Tik tik tik … Bunyi hujan di atas seng rumah. Tanda musim penghujan sudah tiba. Kuambil baskom untuk menadah air yang menetes dari atap yang bocor. Rencana Ibu untuk memperbaiki atap rumah terhalang lagi. Uang yang rencananya untuk membeli pengganti seng yang bocor kupakai untuk membayar uang sekolah.
Yah, beberapa bulan ini aku mesti menunggak pembayaran sekolah karena Ibu
lagi sakit. Ibu terkadang masuk kerja kadang tidak. Ibu bekerja di rumah Hajjah Susanti. Di sana Ibu bekerja
mencuci pakaian dan piring. Bukan cuma di sana tetapi juga di rumah tetangga
yang memerlukan jasa Ibu. Maklum Ibu tidak punya pendidikan untuk melamar
pekerjaan yang lebih dari itu.
Ibu pernah membuka usaha kelontong namun gulung tikar akibat kurangnya
pembeli. Karena pembeli lebih suka membeli di Alfa Mart dan Indomaret.
Begitulah, Alfa Mart dan Indomaret merangsek ke pemukiman penduduk. Banyak yang
angkat tangan dalam bersaing dengan toko retail itu. Ibu juga pernah membuka
usaha pulsa. Namun, usahanya kandas karena banyak yang pinjam dulu baru bayar
kemudian. Untung kalau membayar, kalau pembayarannya tak kunjung tiba. Modal
yang ada bisa ludes. Begitulah, akhirnya modal pun terkikis perlahan-lahan. Dan
ibu menyatakan good bye dengan usaha
perpulsaan.
Ibuku bekerja keras membanting tulang setelah Ayah meninggal dunia. Tak
ada kata lelah baginya, yang penting anak semata wayangnya bisa makan, berpakaian
serta mengeyam pendidikan yang layak. Tidak pernah Ibu mengeluh sekalipun
walaupun dalam keadaan sakit. Jika ia masih bisa bangun, maka ia akan pergi
bekerja. Tapi, beberapa hari ini Ibu menyerah dengan sakitnya. Ia tidak bisa
bangun dari tempat tidurnya. Sepertinya ia demam. Sambil memijit kening Ibu,
aku memulai percakapan dengannya.
“Ibu, besok kita ke Rumah Sakit, yah!”
“Ah, tidak usah, Nak. Nanti juga baikan kok.”
“Lho, kok Ibu ndak mau. Yang penting kita tau Ibu sakit apa.”
“Oh, iya klo begitu, baiklah Nak. Kita ke Puskesmas besok.”
Begitulah sosok Ibu. Kesehatannya sendiri tidak terlalu ia pikirkan. Yang terpenting baginya adalah bagaimana ia bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kami dan menyekolahkanku setinggi-tingginya. Dari hasil kerja kerasnya itulah aku bisa
sampai pada penghujung pendidikanku di bangku SMA sekarang. Aku juga mendapat bantuan pendidikan dari pemerintah selama menempuh pendidikan. Namun, bantuan itu tidaklah cukup karena sekolah yang kutempati
termasuk sekolah yang cukup mahal pembayarannya. Rencananya selepas lulus SMA nanti, aku ingin menempuh pendidikan keperawatan. Semoga aku bisa mendapatkan
beasiswa nanti.
Akhirnya tibalah pendaftaran mahasiswa baru di sebuah Akademi Keperawatan.
Aku sudah bertekad bulat untuk serius belajar. Godaan untuk menjalin hubungan
alias pacaran dari beberapa lelaki kutampik begitu saja. Bukannya aku tidak
tertarik. Sebagai manusia biasa tentu saja aku juga punya ketertarikan dengan lawan
jenis. Namun, aku berpikir menjalin hubungan atau pacaran bisa menyebabkan
pendidikanku terganggu. Saat ini aku hanya mau serius belajar. Jika sudah usai
kuliahku, aku mau bekerja dulu baru menjalin hubungan serius alias langsung
menikah saja tanpa melalui proses pacaran. Aku kasian dengan Ibu yang kerja keras
menguliahkanku sementara aku asyik pacar-pacaran. Aah…ndak deh. Apalagi aku
mulai belajar agama. Dan aku sudah mulai paham batas-batas dalam pergaulan.
Beberapa semester berlalu terasa begitu cepat. Keseriusanku dalam
menempuh study mendapat ganjaran yang
setimpal. Aku berhasil mendapatkan nilai-nilai yang memuaskan dari semua mata
kuliah yang diajarkan di bangku kuliah. Dan, akhirnya akupun lulus dengan
memuaskan sebagai lulusan terbaik tahun ini.
Dalam acara wisuda, ibuku menghadiri acara itu. Dengan mata
berkaca-kaca, Ibu memelukku setelah acara selesai. Ia sangat bangga denganku.
Walaupun kondisi keuangan kami yang
tidak memadai, aku bisa menyelesaikan kuliah dengan baik. Aku percaya semua ini
berkat doa Ibu yang senantiasa ia lantunkan di sepertiga malam yang hening.
***********************
Selepas kuliah aku tidak mau berlama-lama menganggur. Aku ingin bekerja. Aku ingin meringankan bebannya yang selama ini dipikulnya. Aku mencoba melamar pekerjaan di sebuah rumah sakit. Namun, sudah tiga kali aku memasukkan lamaran kerja. Tak satupun yang merespon dengan baik lamaranku. Lamaranku ditolak. Ternyata, nilai-nilai mentereng di ijazahku tidak serta merta membuatku bisa diterima dengan mudah bekerja. Atau mungkin Dewi Fortuna belum berpihak padaku.
Aku kecewa dan segala kekecewaanku kuutarakan kepada Ibu. Aku belum bisa
membalas segala jasa dan kebaikan Ibu selama ini. Aku belum mendapatkan
pekerjaan. Padahal dengan bekerja, aku yakin bisa membahagiakan Ibu. Aku bisa
membelikan apa yang diinginkan Ibu. Dan kalau bisa aku ingin sekali mewujudkan
cita-cita Ibu yang ingin sekali berkunjung ke baitullah. Harapan yang selama
ini mustahil terjadi karena kondisi keuangan kami yang serba terbatas.
Ibu tersenyum mendengar semua keluh kesahku. Ibu berkata, “Nak,
bersabarlah. Insya Allah suatu saat engkau akan bekerja juga. Tapi, jangan
putus asa. Coba lagi besok, yah. Doa Ibu selalu menyertaimu, Nak.” Melihat
teduhnya senyum Ibu dan perkataannya yang menyejukkan hati aku terhibur dan itu
sudah cukup membangkitkan kembali semangatku untuk mencoba melamar pekerjaan kembali. Ayoo semangat gaes !!
Keesokan paginya, aku sudah siap berangkat kembali. Mencoba
peruntungan. Siapa tahu rezekiku sudah
terbuka hari ini. Aku melangkah memasuki parkiran area rumah sakit yang cukup
ternama di kota Makassar, Rumah Sakit Awal Bross. Dengan perasaan dag dig dug
der, dumba-dumba’ istilahnya orang Makassar, menunggu para petugas
kesehatan berdatangan. Kayaknya aku kepagian datangnya. Rupanya aku
terlalu bersemangat kali ini. Hehehe..
Akhirnya aku berhasil memasukkan surat lamaran kerjaku dengan sukses.
Dari hasil perbincangan dengan para petugas kesehatan di rumah sakit, ternyata
pada saat ini rumah sakit lagi membutuhkan beberapa perawat karena perawat yang
lama ada yang sudah resign, ada yang cuti hamil dan ada yang berhenti tanpa
alasan yang jelas. Wow…kebetulan sekali. Semoga kali ini aku bisa diterima
bekerja di sini. Kata petugas yang menerima berkas lamaran kerjaku, “Dik, tunggu
telpon dari kami, yah! Apakah Adik diterima bekerja di sini atau tidak
tergantung dari pimpinan rumah sakit.” Jawabku sambil tersenyum, “Baik, Bu. Aku
tunggu telponnya. Aku berharap bisa
diterima bekerja di sini.” Aku pulang dengan perasaan riang. Sepertinya, kali
ini aku akan diterima bekerja, deh. Pikirku penuh harap.
Seminggu kulalui dengan penuh harap. Detik demi detik aku menunggu
panggilan dari rumah sakit tempatku melamar pekerjaan. Tiap kali smartphoneku berdering, aku akan segera mengangkatnya.
Siapa tahu panggilan itu berasal dari pihak rumah sakit. Tapi ternyata, tiap
menerima telepon aku mesti kecewa. Karena yang menelepon bukan dari yang
kuharapkan. Sampai suatu saat kudengar hpku berdering lagi. Aku yang sementara
berselancar di dunia maya tidak segera mengangkat teleponnya. Aku pikir
panggilan itu panggilan nyasar. Karena nomornya tidak tersimpan di nomor
kontakku.
Namun, tiba-tiba aku terkesiap, jangan-jangan telepon itu dari rumah sakit. Aku
mencoba menghubungi kembali nomor yang menghubungiku tadi. Alhamdulillah,
panggilan diterima.
“Halo…Assalamu alaikum, selamat siang” Aku mulai menyapa
“Waalaikum salam,” jawab seorang Ibu dari seberang sana.
“Iya Bu, mau bicara dengan siapa? Tanyaku.
“Oh, iya, Dik. Apa Adik yang bernama Safira Nur Khadijah?”
“Betul…Aku yang bernama Safira. Ada apa yah? Oh, yah dengan Ibu siapa?
“Saya, Ibu Rina dari Rumah Sakit Awal Bross. Adik yang melamar kerja di
Rumah Sakit Awal Bross, kan? tanya Ibu Rina. Lanjutnya, “Adik diminta hadir ke
rumah sakit besok untuk proses wawancara. Alhamdulillah, Adik diterima bekerja
di tempat kami. Selamat yah, Dik. Semoga sukses.”
“Alhamdulilah... Terima kasih banyak atas infonya, Bu. Insya Allah, aku
akan datang besok ke rumah sakit.
Ibu Rina mengucapkan salam mengakhiri percakapan kami via
telepon. Aku sendiri merasa belum percaya dengan apa yang terjadi. Kucubit-cubit
pipiku untuk membuktikan bahwa ini bukan mimpi. Aduuh…Sakiit. Rupanya aku tidak
sedang bermimpi. Ini kenyataan gaes. Sepertinya aku mau berteriak seperti anak
kecil…Horeee…Aku diterima kerja. Sya la la la. Aah alay deh… Astagfirullah.
Mestinya aku lebih banyak bersyukur. Alhamdulillah wa syukurillah.
Aku langsung mencari Ibu yang sementara berada di halaman. Ibu sedang menikmati
keindahan bebungaan yang sementara bermekaran. Ibu memiliki hobbi menanam
bunga. Aku tinggal menikmati keindahan bunga itu. Hasil tangan dingin Ibuku yang tersayang.
“Ibuu…Aku diterima kerja, Bu.”
“Iya, Nak. Betulkah itu? Alhamdulillah.”
“Iya, Bu. Alhamdulillah.”
Aku memeluk Ibu dengan erat sambil mencium pipinya. Ibu kelihatannya
sangat bahagia melihatku riang kembali.
Setelah beberapa hari ini kelihatan murung.
Akibat menunggu panggilan kerja yang tak kunjung tiba. Ibu sebenarnya
tak mempermasalahkan aku yang belum bekerja. Rupanya ia ingin menjodohkan aku
dengan anak teman baiknya. Tapi aku menolak karena aku belum kepikiran untuk
segera menikah. Aku mau bekerja dulu seperti yang pernah kucita-citakan dahulu.
************************
Akhirnya, aku bekerja sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Awal Bross.
Rumah sakit bertaraf internasional. Gajinya lumayan untuk kehidupan sehari-hari
dan sisanya bisa kutabung. Ibu kuminta untuk berhenti bekerja. Ibu bersedia
berhenti bekerja membantu tetangga. Tetapi dengan satu syarat, ia ingin membeli mesin jahit. Ia ingin bekerja menjadi
penjahit. Kebetulan ia pernah kursus menjahit. Aku menyetujui keinginan Ibu.
Usaha jahitan Ibu ternyata berkembang. Dari hari ke hari, Ibu semakin
banyak menerima orderan jahitan. Menurut pemakai jasa Ibu, jahitan Ibu cukup
rapi dan ongkosnya cukup terjangkau. Namun, Ibu tak bisa mengambil terlalu
banyak orderan. Karena tenaganya yang terbatas. Lagi pula kadang orderan yang masuk serba
mendadak. Ini hari dibawa, besok sudah mau diambil. Mana bisa?? Kecuali hanya
menjahit rok yang sobek. Itu bisa dikerja dalam hitungan menit. Aku meminta
kepada Ibu supaya jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja.
Suatu hari Ibu kelihatan meringis di depan mesin jahitnya ketika ia ingin
menyelesaikan orderan jahitannya. Aku sangat
mengkhawatirkan keadaan Ibu. Sudah beberapa hari ini Ibu tampak kurang sehat.
Aku mengajaknya ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan Ibu. Dari hasil diagnosa, Ibu menderita penyakit gagal ginjal. Penyakitnya itu sebenarnya sudah lama Ibu
derita. Mungkin Ibu terlalu kelelahan bekerja dan kekurangan asupan cairan sewaktu
bekerja. Ternyata, selama ini Ibu menyembunyikan penyakitnya. Ia tidak pernah
menceritakan penyakitnya padaku. Sepertinya Ibu takut aku bersedih jika aku
mengetahui bahwa ia sedang sakit.
Kesehatan Ibu semakin memburuk. Apalagi ia mesti menjalani hemodialysis. Tubuhnya semakin mengurus. Karena ia tidak berselera makan. Hanya satu keinginannya sekarang, ia ingin melihatku menikah
sebelum ajal menjemputnya. Keinginannya aku turuti. Aku menerima lamaran
seorang pria. Pria itu anak teman baik Ibu. Saya percaya Ibu tidak salah
memilihkan jodoh buatku. Kata Ibu, anak temannya itu sering ke rumah bersama
ibunya sewaktu kami kecil. Katanya, aku pernah berteman dan bermain bersama dengannya.
Dulu waktu aku dan dia masih kecil. Aku sudah lupa masa-masa itu. Ia dan
keluarganya kemudian pindah ke kota lain. Namun, hubungan Ibu dan temannya itu
masih terjalin dengan baik sampai saat ini. Apalagi dengan fasilitas media sosial
yang tersedia sekarang. Komunikasi berjalan dengan lancar yang penting ada
kuota data internet.
Ibuku meninggal setelah beberapa hari aku menikah. Aku sangat bersedih
karena kepergian Ibu terlalu cepat. Sungguh....Aku terpukul dengan kepergian Ibu. Aku merasa
belum cukup berbakti kepadanya. Dan aku belum bisa membahagiakannya. Namun aku
harus merelakan kepergiannya. Selamat jalan, Ibuku tercinta. Doaku selalu
menyertaimu…
*************************
Setelah Ibu meninggal, aku masih tetap bekerja di rumah sakit. Tentunya
dengan seizin suamiku. Suatu ketika, saat aku sedang berjalan ke kamar untuk
memeriksa keadaan pasien. Aku melihat seorang pria separuh baya yang sedang
berbaring lemah di atas tempat tidur. Ia kaget melihatku. Rupanya, ketika ia
melihatku seperti ia sedang mengingat seseorang. Ia memanggilku dengan memberi
isyarat tangan. Aku berjalan ke arah bapak itu.
“…S a f i r a Nur Khadijah...” Bapak itu membaca papan nama di bajuku.
“Iya, Pak. Ada apa?” tanyaku.
“Kamu mengingatkan aku kepada seseorang, Nak…” jawab Bapak itu.
“Siapa pak?” Aku cukup penasaran dengan si Bapak.
“Seorang perempuan yang pernah kutinggalkan berpuluh tahun yang lalu. Dia
adalah isteriku. Aku meninggalkannya dengan anakku yang masih sangat kecil.
Anakku itu seorang perempuan. Namanya mirip dengan namamu. Safira Nur Khadijah.
Siapa nama ibumu, Nak?”
“Ibuku bernama Nurul.”
“Kok bisa sama yah, nama ibumu dengan nama isteriku. Nama anakku dengan
namamu. Apakah engkau adalah anakku, yah?”
“Oh tentu bukan, Pak. Kata ibuku, ayahku sudah lama meninggal. Waktu aku masih
kecil. Sampai sekarang, aku tidak mengingat wajah ayahku. Foto-foto ayahku disimpan
oleh Ibu dalam lemari. Mungkin ia bersedih kalau ia melihat kembali foto Ayah.
Ia akan terkenang dengannya. Dan aku tidak pernah mencoba meminta Ibu untuk
memperlihatkan foto-foto Ayah.”
“Mungkin, engkau ingin melihat foto isteri dan anak bapak. Foto itu kutaruh di dompet.”
Bapak itu kemudian mengambil sebuah dompet. Ia mengambil sehelai foto dan
memperlihatkannya padaku. Di dalam foto itu tampak seorang bapak, seorang ibu
dan anak perempuannya. Wajah perempuan yang ada dalam foto itu mirip sekali dengan
wajah Ibu. Mungkinkah itu Ibuku? Mungkinkah anak perempuan yang ada dalam
foto itu adalah aku? Dan mungkinkah bapak yang ada dalam foto itu adalah ayahku?
Dan kini Ayah sedang berada tepat di hadapanku. Perasaanku berkecamuk.
Berbagai pertanyaan timbul dalam benakku. Mengapa Ibu tidak pernah menceritakan
ini semua padaku? Mengapa dan Mengapa?
“Kalau Engkau ingin membuktikan bahwa aku ini bapakmu dan engkau adalah
anakku," kata bapak itu. Lanjutnya, “Cobalah buka lemari ibumu. Dan ambil album
foto di dalamnya. Engkau bisa menyamakan foto ini dengan foto-foto yang berada
dalam album itu.”
Aku minta izin pulang kepada dokter penjaga. Ia mengizinkan aku pulang
cepat. Aku ingin segera membuktikan kebenaran ucapan bapak yang mengaku ayahku
itu. Sejak dulu aku tidak pernah sedikitpun berpikir bahwa Ayah masih hidup.
Kuambil motor dan kupasang helm di kepalaku. Aku meluncur ke arah rumahku. Tak
lama kemudian aku tiba di rumah. Suamiku sedang tak ada di rumah. Ada jadwal
mengajar hari ini di kampus. Aku
langsung masuk ke kamar Ibu. Dan menghampiri sebuah lemari antik. Aku mencari
kuncinya. Kuncinya ternyata ada di atas lemari. Lemari itu terbuka. Aku
mengambil album foto di dalam laci lemari. Album foto yang sudah tua. Aku
membuka album foto itu. Foto yang diberikan bapak itu mirip dengan foto-foto
yang kutemukan di dalam album foto itu.
Aku tidak tahu mau berbuat apa. Aku merasa syok. Aku tidak tahu apakah
aku mesti bahagia atau marah. Kalau memang ia ayahku, kenapa ia meninggalkan
kami? Apakah Ayah tidak mencintai Ibu atau paling tidak, mencintai aku, darah
dagingnya sendiri? Mengapa dulu Ayah begitu tega meninggalkan aku yang masih
sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah?
Pertanyaan silih berganti merasuki alam pikiranku. Aku harus segera
mendapat jawabannya. Kularikan kembali motorku ke arah rumah sakit. Aku ingin segera
menjumpai bapak itu kembali. Dan menanyakan semua yang mengganjal di benakku. Sang
bapak menjelaskan mengapa ia meninggalkan Ibu dan aku.
Waktu itu, ketika mereka menikah mereka masih belia. Karena rasa cinta
yang begitu besar antara mereka. Mereka tidak bisa dipisahkan lagi. Mereka bagaikan
Romeo dan Juliet. Di mana ada Ayah, di situ ada Ibu. Sehingga mereka dinikahkan
oleh orang tua mereka. Namun, ternyata
dalam perjalanan pernikahan mereka kerap terjadi pertengkaran. Sikap perhatian
antara mereka berubah setelah menikah. Apalagi ketika sang isteri hamil,
tentunya butuh perhatian lebih, tapi sang suami malah asyik bermain dengan
teman-temannya. Ketika ada masalah, tak ada yang mau mengalah. Sampai suatu
ketika ada perempuan lain yang memikat hati Ayah. Ayah yang kepincut,
memilih kawin lari dengan perempuan itu. Ia meninggalkan Ibu dan aku yang masih kecil. Kemudian ia tersadar dan kembali mencari Ibu dan aku. Namun,
ia tidak menemukan kami. Ternyata, kami sudah pindah ke kota lain. Dan
ia tidak menemukan jejak mereka.
Setelah mendengar penjelasan Ayah, aku tidak tahu mau bersikap bagaimana.
Seharusnya aku marah kepada Ayah karena ia telah meninggalkan kami, Ibu dan
aku. Tetapi, entah mengapa rasa marah itu sirna melihat kondisi Ayah saat ini. Yang
terbaring lemah di pembaringan.
“Aku minta maaf padamu, Nak,” pinta bapak. Lanjutnya, “Ijinkanlah Ayah
untuk ketemu ibumu!”
“Untuk apa, Pak? Ibu sudah melupakan semuanya.”
“Bapak hanya ingin minta maaf kepada ibumu, Nak.”
“Minta maaf…Minta maaf sudah tidak bisa lagi, Pak.”
“Kenapa, Nak?” tanya Bapak. Lanjut bapak, “Padahal Ayah sangat berharap bisa
meminta maaf kepada ibumu, sebelum ajal menjemputku.”
“Soalnya, Ibu sudah meninggal dunia, Pak.”
“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Ya, Tuhaan, aku belum sempat
memohon maaf padanya.”
*************************
Aku meninggalkan Ayah yang bersedih mendengar kabar tentang Ibu. Penyesalan
datang menghinggapinya tanpa terbendung. Aku sendiri belum bisa menerima
kehadiran Ayah begitu saja. Yang sekian lama dan bahkan sudah bertahun-tahun, kuanggap
telah tiada. Kini tiba-tiba muncul di hadapanku. Akankah suatu hari nanti aku bisa menerima Ayah kembali dalam kehidupanku? Karena biar bagaimanapun ia adalah ayah
kandungku. Aah, biarlah waktu yang akan menjawabnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar