Nabi Muhammad SAW adalah uswatun hasanah atau suri tauladan bagi umat Islam. Akhlak Rasulullah adalah Al Qur’an. Maka wajarlah kalau dikatakan bahwa Rasulullah adalah Al Qur’an berjalan. Dan orang yang paling mirip dengan Rasulullah adalah putrinya, Fatimah. Sehingga Fatimah adalah teladan sempurna bagi muslimah.
Sebagai seorang yang mengaku muslimah
seyogyanya akan menjadikan beliau sebagai teladannya. Apalagi beliau adalah
penghulu wanita surga. Karena pada diri beliau terdapat sejumlah keagungan
sebagaimana yang dimiliki oleh Muhammad SAW.
Salah satu sunnah Fatimah sehingga memiliki kedudukan yang sangat tinggi adalah ketatnya menjaga hijab dan mewasiatkannya. Salah satu ucapannya, “Yang terbaik bagi wanita adalah tidak melihat lelaki, dan lelaki tidak melihatnya.”
Pada kesempatan yang lain, beliau bersabda, “Kondisi yang paling mendekatkan wanita kepada Allah adalah berdiam diri di dalam rumah.” Rasulullah SAW ketika mendengar kalimat tersebut bersabda, ”Fatimah adalah bagian dari saya.”
Dalam bekerja, beliau juga sangat ketat menjaga hijab dan tidak pernah sekalipun bercampur dengan orang yang bukan muhrim.
Ketika Rasulullah membagi pekerjaan suami isteri, pekerjaan di luar rumah Ali yang bertanggung jawab sementara pekerjaan dalam rumah Fatimah yang bertanggung jawab, Fatimah begitu senangnya berkata, “Selain Allah tidak ada orang yang tahu betapa aku sangat bergembira, ayahku menghilangkan dariku berhadap-hadapan dengan lelaki yang bukan muhrim.”
Begitu pentingnya hijab dan iffah di mata Fatimah, sehingga tidak rela sekalipun setelah ia meninggal, orang yang bukan muhrimnya melihat bentuk badannya dan berkata kepada Asma, “Saya kurang senang tata cara memandikan mayat, yang membentangkan kain yang memperlihatkan bentuk badan wanita.”
Sumber :
Salah satu sunnah Fatimah sehingga memiliki kedudukan yang sangat tinggi adalah ketatnya menjaga hijab dan mewasiatkannya. Salah satu ucapannya, “Yang terbaik bagi wanita adalah tidak melihat lelaki, dan lelaki tidak melihatnya.”
Pada kesempatan yang lain, beliau bersabda, “Kondisi yang paling mendekatkan wanita kepada Allah adalah berdiam diri di dalam rumah.” Rasulullah SAW ketika mendengar kalimat tersebut bersabda, ”Fatimah adalah bagian dari saya.”
Dalam bekerja, beliau juga sangat ketat menjaga hijab dan tidak pernah sekalipun bercampur dengan orang yang bukan muhrim.
Imam Ali berkata, “Suatu
hari orang buta meminta izin menemui Fatimah, ia bersembunyi di belakang tirai,
Rasulullah bersabda, “Mengapa kau bersembunyi, ia tidak melihatmu? Fatimah
menjawab, “Akan tetapi saya melihat ia, dan ia juga mencium aroma badanku!
Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah, engkau adalah bagian dariku.”
Ketika Rasulullah membagi pekerjaan suami isteri, pekerjaan di luar rumah Ali yang bertanggung jawab sementara pekerjaan dalam rumah Fatimah yang bertanggung jawab, Fatimah begitu senangnya berkata, “Selain Allah tidak ada orang yang tahu betapa aku sangat bergembira, ayahku menghilangkan dariku berhadap-hadapan dengan lelaki yang bukan muhrim.”
Begitu pentingnya hijab dan iffah di mata Fatimah, sehingga tidak rela sekalipun setelah ia meninggal, orang yang bukan muhrimnya melihat bentuk badannya dan berkata kepada Asma, “Saya kurang senang tata cara memandikan mayat, yang membentangkan kain yang memperlihatkan bentuk badan wanita.”
Asma berkata, “Wahai putri
Rasulullah, saya melihat di Habasyah (Ethiopia) mereka membuat tabut, kemudian
kain diletakkan di atasnya, sehingga ketika wanita dimandikan bentuk badan
wanita tidak terlihat.” Fatimah, yang menurut riwayat tak seorang pun yang
pernah melihatnya tertawa sepeninggal ayahnya, ketika melihat tabut tersebut,
tersenyum dan berkata, “Betapa indah dan bagusnya, karena dengan tabut ini
orang-orang bahkan tidak bisa membedakan pria atau wanita.
Dalam catatan
perjalanan sejarah Rasulullah dan keluarganya, tidak pernah tertulis bahwa
Fatimah dan putri-putri, isteri-isteri, dan saudari dari wali Allah, Ulama Rabbani dan para sholihin
ikut serta dalam berbagai pesta dan perayaan yang di sana bercampur dengan
bukan muhrim dan berbangga dengan hal tersebut. Menghadiri pesta dan perayaan
dan bercampur antar pria dan wanita jika dianggap sebagai kebanggaan, maka
Fatimah yang memiliki keutamaan dan keistimewaan, tentu akan merasa bangga
dengan hal tersebut.
Begitulah
keutamaan Fatimah dalam menjaga hijab dan iffahnya. Masih banyak keutamaan
lainnya yang bisa kita contoh atau teladani. Kehidupan beliau adalah kehidupan
yang diwarnai kesucian, kesederhanaan, pengabdian, perjuangan serta
pengorbanan. Beliau adalah sebaik-baik contoh bagi kaum muslimah. Karena beliau
adalah penghulu para wanita seluruh alam dan penghulu para wanita di surga.
Siapa sih yang
tidak mau menjadikan teladan seorang wanita penghulu para wanita di surga? Tentunya
kita semua menginginkannya. Menjadi
seorang wanita seperti beliau walaupun itu rasanya tidak mungkin. Karena begitu
banyak kekurangan yang ada pada diri kita. Namun, menjadikannya teladan, setidaknya
menjadikan kita punya rambu-rambu bagaimana kita menjalani kehidupan ini
seperti yang telah dicontohkan oleh beliau. Semoga kita bisa dipertemukan
dengan beliau, Bunda Fatimah di surga-Nya nanti.
Penutup dari
uraian ini, bahwa keutamaan dan kebanggaan adalah ketika seorang muslimah bisa
tetap menjaga hijab dan iffahnya, namun tetap berusaha mendapatkan pendidikan
yang terbaik, kemajuan ilmu pengetahuan dan maknawi dalam berbagi aspek
kehidupan duniawi, baik dalam bentuk personal maupun dalam masyarakat. Yang terpenting
dan sangat berperan adalah mengabdikan diri dan menjaga aturan-aturan dalam
rumah tangga serta mempersiapkan kondisi demi keberhasilan dirinya, suami dan
anak-anaknya. Mampukanlah kami, ya Allah ya Rohman..
Allohumma sholli
ala Muhammad wa ali Muhammad.
Sumber :
-Fatimah Az-Zahra, Buah Hati Rasulullah SAW
Sumber foto by Google
Sumber foto by Google

Tidak ada komentar:
Posting Komentar