Jumat, 16 September 2016

Sapi Kurban di Pondok





Sehari sesudah lebaran haji atau Idul Adha, saya mendengar dari orang tua santri yang berkunjung ke rumah bahwa Rizqy, anak saya di pondok kena musibah. Musibah apa itu? Katanya, sapi yang mau dijadikan hewan kurban di pondok mati. Dan anak saya diharuskan membayar lima ratus ribu rupiah. Ada sekitar dua puluhan anak yang mesti membayar sejumlah itu. Pembayaran itu untuk ganti rugi sapi kurban yang mati itu. Kenapa bisa? Katanya, karena Rizqy dan teman-temannya melihat sapi itu terlilit tali sebelum mati tapi tidak segera melaporkan ke ustadz mereka.

Kabarnya, ada seorang anak yang melempar hewan pemamah biak itu. Si sapi gelisah dan berputar-putar. Akibatnya, leher si sapi terlilit tali. Anak-anak ramai menonton kejadian itu. Maklum anak kota. Jarang-jarang mereka melihat sapi secara dekat dan terikat. Mereka tidak mengira si sapi akan mati.  Rizqy sendiri mengaku sorenya dia melihat hewan itu lagi rebahan. Dia kira si sapi lagi tertidur. Malamnya hewan itu sudah dilaporkan mati.

Oh, yah. Si sapi kurban ini adalah hasil patungan dari tujuh orang yang hendak berkurban. Sapinya lumayan besar dengan harga sekitar sebelas setengah juta rupiah. Sapi kurban itu diikat di belakang pondok, dekat tempat permandian anak santri. Hewan kurban itu datangnya dua hari sebelum lebaran. Dan mati hari ahad, sehari sebelum hari raya kurban dilaksanakan.

Setelah mendengar kematian si sapi kurban, di antara yang patungan itu ada yang mengikhlaskan dan ada yang tidak mengikhlaskan. Yang mengikhlaskan berpikir itu adalah musibah yang tidak disangka-sangka. Yang tidak mengikhlaskan menuntut sapi yang mati diganti sapi yang baru. Wah, gimana ini. Bagaimana cara menggantinya. Uang sebelas setengah juta itu bukan uang yang sedikit. Pak Ustadz diberi waktu paling lambat tiga hari untuk mengganti. Supaya sapi pengganti bisa disembelih tepat waktu.

Maka didaftarlah anak yang berada di sekitar lokasi kejadian. Anak yang melihat si sapi terlilit tali yang menyebabkan kematian sapi itu. Untuk menalangi dana pembelian sapi pengganti.

Saya pikir, kenapa anak yang disalahkan dalam hal ini. Sudah sewajarnya anak tertarik melihat seekor sapi yang terikat tak jauh dari tempat mereka. Apalagi selama ini, mereka yang notabene anak kota, jarang melihat sapi secara dekat. Kalau anak-anak yang mesti mengganti rugi hanya karena melihat sapi terlilit tali dan tak melapor, alangkah lucunya. Lucu khan..

Sudah beberapa kali Rizqy menanyakan kapan kami datang menjenguknya. Katanya, ia harus membayar uang ganti rugi itu. Harus dibayarkan sebelum kamis karena kamis sudah hari terakhir penyembelihan hewan kurban.

Sebenarnya kami sudah punya rencana untuk menjenguk anak sehari sesudah lebaran. Tapi, anak perempuan kami yang ketiga, Renaisa sakit. Muntah-muntah dan susah bernafas karena hidung tersumbat. Pilek barangkali. Jadi kami undur sampai Renaisa sembuh.

Alhamdulillah, Renaisa sembuh sebelum kamis. Jadi kami pastikan berangkat kamis pagi. Saya hubungi kakak-kakak yang mau menitip sesuatu untuk anak-anaknya di pondok. Dan saya hubungi pula kak Yeni yang mau ikutan menjenguk anaknya.

Sepagi mungkin persiapan untuk pergi ke pondok saya tuntaskan. Setelah persiapan tuntas, saya membangunkan anak. Si bapak menjemput barang-barang yang akan dititip kakak-kakak senior ke Tamalanrea. Kami berencana mau lewat tol. Kak Yeni menelepon katanya tidak bisa ikut serta ke Mangkoso. Karena ada halangan. Temannya keserempet motor dan kak Yenni tidak tega meninggalkannya. Kamipun berangkat.

Singkat cerita, sampailah kami ke pondok. Kami langsung istirahat. Kami membincangkan tentang sapi kurban yang mati itu. Anak-anak bilang semua yang melihat sapi pada hari itu harus membayar. Rizqy juga karena dia melihat. Kesalahan mereka adalah karena tidak segera melapor. Rizqy bilang mana dia tahu sapi itu sudah mati. Dikirany lagi rebahan. Kekenyangan habis makan. Rizqy bilang sudah trauma melihat sapi. Oh..koodong.

Saya bilang, hanya melihat sapi dan kebetulan sapi itu mati, anak-anak harus membayar ganti rugi. Di mana logikanya? Memangnya anak-anak pada mencekiknya. Hanya melihat dan barangkali juga main-maini si sapi. Tapi kalau sampai sapi itu mati, pasti ada kesalahan. Bapaknya Rizqy bilang, tali untuk mengikat sapi semestinya pendek saja. Supaya sapi tidak gampang terlilit tali dan kecekik. Dan kenapa juga tak ada orang yang ditugaskan untuk menjaga si sapi. Sekarang sapi itu mati, kok anak-anak yang mesti bertanggung jawab. Logikanya di mana coba. Di mana coba.

Sorenya, kami bersama anak-anak ke kota untuk berbelanja keperluan anak pondok untuk sebulan. Sengaja kami tidak beli sebelumnya di Makassar. Karena takutnya salah beli. Beda kalau mereka yang pilih sendiri. Mereka tentu saja mengetahui dengan pasti apa kebutuhan mereka.

Sepulang berbelanja, di pondok kami ketemu ustadz pembina asrama. Saya naik ke lantai atas. Sedangkan si bapak berbincang dengan ustadz. Sehabis berbincang dengan Ustadz, bapak bilang tadi dia dipanggil khusus sama pak Ustadz untuk membicarakan tentang sapi kurban. Pak ustadz bilang ini musibah yang menimpa pondok. Dan ingin  meminta bantuan orang tua santri untuk menanggulangi bersama. Jadi bukan disuruh ganti rugi tapi diminta membantu.

Sebenarnya Pak ustadz merasa tidak enak hati untuk meminta bantuan. Tetapi si sapi pengganti harus ada sebelum hari terakhir. Hari terakhir untuk berkurban. Sebenarnya sebagian yang berkurban sudah ikhlas tetapi ada juga yang minta untuk diganti.

Menurut ustadz, beliau sebenarnya sudah pasrah. Mustahil untuk mengganti si sapi. Dalam rentang waktu yang singkat, bagaimana caranya mendapat uang sebanyak sebelas setengah juta untuk membeli sapi. Tetapi, ada beberapa orang tua santri yang datang pada hari lebaran menjenguk anaknya di pondok merasa prihatin dengan musibah itu. Mereka mengulurkan bantuan. Bahkan ada yang menyerahkan satu juta kepada ustadz. Tapi semua itu belum cukup, baru terkumpul tiga juta lima ratus rupiah. Dana yang terkumpul malah belum setengahnya. Ustadz sudah putus asa. Antara mau melanjutkan atau pasrah. Tapi, ustadz tidak enak hati untuk mengembalikan uang kepada yang sudah menyumbang.

Akhirnya, pak ustadz memutuskan untuk pergi ke bendahara kampus untuk meminta dana talangan. Alhamdulillah, bapak bendahara menyerahkan dana, dengan syarat dana yang dipinjam harus dikembalikan. Bendahara kampus sampai menangis karena kejadian itu. Melihat pak Ustadz yang pasti masih shock dengan kejadian ini. Dia kasihan sama pak Ustadz yang sebelumnya sangat sibuk mengurus persiapan hari raya Idhul Adha.

Bapaknya Rizqy bilang sama Ustadz, bahwa tidak sanggup untuk membayar lima ratus ribu rupiah sementara ini. Karena ada pembayaran sekolah yang harus ditunaikan dulu. Tapi dia prihatin dengan musibah ini. Dan mau membantu tapi tidak bisa sekarang.

Setelah mendengar hasil perbincangan bapak dengan Ustadz. Saya bilang, itulah kalau kita tidak tabayyun. Kita mengira anak-anak diharuskan untuk segera membayar karena mereka dituduh bersalah tidak melaporkan si sapi yang sekarat. Tapi ternyata, hanya diminta bantuan. Kalau dibahasakan bantuan sih, aku terima. Apa salahnya membantu. Mengingat yang harus mengganti sapi itu dan mengeluarkan dana itu pak Ustadz sendiri. Dari kantong pribadinya. Khan kasian kalau tidak dibantu. Apalagi ustadz sudah kami anggap orang tua bagi anak kami di pondok.

Sebelum pulang, saya turun ke lantai bawah. Rencana mau ketemu istri Ustadz. Untuk minta bantuannya membayarkan uang pembayaran sekolah anak-anak. Sekaligus menyerahkan uang lima ratus ribu rupiah. Dengan niat membantu meringankan pak Ustadz mengumpulkan dana untuk dibayarkan kembali pada bendahara kampus.

Tapi istri ustadz ternyata sakit. Katanya sakit karena shock melihat sapi kurban mati dan harus segera diganti. Saya pikir, siapa yang tidak shock melihat musibah seperti ini. Bukan uang seratus lima ratus ribuan tapi jutaan ini yang mesti dikeluarkan. Dan itu mesti mengocek saku sendiri. Kasihan sekali. Sudah ada orang tua santri yang membantu tetapi masih jauh dari cukup. Belum setengahnya. Tapi sapi pengganti harus segera dibeli. Waktunya sudah mepet. Sapi harus segera disembelih. Agar terhitung sebagai hewan kurban. Kalau sudah lewat bukan lagi hewan kurban namanya. Saya cukup mengerti keadaan istri pak Ustadz. Kalau saya dalam posisi yang sama. Tentunya saya akan shock juga. Untunglah pak Ustadz orangnya ikhlas dan sabar.

Karena batal ketemui istri ustadz. Saya menyerahkan uang lima ratus ribu itu secara langsung kepada ustadz. Beliau kaget karena uang sudah diserahkan full. Pikirnya, dua ratus ribu dulu. Saya bilang, tidak apa ustadz. Insya Allah rejeki itu di tangan Allah. Saya yakin itu. Pak Ustadz berterima kasih dan meminta maaf dengan kejadian ini. Katanya, ini musibah yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Saya bilang barangkali ini ujian ustadz. Untuk menguji kita semua. Apakah kita akan menerima dengan lapang dada atau tidak. Semua ada hikmahnya. Ini adalah pengurbanan. Bukan pengurbanan namanya kalau tidak berat rasanya. Seandainya saya punya uang lebih, saya akan membantu lebih dari uang yang telah ditentukan. Tapi sayang, saat ini hanya itu yang bisa saya berikan.

Demikianlah, sekelumit cerita tentang kejadian matinya seekor sapi kurban menjelang hari Idul Adha 1437 H di pondok Istamar, yang cukup menghebohkan sekaligus menyedihkan. Menghebohkan karena tersiar kabar bahwa santri harus membayar ganti rugi karena santri tidak melaporkan segera keadaan sapi yang sekarat. Padahal hanya diminta bantuan. Dan menyedihkan karena, ibu asrama, istri ustadz jatuh sakit karena musibah ini

Seperti yang pernah saya baca lewat media online, NU online, menurut ustad bahwa sapi kurban yang sudah diserahkan ke panitia kurban. Maka panitia kurban yang bertanggung jawab atas sapi kurban itu. Kalau sapi kurban mati sebelum lebaran haji tanpa ada unsur kesengajaan, maka panitia tidak wajib menggantinya. Tetapi kalau ada unsur kelalaian di dalamnya, maka panitia kurban yang wajib menggantinya. Dalam hal ini pak Ustadz di Pondok sudah bertanggung jawab dalam hal mengganti hewan kurban. Walaupun ada juga ustadz yang mengatakan tak perlu mengganti karena ini musibah dan tidak disengaja.

Ustadz  harus cepat mengambil keputusan karena ada desakan untuk mengganti dengan hewan kurban baru. Sementara itu ada bantuan dana dari orang tua santri yang merasa prihatin dengan peristiwa tersebut. Karena dana belum cukup, maka dirasa perlu adanya penggalangan dana dari para orang tua santri yang anaknya tinggal di pondok itu.

Jadi bertabayyunlah ketika ada berita yang kita dengar, jangan cepat memvonis apalagi menyebarkan berita belum tentu kebenarannya. Thankyu sudah membaca.

1 komentar: