Jumat, 25 Oktober 2019

KONTROVERSI PAKAIAN NASIONAL




Dalam beberapa postingan di media social, banyak yang mengunggah tentang pakaian nasional. Bahwa pakaian nasional itu adalah kebaya.  Sebenarnya hal itu sah-sah saja. Akan tetapi, hal itu menjadi soalan ketika dibanding-bandingkan busana berjilbab ataupun cadar. Yang katanya merupakan budaya Arab. Ada juga yang mengatakan itu budaya Yahudi.

Budaya sebagai hasil cipta manusia mengalami benturan atau pergesekan yang saling memengaruhi satu sama lain. Jadi tidak ada yang betul-betul budaya asli dari suatu daerah. Karena sudah mendapat pengaruh dari berbagai macam budaya. Apalagi Negara kita Indonesia ini yang terdiri dari berbagai suku dan bangsa. Juga terdiri dari beribu pulau yang bertebaran di nusantara ini. Terutama dalam hal berbusana. Tentu saja ada banyak perbedaan, walaupun tidak menutup kemungkinan banyak juga persamaannya.

Dalam hal pakaian, pakaian perempuan suku Jawa dengan kebayanya berbeda dengan pakaian perempuan suku Asmat di Papua. Ketika kita mengakui bahwa kebaya adalah pakaian nasional, apakah kita berani mengakui bahwa busana suku Asmat, yang maaf, notabene nyaris telanjang, ada? Juga busana adat dari suatu suku dari daerah Bima yang bernama Rimpu. Itu menyerupai busana bercadar. Apakah kita juga bisa mengatakan bahwa busana nasional itu termasuk Rimpu? Lalu kenapa hanya kebaya yang selalu digaung-gaungkan sebagai pakaian nasional bukan yang lainnya. Bahkan kemudian kebaya dihadap-hadapkan dengan busana berhijab, di mana notabenenya di daerah Indonesia pun punya model pakaian berhijab. Mengatakan ini budaya asli lah..ini budaya import lah..Khan tidak lucu. Jadi, menurut saya, pakaian nasional itu tidak boleh ditetapkan karena hanya mewakili pakaian daerah tertentu saja.

Kalaupun pakaian nasional kita adalah kebaya. Tetap saja pakaian itu hanya dipakai dalam acara-acara khusus. Seperti pada acara tujuhbelasan, hari kartini. Selebihnya, perempuan Indonesia memakai kaos oblong, kemeja, daster, gamis dan yang lainnya. Bahkan hampir setiap hari mereka memakai pakaian yang semacam itu.
Satu lagi, menurut Airlangga Pribadi, kesalahpahaman menempatkan kebaya sebagai penanda antagonism antara politik nusantara vis a vis politik Islam –Arab. Politik budaya asli versus politik budaya import. Mengapa demikian, karena selain tidak berfaedah bagi pembentukan komunikasi terbuka dalam ruang public kita yang sudah terbelah, narasi berbasis oposisi biner ini juga menunjukkan bahwa kita rabun jauh akan khazanah sejarah dan anthropologi kebudayaan. Membenturkan budaya asli dan yang import itu absurd, itu sama dengan membenturkan pribumi vs pribumi. Bagaimana kita mengidentifikasi kemurnian dan keaslian diri kita, padahal nenek moyang kita sendiri berasal dari daerah rantau yang ribuan tahun lalu berimigrasi dari Afrika ke China lalu ke Nusantara.

Oh yah ada yang mengatakan bahwa  kebanyakan teroris itu bercadar sehingga perlu ada pelarangan di Negara kita. Ah…masa sih? Memangnya AM rozi, teroris bom bali dan teroris di new Zealand itu bercadar. Tidak kan? Pelarangan terhadap cadar malah melanggar Pancasila. Terutama sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha ESA. Di mana salah satu butirnya adalah setiap warga Negara berhak menjalankan agama dan keyakinannya masing-masing. Memakai cadar termasuk menjalankan keyakinan. Walaupun para ulama berbeda pendapat dalam hal memakai cadar bagai kaum muslimah. Ada yang mewajibkan, ada yang mengatakan sunnah tetapi tidak ada yang sampai melarang. Kecuali, larangan untuk kaum lelaki untuk memakai cadar. Jadi kalau ulama saja berbeda pendapat mengenai hal ini. Mengapa kita yang awam, mati-matian menentang penggunaan cadar?? Bahkan ada yang berani mengolok-ngoloknya.

Lantas ada yang bilang cadar itu budaya Yahudi. Yah no problem lah…soalnya Yahudi itu saudara tuanya agama Islam. Nabi-nabi yang dihormati umat Islam itu beragama Yahudi lho, seperti nabi Musa, Yakub, juga nabi Yusuf. Islam datang untuk menyempurnakan ajaran yang sebelumnya. Bukan untuk menghapus ajaran yang sudah ada. Terutama dalam hal berhijab.

Jadi berhenti maki untuk mengatakan  kita sudah dijajah oleh budaya Arab. Toh budaya barat juga sudah merajalela di nusantara ini. Pergaulan bebas, pakaian mini you can see dan banyak lagi lainnya. Apakah itu lebih layak kita hormati daripada yang sudah berhijab? Menurutk saya, yang terbaik adalah bagaimana kita saling menghormati satu sama lain. Apakah kamu berkebaya, bergamis dan bercadar atau beryoucansee sekalipun. Toh. Masing-masing kehidupan kita akan kita akan pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Oh yah sekadar catatan sejarah Indonesia yang saya kutip dari.....












Tidak ada komentar:

Posting Komentar