Selasa, 13 September 2016

SYIAH BUKAN ISLAM?

Syiah bukan Islam
Syiah kafir syiah sesat

Kalimat di atas sering sekali dilontarkan oleh orang yang antipati atau apriori pada syiah. Atau orang yang tidak mengenal apa itu syiah. Ataupun orang yang tidak mempelajari sejarah Islam dengan baik.

Untuk mengenal dan memahami dengan baik tentang Syiah. Kita perlu mempelajarinya dari ulama-ulama ataupun cendekiawan yang refresentatif  untuk memberi penjelasan tentang Syiah itu sendiri. Bukan dari orang-orang yang mengaku Syiah tetapi tidak memahami Syiah secara mendalam. Apalagi, belajar tentang Syiah melalui sumber-sumber yang memang sudah antipati terhadap Syiah.

Sebagai manusia tentunya kita punya akal. Yang dipergunakan untuk berpikir. Menelaah sesuatu apakah itu sesuatu benar atau salah. Jadi, kita sebagai makhluk tuhan yang berakal mesti mempelajari. Bukannya menerima secara mentah-mentah. Apapun itu. Kita bisa memperbandingkan sesuatu yang masuk akal dan mana yang tidak masuk akal. Ya, akal, itulah karunia Ilahi terbesar yang tidak boleh kita sia-siakan.

Saya kadang heran. Ketika ada yang mengatakan bahwa Syiah itu bukan Islam. Bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Alasannya apa? Bukankah Syiah, sebagaimana sunni adalah bagian dari ummat Islam? Mereka adalah produk sejarah yang tidak bisa kita tolak kehadirannya. Ketika kita membuka lembaran sejarah. Asal mula terbaginya umat Islam menjadi beberapa bagian yaitu
sejak Rasul meninggal dunia. Yang pada akhirnya akan melahirkan berbagai mazhab dalam Islam. Di antaranya, Sunni dan Syiah.

Saya tidak mengerti. Mengapa ada-ada saja yang ngotot, Syiah bukan bagian dari Islam. Bahwa mereka kafir dan sesat. Mereka tidak seaqidah dengan kaum muslimin lainnya. Padahal mereka juga bersyahadat, sholat, mempunyai kiblat yang sama, zakat, berpuasa pada bulan ramadhan dan beribadah haji ke Al Haramain. Di mana letak kekafiran dan kesesatan mereka. Barangkali ada sedikit yang berbeda. Tetapi persamaan lebih banyak.

Ada yang bilang, bahwa syiah itu bukan Islam. Karena telah mengkafirkan tiga sahabat atau khalifah pertama, yaitu Abu Bakar ra, Umar ra dan Utsman ra. Bisa jadi mereka tidak menerima ketiga khalifah pertama itu, karena yang mereka yakini Ali yang mestinya menjabat khalifah pertama setelah Rasulullah meninggal. Tetapi, bukan berarti mereka mengkafirkan mereka. Sikap penolakan seseorang kepada orang lain selain nabi, apakah  cukup untuk menuding bahwa Syiah bukan bagian dari Islam. Apakah dengan sendirinya Islam seseorang gugur karena tidak menerima tiga kekhalifahan setelah rasul wafat. Saya kira tidak.

Bahkan menurut catatan yang tersebar luas di berbagai referensi Ahlus Sunnah, pernah datang sekelompok orang kepada Imam Zayd ibn Ali Zaynal Abidin, yang diakui sebagai imam kaum Syiah. Sekelompok orang itu mendorong Imam Zayd untuk menolak kedua orang sahabat, Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra. Merespon hal ini, Imam Zayd mengusir mereka sambil berkata "Sesungguhnya Kalian adalah Rafidhi". Rafidhah, berarti penolak, ditujukan kepada dua orang sahabat utama Nabi yang menjadi khalifah sepeninggal beliau.

Sayangnya, meski dapat diterapkan atas sebagian Syiah yang mengecam sahabat, belakangan ini kata Rafidhah diidentikkan dengan Syiah secara keseluruhan, bukan kepada sekelompok orang dalam mazhab ini yang bersikap demikian.

Ummul Mukminin Aisyah pun tidak luput dari comotan mereka untuk mengklaim bahwa Syiah itu kafir dan bukan bagian Islam. Menurut buku yang saya pernah baca, syiah Ali memprotes Ummul Mukminin karena telah bersama-sama Zubair bin Awwam ikut dalam perang Jamal dalam memerangi khalifah Ali bin Abi Thalib pada waktu itu.

Lagi pula rahbar umat Islam Syiah melarang bagi penganut mazhab ahlul bayt untuk menghina simbol-simbol yang dihormati umat Islam. Seperti ketiga khalifah terdahulu dan Ummul Mukminin Aisyah.

Beberapa fitnahan juga dilancarkan untuk memprovokasi umat Islam yang berbeda mazhab. Seperti Alqur'an umat Islam syiah beda dengan Alqur'an umat Islam mayoritas. Padahal, pernah ada utusan dari Indonesia ke Iran. Melihat percetakan Al Qur'an di sana. Ternyata tidak ada perbedaan dengan Al Qur'an Mushaf Usmani seperti yang dipakai di Indonesia. Bahkan yang berkunjung ke sana balik memuji keindahan kitab suci cetakan Iran.

Ada juga fitnahan yang mengatakan bahwa, ummat Syiah menganggap Ali lah nabi mereka. Bukan Muhammad. Tetapi kenyataannya mereka bersyahadat sama seperti kita. Kalaupun ada tambahan Ali waliyullah di dalam azan mereka. Saya kira tidak masalah. Mereka hanya menganggap Ali sebagai wali Allah bukan sebagai nabi. Karena rasul dan nabi terakhir bagi umat Islam adalah Khatamul Ambiyai, Al Mustafa Muhammad SAW. Sama seperti  ketika kita dari Sunni mengucapkan asshalatu wassalamu ala asrafil ambiyai wal mursalim wa ala alihi waashabihi ajmain amma baad. Yang sering diartikan: salam dan shalawat atas junjungan kita nabi muhammad saw, kepada keluarganya, dan para sahabatnya.

Namun, seperti yang tertuang dalam  Buku Putih Mazhab Syiah, di dalam kitab Wasail Al Syiah disebutkan larangan untuk menambahkan teks "wa aliyyan waliyullah: dalam azan. Bahkan, hal ini dianggap sebagai sesuatu yang dimasukkan kategori tidak shahih dalam kitab-kitab Syiah. Kalaupun dibenarkan, hukum tambahan "wa aliyya waliyullah" dalam azan adalah sama dengan hukum pendengat azan bershalawat ketika mendengar kata Muhammad disebut dalam syahadat.

Lebih lanjut lagi, mereka mempersoalkan cara shalat umat Islam Syiah yang meluruskan tangan dan tidak bersedekap. Hal ini sangat lucu bagi saya. Karena salah satu imam Mazhab Sunni, yaitu Imam Malik pun ada yang mengajarkan untuk meluruskan tangan pada waktu sholat. Betul-betul sebagian umat Islam tidak belajar dulu baru berkomentar yang tidak-tidak. Jadi malu bukan.

Ada lagi, yang mengatakan umat Syiah itu berhajinya ke Karbala. Kalau berhajinya di Karbala, kenapa umat Islam Syiah setiap tahun ke Mekah untuk berhaji. Tidak masuk akal bukan. Mereka ke Karbala untuk berziarah ke makam Husain bin Ali. Di mana, di tempat itu ratusan tahun yang silam telah terjadi pembantaian atas cucu kesayangan rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Mereka dibantai dengan keji dalam keadaan kehausan pula. Tidak terketukkah hati kita mendengar peristiwa ini? Saya kira walaupun kita bukan dari Syiah, kita akan berduka apabila mengenang pembantaian keji itu. Bukan cuma umat Islam Syiah yang berbondong-bondong ke sana untuk berziarah. Tetapi juga umat kristiani juga ada yang ikut berziarah ke makam cucu Rasulullah.



Saya bukan Syiah atau ahlul bayt. Saya Sunni dengan mazhab Syafii. Tetapi melihat saudara saya yang Syiah difitnah sedemikian rupa, tanpa berupaya tabayyun. Dan selalu dituduh bertaqiyah. Hatiku tergerak untuk menyampaikan apa yang  saya ketahui walaupun barangkali tidak sempurna penyampaian saya. Dan terdapat kekeliruan di dalamnya. Walaupun sering dituduh sebagai bagian dari Syiah. Itu sudah resiko. Karena siapapun yang membela dan mencoba meluruskan pemahaman yang keliru tentang Syiah. Maka ia akan dituduh sebagai seorang Syiah. Sebagaimana imam mazhab yang kuanut, Imam Syafii. Yang dituduh sebagai Syiah, hanya karena ia mencintai keluarga Nabi. Ucapan terkenalnya yaitu : " Ketika aku dituduh Rafidah hanya karena cintaku kepada keluarga nabi, saksikanlah bahwa aku adalah Rafidah." Itulah ucapan imam mazhab yang sangat terkenal dalam mazhab Sunni. Dia rela dituduh sedemikian rupa walau tuduhan itu tidak benar adanya.



Saya bahkan salut dengan saudara kita dari mazhab Syiah yang tampaknya begitu mencintai keluarga nabi. Karena semestinyalah kita memang harus mencintai mereka. Kita tidak bisa memisahkan kecintaan kita kepada rasul dengan kecintaan kepada keluarganya. Shalawat yang kita kirimkan tidaklah lengkap ketika kita tidak menyebut mereka. Seperti yang selalu kita lantunkan dalam shalat-shalat kita. Allahumma shalli ala sayyidina muhammad wa ala ali sayyidina muhammad.

Walaupun ada yang mengatakan bahwa kecintaan kaum Syiah terhadap ahlul bayt hanyalah sebagai kedok. Hanya untuk menarik simpati dan kemudian menjerumuskan umat Islam. Tetapi, apakah memang seperti itu kenyataannya. Kita tidak bisa menghukumi sesuatu, hanya berdasarkan prasangka saja. Bahkan ada yang pernah membuat sebuah tabligh akbar dengan tema Air Mata Buaya. Berhubungan dengan peringatan hari Asyura. Mengenang kesyahidan cucu rasulullah di Karbala. Sungguh prasangka bisa melahirkan kebencian.

Ayolah, saudara-saudariku. Marilah kita membuka mata, hati dan pikiran kita untuk orang lain. Kita tidak boleh sembarang menuduh orang lain sesat dan kafir. Karena kebenaran mutlak itu hanya milik Allah. Marilah kita belajar dan belajar. Membaca buku demi buku. Jangan cuma membaca buku yang jelas-jelas antipatinya terhadap mazhab lain. Kenalilah mereka dari buku-buku mereka sendiri. Jangan bagaikan katak dalam tempurung. Hanya kitab-kitab kita sendiri yang kita baca. Agar kita bisa memahami mereka. Memahami bukan berarti harus menjadi seperti mereka, bukan?

Saya sebenarnya, ingin sekali sejarah itu dibuka selebar-lebarnya. Untuk mengetahui kebenaran atau pun kebathilan yang pernah terjadi. Agar kita bisa mengikuti sebenarnya yang pantas kita ikuti. Tetapi bukan sejarah namanya, kalau tidak terdiri dari beberapa versi. Agar kita adil dalam menilai. Ayolah kita mempelajari sejarah dari berbagai versi yang ada.

Setelah mengetahui bahwa syiah dan sunni itu bagian dari proses sejarah. Apakah kita akan mengklaim bahwa mazhab itu benar dan mazhab itu yang bathil. Tentu saja tidak. Sekali lagi, kebenaran mutlak itu hanya milik Allah. Mazhab itu hanya jalan untuk menuju Allah.

Dalam Konferensi Islam Internasional yang diadakan di Amman, Yordania pada tanggal 04-06 Juli 2005, ratusan ulama telah berkumpul dan menyatakan bahwa syiah itu merupakan bagian dari Islam. Beberapa mazhab Syiah yang diakui dalam deklarasi itu termaktub dalam piagam deklarasi Amman 2005.



Dalam Konferensi Islam Internasional yang dihadiri oleh limaratusan ulama dari seluruh dunia itu bertemakan "Islam Hakiki dan Perannya dalam Dunia Modern".  Dalam deklarasi yang biasa disebut Deklarasi Amman itu menghasilkan beberapa keputusan penting, yaitu siapa saja yang mengikuti dan menganut salah satu mazhab dalam mazhab ahlus sunnah (Syafii, Hanafi, Maliki dan Hambali), dua mazhab syiah (Ja'fari dan Zaidi), Mazhab Ibadi dan Mazhab Zhahiri adalah muslim.
Bahwa tidak diperbolehkan mengkafirkan salah seorang pengikut dan penganut salah satu mazhab tersebut. Darah, kehormatan dan harta benda dari salah seorang pengikut atau penganut salah satu mazhab tersebut di atas tidak boleh dihalalkan.

Jadi berdasarkan Deklarasi Amman, Penganut dua mazhab Syiah, yaitu Ja'fari dan Saidi itu adalah muslim (orang Islam). Artinya, jelaslah sekarang, bahwa kalimat bahwa Syiah Bukan Islam, itu adalah pelanggaran terhadap hasil keputusan dalam deklarasi Amman. Dan sebagai bagian dari umat Islam, muslim Syiah adalah saudara seiman kita dalam Islam.

Menurut Profesor Quraysh Shihab, sejak tahun 1961 di Mesir sudah terbit Mausu"ah Jamal Abdul Nashir Al-Faqqiya (judul ketika pertama kali terbit) yang di dalamnya tercakup 8 mazhab. Yakni, empat mazhab Sunni yang terkenal: Hanafi, Hambali, Syafi'i dan Maliki. Kemudian ada Syiah Ja'fariyah, Zaidiyah, Al Ibadiyah, dan Az-Zhahiriah. Ada juga kesepakatan di Turki, Arab Saudi, dan Qathar. Jadi, ada fakta bahwa sudah lama umat Islam mudah menemukan kesepakatan-kesepakatan. Maka kita semua sepantasnya merujuk ke sana.

Jadi kita bisa melihat dan menimbang. Siapakah yang patut kita percaya, orang-orang atau kelompok-kelompok yang ingin melihat persatuan atau perdamaian umat Islam ataukah kelompok-kelompok yang selalu menebarkan bibit-bibit perpecahan dan permusuhan di kalangan umat Islam.



2 komentar:

  1. Silahkan yang belum tahu tentang syiah atau anti syiah, saya sarankan untuk membaca tulisan dari link dibawah ini sebagai referensi dan bentuk tabayyun pada syiah, jangan sampai anda belum tahu sedikitpun tentang syiah, tapi sudah mengatakan sesat dan kafir kepada orang yang bermazhab syiah, boleh jadi karena anda hanya ikut-ikutan atau anda hanya mendapat info sepihak tentang syiah...dan di akhirat nanti anda akan menyesalinya, dan hal itu sudah terlambat, karena pada saat itu penyesalan sudah tiada guna.
    https://simpatisansyiah.wordpress.com/
    di web ini hanya ada 1 catatan: "Tabayyun Kepada Syiah: Saya Dari Anti Syiah Menjadi Simpatisan Syiah" saja.
    Semoga bermanfaat. :)

    BalasHapus
  2. Maaf baru dibalas, terima kasih atas komentarnya.Saya sudah membacanya, terima kasih banyak :)

    BalasHapus