Selasa, 23 Januari 2018

Resume Buku

Resume Buku "Free Writing, Mengejar Kebahagiaan dengan Menulis"



Penulis        : Hernowo Hasim
Penerbit      : Bentang Pustaka
Cetakan       : Pertama, November 2017
Jumlah hal. : ××ii -215

Empat pilar komunikasi
1. Reading (Membaca)
2. Speaking (Berbicara)
3. Listening (Mendengar-Menyimak)
4. Writing (Menulis)

Membaca adalah memasukkan kata-kata dalam diri atau pikiran.
Sering membaca kita akan memiliki perbendaharaan kata yang kaya dan beragam.

Kita tidak akan memiliki kata-kata yang kaya jika kita tidak mau dan mampu membaca yang akan berguna nantinya pada waktu kita berkomunikasi atau menulis nantinya. Berbicara di depan umum tersendat-sendat, tidak lancar, akan banyak berhentinya. Demikian pula ketika kita menulis.

Ketika membaca sebaiknya membaca lantang (tetapi lihat dulu sikonnya) karena akan meningkatkan kemampuan komunikasinya. Mengapa?
Karena kedua telinga menyimak secara saksama (aktif listening).

Adapun efek membaca lantang :
1. Cermat memperhatikan susunan kalimat, kata aneh atau sulit dieja dan juga tanda-tanda baca.
2. Dapat merasakan irama membacanya (apakah irama bagus atau sangat buruk atau terbata-bata), tidak enak didengar, telinga lahir mampu mendeteksinya.

Itulah mengapa membaca lantang bisa meningkatkan kemampuan komunikasi.

Membaca ngemil (sedikit) dibarengi dengan membaca lantang dengan irama pembacaan yang dapat didengar oleh telinga lahir, si pelaku kemudian mengikat (menuliskan) pengalaman membacanya. Dan memperoleh gagasan dari apa yang dibacanya.

Kegiatan writing (menulis) adalah penutup yang sempurna dari rangkaian pilar komunikasi ini yang oleh pak Hernowo disebut konsep mengikat makna.

Writing atau menulis adalah mengeluarkan, mengungkapkan atau menyimpulkan pikiran dengan bantuan kata-kata.

Untuk melatih kita dalam menulis, kita bisa melakukan "free writing".
Free writing adalah menulis bebas, membuang pikiran secara blak-blakan. Dengan free writing, menulis menjadi nyaman dan menyenangkan. Kita tidak merasa risau dengan apa yang ditulis.

Menurut Radar Panca Buana :
Menulis bebas adalah disiplin kecil untuk tiap hari menulis tanpa henti. Bukan untuk menghasilkan tulisan yang bagus, melainkan sekedar menulis tanpa prosedur sensor dan editing.
Satu-satunya aturan adalah jangan berhenti menulis.

Penerapan free writing :
- 10 hingga 15 menit setiap hari selama sebulan. Dan seterusnya hingga terbiasa menulis.
- Menulis tanpa diedit selama proses penulisan berlangsung.

Dampak signifikan Free Writing adalah peningkatan kemampuan menulis apabila dilakukan secara terus menerus dan konsisten dalam waktu yang cukup lama.

Jadi kunci keberhasilan free writing adalah pembiasaan.

Bagaimana kalau kita merasa bosan ketika menerapkan free writing?
Ketika sudah terbiasa, kita akan merasa ada yang kurang ketika kita tidak menulis. Sekadar menulis pun sudah seperti dalam surga. Rasanya bahagia.

Ketika kita menulis, kita telah membuka fikiran, mengalirkan fikiran dan merangkai fikiran melalui huruf, kata dan kalimat yang tidak bermaknapun sudah merupakan kebahagiaan.

Kredonya :
Keep your hand (gerakkan saja tangan). Alirkan saja pikiran tanpa kita harus berpikir yang berat. Rasakan kebahagiaan dan rasakan kenyamanan ketika mengalirkan pikiran.

🌹Resume oleh Hamsinah Hamid 🌹

Sabtu, 13 Januari 2018

KRISIS MELANDA HIMPUNAN



Dalam suatu perbincangan dalam grup WA, terbetiklah beberapa komentar mengapa terjadi krisis di HMI.  Melihat kasus yang terjadi  bahwa kader  baru tidak merasa nyaman aktif di HMI.  Mereka  anak-anak seorang senior  yang menitipkan anaknya di HMI untuk dibina. Seorang teman, Alam mengatakan  salah satu masalahnya adalah bahwa terjadi mainstream  mazhab di dalam tubuh HMI MPO  Makassar. Namun ada seorang senior  kohati, Mbak Ning  yang mengatakan bahwa ketidaknyamanan itu mungkin dikarenakan faktor anak itu sendiri.  Bahwa tidak mungkin seorang anak diawasi selama 24 jam. Mungkin mereka tidak merasa cocok dengan kultur HMI yang islami.

Seorang senior, Kanda Amir mengatakan  masalah mazhab bisa dituntaskan di follow up. Kader perlu belajar tentang berbagai mazhab dalam tubuh Islam. Penjelasannya cukup rinci tentang penganut berbagai mazhab dengan penyebarannya di berbagai belahan dunia.  Senior kohati, Ina mengatakan tidak masalah ketika terjadi mainstream mazhab selama bisa merangkul yang lain. Menghormati mazhab yang lain. Bukankah HMI adalah rumah besar bagi semua. Itulah mengapa penghuninya merasa nyaman.  Alam menyangkalnya karena faktanya mengatakan lain.  Katanya, itulah mengapa dia dan beberapa teman yang lain hengkang dari grup alumni karena HMI  kewahabi-wahabian dan HMI MPO keDIPO-DIPOan. Ina mengatakan hal-hal seperti itu memang harus diungkapkan agar bisa diketahui faktor-faktor apa saja yang bisa menyebabkan minggatnya seorang kader dari Himpunan. Lyana turut berkomentar, seorang kader sah-sah saja merasa tidak nyaman dalam sebuah organisasi dan menjadi haknya dia untuk meninggalkan organisasi.

Senior kohati, Ina mengatakan bahwa memang tidak masalah ketika organisasi dalam keadaan baik-baik saja tetapi berbeda kalau organisasi dalam kondisi kritis. Tentu kita perlu mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan anggota merasa tidak nyaman berada dalam sebuah himpunan. Mungkin pendekatan terhadap  kader perlu ditinjau kembali. Kita tidak boleh menuntut hasil secara instan. Biarkan mereka berproses.

Beberapa hal penyebab mundurnya HMI MPO khususnya di cabang Makassar, menurut pengamatan penulis adalah :

Pertama, Tidak adanya HMI CENTRE, Pikiran pengurus terporsir cukup besar untuk memikirkan pengadaan sekretariat setiap pergantian pengurus. Padahal tenaga dan pikiran pengurus bisa untuk penguatan lembaga dan pembinaan kader jika HMI Centre sudah ada.

Kedua, Adanya dualisme kepemimpinan, menjelang Pilpres 2014, yaitu di bawah kepemimpinan Hamzah Rakhabau dan Najamuddin Arfah. Kemudian menyatu kembali. Tetapi, kader terlanjur bingung.

Ketiga, Ketua Cabang periode 2016-2017 mengundurkan diri. Praktis kegiatan-kegiatan di cabang mandek.

Keempat, Pendekatan terhadap kader baru mungkin kurang relevan. Sistem doktrin dengan hasil instan. Perlu ditinjau kembali.

Kelima, Mainstream mazhab yang dominan. Cenderung mencurigai dan menafikan mazhab lain. Hal ini mengabaikan  pluralitas dalam tubuh HMI. Sesuatu yang bertentangan dengan Khittah Perjuangan HMI.

Kita tidak perlu mencari kambing hitam  penyebab kemunduran HMI khususnya HMI MPO Cabang Makassar. Tetapi, kita tidak bisa selalu membela diri dan menutup mata atas fakta yang terjadi di HMI. Yang terpenting sekarang adalah apa solusi terhadap permasalahan ini. Sehingga HMI cabang Makassar bisa bangkit. Dan jaya seperti dahulu kala. Yakusa.

Tabrakan di Barandasi

12 Januari 2018

Pukul 11.58 Wita. Alhamdulillah, kami tiba dengan selamat di Tonronge. Dalam perjalanan dari Makassar menuju Barru, terjadi kecelakaan di Barandasi, Maros. Tidak jauh dari persinggahan mobil. Tempat membeli oleh-oleh. Kami sempat singgah di tempat itu, sekedar membeli oleh-oleh ala kadarnya untuk anak di pondok.

Beberapa meter dari tempat itu, setelah mobil jalan, tiba-tiba dari arah berlawanan, sebuah mobil Triseda ingin berbelok arah. Triseda itu tampak miring meluncur dengan derasnya. Kendaraan itu tampak oleng.

Saya bilang, "Iiih natabrak maki, Aba. Natabrak maki." Saya tutup mata. Kupikir Triseda itu akan menabrak kendaraan kami. Tapi, tiba-tiba ada mobil Panther melaju dengan kencangnya di samping kendaraan kami. Mobil itulah yang dihantam Triseda itu.

Kusangka mobil Panther itu juga akan oleng dan mengenai kami. Karena kerasnya tabrakan itu. Sampai-sampai Triseda itu melayang, terhempas dan terbalik. Bannya terlempar. Ada serpihan Triseda mengenai kendaraan kami. Dan pengendara mobil beroda tiga itu berdarah-darah kepalanya.

Mobil Panther yang tertabrak tetap melaju dalam keadaan rusak. Sisi kiri badan mobil berlubang. Mobil kami menepi dan terlihat dari jauh mobil itu juga berhenti. Sepertinya, pengemudinya orang yang bertanggung jawab.

Kami melanjutkan perjalanan, setelah pengendara Triseda diantar ke rumah sakit oleh kerabatnya. Seorang sopir pete-pete yang menghentikan kendaraannya. Dan menurunkan para penumpangnya melihat kejadian itu.

Selama perjalanan, jantung berdebar, badan terasa loyo. Masih sangat jelas terbayang peristiwa tadi.

Puji syukur ke hadirat Allah, yang telah melindungi perjalanan kami.
Semoga kami selalu dalam perlindungan-Nya..aamiin..
Allohumma sholli ala Muhammad wa ali Muhammad..

Apresiasi dan Kritik Buku

Napoleon Bonaparte Seorang Muslim yang Berasal dari Makassar-Indonesia


Sudah sejak lama muncul dalam perbincangan  sambil lalu  atau sekedar candaan jikalau Napoleon Bonaparte itu aslinya adalah orang Indonesia, tepatnya dari Makassar. Buktinya, lagi-lagi, hanya sekedar melihat namanya belaka.  Kaisar hebat ini bernama Napo Daeng Liong bin Bora Daeng Irate, Napoleon Bonaparte. Mirip sekali memang. Tidak lebih dari itu. Selesai.

Cocoklogi tersebut akhirnya membuka ruang diskusi baru sekaligus semakin meluas ketika  buku  yang berjudul “Napoleon Bonaparte ternyata seorang Muslim, Diduga Ia berasal dari Makassar”  terbit tahun 2012 lalu, yang baru juga kami  dapatkan di penghujung tahun 2017.

Di bagian awal buku setebal 139 halaman ini, bab 1, 2 dan 3, secara umum mengulas  tentang kondisi dunia  abad ke-17  hingga abad 18, era dimana Napoleon dilahirkan, sepak terjangnya dalam  militer Perancis, pengangkatannya sebagai kaisar hingga kejatuhannya, termasuk kehidupan asmaranya dengan beberapa wanita. Ulasan semacam ini lazim ditemukan dibanyak buku sejarah, yang boleh jadi, mayoritas pembaca cenderung mengabaikan bagian-bagian ini. Tentu saja karena kita jauh lebih penasaran ingin membaca  bagaimana bisa panglima  besar ini, yang berada di urutan ke- 34   tokoh paling berpengaruh di sepanjang sejarah,  bisa menjadi seorang muslim dan asal usulnya dari Makassar, Indonesia.

Akhirnya tibalah di intisari buku ini, bab 4, 5 dan 6. Ada beberapa alasan yang menjadi dasar mengapa Napoleon diduga berasal dari Makassar. Pertama, konon  Sultan Hasanuddin  memiliki keturunan bernama  I Yandulu Daeng Mangalle, yang  pergi ke Siam (Thailand) bersama pengikutnya,  setelah kekalahan kerajaan Makassar pasca perjanjian Bongaya, dan mendapat suaka di sana. Kemudian Daeng Mangalle bersama adik raja Siam terlibat dalam rencana pemberontakan untuk menjatuhkan tahta Raja Narai. Sayang rencana tersebut terlanjur bocor. Meski ada peluang pengampunan dari raja, tapi Daeng Mangalle dan pengikutnya tidak menyerah hingga terjadi pertempuran yang tidak seimbang yang dimenangkan oleh pihak kerajaan. Meskipun sedikit, pasukan Makassar ini dikatakan hampir menguasai kerajaan karena semangat tempurnya yang tak kenal mundur. Inilah yang membuat kagum tentara Perancis yang mengetahui peristiwa ini. Lantas dua putra I Yandullu Daeng Mangalle  diampuni oleh raja Siam kemudian keduanya dibawa menetap di  Perancis bahkan keduanya dimasukkan ke akademi tentara di Perancis.  Mereka berdua kemudian berganti nama, Daeng Ruru berganti nama menjadi Louis Pierre de Macassart, yang kedua Daeng Tulolo menjadi Louis Dauphin.  Mereka  inilah yang dianggap melahirkan sang tokoh besar Napoleon Bonaparte.

Kedua, dari segi fisik, Napoleon memiliki ukuran tubuh yang  relatif kecil. Ia lebih mirip orang Makassar pada umumnya,  dibandingkan  orang-orang Eropa lainnya yang bertubuh tinggi. Ketiga, lambang ‘sakral’ Perancis berupa ayam jantan, konon katanya diinspirasi  kepahlawanan Sultan Hasanuddin yang bergelar  ayam jantan dari Timur. Barangkali yang paling mudah dilihat adalah  logo ayam yang tersemat di bagian dada  baju kesebelasan Perancis.

Lantas bagaimana Napoleon menjadi muslim ini diungkap dalam harian resmi Prancis, Le Moniteour Universal (terbit dalam kurun waktu 1789-1868). Disebutkan bahwa Napoleon  resmi menjadi Muslim  pada 1798. Kutipan berita inilah  yang kemudian dimuat dalam buku Satanic Voices – Ancient and Modern karya David Musa Pidcock  tepatnya pada halam 61.

Buku Pidcock ini terbit pada 1992, demikian tulisan yang dikutip media.isnets.org. pidcock juga menuliskan bahwa Napoleon memilih nama Ali sebagai nama barunya, sehingga menjadi Ali Napoleon Bonaparte.

Napoleon disebut-sebut mengakui superiotas hukum Islam, bahkan berniat menerapkannya  dalam kekaisarannya di Perancis.  Prinsip-prinsip  syariah itu sempat dimasukkan ke dalam Civil Code Napoleon atau hukum  yang ditulis  oleh Napoleon. Kode Napoleon ini kemudian menginsipirasi  konstitusi Perancis  dan konstitusi negara-negara taklukan Napoleon di Eropa.

Kritik
Sudah barang tentu buku ini patut diapresiasi. Serpihan-serpihan  ide dan tulisan yang berserakan  bisa berwujud buku yang manis seperti ini merupakan hasil kerja keras, ketekunan dan semangat dari penulis, apalagi temanya sangat unik dan langka.

Sayang sekali buku ini tidak memberi porsi penjelasan yang luas dan mendalam  pada tema pokok buku ini, yaitu  bagaimana  menelusuri riwayat  Napoleon benar-benar berasal dari Makassar. Buku setebal 138 halaman ini, hanya memberi ruang tidak lebih dari 5 halaman penjelasan tentang bagaimana Napoleon berasal dari Makassar. Ada keterputusan atau gap  riwayat  yang tidak disebut dalam buku ini, dari Daeng Ruru (Louis Pierre de Macassart) atau Daeng Tulolo (Louis Dophin) ke Napoleon Bonaparte. Para sejarawan Perancis dan dunia pun, sejauh ini, tidak ada yang membahas secara khusus tentang asal usul Napoleon yang berbeda dengan sejarah yang umum ditulis.
Sangat berbeda, misalnya, dengan Tun Abd Razak, perdana menteri pertama Malaysia, yang memiliki silsilah yang lengkap hingga ke Karaeng Sanrobone, Putra Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin. Atau dr. Wahidin Sudirohusodo yang memiliki riwayat  hingga ke Karaeng Naba, yang ikut terlibat membantu Trunajoyo dalam memerangi kompeni Belanda. 

Terkait riwayat Napoleon tersebut, tepatlah jika penulis buku ini memberi judul “......diduga dari Makassar”, karena memang hampir semuanya bersifat perkiraan belaka. Menganggap Napoleon berasal dari Makassar, jauh lebih  misteri  dibandingkan pendapat yang mengatakan bahwa Hang Tuah, bernama Makassar—Daeng Merupawah,   itu berasal dari kerajaan Bajeng, Gowa, yang dikisahkan dalam Babad Tanah  Melayu.

Mengenai keislaman Napoleon, memang, banyak sudah diungkap oleh media-media yang kredibel bahkan dari Perancis sendiri. Tapi yang luput diketengahkan oleh penulis, sebagai temuan di sisi lain, bahwa Napoleon justru dikatakan hanya ingin menarik simpati dari kalangan umat Islam di tengah kedudukannya yang mulai tertekan, terutama di Mesir dan India dalam menghadapi seteru besarnya yaitu Inggris.

