Sewaktu kecil
kita sering diceritakan oleh orang tua kita kisah-kisah yang menarik. Berbagai
macam kisah atau cerita mengalir dari bibir orang tua kita. Memang sejak dari
dulu, berbagai kisah diceritakan turun temurun secara lisan. Itulah sebabnya,
mengapa cerita itu bisa bertahan sampai kini. Apakah itu kisah nyata atau
cerita belaka kita pun tak tahu. Kadang kita tidak bisa membedakannya. Namun,
dari cerita itu kisah dapat mengambil pelajaran atau hikmah, minimal bisa
menghibur atau pun pengantar tidur kala mata hendak terpejam.
Di setiap daerah, memiliki cerita
unik tersendiri. Demikian pula di Makassar, Ujung Pandang namanya waktu saya
masih kecil. Khususnya di Pampang tempat tinggal saya. Entah mengapa, kisah
yang tertanam di benak saya kebanyakan cerita ”setang-setang” atau cerita misteri. Walaupun ada kisah lain yang
orang tua ceritakan. Semisal cerita Poppo, Parakang atau anak kecil yang
hilang. Apakah itu untuk menakuti anak kecil supaya pada malam hari segera
tertidur atau sekedar pengantar tidur? Entahlah.
Sewaktu kecil, saya sering
diceritakan oleh nenek tentang Parakang.
Parakang itu katanya orang yang
menuntut ilmu tapi ilmu sala-salang. Sala-salang maksudnya ilmu hitam. Orang
yang menuntut ilmu ini biasanya ingin cepat kaya. Parakang ini biasanya kalau malam hari berubah menjadi makhluk
pemakan anak bayi. Kalau parakang ini mau beroperasi, parru’ atau isi perutnya ditinggal di rumah, dimasukkan ke baskom.
Lantas ia pergi bergentayangan ke rumah-rumah untuk mencari mangsa. Kalau sudah
mendapatkannya ia kembali ke rumah dan meletakkan parru’nya kembali ke tempatnya semula, perutnya. Menurut nenek,
kalau ingin membunuh makhluk parakang
itu, parru’ yang ada dalam baskom itu dituangkan air mendidih. Jika parru’ itu
dituangkan air mendidih maka orang yang menjadi parakang itu akan mati. Tamatlah
riwayatnya. Dan ini pernah terjadi di kampung kami, kata nenek.
Kalau Poppo, kalau malam hari bisa berubah menjadi apa saja. Yang paling
sering itu berubah menjadi sebuah kamboti.
Kamboti itu terbuat dari anyaman daun
kelapa. Kamboti itu biasa dipakai
tempat bertelur ayam. Saya pernah mendengar sendiri di tengah malam ada suara
seperti ini, po’… po’…po’ …di bawah kolong rumahku. Kata tanteku, itu suara Poppo. Poppo sendiri tidak berbahaya jika dibandingkan dengan Parakang. Karena, tidak membutuhkan
korban manusia. Hanya saja ia berubah waktu malam hari. Seperti Parakang, orang yang menjelma menjadi Poppo adalah orang yang menuntut ilmu
untuk mencari kekayaan tetapi ilmu yang didapat ilmu sala-salang atau ilmu hitam. Jadilah, ia poppo pada malam hari.
Di lain kesempatan, ibuku bercerita
tentang anak kecil yang hilang di waktu malam hari. Biasanya anak yang hilang
itu, anak yang mainnya di luar rumah sampai malam hari. Orang tua anak kecil
itu kebingungan mencari anaknya. Dicari di rumah temannya tidak ada. Di cari di
mana-mana, juga tidak ketemu. Orang tua anak itu meminta bantuan dari para
tetangganya. Mereka beramai-ramai membunyikan
kentongan atau panci atau apa saja yang bisa berbunyi kalau dipukul. Sambil
memanggil anak yang hilang tersebut. Mereka keliling kampung. Setelah lama
mencari, anak yang hilang tersebut akhirnya ditemukan di sebuah pohon. Kata
anak itu, ia diberi makan yang enak-enak oleh orang yang mengajaknya ke tempat
itu. Ketika diperiksa tempat makanannya, di situ ada cacing-cacing hidup. Selama
ini ia kira makan enak, ternyata ia makan cacing. Iiih jijik…
Oh yah, saya lupa ternyata adapula
cerita yang bukan cerita misteri. Ini diceritakan
oleh nenekku. Sebuah kisah nyata yang terjadi di masa pendudukan Jepang di
Indonesia. Kata nenek saya, dulu mereka menggali lubang di bawah kolong rumah. Kalau
ada suara pesawat terbang, mereka segera turun untuk masuk ke lubang
persembunyian. Takutnya, pesawat terbang itu membawa bom kemudian menjatuhkannya
di atas rumah penduduk. Ketika diceritakan kisah itu, saya membayangkan saya
juga turut masuk ke lubang itu untuk bersembunyi…hehehe…
Dikisahkan juga oleh nenek, pada
1966 bagaimana pemerintah menangkapi para tetangga. Masyarakat ditangkap karena
memiliki kartu anggota PKI. Pada waktu itu masyarakat diberi kartu anggota oleh pengurus Partai Komunis Indonesia. Kartu itu bisa digunakan untuk mengambil
beras dan alat-alat pertanian, semacam cangkul dll. Hanya yang memiliki kartu
anggota yang diberi beras dan alat-alat pertanian. Bagi masyarakat yang sangat
membutuhkan bantuan, tidak memedulikan siapa yang membantu mereka. Yang penting
mereka bisa makan. Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan dari penangkapan itu
apakah mereka dilepaskan ataukah mendapat hukuman yang lain. Karena kondisi
pada saat itu, benar-benar mengerikan. Banyak yang dibunuh tanpa melalui
peradilan terlebih dahulu. Kalau ada orang yang ditunjuk sebagai anggota partai
komunis, alamat ia takkan selamat.
Ada juga cerita yang terjadi sekitar tahun 1950-an, bagaimana dulu gerombolan
menculik wanita-wanita muda. Lalu dilarikan ke hutan-hutan di wilayah Sulawesi
Selatan. Gerombolan itu bersenjata dan sangat meresahkan masyarakat pada waktu
itu. Mereka juga meminta bahan makanan kepada warga masyarakat. Jika warga
tidak bersedia memberikan apa yang diminta oleh gerombolan itu, gerombolan itu
tidak segan-segan membakar rumah warga yang menolak dan membunuh mereka. Kata nenekku, mereka itu gerombolannya Kahar Muzakkar. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka bukan dari pasukan Kahar Muzakkar, tetapi dari kelompok lain yang ingin mencemarkan nama baik dari kelompok "pemberontak" itu.
Itulah beberapa
kisah yang diceritakan oleh ibu, nenek juga tanteku. Sampai saat ini
kisah ini masih sering kuingat. Daripada hanya sekedar dalam ingatan. Lebih baik
saya menuliskannya. Sebagai jejak bahwa pernah ada kisah-kisah yang beredar di
masyarakat pada masa lampau. Mungkin, saat ini anak-anak generasi milineal tidak pernah mendengarnya. Karena
orang tuanya enggan menceritakan kisah-kisah seperti ini lagi, termasuk saya
sendiri. Oleh karena itu, saya mencoba menuangkannya dalam sebuah tulisan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar