Senin, 28 Oktober 2019

Kebutuhan Berkomunitas


Beberapa waktu yang lalu, seorang teman karib mengajakku untuk ikut dalam sebuah rapat yang diadakan oleh sebuah komunitas. Ia termasuk dalam pengurus komunitas itu sedangkan saya memutuskan untuk tidak ikut terlibat dalam komunitas itu dengan berbagai pertimbangan.

Saya menolak dengan halus. Saya mengatakan bahwa saat ini saya lebih memilih untuk aktif dalam komunitas lain. Yang menurut saya, saya lebih cocok berada di dalam komunitas tersebut. Katanya, ia ingin berkomunitas lagi. Berkumpul dengan teman-teman dan melakukan kegiatan yang bermanfaat. Saya bilang, hadir saja dalam rapat itu, penuhi undangannya. Tapi, klo saya, saya tidak bisa hadir. Karena selain saya bukan pengurus lagi, saya juga tidak bisa selalu keluar rumah karena kesibukan yang ada.

Yah, berkumpul dan berkomunitas bagi setiap orang itu merupakan sebuah kebutuhan. Apalagi dengan yang satu hobi, kesukaan atau pun  satu pemikiran. Banyak komunitas yang terbentuk di masyarakat. Semisal komunitas majlis taklim, komunitas pencinta vespa, komunitas sholawatan, dan yang lain-lain. Yang intinya adalah berkumpul dan melakukan kegiatan bersama.

Bagi yang sudah terbiasa berkomunitas, sangat tidak enak rasanya jika terputus atau tidak lagi berkomunitas. Rasa galau, sepi dan banyak lagi rasa-rasa lain akan menghinggapi. Apatah lagi kalau kita tergabung dalam komunitas pengajian. Mengkaji ilmu dan ma’rifat. Sekali saja kita tidak hadir, maka sungguh hati resah. Seakan ada yang kurang dalam hidup ini. Siraman rohani yang melembutkan hati, pengingat akan kematian pasti datang, kecintaan kepada Allah, Rasulullah dan keluarganya, dan masih banyak yang lain. Akan terasa rugi jika tidak menghadirinya.

Dalam komunitas yang terdiri dari banyak orang, tentu saja juga banyak pemikiran di dalamnya. Terkadang, kesalahpahaman antar anggota atau pimpinan dengan anggota bisa terjadi. Di sini dibutuhkan kedewasaan dalam menyikapinya. Terkadang ada rasa baper melanda karena ada satu masalah. Namun, rasa itu tidak boleh sampai membuat kita menghindar atau melarikan diri dari komunitas. Atau sebagai pimpinan mengeluarkan anggota dari jamaah. Masing-masing perlu menahan diri demi kepentingan bersama.

Satu hal yang disayangkan jika dalam suatu komunitas, komunitas yang sudah lama terbangun, terjadi perpecahan. di mana satu pihak melarang pihak lain untuk memberi kontribusi dalam membina kader. Dengan alasan bahwa pihak tersebut memiliki pemikiran yang berbeda dengan pihak yang melarang. Padahal sejak dulu dalam komunitas tersebut sudah sejak lama berbagai corak pemikiran sudah berkembang. Hal ini sama saja mematikan dinamika organisasi komunitas tersebut, padahal di situlah justru daya tarik dari komunitas itu.

Bercermin dari berbagai peristiwa dalam berkomunitas, apakah komunitas itu akan bertahan, mengalami kemajuan atau akan mengalami kemunduran atau pun stagnan. Hal itu ditentukan oleh sikap anggota komunitas terhadap anggota komunitas lain, adanya program kerja yang menarik dan kemampuan manajemen dari pimpinan komunitas. 

Satu hal yang pasti, kita tetap membutuhkan komunitas. Karena kita membutuhkan teman yang mempunyai minat yang sama, kebutuhan yang sama ataupun kecintaan yang sama. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar