Senin, 09 Desember 2019

TUMBAL





Malam itu, ambulan meraung-raung mengusik keheningan malam. Beberapa orang tetangga keluar rumah hendak menyaksikan siapa yang dibawa oleh kendaraan yang berwarna putih itu. Mereka penasaran karena sudah beberapa hari ini banyak korban berjatuhan. Akibat wabah types yang melanda kampung. Mereka celingak celinguk sambil bertanya-tanya. Siapa lagi yang meninggal, kodong? Dan terucaplah satu nama. Marni yang meninggal. Seorang janda dengan anak satu.

Biasanya, jika tetangga sudah tahu siapa yang meninggal. Mereka akan pergi pergi melayat dan menghadiri takziah pada malam berikutnya. Tetapi, kali ini lain. Mereka tetap pergi melayat dan bertakziah kepada keluarga almarhumah. Namun, diiringi berkembangnya desas-desus tentang musabab kematian Marni. Katanya, Marni meninggal tidak wajar. Ia dimakan oleh ilmunya sendiri. Ilmu untuk memperlancar usahanya.

Sejak kematian suaminya, Marni hanya tinggal berdua dengan anaknya, Sangkala. Marni seorang pekerja keras. Ia mempunyai warung campuran. Namun, usahanya itu tidak mengalami kemajuan berarti. Di kampung, warung campuran bertebaran di kanan kiri jalan. Katanya, lebih banyak penjual dari pembeli. Di situlah Marni kadang merasa putus asa. Karena hasil dari warung campuranlah, sumber pendapatan satu-satunya.

Menurut bisik-bisik tetangga, kepergian Marni tahun lalu ke kampung untuk  menuntut ilmu. Sepulangnya dari kampung, usaha Marni berkembang pesat. Warung campurannya berkembang menjadi toko yang lumayan besar. Sebenarnya wajar saja tokonya maju pesat. Sampai orang berduyun-duyun antri di depan tokonya. Karena toko Marni menyediakan berbagai bahan makanan pokok.  Tokonya termasuk lengkap dan harganya miring ketimbang harga di toko lain yang ada di kampung itu.

Namun, begitulah cerita dari mulut ke mulut tidak bisa dibendung. Dari mulut satu pindah ke mulut yang lain. Sebenarnya, sebagian besar penduduk kampung itu sudah mengenal Marni. Marni adalah sosok pekerja keras yang tak kenal lelah. Sejak sebelum subuh, ia sudah bangun mempersiapkan barang di tokonya. Jika ada yang barang yang kurang, paginya ia langsung menelepon pihak yang menyediakan barang. Tak jarang ia pergi menjemput sendiri barang yang dia pesan. Jika tak ada yang mengantar ke tokonya.

Waima sosoknya sudah dikenal masyarakat di kampung itu sebagai pekerja tangguh. Tetap saja gosip itu tersebar kemana-mana. Gosip yang kata sebagian masyarakat tidak bisa dipercaya. Namun, masyarakat yang percaya, termasuk ibuk-ibuk pagosip, yang bilang Marni itu pakai ilmu pesugihan, karena sumber beritanya adalah Saripah, kakak kandung Marni sendiri.

Kata Saripah, beberapa bulan yang lalu, Marni pergi ke suatu daerah. Sebuah kampung di Soppeng. Di tempat itu, Marni dimandikan oleh orang yang akan memberikan ilmu itu. Setelah balik ke kampung asal, usaha mereka melaju dengan pesat. Marni sudah bisa membangun rumah yang bagus di kampung. Selain itu juga, ia membeli dua motor baru dan perhiasan yang indah-indah.

Namun, entah mengapa ketika Marni sudah berhasil membangun rumah impiannya dan bisa membeli banyak perhiasan emas. Tiba-tiba, perasaan tidak tenang melanda dirinya. Ia sering gemetar dan merasa tidak nyaman ketika ia berada di dalam rumahnya. Perasaannya ini diceritakan kepada saudaranya. Dan saudaranya mengajaknya ke rumahnya jika perasaan itu datang. Jika perasaan aneh itu datang, ia meninggalkan tokonya pergi ke rumah Saripah.

Saripah menyarankan kepada Marni untuk memeriksakan diri ke dokter. Siapa tau ada penyakit yang diderita oleh saudaranya itu. Marni pun menuruti saran kakaknya itu. Setelah Marni diperiksa oleh dokter di Puskesmas. Kata Dokter, Marni tidak sakit. Mungkin Marni hanya kelelahan akibat pekerjaannya yang cukup berat.

Marni tidak sakit. Tapi, keadaan Marni semakin hari semakin memburuk. Tubuh Marni semakin kurus. Dia merasakan bahwa ada sesuatu yang aneh menimpanya. Kemudian teringatlah ia akan sesuatu. Pada saat ia meminta ilmu penglaris usaha, mereka diberi syarat oleh sang guru. Marni memenuhi syarat itu.  Bahwa ilmunya itu akan meminta tumbal. Sebagai syarat untuk terpenuhinya keinginan Marni dan usahanya lancar dan maju.

Bersamaan sakitnya Marni, anaknya yang bernama Sangkala jatuh sakit juga. Anaknya tidak mau makan dan minum. Sang anak juga dinyatakan oleh dokter tidak menderita sakit apapun. Maka semakin yakinlah Marni bahwa ada yang “mengganggu” anaknya. Maka ia menyuruh Saripah untuk meminumkan daun Bidara kepada anaknya. Daun Bidara dipercaya bisa mengusir makhluk halus. Marni meminta supaya anaknya saja yang diperhatikan. Dirinya tidak usah. Marni yakin ini akibat dari ilmu yang pernah dia terima. Ilmu yang menuntut korban.  Daripada anaknya yang masih kecil yang jadi korban, ia merelakan dirinya yang menjadi korban.

Tubuh Marni semakin melemah. Ia sudah tak bisa lagi bergerak. Untuk balik ke kiri dan kanan saja ia sudah tak bisa. Matanya sayu seperti tidak lagi memancarkan sinar kehidupan. Saripah membawanya ke rumah sakit. Setiba di rumah sakit, Marni dimasukkan ke ruang ICU. Dengan sigap, dokter dan para perawat memasang inpus dan alat bantu pernapasan. Namun, sayang nyawa Marni sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Marni sudah menghembuskan napas terakhirnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar