Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Januari 2020

TOPENG


Saya pindahan dari kampung sebelah. Alhamdulillah, para tetangga baru saya orangnya baik dan ramah. Saya merasa beruntung sekali. Terutama tetangga saya, yang bernama Ratna. Saya cepat sekali merasa akrab dengannya. Suaminya bernama Hendra. Suaminya lulusan perguruan tinggi agama terkemuka di daerah ini. Sementara ini, ia mengambil program doktoral di kampus yang sama.
 Hendra sering diundang berceramah. Oleh ibu-ibu majelis taklim dan pengurus masjid di berbagai masjid di daerah kami. Sering pula diundang untuk memberikan kajian kepada sekelompok pemuda dari suatu organisasi. Tampaknya, jam terbangnya cukup tinggi. Dari hasil ceramahnya itu, ia bisa menghidupi anak dan isterinya.
 Hendra, masih muda, cukup ganteng dan energik. Tak pernah sekalipun ia menolak jika ia diundang untuk berceramah. Dalam membawakan ceramahnya ia sesuaikan dengan kondisi audiensnya. Ia pun menguasai beberapa bahasa daerah. Hendra sering menyelingi ceramahnya dengan berbahasa daerah tergantung jamaah yang dihadapinya. Ia pun kadang menyelipkan guyonan dalam penyampaian tauziahnya. Sehingga, jamaah sangat senang jika ia yang mengisi ceramah.
 Sebagai tetangga, saya menilai Hendra dan Ratna, pasangan yang serasi. Keduanya orang yang baik dan ramah, juga alim. Isterinya, Ratna pun lulusan sekolah tinggi agama. Sebelum ia menikah, ia seorang aktivis suatu organisasi. Ia juga sering membawakan kajian keperempuanan. Namun, karena Ratna ingin fokus merawat anak dan mengurus rumah tangga, ia sudah jarang melakukan aktivitasnya tersebut. Tak jarang ada undangan membawakan kajian namun ia tolak. Karena Ratna takut perhatian terhadap anak dan suaminya jadi berkurang.
 Rumah kami bersebelahan. Sehingga saya sering bertemu dengan Ratna. Kami berbelanja ikan atau sayur pada pagandeng sayur atau ikan yang sama. Saya pun menjadi akrab dengannya.

”Ada ma…ada ma..”teriak pagandeng sayur, bernama Daeng Bora’. 

 Itulah teriakan khas dari Daeng Bora’, dengan irama yang khas juga. Setiap ia datang membawa sayur-mayur segarnya. Sampai-sampai kami kadang tanpa sengaja meniru teriakan khasnya itu.
Tetangga yang mau beli sayur Daeng Bora’ serentak keluar dari rumah masing-masing. Termasuk, saya dan Ratna. Kami harus segera keluar, kalau tidak, Daeng Bora’ akan segera berlalu. Karena berpikir, tidak ada yang mau beli sayur hari itu.
 Satu per satu tetangga yang ingin membeli sayur dilayani oleh Daeng Bora’. Sambil menunggu pembeli lain dilayani. Saya sempatkan menyapa Ratna. Saya heran melihat di bagian sekitar matanya kelihatan menghitam. Saya mengajak Ratna agak menjauh dari tempat itu.

 “Ratna, kenapa itu di dekat matamu, Dek?” tanyaku ingin tahu.
 “Iyendak apa-apa ji, Kak,” jawab Ratna sambil tersenyum. Senyum yang tampak dipaksakan. Tampak kesedihan dari raut wajahnya yang cantik. Namun, sepertinya ia masih berusaha menutupi apa yang sedang terjadi. Jawabannya itu malah membuatku curiga. 
 “Bagaimana kamu bilang tidak apa-apa? Itu di sekitar matamu tampak memar ki.” Sergahku.
Iye, Kak. Nanti pi kuceritakan ki, tapi mau ka dulu beli sayur,” jawab Ratna.

Ratna kembali mendekat ke arah Daeng Bora untuk memilih sayur. Setelah membayar sayur dan pamit kepada saya, ia berlalu dan masuk ke dalam rumahnya. Saya masih terpaku di tempat yang sama.         
  
“Ibu, mau jaki beli sayur kah?” tanya Daeng Bora
“Eh, iye, Daeng. Mau ja kodong,” jawabku sambil tersenyum.

*************** 

Sejak ketemu Ratna tadi pagi, saya masih memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan Ratna. Saya tidak mau berpikir macam-macam. Biarlah nanti Ratna yang menceritakan sendiri masalahnya.
 Sehabis makan malam dan sholat Isya, saya istirahat. Baring-baring sambil buka hp. Sepertinya sudah banyak chat yang masuk di whattApp. Saya terkesiap. Ada chat dari Ratna. Ah. Sekarang, walaupun tetangga dekat. Sekarang berkomunikasinya lewat udara. Mungkin karena ini sudah era digital, yah.  Komunikasi semakin mudah. 
 Teringat jaman dulu, ada juga alat atau radio komunikasi (HT). Hampir setiap rumah ada alat seperti itu. Kalau digunakan kita akan memakai istilah: roger, ganti. Juga ada kata sandi seperti Alpha, Charlie, Romeo dan lain-lain. Zaman berganti, alat komunikasi pun silih berganti. Setelah telepon rumah, telepon genggam pun hadir dalam kehidupan. Mulai dari yang sederhana sampai yang tercanggih. Berbagai merek pun ditawarkan. Dari yang termurah sampai yang termahal. Komunikasi pun semakin lancar. 
 Jika tidak pandai-pandai membedakan antara keinginan dan kebutuhan, maka akan mudah terjerumus dalam jeratan konsumerisme. Setiap ada HP terbaru dan tercanggih, akan diburu untuk dibeli.  Padahal setiap waktu, akan muncul merek baru, seri baru dan tercanggih. Itu bagi yang berduit. Tetapi bagi yang hidupnya pas-pasan, jika sudah memiliki HP, yang bisa dipakai berkomunikasi dan memiliki fitur yang cukup bisa diandalkan, Alhamdulillah. Selagi kondisi masih bagus dan masih berfungsi dengan baik. Tidak perlu memikirkan untuk ganti-ganti HP lagi. Mubazir…
 Ketika saya membaca chat dari Ratna. Bercampur aduk perasaan yang berkecamuk di dadaku. Ia membeberkan kisah pernikahannya padaku. 

“Assalamu’alaikum, Kak. Sebenarnya saya mau menyimpan rahasia ini sendiri. Demi keutuhan rumah tangga kami. Saya pikir cukup saya yang tahu. Tetapi, setelah sekian lama memendam rahasia dan rasa sakit ini. Saya sudah tak kuasa lagi untuk menyimpannya sendiri. Saya ingin menumpahkan unek-unekku selama ini.  Kepada seseorang yang dapat kupercaya. Kebetulan tadi pagi, Kakak bertanya tentang bekas menghitam di wajahku.

Baiklah saya akan menceritakan tentang apa yang terjadi di dalam kehidupan rumah tangga kami. Rumah tangga yang kelihatan harmonis dan mungkin sempurna di mata orang lain.

 Suamiku, Hendra di mata semua orang mungkin suami yang baik. Seorang ustadz lagi. Seorang yang paham agama, apalagi seorang ustadz.  Pasti tahu bagaimana memperlakukan isterinya dengan baik.  Tapi, sesungguhnya sikap Hendra terhadap isterinya, saya. Sangat jauh berbeda. 

Suamiku, sesungguhnya orang yang sangat emosional. Ia mudah sekali tersinggung. Dan jika ia tersinggung, ia akan melontarkan kata-kata yang sangat kasar kepada saya. Ia sering mengatakan taik, bangsat dan kata-kata tidak etis lainnya kepadaku jika ia sedang marah. 

Jika ia marah, tak segan-segan ia melemparkan piring ke arah wajahku. Tak cukup hanya itu, ia bahkan pernah menyeretku ke kamar mandi dan menginjak kedua pahaku. Pernah ia juga membenturkan kepalaku ke dinding. Dan itu ia lakukan di depan anak-anak kami. Sehingga anak-anakku menjerit-jerit melihat perlakuan ayahnya kepada ibunya. Kadang, anak-anakku berdiri di hadapanku, agar ayahnya tidak melanjutkan perbuatan kasarnya kepadaku. Tapi, ia tak memedulikannya.

Kak, apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus meminta cerai kepada suamiku? Sedangkan suamiku itu pandai sekali bersandiwara di hadapan orang-orang. Berlagak suami yang baik. Tak tahunya, ia sering menganiaya isterinya sendiri. Jika aku bersaksi di hadapan pengadilan, mungkinkah hakim percaya. Karena, tak ada saksiku, Kak?”

Saya sudah tidak tahan, Kak".

***************

Membaca kisah Ratna melalui chatnya di WA, perasaanku bercampur aduk-aduk. Sedih, marah, dan syok. Sedih melihat kondisi Ratna yang memprihatinkan. Sering mengalami kekerasan fisik (tubuh) maupun non fisik (verbal-lisan) dari orang yang semestinya melindungi dan mengasihinya. Dan marah terhadap Hendra yang begitu kejam terhadap isterinya. Betapa keterlaluan perlakuannya terhadap isterinya. 
 Syok karena benar-benar tidak kusangka dan tak kuduga, Hendra selaku suami bisa berbuat kejam terhadap isterinya. Orangnya berilmu, sering pula membawakan ceramah dan kajian. Juga sangat ramah. Jika berpapasan, tak lupa ia tersenyum kepada kami. Bahkan kadang menyapa kami, para tetangganya. 
 Tapi, begitulah kenyataannya. Apa yang tampak, belum tentu itulah yang sebenarnya. Di balik kepribadian seseorang yang menyenangkan, bisa saja tersembunyi sesuatu yang mengerikan. Yang hanya orang yang terdekatnya saja yang mengetahui dan merasakannya.
Saya harus menolong Ratna. Itulah, tekadku. Bagaimana caranya? Yang pasti, saya harus mengabarkan kepada dunia.  Siapa Hendra sebenarnya. Di balik topeng “kesempurnaannya.” Agar Ratna bisa terbebas dari KDRT yang selama ini dilakukan oleh suaminya itu.

By : Hamsinah Hamid

Sumber foto : By Google

Senin, 09 Desember 2019

TUMBAL





Malam itu, ambulan meraung-raung mengusik keheningan malam. Beberapa orang tetangga keluar rumah hendak menyaksikan siapa yang dibawa oleh kendaraan yang berwarna putih itu. Mereka penasaran karena sudah beberapa hari ini banyak korban berjatuhan. Akibat wabah types yang melanda kampung. Mereka celingak celinguk sambil bertanya-tanya. Siapa lagi yang meninggal, kodong? Dan terucaplah satu nama. Marni yang meninggal. Seorang janda dengan anak satu.

Biasanya, jika tetangga sudah tahu siapa yang meninggal. Mereka akan pergi pergi melayat dan menghadiri takziah pada malam berikutnya. Tetapi, kali ini lain. Mereka tetap pergi melayat dan bertakziah kepada keluarga almarhumah. Namun, diiringi berkembangnya desas-desus tentang musabab kematian Marni. Katanya, Marni meninggal tidak wajar. Ia dimakan oleh ilmunya sendiri. Ilmu untuk memperlancar usahanya.

Sejak kematian suaminya, Marni hanya tinggal berdua dengan anaknya, Sangkala. Marni seorang pekerja keras. Ia mempunyai warung campuran. Namun, usahanya itu tidak mengalami kemajuan berarti. Di kampung, warung campuran bertebaran di kanan kiri jalan. Katanya, lebih banyak penjual dari pembeli. Di situlah Marni kadang merasa putus asa. Karena hasil dari warung campuranlah, sumber pendapatan satu-satunya.

Menurut bisik-bisik tetangga, kepergian Marni tahun lalu ke kampung untuk  menuntut ilmu. Sepulangnya dari kampung, usaha Marni berkembang pesat. Warung campurannya berkembang menjadi toko yang lumayan besar. Sebenarnya wajar saja tokonya maju pesat. Sampai orang berduyun-duyun antri di depan tokonya. Karena toko Marni menyediakan berbagai bahan makanan pokok.  Tokonya termasuk lengkap dan harganya miring ketimbang harga di toko lain yang ada di kampung itu.

Namun, begitulah cerita dari mulut ke mulut tidak bisa dibendung. Dari mulut satu pindah ke mulut yang lain. Sebenarnya, sebagian besar penduduk kampung itu sudah mengenal Marni. Marni adalah sosok pekerja keras yang tak kenal lelah. Sejak sebelum subuh, ia sudah bangun mempersiapkan barang di tokonya. Jika ada yang barang yang kurang, paginya ia langsung menelepon pihak yang menyediakan barang. Tak jarang ia pergi menjemput sendiri barang yang dia pesan. Jika tak ada yang mengantar ke tokonya.

Waima sosoknya sudah dikenal masyarakat di kampung itu sebagai pekerja tangguh. Tetap saja gosip itu tersebar kemana-mana. Gosip yang kata sebagian masyarakat tidak bisa dipercaya. Namun, masyarakat yang percaya, termasuk ibuk-ibuk pagosip, yang bilang Marni itu pakai ilmu pesugihan, karena sumber beritanya adalah Saripah, kakak kandung Marni sendiri.

Kata Saripah, beberapa bulan yang lalu, Marni pergi ke suatu daerah. Sebuah kampung di Soppeng. Di tempat itu, Marni dimandikan oleh orang yang akan memberikan ilmu itu. Setelah balik ke kampung asal, usaha mereka melaju dengan pesat. Marni sudah bisa membangun rumah yang bagus di kampung. Selain itu juga, ia membeli dua motor baru dan perhiasan yang indah-indah.

Namun, entah mengapa ketika Marni sudah berhasil membangun rumah impiannya dan bisa membeli banyak perhiasan emas. Tiba-tiba, perasaan tidak tenang melanda dirinya. Ia sering gemetar dan merasa tidak nyaman ketika ia berada di dalam rumahnya. Perasaannya ini diceritakan kepada saudaranya. Dan saudaranya mengajaknya ke rumahnya jika perasaan itu datang. Jika perasaan aneh itu datang, ia meninggalkan tokonya pergi ke rumah Saripah.

Saripah menyarankan kepada Marni untuk memeriksakan diri ke dokter. Siapa tau ada penyakit yang diderita oleh saudaranya itu. Marni pun menuruti saran kakaknya itu. Setelah Marni diperiksa oleh dokter di Puskesmas. Kata Dokter, Marni tidak sakit. Mungkin Marni hanya kelelahan akibat pekerjaannya yang cukup berat.

Marni tidak sakit. Tapi, keadaan Marni semakin hari semakin memburuk. Tubuh Marni semakin kurus. Dia merasakan bahwa ada sesuatu yang aneh menimpanya. Kemudian teringatlah ia akan sesuatu. Pada saat ia meminta ilmu penglaris usaha, mereka diberi syarat oleh sang guru. Marni memenuhi syarat itu.  Bahwa ilmunya itu akan meminta tumbal. Sebagai syarat untuk terpenuhinya keinginan Marni dan usahanya lancar dan maju.

Bersamaan sakitnya Marni, anaknya yang bernama Sangkala jatuh sakit juga. Anaknya tidak mau makan dan minum. Sang anak juga dinyatakan oleh dokter tidak menderita sakit apapun. Maka semakin yakinlah Marni bahwa ada yang “mengganggu” anaknya. Maka ia menyuruh Saripah untuk meminumkan daun Bidara kepada anaknya. Daun Bidara dipercaya bisa mengusir makhluk halus. Marni meminta supaya anaknya saja yang diperhatikan. Dirinya tidak usah. Marni yakin ini akibat dari ilmu yang pernah dia terima. Ilmu yang menuntut korban.  Daripada anaknya yang masih kecil yang jadi korban, ia merelakan dirinya yang menjadi korban.

Tubuh Marni semakin melemah. Ia sudah tak bisa lagi bergerak. Untuk balik ke kiri dan kanan saja ia sudah tak bisa. Matanya sayu seperti tidak lagi memancarkan sinar kehidupan. Saripah membawanya ke rumah sakit. Setiba di rumah sakit, Marni dimasukkan ke ruang ICU. Dengan sigap, dokter dan para perawat memasang inpus dan alat bantu pernapasan. Namun, sayang nyawa Marni sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Marni sudah menghembuskan napas terakhirnya.


Senin, 02 Desember 2019

I B U




Tik tik tik … Bunyi hujan di atas seng rumah. Tanda musim penghujan sudah tiba. Kuambil baskom untuk menadah air yang menetes dari atap yang bocor. Rencana Ibu untuk memperbaiki atap rumah terhalang lagi.  Uang yang rencananya untuk membeli pengganti seng yang bocor kupakai untuk membayar uang sekolah.

Yah, beberapa bulan ini aku mesti menunggak pembayaran sekolah karena Ibu lagi sakit. Ibu terkadang masuk kerja kadang tidak. Ibu bekerja di rumah Hajjah Susanti. Di sana Ibu bekerja mencuci pakaian dan piring. Bukan cuma di sana tetapi juga di rumah tetangga yang memerlukan jasa Ibu. Maklum Ibu tidak punya pendidikan untuk melamar pekerjaan yang lebih dari itu.

Ibu pernah membuka usaha kelontong namun gulung tikar akibat kurangnya pembeli. Karena pembeli lebih suka membeli di Alfa Mart dan Indomaret. Begitulah, Alfa Mart dan Indomaret merangsek ke pemukiman penduduk. Banyak yang angkat tangan dalam bersaing dengan toko retail itu. Ibu juga pernah membuka usaha pulsa. Namun, usahanya kandas karena banyak yang pinjam dulu baru bayar kemudian. Untung kalau membayar, kalau pembayarannya tak kunjung tiba. Modal yang ada bisa ludes. Begitulah, akhirnya modal pun terkikis perlahan-lahan. Dan ibu menyatakan good bye dengan usaha perpulsaan.

Ibuku bekerja keras membanting tulang setelah Ayah meninggal dunia. Tak ada kata lelah baginya, yang penting anak semata wayangnya bisa makan, berpakaian serta mengeyam pendidikan yang layak. Tidak pernah Ibu mengeluh sekalipun walaupun dalam keadaan sakit. Jika ia masih bisa bangun, maka ia akan pergi bekerja. Tapi, beberapa hari ini Ibu menyerah dengan sakitnya. Ia tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Sepertinya ia demam. Sambil memijit kening Ibu, aku memulai percakapan dengannya.

“Ibu, besok kita ke Rumah Sakit, yah!”
“Ah, tidak usah, Nak. Nanti juga baikan kok.”
“Lho, kok Ibu ndak mau. Yang penting kita tau Ibu sakit apa.”
“Oh, iya klo begitu, baiklah Nak. Kita ke Puskesmas besok.”

Begitulah sosok Ibu. Kesehatannya sendiri tidak terlalu ia pikirkan.  Yang terpenting baginya adalah bagaimana ia bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kami dan menyekolahkanku setinggi-tingginya. Dari hasil kerja kerasnya itulah aku bisa sampai pada penghujung pendidikanku di bangku SMA sekarang. Aku juga mendapat bantuan pendidikan dari pemerintah selama menempuh pendidikan. Namun, bantuan itu tidaklah cukup karena sekolah yang kutempati termasuk sekolah yang cukup mahal pembayarannya. Rencananya selepas lulus SMA nanti, aku ingin menempuh pendidikan keperawatan. Semoga aku bisa mendapatkan beasiswa nanti.

Akhirnya tibalah pendaftaran mahasiswa baru di sebuah Akademi Keperawatan. Aku sudah bertekad bulat untuk serius belajar. Godaan untuk menjalin hubungan alias pacaran dari beberapa lelaki kutampik begitu saja. Bukannya aku tidak tertarik. Sebagai manusia biasa tentu saja aku juga punya ketertarikan dengan lawan jenis. Namun, aku berpikir menjalin hubungan atau pacaran bisa menyebabkan pendidikanku terganggu. Saat ini aku hanya mau serius belajar. Jika sudah usai kuliahku, aku mau bekerja dulu baru menjalin hubungan serius alias langsung menikah saja tanpa melalui proses pacaran.   Aku kasian dengan Ibu yang kerja keras menguliahkanku sementara aku asyik pacar-pacaran. Aah…ndak deh. Apalagi aku mulai belajar agama. Dan aku sudah mulai paham batas-batas dalam pergaulan.

Beberapa semester berlalu terasa begitu cepat. Keseriusanku dalam menempuh study mendapat ganjaran yang setimpal. Aku berhasil mendapatkan nilai-nilai yang memuaskan dari semua mata kuliah yang diajarkan di bangku kuliah. Dan, akhirnya akupun lulus dengan memuaskan sebagai lulusan terbaik tahun ini.  Dalam acara wisuda, ibuku menghadiri acara itu. Dengan mata berkaca-kaca, Ibu memelukku setelah acara selesai. Ia sangat bangga denganku.  Walaupun kondisi keuangan kami yang tidak memadai, aku bisa menyelesaikan kuliah dengan baik. Aku percaya semua ini berkat doa Ibu yang senantiasa ia lantunkan di sepertiga malam yang hening.

***********************

Selepas kuliah aku tidak mau berlama-lama menganggur. Aku ingin bekerja. Aku ingin meringankan bebannya yang selama ini dipikulnya. Aku mencoba melamar pekerjaan di sebuah rumah sakit. Namun, sudah  tiga kali aku memasukkan lamaran kerja. Tak satupun yang merespon dengan baik lamaranku. Lamaranku ditolak. Ternyata, nilai-nilai mentereng di ijazahku tidak serta merta membuatku bisa diterima dengan mudah bekerja. Atau mungkin Dewi Fortuna belum berpihak padaku.

Aku kecewa dan segala kekecewaanku kuutarakan kepada Ibu. Aku belum bisa membalas segala jasa dan kebaikan Ibu selama ini. Aku belum mendapatkan pekerjaan. Padahal dengan bekerja, aku yakin bisa membahagiakan Ibu. Aku bisa membelikan apa yang diinginkan Ibu. Dan kalau bisa aku ingin sekali mewujudkan cita-cita Ibu yang ingin sekali berkunjung ke baitullah. Harapan yang selama ini mustahil terjadi karena kondisi keuangan kami yang serba terbatas.

Ibu tersenyum mendengar semua keluh kesahku. Ibu berkata, “Nak, bersabarlah. Insya Allah suatu saat engkau akan bekerja juga. Tapi, jangan putus asa. Coba lagi besok, yah. Doa Ibu selalu menyertaimu, Nak.” Melihat teduhnya senyum Ibu dan perkataannya yang menyejukkan hati aku terhibur dan itu sudah cukup membangkitkan kembali semangatku untuk mencoba melamar pekerjaan kembali. Ayoo semangat gaes !!

Keesokan paginya, aku sudah siap berangkat kembali. Mencoba peruntungan.  Siapa tahu rezekiku sudah terbuka hari ini. Aku melangkah memasuki parkiran area rumah sakit yang cukup ternama di kota Makassar, Rumah Sakit Awal Bross. Dengan perasaan dag dig dug der, dumba-dumba’ istilahnya orang Makassar, menunggu para petugas kesehatan berdatangan.  Kayaknya aku kepagian datangnya. Rupanya aku terlalu bersemangat kali ini. Hehehe..

Akhirnya aku berhasil memasukkan surat lamaran kerjaku dengan sukses. Dari hasil perbincangan dengan para petugas kesehatan di rumah sakit, ternyata pada saat ini rumah sakit lagi membutuhkan beberapa perawat karena perawat yang lama ada yang sudah resign, ada yang cuti hamil dan ada yang berhenti tanpa alasan yang jelas. Wow…kebetulan sekali. Semoga kali ini aku bisa diterima bekerja di sini. Kata petugas yang menerima berkas lamaran kerjaku, “Dik, tunggu telpon dari kami, yah! Apakah Adik diterima bekerja di sini atau tidak tergantung dari pimpinan rumah sakit.” Jawabku sambil tersenyum, “Baik, Bu. Aku tunggu telponnya.  Aku berharap bisa diterima bekerja di sini.” Aku pulang dengan perasaan riang. Sepertinya, kali ini aku akan diterima bekerja, deh. Pikirku penuh harap.

Seminggu kulalui dengan penuh harap. Detik demi detik aku menunggu panggilan dari rumah sakit tempatku melamar pekerjaan. Tiap kali smartphoneku  berdering, aku akan segera mengangkatnya. Siapa tahu panggilan itu berasal dari pihak rumah sakit. Tapi ternyata, tiap menerima telepon aku mesti kecewa. Karena yang menelepon bukan dari yang kuharapkan. Sampai suatu saat kudengar hpku berdering lagi. Aku yang sementara berselancar di dunia maya tidak segera mengangkat teleponnya. Aku pikir panggilan itu panggilan nyasar. Karena nomornya tidak tersimpan di nomor kontakku.
Namun, tiba-tiba aku terkesiap, jangan-jangan telepon itu dari rumah sakit. Aku mencoba menghubungi kembali nomor yang menghubungiku tadi. Alhamdulillah, panggilan diterima.

“Halo…Assalamu alaikum, selamat siang” Aku mulai menyapa
“Waalaikum salam,” jawab seorang Ibu dari seberang sana.
“Iya Bu, mau bicara dengan siapa? Tanyaku.
“Oh, iya, Dik. Apa Adik yang bernama Safira Nur Khadijah?”
“Betul…Aku yang bernama Safira. Ada apa yah? Oh, yah dengan Ibu siapa?
“Saya, Ibu Rina dari Rumah Sakit Awal Bross. Adik yang melamar kerja di Rumah Sakit Awal Bross, kan? tanya Ibu Rina. Lanjutnya, “Adik diminta hadir ke rumah sakit besok untuk proses wawancara. Alhamdulillah, Adik diterima bekerja di tempat kami. Selamat yah, Dik. Semoga sukses.”
“Alhamdulilah... Terima kasih banyak atas infonya, Bu. Insya Allah, aku akan datang besok ke rumah sakit.

Ibu Rina mengucapkan salam mengakhiri percakapan kami via telepon. Aku sendiri merasa belum percaya dengan apa yang terjadi. Kucubit-cubit pipiku untuk membuktikan bahwa ini bukan mimpi. Aduuh…Sakiit. Rupanya aku tidak sedang bermimpi. Ini kenyataan gaes. Sepertinya aku mau berteriak seperti anak kecil…Horeee…Aku diterima kerja. Sya la la la. Aah alay deh… Astagfirullah. Mestinya aku lebih banyak bersyukur. Alhamdulillah wa syukurillah.

Aku langsung mencari Ibu yang sementara berada di halaman. Ibu sedang menikmati keindahan bebungaan yang sementara bermekaran. Ibu memiliki hobbi menanam bunga. Aku tinggal menikmati keindahan bunga itu. Hasil tangan dingin Ibuku yang tersayang.

“Ibuu…Aku diterima kerja, Bu.”
“Iya, Nak. Betulkah itu? Alhamdulillah.”
“Iya, Bu. Alhamdulillah.”

Aku memeluk Ibu dengan erat sambil mencium pipinya. Ibu kelihatannya sangat bahagia melihatku  riang kembali. Setelah beberapa hari ini kelihatan murung.  Akibat menunggu panggilan kerja yang tak kunjung tiba. Ibu sebenarnya tak mempermasalahkan aku yang belum bekerja. Rupanya ia ingin menjodohkan aku dengan anak teman baiknya. Tapi aku menolak karena aku belum kepikiran untuk segera menikah. Aku mau bekerja dulu seperti yang pernah kucita-citakan dahulu.


************************

Akhirnya, aku bekerja sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Awal Bross. Rumah sakit bertaraf internasional. Gajinya lumayan untuk kehidupan sehari-hari dan sisanya bisa kutabung. Ibu kuminta untuk berhenti bekerja. Ibu bersedia berhenti bekerja membantu tetangga. Tetapi dengan satu syarat, ia ingin  membeli mesin jahit. Ia ingin bekerja menjadi penjahit. Kebetulan ia pernah kursus menjahit. Aku menyetujui keinginan Ibu.

Usaha jahitan Ibu ternyata berkembang. Dari hari ke hari, Ibu semakin banyak menerima orderan jahitan. Menurut pemakai jasa Ibu, jahitan Ibu cukup rapi dan ongkosnya cukup terjangkau. Namun, Ibu tak bisa mengambil terlalu banyak orderan. Karena tenaganya yang terbatas. Lagi pula kadang orderan  yang masuk serba mendadak. Ini hari dibawa, besok sudah mau diambil. Mana bisa?? Kecuali hanya menjahit rok yang sobek. Itu bisa dikerja dalam hitungan menit. Aku meminta kepada Ibu supaya jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja.

Suatu hari Ibu kelihatan meringis di depan mesin jahitnya ketika ia ingin menyelesaikan orderan jahitannya. Aku sangat mengkhawatirkan keadaan Ibu. Sudah beberapa hari ini Ibu tampak kurang sehat. Aku mengajaknya ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan Ibu. Dari hasil diagnosa, Ibu menderita penyakit gagal ginjal. Penyakitnya itu sebenarnya sudah lama Ibu derita. Mungkin Ibu terlalu kelelahan bekerja dan kekurangan asupan cairan sewaktu bekerja. Ternyata, selama ini Ibu menyembunyikan penyakitnya. Ia tidak pernah menceritakan penyakitnya padaku. Sepertinya Ibu takut aku bersedih jika aku mengetahui bahwa ia sedang sakit.

Kesehatan Ibu semakin memburuk. Apalagi ia mesti menjalani hemodialysis. Tubuhnya semakin mengurus. Karena ia tidak berselera makan. Hanya satu keinginannya sekarang, ia ingin melihatku menikah sebelum ajal menjemputnya. Keinginannya aku turuti. Aku menerima lamaran seorang pria. Pria itu anak teman baik Ibu. Saya percaya Ibu tidak salah memilihkan jodoh buatku. Kata Ibu, anak temannya itu sering ke rumah bersama ibunya sewaktu kami kecil. Katanya, aku pernah berteman dan bermain bersama dengannya. Dulu waktu aku dan dia masih kecil. Aku sudah lupa masa-masa itu. Ia dan keluarganya kemudian pindah ke kota lain. Namun, hubungan Ibu dan temannya itu masih terjalin dengan baik sampai saat ini. Apalagi dengan fasilitas media sosial yang tersedia sekarang. Komunikasi berjalan dengan lancar yang penting ada kuota data internet.

Ibuku meninggal setelah beberapa hari aku menikah. Aku sangat bersedih karena kepergian Ibu terlalu cepat. Sungguh....Aku terpukul dengan kepergian Ibu. Aku merasa belum cukup berbakti kepadanya. Dan aku belum bisa membahagiakannya. Namun aku harus merelakan kepergiannya. Selamat jalan, Ibuku tercinta. Doaku selalu menyertaimu…

*************************

Setelah Ibu meninggal, aku masih tetap bekerja di rumah sakit. Tentunya dengan seizin suamiku. Suatu ketika, saat aku sedang berjalan ke kamar untuk memeriksa keadaan pasien. Aku melihat seorang pria separuh baya yang sedang berbaring lemah di atas tempat tidur. Ia kaget melihatku. Rupanya, ketika ia melihatku seperti ia sedang mengingat seseorang. Ia memanggilku dengan memberi isyarat tangan. Aku berjalan ke arah bapak itu.

“…S a f i r a Nur Khadijah...” Bapak itu membaca papan nama di bajuku.
“Iya, Pak. Ada apa?” tanyaku.
“Kamu mengingatkan aku kepada seseorang, Nak…” jawab Bapak itu.
“Siapa pak?” Aku cukup penasaran dengan si Bapak.
“Seorang perempuan yang pernah kutinggalkan berpuluh tahun yang lalu. Dia adalah isteriku. Aku meninggalkannya dengan anakku yang masih sangat kecil. Anakku itu seorang perempuan. Namanya mirip dengan namamu. Safira Nur Khadijah. Siapa nama ibumu, Nak?”
“Ibuku bernama Nurul.”
“Kok bisa sama yah, nama ibumu dengan nama isteriku. Nama anakku dengan namamu. Apakah engkau adalah anakku, yah?”
“Oh tentu bukan, Pak. Kata ibuku, ayahku sudah lama meninggal. Waktu aku masih kecil. Sampai sekarang, aku tidak mengingat wajah ayahku. Foto-foto ayahku disimpan oleh Ibu dalam lemari. Mungkin ia bersedih kalau ia melihat kembali foto Ayah. Ia akan terkenang dengannya. Dan aku tidak pernah mencoba meminta Ibu untuk memperlihatkan foto-foto Ayah.”
“Mungkin, engkau ingin melihat foto isteri dan anak bapak.  Foto itu kutaruh di dompet.”

Bapak itu kemudian mengambil sebuah dompet. Ia mengambil sehelai foto dan memperlihatkannya padaku. Di dalam foto itu tampak seorang bapak, seorang ibu dan anak perempuannya. Wajah perempuan yang ada dalam foto itu mirip sekali dengan wajah Ibu. Mungkinkah itu Ibuku? Mungkinkah anak perempuan yang ada dalam foto itu adalah aku? Dan mungkinkah bapak yang ada dalam foto itu adalah ayahku? Dan kini Ayah sedang berada tepat di hadapanku. Perasaanku berkecamuk. Berbagai pertanyaan timbul dalam benakku. Mengapa Ibu tidak pernah menceritakan ini semua padaku? Mengapa dan Mengapa?

“Kalau Engkau ingin membuktikan bahwa aku ini bapakmu dan engkau adalah anakku," kata bapak itu. Lanjutnya, “Cobalah buka lemari ibumu. Dan ambil album foto di dalamnya. Engkau bisa menyamakan foto ini dengan foto-foto yang berada dalam album itu.”

Aku minta izin pulang kepada dokter penjaga. Ia mengizinkan aku pulang cepat. Aku ingin segera membuktikan kebenaran ucapan bapak yang mengaku ayahku itu. Sejak dulu aku tidak pernah sedikitpun berpikir bahwa Ayah masih hidup. Kuambil motor dan kupasang helm di kepalaku. Aku meluncur ke arah rumahku. Tak lama kemudian aku tiba di rumah. Suamiku sedang tak ada di rumah. Ada jadwal mengajar hari ini di kampus.  Aku langsung masuk ke kamar Ibu. Dan menghampiri sebuah lemari antik. Aku mencari kuncinya. Kuncinya ternyata ada di atas lemari. Lemari itu terbuka. Aku mengambil album foto di dalam laci lemari. Album foto yang sudah tua. Aku membuka album foto itu. Foto yang diberikan bapak itu mirip dengan foto-foto yang kutemukan di dalam album foto itu.

Aku tidak tahu mau berbuat apa. Aku merasa syok. Aku tidak tahu apakah aku mesti bahagia atau marah. Kalau memang ia ayahku, kenapa ia meninggalkan kami? Apakah Ayah tidak mencintai Ibu atau paling tidak, mencintai aku, darah dagingnya sendiri? Mengapa dulu Ayah begitu tega meninggalkan aku yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah?

Pertanyaan silih berganti merasuki alam pikiranku. Aku harus segera mendapat jawabannya. Kularikan kembali motorku ke arah rumah sakit. Aku ingin segera menjumpai bapak itu kembali. Dan menanyakan semua yang mengganjal di benakku. Sang bapak menjelaskan mengapa ia meninggalkan Ibu dan aku.

Waktu itu, ketika mereka menikah mereka masih belia. Karena rasa cinta yang begitu besar antara mereka. Mereka tidak bisa dipisahkan lagi. Mereka bagaikan Romeo dan Juliet. Di mana ada Ayah, di situ ada Ibu. Sehingga mereka dinikahkan oleh orang tua mereka.  Namun, ternyata dalam perjalanan pernikahan mereka kerap terjadi pertengkaran. Sikap perhatian antara mereka berubah setelah menikah. Apalagi ketika sang isteri hamil, tentunya butuh perhatian lebih, tapi sang suami malah asyik bermain dengan teman-temannya. Ketika ada masalah, tak ada yang mau mengalah. Sampai suatu ketika ada perempuan lain yang memikat hati Ayah. Ayah yang kepincut, memilih kawin lari dengan perempuan itu. Ia meninggalkan Ibu dan aku yang masih kecil. Kemudian ia tersadar dan kembali mencari Ibu dan aku. Namun, ia tidak menemukan kami. Ternyata, kami sudah pindah ke kota lain. Dan ia tidak menemukan jejak mereka.

Setelah mendengar penjelasan Ayah, aku tidak tahu mau bersikap bagaimana. Seharusnya aku marah kepada Ayah karena ia telah meninggalkan kami, Ibu dan aku. Tetapi, entah mengapa rasa marah itu sirna melihat kondisi Ayah saat ini. Yang terbaring lemah di pembaringan.

“Aku minta maaf padamu, Nak,” pinta bapak. Lanjutnya, “Ijinkanlah Ayah untuk ketemu ibumu!”
“Untuk apa, Pak? Ibu sudah melupakan semuanya.”
“Bapak hanya ingin minta maaf kepada ibumu, Nak.”
“Minta maaf…Minta maaf sudah tidak bisa lagi, Pak.”
“Kenapa, Nak?” tanya Bapak. Lanjut bapak, “Padahal Ayah sangat berharap bisa meminta maaf kepada ibumu, sebelum ajal menjemputku.”
“Soalnya, Ibu sudah meninggal dunia, Pak.”
“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Ya, Tuhaan, aku belum sempat memohon maaf padanya.”

*************************

Aku meninggalkan Ayah yang bersedih mendengar kabar tentang Ibu. Penyesalan datang menghinggapinya tanpa terbendung. Aku sendiri belum bisa menerima kehadiran Ayah begitu saja. Yang sekian lama dan bahkan sudah bertahun-tahun, kuanggap telah tiada. Kini tiba-tiba muncul di hadapanku. Akankah suatu hari nanti aku bisa menerima Ayah kembali dalam kehidupanku? Karena biar bagaimanapun ia adalah ayah kandungku. Aah, biarlah waktu yang akan menjawabnya.