Senin, 16 Desember 2019

Cerita Orangtua Tempo Doeloe



Sewaktu kecil kita sering diceritakan oleh orang tua kita kisah-kisah yang menarik. Berbagai macam kisah atau cerita mengalir dari bibir orang tua kita. Memang sejak dari dulu, berbagai kisah diceritakan turun temurun secara lisan. Itulah sebabnya, mengapa cerita itu bisa bertahan sampai kini. Apakah itu kisah nyata atau cerita belaka kita pun tak tahu. Kadang kita tidak bisa membedakannya. Namun, dari cerita itu kisah dapat mengambil pelajaran atau hikmah, minimal bisa menghibur atau pun pengantar tidur kala mata hendak terpejam.

Di setiap daerah, memiliki cerita unik tersendiri. Demikian pula di Makassar, Ujung Pandang namanya waktu saya masih kecil. Khususnya di Pampang tempat tinggal saya. Entah mengapa, kisah yang tertanam di benak saya kebanyakan cerita ”setang-setang” atau cerita misteri. Walaupun ada kisah lain yang orang tua ceritakan. Semisal cerita Poppo, Parakang atau anak kecil yang hilang. Apakah itu untuk menakuti anak kecil supaya pada malam hari segera tertidur atau sekedar pengantar tidur? Entahlah.

Sewaktu kecil, saya sering diceritakan oleh nenek tentang Parakang. Parakang itu katanya orang yang menuntut ilmu tapi ilmu sala-salang. Sala-salang maksudnya ilmu hitam. Orang yang menuntut ilmu ini biasanya ingin cepat kaya. Parakang ini biasanya kalau malam hari berubah menjadi makhluk pemakan anak bayi. Kalau parakang ini mau beroperasi, parru’ atau isi perutnya ditinggal di rumah, dimasukkan ke baskom. Lantas ia pergi bergentayangan ke rumah-rumah untuk mencari mangsa. Kalau sudah mendapatkannya ia kembali ke rumah dan meletakkan parru’nya kembali ke tempatnya semula, perutnya. Menurut nenek, kalau ingin membunuh makhluk parakang itu, parru’ yang ada dalam baskom itu dituangkan air mendidih. Jika parru’ itu dituangkan air mendidih maka orang yang menjadi parakang itu akan mati. Tamatlah riwayatnya. Dan ini pernah terjadi di kampung kami, kata nenek.

Kalau Poppo, kalau malam hari bisa berubah menjadi apa saja. Yang paling sering itu berubah menjadi sebuah kamboti. Kamboti itu terbuat dari anyaman daun kelapa. Kamboti itu biasa dipakai tempat bertelur ayam. Saya pernah mendengar sendiri di tengah malam ada suara seperti ini,  po’… po’…po’ …di bawah kolong rumahku. Kata tanteku, itu suara Poppo. Poppo sendiri tidak berbahaya jika dibandingkan dengan Parakang. Karena, tidak membutuhkan korban manusia. Hanya saja ia berubah waktu malam hari. Seperti Parakang, orang yang menjelma menjadi Poppo adalah orang yang menuntut ilmu untuk mencari kekayaan tetapi ilmu yang didapat ilmu sala-salang atau ilmu hitam. Jadilah, ia poppo pada malam hari.

Di lain kesempatan, ibuku bercerita tentang anak kecil yang hilang di waktu malam hari. Biasanya anak yang hilang itu, anak yang mainnya di luar rumah sampai malam hari. Orang tua anak kecil itu kebingungan mencari anaknya. Dicari di rumah temannya tidak ada. Di cari di mana-mana, juga tidak ketemu. Orang tua anak itu meminta bantuan dari para tetangganya.   Mereka beramai-ramai membunyikan kentongan atau panci atau apa saja yang bisa berbunyi kalau dipukul. Sambil memanggil anak yang hilang tersebut. Mereka keliling kampung. Setelah lama mencari, anak yang hilang tersebut akhirnya ditemukan di sebuah pohon. Kata anak itu, ia diberi makan yang enak-enak oleh orang yang mengajaknya ke tempat itu. Ketika diperiksa tempat makanannya, di situ ada cacing-cacing hidup. Selama ini ia kira makan enak, ternyata ia makan cacing. Iiih jijik…

Oh yah, saya lupa ternyata adapula cerita yang bukan cerita misteri. Ini  diceritakan oleh nenekku. Sebuah kisah nyata yang terjadi di masa pendudukan Jepang di Indonesia. Kata nenek saya, dulu mereka menggali lubang di bawah kolong rumah. Kalau ada suara pesawat terbang, mereka segera turun untuk masuk ke lubang persembunyian. Takutnya, pesawat terbang itu membawa bom kemudian menjatuhkannya di atas rumah penduduk. Ketika diceritakan kisah itu, saya membayangkan saya juga turut masuk ke lubang itu untuk bersembunyi…hehehe…

Dikisahkan juga oleh nenek, pada 1966 bagaimana pemerintah menangkapi para tetangga. Masyarakat ditangkap karena memiliki kartu anggota PKI. Pada waktu itu masyarakat diberi kartu anggota oleh pengurus Partai Komunis Indonesia. Kartu itu bisa digunakan untuk mengambil beras dan alat-alat pertanian, semacam cangkul dll. Hanya yang memiliki kartu anggota yang diberi beras dan alat-alat pertanian. Bagi masyarakat yang sangat membutuhkan bantuan, tidak memedulikan siapa yang membantu mereka. Yang penting mereka bisa makan. Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan dari penangkapan itu apakah mereka dilepaskan ataukah mendapat hukuman yang lain. Karena kondisi pada saat itu, benar-benar mengerikan. Banyak yang dibunuh tanpa melalui peradilan terlebih dahulu. Kalau ada orang yang ditunjuk sebagai anggota partai komunis, alamat ia takkan selamat.

Ada juga cerita yang terjadi sekitar tahun 1950-an, bagaimana dulu gerombolan menculik wanita-wanita muda. Lalu dilarikan ke hutan-hutan di wilayah Sulawesi Selatan. Gerombolan itu bersenjata dan sangat meresahkan masyarakat pada waktu itu. Mereka juga meminta bahan makanan kepada warga masyarakat. Jika warga tidak bersedia memberikan apa yang diminta oleh gerombolan itu, gerombolan itu tidak segan-segan membakar rumah warga yang menolak dan membunuh mereka. Kata nenekku, mereka itu gerombolannya Kahar Muzakkar. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka bukan dari pasukan  Kahar Muzakkar, tetapi dari kelompok lain yang ingin mencemarkan nama baik dari kelompok "pemberontak" itu.

Itulah beberapa kisah yang diceritakan oleh ibu, nenek juga tanteku. Sampai saat ini kisah ini masih sering kuingat. Daripada hanya sekedar dalam ingatan. Lebih baik saya menuliskannya. Sebagai jejak bahwa pernah ada kisah-kisah yang beredar di masyarakat pada masa lampau. Mungkin, saat ini anak-anak generasi milineal tidak pernah mendengarnya. Karena orang tuanya enggan menceritakan kisah-kisah seperti ini lagi, termasuk saya sendiri. Oleh karena itu, saya mencoba menuangkannya dalam sebuah tulisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar