Beberapa waktu yang lalu, seorang
teman karib mengajakku untuk ikut dalam sebuah rapat yang diadakan oleh sebuah
komunitas. Ia termasuk dalam pengurus komunitas itu sedangkan saya memutuskan untuk
tidak ikut terlibat dalam komunitas itu dengan berbagai pertimbangan.
Saya menolak dengan halus. Saya mengatakan bahwa saat ini saya lebih memilih untuk aktif dalam komunitas lain. Yang menurut saya, saya lebih cocok berada di dalam komunitas tersebut. Katanya, ia ingin berkomunitas lagi. Berkumpul dengan teman-teman dan melakukan kegiatan yang bermanfaat. Saya bilang, hadir saja dalam rapat itu, penuhi undangannya. Tapi, klo saya, saya tidak bisa hadir. Karena selain saya bukan pengurus lagi, saya juga tidak bisa selalu keluar rumah karena kesibukan yang ada.
Saya menolak dengan halus. Saya mengatakan bahwa saat ini saya lebih memilih untuk aktif dalam komunitas lain. Yang menurut saya, saya lebih cocok berada di dalam komunitas tersebut. Katanya, ia ingin berkomunitas lagi. Berkumpul dengan teman-teman dan melakukan kegiatan yang bermanfaat. Saya bilang, hadir saja dalam rapat itu, penuhi undangannya. Tapi, klo saya, saya tidak bisa hadir. Karena selain saya bukan pengurus lagi, saya juga tidak bisa selalu keluar rumah karena kesibukan yang ada.
Yah, berkumpul dan berkomunitas
bagi setiap orang itu merupakan sebuah kebutuhan. Apalagi dengan yang satu hobi,
kesukaan atau pun satu pemikiran. Banyak
komunitas yang terbentuk di masyarakat. Semisal komunitas majlis taklim,
komunitas pencinta vespa, komunitas sholawatan, dan yang lain-lain. Yang
intinya adalah berkumpul dan melakukan kegiatan bersama.
Bagi yang sudah terbiasa
berkomunitas, sangat tidak enak rasanya jika terputus atau tidak lagi
berkomunitas. Rasa galau, sepi dan banyak lagi rasa-rasa lain akan
menghinggapi. Apatah lagi kalau kita tergabung dalam komunitas pengajian.
Mengkaji ilmu dan ma’rifat. Sekali saja kita tidak hadir, maka sungguh hati
resah. Seakan ada yang kurang dalam hidup ini. Siraman rohani yang melembutkan
hati, pengingat akan kematian pasti datang, kecintaan kepada Allah, Rasulullah
dan keluarganya, dan masih banyak yang lain. Akan terasa rugi jika tidak
menghadirinya.
Dalam komunitas yang terdiri dari
banyak orang, tentu saja juga banyak pemikiran di dalamnya. Terkadang,
kesalahpahaman antar anggota atau pimpinan dengan anggota bisa terjadi. Di sini
dibutuhkan kedewasaan dalam menyikapinya. Terkadang ada rasa baper melanda
karena ada satu masalah. Namun, rasa itu tidak boleh sampai membuat kita
menghindar atau melarikan diri dari komunitas. Atau sebagai pimpinan mengeluarkan anggota dari
jamaah. Masing-masing perlu menahan diri demi kepentingan bersama.
Satu hal yang disayangkan jika dalam
suatu komunitas, komunitas yang sudah lama terbangun, terjadi perpecahan. di mana satu pihak melarang pihak lain untuk memberi kontribusi dalam membina kader. Dengan alasan bahwa pihak tersebut memiliki pemikiran yang berbeda dengan pihak yang melarang. Padahal sejak dulu dalam komunitas tersebut sudah sejak lama berbagai corak pemikiran sudah berkembang. Hal ini sama saja mematikan dinamika organisasi komunitas tersebut, padahal di situlah justru daya tarik dari komunitas itu.
Bercermin dari berbagai peristiwa dalam berkomunitas, apakah komunitas itu akan bertahan, mengalami kemajuan atau akan mengalami kemunduran atau pun stagnan. Hal itu ditentukan oleh sikap anggota komunitas terhadap anggota komunitas lain, adanya program kerja yang menarik dan kemampuan manajemen dari pimpinan komunitas.
Satu hal yang pasti, kita tetap membutuhkan komunitas. Karena kita membutuhkan teman yang mempunyai minat yang sama, kebutuhan yang sama ataupun kecintaan yang sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar