Kamis, 08 September 2016

LIKE




Suatu waktu, saya duduk bersama anak sulung saya. Saat itu, saya sedang membuka facebook. Lalu dia bilang, "Mamak kenapa kita like semua statusnya orang. Padahal sedikitnya mami yang like statusta kita mamak. Jangan maki itu like-ki kalau tidak nasukaji juga na-like statusta." Mendengar kata-katanya, saya ketawa. Lalu bilang, "Tidak apa-apaji Nak. Ka memang statusnya kusuka dan teman-temanku ji itu semua."

Pernah juga ada saudara yang curhat sama saya. Dia bilang, "Ada teman baikku dulu, ketemuka di facebook. Akrabku mami itu temanku dulu. Tapi sekarang ketemuka di facebook, kayak dia ji yang mau dilike statusnya. Dia tidak pernah mau like statusta. Na adaji selalu itu dia di facebook. Kayaknya mau ka' itu berhenti berteman dengan dia di facebook. Ka kalau dilihatki statusnya, selaluki mau like statusnya. Tidak baik tong itu rasanya kalau tidak dilike na teman baikta."  Saya bilang, "Kalau begitu berhenti maki ikuti dia. Jangan maki putuskan pertemananmu. Jadi status-statusnya tidak bisa masuk di berandamu kecuali ada temanmu yang lain, yang like atau komentari." Lalu dia bertanya, "Kenapa dia begitu di'. "Saya bilang, "Tidak sadarki barangkali."

Ada juga teman yang bilang, banyaknya teman-teman kita di facebook tapi yang biasa saling komunikasi itu hanya satu dua orang. Padahal kalau kita ketemu di darat, kita akrab sekali. Padahal berseliweran teman-teman di facebook tapi jarang menyapa. Saya bilang, barangkali kita juga jarang menyapa di status mereka. Yah, jadi barangkali saling mengharaplah.

Ternyata like atau jempol maupun komentar kita di status teman, begitu berharga. Padahal selama ini kita menganggap remeh.

Begitulah, facebook yang semestinya menjadi ajang silaturrahim, ternyata menimbulkan masalah baru. Kekecewaan. Seorang yang menjadi kecewa kepada kawannya ketika kawannya walaupun aktif di facebook. Tapi jarang, atau tak sekalipun berkunjung ke statusnya. Apakah dalam bentuk like atau jempol. Ataukah berkomentar di statusnya. Padahal ia terpantau sangat aktif di facebook. Terlihat berkomentar di status teman yang lain. Ataupun berkomentar di temannya yang lain lagi. Tetapi sang karib sangat jarang hinggap di statusnya.

Melihat kejadian-kejadian di atas, barangkali kita perlu introspeksi diri kita masing-masing. Sebagai pengguna facebook. Kalau kita tidak ingin pertemanan kita menjadi renggang. Dan suasana hangat yang dulu kita rasakan bersama dengan teman kita, bisa tercipta kembali walau lewat facebook.

Bagi saya pribadi, like atau komentar saya pada status seorang kawan itu menandakan saya kenal dia. Saya ada dan tak pernah lupa padanya. Itulah, alasan saya mengapa barangkali bertaburan like saya di mana-mana. Karena selain memang layak untuk diberi jempol. Status itu milik teman saya. Atau kenalan saya.  Ya, sesederhana itu alasan saya. Toh, apa salahnya kita melike status teman. Juga berkomentar. Kita tak akan rugi. Karena sebuah jempol  atau komentar kita akan  begitu berharga dan bisa menyenangkan hati bagi kawan kita. Betul tidak? Sebuah jempol bisa membuat mereka tetap bersemangat untuk berbagi dengan kita.

Bagi si pembuat status, ketika memposting sesuatu, tidak boleh mengharapkan hanya jempol semata. Kita harus kembali merenungkan niat kita. Untuk apa kita berfacebook. Salah satu tujuan kita berfacebook adalah untuk menjalin silaturrahim dan menebarkan kebaikan. Jadi ketika kita tidak mendapatkan jempol seperti yang kita harapkan, tidak usah berkecil hati. Tetaplah membuat status dan membagikan tautan. Status dan tautan yang positif  yang akan menginspirasi banyak orang. Hindarilah postingan yang kontroversial apalagi yang bersifat hoax.

Berdasarkan pantauan saya di facebook, banyak juga orang-orang yang hebat, yang statusnya sangat menginspirasi tetapi sedikit yang memberi jempol. Prinsip mereka barangkali, yang penting orang lain yang membaca dapat memperoleh manfaat dari statusnya. Tak penting berapa banyak yang memberi like atau komentar. Mereka tetap aktif membagikan status mereka.


Oleh : Hamsinah Hamid Daeng Lu'mu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar