Malam itu, ambulan meraung-raung mengusik keheningan malam. Beberapa orang tetangga keluar rumah hendak menyaksikan siapa yang dibawa oleh kendaraan yang berwarna putih itu. Mereka penasaran karena sudah beberapa hari ini banyak korban berjatuhan. Akibat wabah types yang melanda kampung. Mereka celingak celinguk sambil bertanya-tanya. Siapa lagi yang meninggal, kodong? Dan terucaplah satu nama. Marni yang meninggal. Seorang janda dengan anak satu.
Biasanya, jika tetangga sudah tahu
siapa yang meninggal. Mereka akan pergi pergi melayat dan menghadiri takziah
pada malam berikutnya. Tetapi, kali ini lain. Mereka tetap pergi melayat dan bertakziah
kepada keluarga almarhumah. Namun, diiringi berkembangnya desas-desus tentang
musabab kematian Marni. Katanya, Marni meninggal tidak wajar. Ia dimakan oleh
ilmunya sendiri. Ilmu untuk memperlancar usahanya.
Sejak kematian suaminya, Marni
hanya tinggal berdua dengan anaknya, Sangkala. Marni seorang pekerja keras. Ia mempunyai
warung campuran. Namun, usahanya itu tidak mengalami kemajuan berarti. Di kampung,
warung campuran bertebaran di kanan kiri jalan. Katanya, lebih banyak penjual
dari pembeli. Di situlah Marni kadang merasa putus asa. Karena hasil dari
warung campuranlah, sumber pendapatan satu-satunya.
Menurut bisik-bisik tetangga, kepergian
Marni tahun lalu ke kampung untuk menuntut
ilmu. Sepulangnya dari kampung, usaha Marni berkembang pesat. Warung
campurannya berkembang menjadi toko yang lumayan besar. Sebenarnya wajar saja
tokonya maju pesat. Sampai orang berduyun-duyun antri di depan tokonya. Karena
toko Marni menyediakan berbagai bahan makanan pokok. Tokonya termasuk lengkap dan harganya miring ketimbang
harga di toko lain yang ada di kampung itu.
Namun, begitulah cerita dari mulut
ke mulut tidak bisa dibendung. Dari mulut satu pindah ke mulut yang lain. Sebenarnya,
sebagian besar penduduk kampung itu sudah mengenal Marni. Marni adalah sosok
pekerja keras yang tak kenal lelah. Sejak sebelum subuh, ia sudah bangun
mempersiapkan barang di tokonya. Jika ada yang barang yang kurang, paginya ia
langsung menelepon pihak yang menyediakan barang. Tak jarang ia pergi menjemput
sendiri barang yang dia pesan. Jika tak ada yang mengantar ke tokonya.
Waima sosoknya
sudah dikenal masyarakat di kampung itu sebagai pekerja tangguh. Tetap saja gosip
itu tersebar kemana-mana. Gosip yang kata sebagian masyarakat tidak bisa
dipercaya. Namun, masyarakat yang percaya, termasuk ibuk-ibuk pagosip, yang
bilang Marni itu pakai ilmu pesugihan, karena sumber beritanya adalah Saripah, kakak
kandung Marni sendiri.
Kata Saripah, beberapa bulan yang
lalu, Marni pergi ke suatu daerah. Sebuah kampung di Soppeng. Di tempat itu, Marni
dimandikan oleh orang yang akan memberikan ilmu itu. Setelah balik ke kampung
asal, usaha mereka melaju dengan pesat. Marni sudah bisa membangun rumah yang
bagus di kampung. Selain itu juga, ia membeli dua motor baru dan perhiasan yang
indah-indah.
Namun, entah mengapa ketika Marni
sudah berhasil membangun rumah impiannya dan bisa membeli banyak perhiasan
emas. Tiba-tiba, perasaan tidak tenang melanda dirinya. Ia sering gemetar dan
merasa tidak nyaman ketika ia berada di dalam rumahnya. Perasaannya ini
diceritakan kepada saudaranya. Dan saudaranya mengajaknya ke rumahnya jika
perasaan itu datang. Jika perasaan aneh itu datang, ia meninggalkan tokonya
pergi ke rumah Saripah.
Saripah menyarankan kepada Marni
untuk memeriksakan diri ke dokter. Siapa tau ada penyakit yang diderita oleh
saudaranya itu. Marni pun menuruti saran kakaknya itu. Setelah Marni diperiksa
oleh dokter di Puskesmas. Kata Dokter, Marni tidak sakit. Mungkin Marni hanya
kelelahan akibat pekerjaannya yang cukup berat.
Marni tidak sakit. Tapi, keadaan Marni
semakin hari semakin memburuk. Tubuh Marni semakin kurus. Dia merasakan bahwa
ada sesuatu yang aneh menimpanya. Kemudian teringatlah ia akan sesuatu. Pada
saat ia meminta ilmu penglaris usaha, mereka diberi syarat oleh sang guru.
Marni memenuhi syarat itu. Bahwa ilmunya
itu akan meminta tumbal. Sebagai syarat untuk terpenuhinya keinginan Marni dan usahanya
lancar dan maju.
Bersamaan sakitnya Marni, anaknya
yang bernama Sangkala jatuh sakit juga. Anaknya tidak mau makan dan minum. Sang
anak juga dinyatakan oleh dokter tidak menderita sakit apapun. Maka semakin
yakinlah Marni bahwa ada yang “mengganggu” anaknya. Maka ia menyuruh Saripah
untuk meminumkan daun Bidara kepada anaknya. Daun Bidara dipercaya bisa
mengusir makhluk halus. Marni meminta supaya anaknya saja yang diperhatikan.
Dirinya tidak usah. Marni yakin ini akibat dari ilmu yang pernah dia terima.
Ilmu yang menuntut korban. Daripada
anaknya yang masih kecil yang jadi korban, ia merelakan dirinya yang menjadi
korban.
Tubuh Marni semakin melemah. Ia
sudah tak bisa lagi bergerak. Untuk balik ke kiri dan kanan saja ia sudah tak
bisa. Matanya sayu seperti tidak lagi memancarkan sinar kehidupan. Saripah membawanya
ke rumah sakit. Setiba di rumah sakit, Marni dimasukkan ke ruang ICU. Dengan sigap, dokter dan para perawat memasang inpus dan alat bantu
pernapasan. Namun, sayang nyawa Marni sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Marni
sudah menghembuskan napas terakhirnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar