayah begitu saja. Yang sekian lama dan bahkan sudah bertahun-tahun, kuanggap telah tiada. Kini tiba-tiba muncul di hadapanku. Akankah suatu hari nanti aku bisa menerima Ayah kembali dalam kehidupanku? Karena biar bagaimanapun ia adalah ayah kandungku. Aah, biarlah waktu yang akan menjawabnya.

Minggu, 01 Desember 2019

PALESTINA WILL BE FREE


Belakangan ini, beranda Facebook dipenuhi oleh berita duka. Berita duka dari Gaza, Palestina. Gaza yang dihujani roket yang ditembakkan oleh tentara Israel menyebabkan beberapa rumah hancur. Bahkan menimbulkan korban yang meninggal maupun luka dari beberapa keluarga. Simpati dan empatipun berdatangan dari berbagai belahan dunia. Termasuk dari Indonesia. Berbagai cara dilakukan untuk menunjukkan simpati. Bahwa mereka, penduduk Palestina tidak sendirian. Banyak yang mendukung mereka. Aksi pembantaian Israel adalah isu kemanusiaan. Karena itu demonstrasi pro gaza tidak hanya terjadi di Negara Islam, namun melanda seluruh dunia, termasuk Eropa dan Amerika Latin.

Bukan kali ini saja penduduk Palestina merasakan kekejaman zionis Israel. Hal ini sudah berlangsung sejak lama. Semenjak masa pendudukan dimulai, kekejaman itu berlangsung terus menerus. Pada perang 1948 saja,  rezim zionis melakukan penghancuran atas desa-desa bangsa Palestina, Israel tercatat menghancurkan, menistakan, dan mengubah fungsi-fungsi tempat-tempat  suci umat Islam Palestina. Bisa dibayangkan penderitaan bangsa Palestina dengan tindakan zionis Israel yang zalim itu.

Wilayah Palestina yang pada awalnya meliputi kawasan yang luas. Akibat pendudukan zionis Israel di wilayah Palestina itu, berangsur-angsur menyusut menyisakan wilayah Tepi Barat dan Gaza. Imigran Yahudi didatangkan dari berbagai belahan dunia, khususnya dari Eropa untuk menempati wilayah-wilayah Palestina yang diduduki oleh tentara pendudukan Israel itu. Dan yang lebih menyedihkan lagi, wilayah yang tersisa, Gaza pun mengalami pemblokadean oleh bangsa penjajah itu.

Menurut Muhsin Labib, dalam bukunya, Gelegar Gaza, Sejak pertengahan 2007, Jalur Gaza, di Palestina, sebuah wilayah yang tidak mencapai setengah luas Jakarta dan padat dihuni oleh lebih dari 1,5 juta populasi, diblokade dari darat, laut, dan udara. Penduduknya dipaksa bergantung hidup dari bantuan kemanusiaan yang aksesnya juga dibatasi tentara pendudukan Israel. Banyak orang menyebut wilayah jalur pantai ini sebagai “penjara paling besar di dunia” (the biggest prison in the world).

Penduduk Gaza hidup kedinginan karena minimnya pasokan listrik dan bahan bakar untuk menghangatkan tubuh. Ratusan bayi kekurangan gizi. Mereka yang sakit  dan perempuan-perempuan hamil kerap harus meregang nyawa karena kurangnya persediaan obat-obatan, atau terbatasnya akses ke rumah-rumah sakit di luar perbatasan.

Hidup tanpa pilihan di bawah blokade yang ketat seperti itu  membuat mereka, melihat bahwa perlawanan adalah satu-satunya pilihan. Mereka menggali terowongan-terowongan sempit melintasi perbatasan  demi bertahan hidup. Mereka menembakkan roket-roket primitif demi meneriakkan perlawanan terhadap ketidakadilan  yang ditimpakan kepada mereka, tutur Muhsin Labib lebih lanjut dalam buku tersebut.

Bangsa Israel yang mengklaim Palestina sebagai tanah yang dijanjikan merasa berhak untuk menguasai tanah yang dulu pernah ditinggalkannya berabad-abad tahun yang lalu. Namun tanah itu sudah didiami oleh bangsa lain, sehingga mereka berusaha mengusir mereka dengan cara-cara di luar batas kemanusiaan. Berbagai dukungan dan penolakan terhadap pendudukan dan pemblokadean Gaza berdatangan dari berbagai belahan dunia. Termasuk dari seorang perempuan yang bernama Rachel Corrie. Rachel Corrie inilah yang diabadikan sebagai nama sebuah kapal pengangkut bantuan kemanusiaan untuk Gaza.

Ahmad Rifai Rifan menceritakan kisah perjalanan dan perjuangan Rachel Corrie di Palestina, dalam bukunya, Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati. Dikisahkan bahwa Rachel Corrie adala seorang gadis muda dari Washington. Ia menamatkan pendidikannya di SMA, kemudian melanjutkan studinya ke Evergreen State College. Di sinilah Corrie bergabung dengan sebuah gerakan kemanusiaan yang didirikan tahun 2001. Gerakan kemanusiaan itu bernama ISM (International Solidarity Movement). Gerakan ini berupaya untuk menekan Israel dan tentaranya supaya menghentikan penjajahan terhadap Palestina.

Corrie berangkat ke Rafah di Jalur Gaza pada tahun 2003 dan mengikuti pelatihan di sana untuk menjalankan aksi damai. Corrie menyaksikan secara langsung betapa banyaknya rumah warga Palestina yang dihancurkan Zionis Israel dengan kejamnya. Dia juga menyaksikan warga Palestina yang terbunuh setiap saat. Ia merekam kejadian ini di dalam e-mail yang dikirmkan kepada keluarga dan teman-temannya di Washington.

“Wahai kawan dan keluarga, saya sudah dua pekan satu jam di Palestina. Saya masih kesulitan berkata-kata untuk bisa menggambarkan kondisi yang saya lihat di sini. Sungguh ini kondisi paling sulit buat saya untuk memikirkannya sambil duduk dan menuliskan kembali setelah berada di Amerika,” Demikian bunyi e-mail Corrie.

Sampai suatu hari, Corrie melihat adanya penggusuran paksa yang dilakukan oleh Tentara Israel. Saat itu, Corrie secara spontan berupaya untuk menghentikan penggusuran itu. Namun, upaya Corrie tidak berhasil. Buldozer tetap melaju menuju rumah-rumah warga. Corrie ingin menghalangi lajunya karena Corrie mengetahui bahwa di dalam rumah-rumah itu masih ada warga.

Corrie berusaha sekuat tenaga. Corrie berteriak tapi tidak digubris sang penggusur. Bulldozer itu tetap melaju. Perempuan muda asal Washington itu pun pasang badan. Ikhtiar Corrie ini pun harus dibayar mahal. Buldozer Israel itu menabrak dan melindah tubuh Corrie berulang kali tanpa ampun. Tubuh pejuang Corrie pun hancur. Corrie pun meninggal di usia yang sangat muda, 23 tahun. Sejak saat itu ia pun menjadi martir bagi perjuangan membela Gaza. Nama Corrie pun diabadikan sebagai pejuang kemanusiaan.

Demikian kisah perjuangan Rachel Corrie  di Palestina. Luar biasa perjuangan dan pengorbanannya, bukan? Corrie yang non muslim rela mengorbankan jiwanya untuk membela orang-orang yang tertindas di Palestina. Ini membuktikan bahwa apa yang terjadi di Palestina adalah tragedi kemanusiaan. Walaupun ada segelintir zionis sawo matang di tanah air yang membela Israel. Namun, sebagian besar penduduk Indonesia mendukung kemerdekaan bangsa Palestina. Sebagai komitmen bangsa kita  yang anti penjajahan. Bahwa Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.

Bangsa kita cukup lama merasakan penjajahan dan penindasan bangsa Asing. Dan hal itu sangat-sangat tidak menyenangkan. Dan saat ini kita ikut merasakan apa yang dirasakan oleh saudara kita di belahan dunia lain. Dan tentu saja ingin terlibat membantu mereka dengan berbagai cara, sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang menyalurkan bantuan dana, ada yang senantiasa menshare berita-berita tentang kondisi Palestina terkini. Dan ada pula yang selalu mendoakan saudara-saudara mereka yang ada di Palestina. Apapun bentuk dukungan kita terhadap perjuangan Palestina akan sangat berarti bagi mereka.

Sebagai warga negara Indonesia, saya bersyukur pemerintah kita senantiasa berperan aktif dalam membela perjuangan bangsa Palestina di forum-forum Internasional. Dan satu lagi, saya bangga negara kita tidak pernah menjalin kerja sama dengan negara penjajah itu. Apalagi memberikan izin untuk membuka kedutaan mereka di negara kita. Seperti yang dilakukan oleh negara-negara yang menjadi kebanggaan sebagian umat Islam di negara kita  seperti Arab Saudi dan Turki. Namun, sebagai pribadi, saya merasa bahwa belum bisa berbuat apa-apa untuk mereka, belum bisa memberikan sumbangsih yang cukup berarti terhadap perjuangan bangsa Palestina. But, I always hope, Palestina will be  Free...

Sumber Gambar  by Google

Selasa, 29 Oktober 2019

Mengenal Fatimah Az-Zahra Lewat Buku


Sejak kecil sampai besar, dari bangku SD sampai SMA saya tidak pernah mengenal sosok Fatimah Az-Zahra selain hanya sebagai salah satu putri Nabi Muhammad SAW dan isteri dari Ali bin Abi Thalib. Nanti setelah duduk di perguruan tinggi, yaitu pada saat ikut Bastra atau Basic Training HMI pada 1997 silam, saya baru mengenal sedikit demikit tentang beliau. Saya mulai mengenal beliau lebih dekat  melalui salah satu materi akhwat yang bertema Teladan-Teladan Muslimah.

Salah satu materi akhwat itu diberikan setiap ba'da sholat subuh pada waktu itu. Materi Teladan-Teladan Muslimah pada waktu itu rutin diberikan kepada peserta akhwat pada setiap acara basic training HMI MPO. Materi itu berisi keutamaan empat perempuan yang dijamin masuk surga. yaitu, Asiyah binti Mazahim, Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah binti Muhammad.

Keempat perempuan mulia itu adalah teladan yang sempurna bagi muslimah. Mereka adalah penghulu perempuan pada zamannya, kecuali Fatimah Az-Zahra yang merupakan penghulu perempuan sepanjang masa. Sejak saat itulah saya sangat tertarik dengan Fatimah Az-Zahra. Namun pada saat itu pengetahuan saya masih terbatas tentang beliau. Maklumlah, saya belum bisa membeli buku pada waktu itu karena terbatasnya isi dompet. Saat itu saya masih kuliah jadi belum punya pendapatan sendiri. Duit yang diberikan oleh orang tua hanya cukup untuk biaya kuliah. Itu pun juga sudah alhamdulilah. Sudah diberikan kesempatan untuk mencicipi ilmu di perguruan tinggi.

Kekaguman kepada bunda Fatimah Az-Zahra semakin bertambah ketika saya kemudian sering diberi amanah untuk membawakan materi keakhwatan tersebut pada acara basic training. Namun, saat itu belum banyak referensi yang saya miliki sehingga isi materi yang diberikan berasal dari apa yang disampaikan oleh senior-senior kohati. Ketika menyampaikan materi teladan-teladan muslimah dalam acara Bastra HMI.

Belum selesai kuliah, saya sudah menikah dengan teman satu organisasi.  Saat itu, ia  belum bekerja karena masih menjadi pengurus inti. Kebetulan ia terpilih menjadi ketua, beberapa bulan sebelum kami menikah.  Selesai kepengurusan, suami bekerja dengan menjadi penerjemah atau transalator bahasa Inggris.

Saya baru bisa membeli satu demi satu buku tentang Fatimah Az-Zahra ketika keuangan keluarga semakin membaik. Untungnya saya dan suami punya kegemaran yang sama, suka membaca buku. Dan yang paling penting,  suami tidak pernah melarang untuk membeli buku  kecuali pada saat akhir bulan..😊😁

Dari beberapa buku tersebut, saya sedikit banyak mengenal kepribadian, kemuliaan dan keistimewaan bunda Fatimah Az-Zahra walaupun hanya lewat kisah tentang beliau yang dituturkan lewat buku.  Sungguh, beliau adalah sosok teladan sempurna bagi seorang muslimah, baik sebagai seorang anak, isteri maupun sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya.

Semoga ikhtiar mengenal beliau dan sedikit banyak upaya meneladani beliau walaupun rasanya berat, bisa membuatku mendapatkan syafaat dari ayahandanya dan beliau sendiri, kelak di kemudian hari.

@Rumah Baca Smart & Cool

Senin, 28 Oktober 2019

Kebutuhan Berkomunitas


Beberapa waktu yang lalu, seorang teman karib mengajakku untuk ikut dalam sebuah rapat yang diadakan oleh sebuah komunitas. Ia termasuk dalam pengurus komunitas itu sedangkan saya memutuskan untuk tidak ikut terlibat dalam komunitas itu dengan berbagai pertimbangan.

Saya menolak dengan halus. Saya mengatakan bahwa saat ini saya lebih memilih untuk aktif dalam komunitas lain. Yang menurut saya, saya lebih cocok berada di dalam komunitas tersebut. Katanya, ia ingin berkomunitas lagi. Berkumpul dengan teman-teman dan melakukan kegiatan yang bermanfaat. Saya bilang, hadir saja dalam rapat itu, penuhi undangannya. Tapi, klo saya, saya tidak bisa hadir. Karena selain saya bukan pengurus lagi, saya juga tidak bisa selalu keluar rumah karena kesibukan yang ada.

Yah, berkumpul dan berkomunitas bagi setiap orang itu merupakan sebuah kebutuhan. Apalagi dengan yang satu hobi, kesukaan atau pun  satu pemikiran. Banyak komunitas yang terbentuk di masyarakat. Semisal komunitas majlis taklim, komunitas pencinta vespa, komunitas sholawatan, dan yang lain-lain. Yang intinya adalah berkumpul dan melakukan kegiatan bersama.

Bagi yang sudah terbiasa berkomunitas, sangat tidak enak rasanya jika terputus atau tidak lagi berkomunitas. Rasa galau, sepi dan banyak lagi rasa-rasa lain akan menghinggapi. Apatah lagi kalau kita tergabung dalam komunitas pengajian. Mengkaji ilmu dan ma’rifat. Sekali saja kita tidak hadir, maka sungguh hati resah. Seakan ada yang kurang dalam hidup ini. Siraman rohani yang melembutkan hati, pengingat akan kematian pasti datang, kecintaan kepada Allah, Rasulullah dan keluarganya, dan masih banyak yang lain. Akan terasa rugi jika tidak menghadirinya.

Dalam komunitas yang terdiri dari banyak orang, tentu saja juga banyak pemikiran di dalamnya. Terkadang, kesalahpahaman antar anggota atau pimpinan dengan anggota bisa terjadi. Di sini dibutuhkan kedewasaan dalam menyikapinya. Terkadang ada rasa baper melanda karena ada satu masalah. Namun, rasa itu tidak boleh sampai membuat kita menghindar atau melarikan diri dari komunitas. Atau sebagai pimpinan mengeluarkan anggota dari jamaah. Masing-masing perlu menahan diri demi kepentingan bersama.

Satu hal yang disayangkan jika dalam suatu komunitas, komunitas yang sudah lama terbangun, terjadi perpecahan. di mana satu pihak melarang pihak lain untuk memberi kontribusi dalam membina kader. Dengan alasan bahwa pihak tersebut memiliki pemikiran yang berbeda dengan pihak yang melarang. Padahal sejak dulu dalam komunitas tersebut sudah sejak lama berbagai corak pemikiran sudah berkembang. Hal ini sama saja mematikan dinamika organisasi komunitas tersebut, padahal di situlah justru daya tarik dari komunitas itu.

Bercermin dari berbagai peristiwa dalam berkomunitas, apakah komunitas itu akan bertahan, mengalami kemajuan atau akan mengalami kemunduran atau pun stagnan. Hal itu ditentukan oleh sikap anggota komunitas terhadap anggota komunitas lain, adanya program kerja yang menarik dan kemampuan manajemen dari pimpinan komunitas. 

Satu hal yang pasti, kita tetap membutuhkan komunitas. Karena kita membutuhkan teman yang mempunyai minat yang sama, kebutuhan yang sama ataupun kecintaan yang sama. 


Sabtu, 26 Oktober 2019

HIJAB DAN IFFAH FATIMAH AZ-ZAHRA





Nabi Muhammad SAW adalah uswatun hasanah atau suri tauladan bagi umat Islam. Akhlak Rasulullah adalah Al Qur’an. Maka wajarlah kalau dikatakan bahwa Rasulullah adalah Al Qur’an berjalan. Dan orang yang paling mirip dengan Rasulullah adalah putrinya, Fatimah. Sehingga Fatimah adalah teladan sempurna bagi muslimah. 

Sebagai seorang yang mengaku muslimah seyogyanya akan menjadikan beliau sebagai teladannya. Apalagi beliau adalah penghulu wanita surga. Karena pada diri beliau terdapat sejumlah keagungan sebagaimana yang dimiliki oleh Muhammad SAW.

Salah satu sunnah Fatimah sehingga memiliki kedudukan yang sangat tinggi adalah ketatnya menjaga hijab dan mewasiatkannya. Salah satu ucapannya, “Yang terbaik bagi wanita adalah tidak melihat lelaki, dan lelaki tidak melihatnya.”

Pada kesempatan yang lain, beliau bersabda, “Kondisi yang paling mendekatkan wanita kepada Allah adalah berdiam diri di dalam rumah.” Rasulullah SAW ketika mendengar kalimat tersebut bersabda, ”Fatimah adalah bagian dari saya.”

Dalam bekerja, beliau juga sangat ketat menjaga hijab dan tidak pernah sekalipun bercampur dengan orang yang bukan muhrim.

Imam Ali berkata, “Suatu hari orang buta meminta izin menemui Fatimah, ia bersembunyi di belakang tirai, Rasulullah bersabda, “Mengapa kau bersembunyi, ia tidak melihatmu? Fatimah menjawab, “Akan tetapi saya melihat ia, dan ia juga mencium aroma badanku! Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah, engkau adalah bagian dariku.”

Ketika Rasulullah  membagi pekerjaan suami isteri, pekerjaan di luar rumah Ali yang bertanggung jawab sementara pekerjaan dalam rumah Fatimah yang bertanggung jawab, Fatimah begitu senangnya berkata, “Selain Allah tidak ada orang yang tahu betapa aku sangat bergembira, ayahku menghilangkan dariku berhadap-hadapan dengan lelaki yang bukan muhrim.”

Begitu pentingnya hijab dan iffah di mata Fatimah, sehingga tidak rela sekalipun setelah ia meninggal, orang yang bukan muhrimnya melihat bentuk badannya dan berkata kepada Asma, “Saya kurang senang tata cara memandikan mayat, yang membentangkan kain yang memperlihatkan bentuk badan wanita.” 
Asma berkata, “Wahai putri Rasulullah, saya melihat di Habasyah (Ethiopia) mereka membuat tabut, kemudian kain diletakkan di atasnya, sehingga ketika wanita dimandikan bentuk badan wanita tidak terlihat.” Fatimah, yang menurut riwayat tak seorang pun yang pernah melihatnya tertawa sepeninggal ayahnya, ketika melihat tabut tersebut, tersenyum dan berkata, “Betapa indah dan bagusnya, karena dengan tabut ini orang-orang bahkan tidak bisa membedakan pria atau wanita.

Dalam catatan perjalanan sejarah Rasulullah dan keluarganya, tidak pernah tertulis bahwa Fatimah dan putri-putri, isteri-isteri, dan saudari dari  wali Allah, Ulama Rabbani dan para sholihin ikut serta dalam berbagai pesta dan perayaan yang di sana bercampur dengan bukan muhrim dan berbangga dengan hal tersebut. Menghadiri pesta dan perayaan dan bercampur antar pria dan wanita jika dianggap sebagai kebanggaan, maka Fatimah yang memiliki keutamaan dan keistimewaan, tentu akan merasa bangga dengan hal tersebut.

Begitulah keutamaan Fatimah dalam menjaga hijab dan iffahnya. Masih banyak keutamaan lainnya yang bisa kita contoh atau teladani. Kehidupan beliau adalah kehidupan yang diwarnai kesucian, kesederhanaan, pengabdian, perjuangan serta pengorbanan. Beliau adalah sebaik-baik contoh bagi kaum muslimah. Karena beliau adalah penghulu para wanita seluruh alam dan penghulu para wanita di surga.

Siapa sih yang tidak mau menjadikan teladan seorang wanita penghulu para wanita di surga? Tentunya kita semua menginginkannya.  Menjadi seorang wanita seperti beliau walaupun itu rasanya tidak mungkin. Karena begitu banyak kekurangan yang ada pada diri kita. Namun, menjadikannya teladan, setidaknya menjadikan kita punya rambu-rambu bagaimana kita menjalani kehidupan ini seperti yang telah dicontohkan oleh beliau. Semoga kita bisa dipertemukan dengan beliau, Bunda Fatimah di surga-Nya nanti.

Penutup dari uraian ini, bahwa keutamaan dan kebanggaan adalah ketika seorang muslimah bisa tetap menjaga hijab dan iffahnya, namun tetap berusaha mendapatkan pendidikan yang terbaik, kemajuan ilmu pengetahuan dan maknawi dalam berbagi aspek kehidupan duniawi, baik dalam bentuk personal maupun dalam masyarakat. Yang terpenting dan sangat berperan adalah mengabdikan diri dan menjaga aturan-aturan dalam rumah tangga serta mempersiapkan kondisi demi keberhasilan dirinya, suami dan anak-anaknya. Mampukanlah kami, ya Allah ya Rohman..

Allohumma sholli ala Muhammad wa ali Muhammad.

Sumber :
-Fatimah Az-Zahra, Buah Hati Rasulullah SAW

Sumber foto by Google



Jumat, 25 Oktober 2019

KONTROVERSI PAKAIAN NASIONAL




Dalam beberapa postingan di media social, banyak yang mengunggah tentang pakaian nasional. Bahwa pakaian nasional itu adalah kebaya.  Sebenarnya hal itu sah-sah saja. Akan tetapi, hal itu menjadi soalan ketika dibanding-bandingkan busana berjilbab ataupun cadar. Yang katanya merupakan budaya Arab. Ada juga yang mengatakan itu budaya Yahudi.

Budaya sebagai hasil cipta manusia mengalami benturan atau pergesekan yang saling memengaruhi satu sama lain. Jadi tidak ada yang betul-betul budaya asli dari suatu daerah. Karena sudah mendapat pengaruh dari berbagai macam budaya. Apalagi Negara kita Indonesia ini yang terdiri dari berbagai suku dan bangsa. Juga terdiri dari beribu pulau yang bertebaran di nusantara ini. Terutama dalam hal berbusana. Tentu saja ada banyak perbedaan, walaupun tidak menutup kemungkinan banyak juga persamaannya.

Dalam hal pakaian, pakaian perempuan suku Jawa dengan kebayanya berbeda dengan pakaian perempuan suku Asmat di Papua. Ketika kita mengakui bahwa kebaya adalah pakaian nasional, apakah kita berani mengakui bahwa busana suku Asmat, yang maaf, notabene nyaris telanjang, ada? Juga busana adat dari suatu suku dari daerah Bima yang bernama Rimpu. Itu menyerupai busana bercadar. Apakah kita juga bisa mengatakan bahwa busana nasional itu termasuk Rimpu? Lalu kenapa hanya kebaya yang selalu digaung-gaungkan sebagai pakaian nasional bukan yang lainnya. Bahkan kemudian kebaya dihadap-hadapkan dengan busana berhijab, di mana notabenenya di daerah Indonesia pun punya model pakaian berhijab. Mengatakan ini budaya asli lah..ini budaya import lah..Khan tidak lucu. Jadi, menurut saya, pakaian nasional itu tidak boleh ditetapkan karena hanya mewakili pakaian daerah tertentu saja.

Kalaupun pakaian nasional kita adalah kebaya. Tetap saja pakaian itu hanya dipakai dalam acara-acara khusus. Seperti pada acara tujuhbelasan, hari kartini. Selebihnya, perempuan Indonesia memakai kaos oblong, kemeja, daster, gamis dan yang lainnya. Bahkan hampir setiap hari mereka memakai pakaian yang semacam itu.
Satu lagi, menurut Airlangga Pribadi, kesalahpahaman menempatkan kebaya sebagai penanda antagonism antara politik nusantara vis a vis politik Islam –Arab. Politik budaya asli versus politik budaya import. Mengapa demikian, karena selain tidak berfaedah bagi pembentukan komunikasi terbuka dalam ruang public kita yang sudah terbelah, narasi berbasis oposisi biner ini juga menunjukkan bahwa kita rabun jauh akan khazanah sejarah dan anthropologi kebudayaan. Membenturkan budaya asli dan yang import itu absurd, itu sama dengan membenturkan pribumi vs pribumi. Bagaimana kita mengidentifikasi kemurnian dan keaslian diri kita, padahal nenek moyang kita sendiri berasal dari daerah rantau yang ribuan tahun lalu berimigrasi dari Afrika ke China lalu ke Nusantara.

Oh yah ada yang mengatakan bahwa  kebanyakan teroris itu bercadar sehingga perlu ada pelarangan di Negara kita. Ah…masa sih? Memangnya AM rozi, teroris bom bali dan teroris di new Zealand itu bercadar. Tidak kan? Pelarangan terhadap cadar malah melanggar Pancasila. Terutama sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha ESA. Di mana salah satu butirnya adalah setiap warga Negara berhak menjalankan agama dan keyakinannya masing-masing. Memakai cadar termasuk menjalankan keyakinan. Walaupun para ulama berbeda pendapat dalam hal memakai cadar bagai kaum muslimah. Ada yang mewajibkan, ada yang mengatakan sunnah tetapi tidak ada yang sampai melarang. Kecuali, larangan untuk kaum lelaki untuk memakai cadar. Jadi kalau ulama saja berbeda pendapat mengenai hal ini. Mengapa kita yang awam, mati-matian menentang penggunaan cadar?? Bahkan ada yang berani mengolok-ngoloknya.

Lantas ada yang bilang cadar itu budaya Yahudi. Yah no problem lah…soalnya Yahudi itu saudara tuanya agama Islam. Nabi-nabi yang dihormati umat Islam itu beragama Yahudi lho, seperti nabi Musa, Yakub, juga nabi Yusuf. Islam datang untuk menyempurnakan ajaran yang sebelumnya. Bukan untuk menghapus ajaran yang sudah ada. Terutama dalam hal berhijab.

Jadi berhenti maki untuk mengatakan  kita sudah dijajah oleh budaya Arab. Toh budaya barat juga sudah merajalela di nusantara ini. Pergaulan bebas, pakaian mini you can see dan banyak lagi lainnya. Apakah itu lebih layak kita hormati daripada yang sudah berhijab? Menurutk saya, yang terbaik adalah bagaimana kita saling menghormati satu sama lain. Apakah kamu berkebaya, bergamis dan bercadar atau beryoucansee sekalipun. Toh. Masing-masing kehidupan kita akan kita akan pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Oh yah sekadar catatan sejarah Indonesia yang saya kutip dari.....












Senin, 21 Oktober 2019

Rincik vs Sertifikat

Posisi Sertifikat  Hak Milik  (SHM) memang lebih kuat dari surat rincik. Asalkan sertifikat hak milik berlandaskan alas hak yang benar. Kalau tidak sertifikat itu palsu dan tidak bernilai.

Mengapa masih banyak masyarakat yang tanahnya masih berbentuk rincik? Karena biaya pembuatan SHM lumayan mahal harganya. Sedangkan pronas atau program nasional yang gratis itu tidak sampai pada masyarakat umum. Padahal mafia tanah berkeliaran mencari mangsa.



Tanah kosong menjadi target utamanya para mafia tanah. Tiba-tiba di atas tanah kita sudah terbangun pondasi dan sudah terbit sertifikat hak milik di atasnya.  Namun sertifikat itu bisa dibatalkan jika kita memang punya dasar yang kuat, alas hak yang kuat.

Rincik masih termasuk alas hak yang kuat, menurut, Ibu Tuti,  staf senior Badan Pertanahan Nasional (BPN) Makassar. Rincik itu bisa berpindah hanya melalui jual beli dan hibah, serta waris. Kalau misalnya sang pemilik tidak pernah menjual atau tidak pernah menghibahkan. Bagaimana bisa kepemilikan bisa beralih dan terbit sertifikat tanah di atasnya? Padahal juga bukan ahli warisnya. Itulah kerjaan para mafia tanah.

Surat Rincik itu kutipan dari buku C. Di atas kertas tertulis judulnya Surat Pendaftaran Sementara Tanah Milik Indonesia. Untuk lebih jelasnya mengenai surat rincik  dan buku C bisa dicari lewat Mbah Google.

So, jika kita punya tanah kosong atau punya orangtua kita  dan suratnya masih surat rincik, waspadalah, jangan-jangan sang mafia tanah sudah mengincar-ngincarnya atau bahkan sudah menyerobotnya. Jangan biarkan tanah kosong dan tidak terurus.

Dan kalau punya rezeki, kita sebaiknya membuat SHM berdasarkan surat rincik yang kita miliki. Kalau SHM sudah ada maka surat rincik akan disimpan di BPN. Lebih cepat lebih baik. Daripada nanti harus berurusan dengan para mafia tanah. Capek sekali rasanya dan panjang urusannya.

Oh ya, gambar hanya pemanis, bukan tanah milik saya 😊😁

#CatatanPerjalanan
#IbukIbukBelajarHukum

Senin, 25 Maret 2019

Keseruan 3Karnaval di Trans Studio Makassar

3Karnaval di Trans Studio Makassar
Sabtu, 23 Maret 2019

Ada yang bilang, karnaval TRI itu semacam acara baris berbaris. Seperti karnaval di acara 17 Agustusan. Baris berbaris dengan menggunakan pakaian adat, pakaian profesi, ataupun pakaian unik-unik. Tapi karnaval TRI ini lain. Bukan acara baris berbaris atau pawai di jalanan. Tetapi semacam acara family gathering. Pemilik outlet dan keluarga diundang sebagai bentuk penghargaan karena outletnya mencapai target penjualan yang telah ditentukan oleh pihak TRI.

Alhamdulillah, sejak awal diadakannya acara ini, kami selalu mengikutinya. Bahkan sebelum bertitel "karnaval" . Setiap tahun outlet kami mendapat undangan untuk mengikuti 3karnaval itu. Bahkan pernah 3 kali dalam setahun.

Untuk satu outlet, ada empat tiket tersedia. Acara 3karnaval selalu dinanti oleh pemilik outlet. Karena sampai saat ini tak ada operator seroyal TRI dalam memanjakan ujung tombak pemasarannya. Kemarin, acara 3karnavalnya diadakan di Bugis Waterpark. Alhamdulillah, anak-anak puas mandi-mandinya. Siapa yang tidak senang dengan anugerah..anu gratis..maksudnya. Tidak gratis juga sih sebenarnya, tetapi mesti mencapai target baru bisa ikut dalam 3karnavalnya.

Tadi pagi, Alhamdulillah, menghadiri acara 3karnaval  di  area Mall Trans studio Makassar. Sebenarnya agak sedih juga sih karena harus meninggalkan kajian rutin demi mengikuti acara 3karnaval ini. Tapi, acara ini sudah lama ditunggu sama anak-anak. Anak-anak sudah dijanjikan untuk ikut acara ini. Jadi dengan berat hati ada yang harus dikorbankan 😢😢

Anak-anak begitu gembira di sana. Awalnya si kecil ngambek. Sabrina sudah ingin sekali bermain. Padahal, makanan yang disediakan pihak TRI sudah siap disantap di hadapan. Ia berlari keluar. Lalu muncul lagi. Lari keluar lagi. Muncul lagi. Jadinya tidak konsentrasi makan. Akhirnya, gantian mengawasinya.

Beragam permainan di area Trans Studio yang tersedia. Sayang banyak yang tidak bisa diikuti oleh Sabrina. Karena adanya ketentuan batas tinggi minimum. Jadi, terkadang saya yang menemani Renaisa, si kakak untuk naik wahana permainan yang satu, seperti Roll Coaster. Sementara, abanya menemani Sabrina untuk permainan yang lain, yang cocok untuk Sabrina. Waktu mengikuti permainan Roll Coaster ini, dengan menaiki kursi dan melayang-layang di udara. Rasa-rasanya mau ta'lempar. Kalau dinikmati rasanya asyiiik juga. Namun permainan ini tidak cocok untuk yang takut pada ketinggian. Jantung rasa mau copot.

Dalam wahana "Dunia lain" kami berempat ikut. Agak seram juga sihh. Di atas kereta, saya di depan, sedangkan Renaisa, abanya dan Sabrina di belakang. Sabrina tampak ketakutan. Dia digendong sama abinya. Abinya bilang, tutup mata, tutup mata kalau takut. Keretanya berjalan. Di samping kiri dan kanan jalan tampak hal-hal yang agak menyeramkan. Suster ngesot, kuntilanak dan macam-macam hantu lainnya. Tapi, sebenarnya itu cuma robot-robot atau patung-patung buatan. Yang digerakkan oleh mesin. Biarpun begitu, hati ini dikuat-kuatkan juga melewatinya. Banyak-banyak berzikir jadinya 😊😁 Sepanjang jalan berzikir terus. Jangan-jangan..tiba-tiba ada hantu betulan muncul. Waduuh..Tak terbayangkan, jika sendirian saja di atas kereta dalam waktu yang cukup lama dalam lorong yang lumayan panjang. Saya pun tak berani.

Sejak kemarin-kemarin sebelum acara, Renaisa bilang mau tahu bagaimana "Dunia Lain" di Trans Studio. Ia sangat penasaran dengan "Dunia Lain" itu. Seperti tidak sah rasanya, kalau tidak memasuki wahana permainan itu. Begitulah mungkin, karena ia juga sangat senang membaca cerita horor. Padahal anaknya cukup penakut. Saya juga heran dengan kegemarannya membaca cerita horor. Jadi ketika di dalam wahana "Dunia Lain" yang cukup seram itu. Renaisa dilarang tutup mata. 

Satu lagi yang cukup berkesan permainannya. Adalah Jelajah. Dan ini sebenarnya permainan yang kuhindari. Karena jika ikut permainan ini, pakaian bisa basah. Sedari awal, Renaisa ingin ikut tapi tidak ada yang menemaninya. Jadi, menjelang pulang baru saya bersedia ikut. Berkesannya permainan ini bukan karena permainan itu sendiri. Tapi kelamaan antrinya. Antri kok pake lama banget. Padahal rasanya sebentar sekali permainannya. Permainannya kayak seperti ini kita naik perahu, perahunya melaju, mengelilingi taman buatan, the lost world, menanjak ke atas ke puncak piramida, lalu menurun, lalu air berguncang menimbulkan cipratan-cipratan air. Akibatnya, bajupun jadi basah. Dingin karena ruang full Acc bertambah dingin karena baju yang basah. Banyak juga peminatnya permainan ini. Terbukti dari banyaknya yang antri. Tapi memang cantik tawwa bangunan Jelajah ini. Kayak yang di permainan game Zuma.

Masih ada beberapa permainan lain, tapi rasanya tubuh sudah mulai lelah. Lelah namun hati senang karena melihat anak-anak bergembira. Jam di handphone telah menunjukkan angka 3.55. Tidak terasa waktu berjalan yah di tempat seperti ini. Sebelum pulang, tak lupa mengambil doorprize yang sudah disediakan. Walaupun sebelumnya sudah pernah ke Trans Studio sewaktu acara family gatheringnya Telkomsel. Tapi lebih seru kali ini. Mungkin karena waktu itu Renaisa masih berumur tiga tahun. Belum banyak wahana permainan yang bisa diikuti. 

Maafkan jika foto-fotonya mungkin tidak sesuai dengan teks yang ada. Tapi itulah sebagian foto-foto yang sempat diabadikan dan saya anggap layak posting. Kalaupun ada anak saya yang berpose dengan jari seperti pendukung salah satu capres. Percayalah, itu bukan suatu pertanda. Sebab ia belum mengerti hal-hal berbau politik. Peace 😊😁😁

Special Thanks untuk manajemen TRI yang sudah mengadakan acara seperti ini dan juga terutama pada para pelanggannya Meta Cell yang telah setia belanja di Meta Cell, thengkyuu  🌷🌷

Rabu, 06 Maret 2019

Langsat, Buah Murah Meriah Kaya Manfaat



Buah langsat termasuk buah yang murah meriah..

Termasuk buah tempatan kesukaanku ini.
Bersyukur karena buah ini memiliki manfaat yang cukup banyak. Dan suatu kesyukuran juga karena sambaluku, pagandeng gangang, setiap hari membawa buah ini menjadi pelengkap jualannya. Harga Langsat Rp. 15.000/per 2 kilo. Lumayan ringan di kantong untuk ukuran masyarakat umum, kalangan menengah ke bawah. Termasuk kami yang pabalu pulsa. Buahnya yang kecil-kecil cukuplah untuk seluruh anggota keluarga.

Langsat memiliki kandungan kalori dan vitamin yang cukup tinggi. Dalam 100 gram buah Langsat, terkandung 70 kalori, 1 gram protein, 0,2 gram lemak, 13 gram karbohidrat, 0,7 gram mineral, 18mg kalsium, 9 mg fosfor, dan 0,9 zat besi. Tidak heran bila dalam hal kalori, mineral dan zat besi buah Langsat setingkat lebih tinggi dibandingkan Apel atau Jeruk.

Konon, buah Langsat sangat baik untuk yang sedang menjalani proses diet. Serat dan kandungan kalori dalam buah Langsat akan memberikan dampak pencernaan lancar dan tenaga lebih tanpa harus mengkonsumsi banyak makanan. Hal ini kubuktikan sendiri, pencernaan jadi lancar. Alhamdulillah..

Tetapi, bagi bumil, buah ini kurang cocok. Karena bisa bikin "gatta kelorang" dalam proses persalinan. Jika bumil Gatta kelorang itu, jika melahirkan rasanya sakiiit sekali. Sebelum bayi lahir, akan didahului keluarnya lendir-lendir terlebih dulu. Kalau belum habis lendir keluar, si bayi sulit ke luar.  Ini merupakan pengalaman sendiri pada proses kelahiran anak kedua. Waktu itu musim Langsat, saya tiap hari makan Langsat dan saya  begitu menikmatinya. Belum terbukti secara ilmiah sih. Jadi, boleh percaya boleh tidak. Dan bagi ibu-ibu boleh dibuktikan sendiri..😊😁

Sumber Referensi: Om Google