Sangat disayangkan pula, buku ini hanya mendasarkan referensinya pada situs online saja. Di bagian daftar pustaka, tidak ada satu pun buku referensi yang dicantumkan. Pun, banyak referensi yang dikutip menggunakan hasil terjemahan yang masih kacau, hingga sulit dipahami bahkan keluar dari makna yang awal yang dimaksudkan, boleh  jadi karena sebagian masih menggunakan mesin terjemahan.

Oleh :

Rajab Sabbarang Daeng Nuntung
(Penggiat Rumah Baca Smart  & Cool)

Jumat, 29 Desember 2017

Cinta Terlarang

     Sore itu sepasang remaja nampak jalan berdua di bawah matahari sore yang indah. Keindahan sore itu tak memengaruhi dua anak manusia itu. Mereka lagi gundah gulana. Penyebabnya adalah karena sang pemudi lagi mengandung anak si pemuda. Padahal mereka belum menikah. Sang pemudi kesal karena kekasihnya belum menentukan sikapnya. Untuk menikahi sang pemudi secepatnya. Sedangkan usia kandungannya sudah dua bulan. Dia takut kepada kedua orang tuanya apabila ketahuan bahwa dirinya sudah hamil di luar nikah.

     “Irwan, bagaimana dong, kapan kamu melamar saya?” Tanya Ami tak sabar.

     “Saya tidak tahu Ami, kamu khan tau saya belum punya pekerjaan. Bagaimana caranya saya menafkahi kamu?" Sahut Irwan.

     “Tapi, bagaimana dengan saya yang sudah hamil ini. Sudah dua bulan lagi. Jangan lagi bilang tidak ada pekerjaanmu. Gampangji itu, kalau kita berusaha, kita pasti bisa makan," Balas Ami dengan sedih.

     “Bagaimana dengan uang panai, orangtuamu pasti minta uang panai yang tinggi. Kamu tau khan saya tidak punya uang yang banyak,” Kata Irwan.

     “Irwan, kamu datang saja melamar, percaya deh nanti orang tuaku tidak minta uang panai yang banyak,” Jawab Ami.

     “Tapi...saya belum siap menikah,” Sahut Irwan.

     “Issengko, jadi bagaimanami ini di perut kasian, maumi diapakan, semakin hari semakin besar,” Balas Ami.

     “Gugurkan saja, supaya kita bebas,” Kata Irwan.

     “Ooh, Tuhan, Eeh sadarko. Dosa besar itu, saya tidak mau gugurkan bayi ini,” Balas Ami. “Irwan, berpikirko baik-baik. Ini anak tidak berdosa, kita yang berdosa, jangan tambah-tambah lagi dosa kita. Klo begitu, saya pergi dulu, saya tunggu keputusanmu besok malam.”









     Mereka berdua kemudian berpisah. Ami melangkah dengan hati yang resah dan kalut. Irwan pun demikian. Mereka larut dengan pikirannya masing-masing. Langkah apa yang mereka akan tempuh selanjutnya. Mereka takut memberitahukan kepada kedua orang tua mereka. Apa yang sudah terjadi. Ami memikirkan apakah orang tuanya mau menerima kenyataan bahwa anak gadis semata wayang mereka sudah hamil di luar nikah. Demikian pula Irwan, bagaimana cara menyampaikan kepada kedua orang tuanya bahwa ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

     Pada awalnya, mereka ikut-ikutan dengan teman mereka. Teman yang sudah punya pacar membully temannya yang belum punya pacar. Katanya orang jombo itu tidak laku. Sehingga menjadi suatu keharusan untuk memiliki pacar, kalau tidak mau dibilangi pemuda atau pemudi tidak laku.

     Kedua remaja nan labil itupun kemudian terjebak dalam gelora cinta yang memabukkan. Mereka tidak menyadari bahwa hubungan cinta mereka akan berakibat seperti ini. Seringkali mereka bertemu di luar. Tanpa sepengetahuan orang tua mereka.

     Awalnya mereka hanya jalan-jalan saja berdua. Nonton bioskop, nongkrong di cafe, ataupun sekedar jalan-jalan di Pantai Losari. Sampai suatu hari, sang pemuda mengajak ke rumah temannya. Ingin bertamu ceritanya. Maka mereka pun pergi berdua.

     Sesampai di rumah teman Irwan, mereka mengetuk pintu.

     “Tok..tok.. Ada orang di dalam?" Tanya Irwan.

     Seseorang membuka pintu. Rupanya teman Irwan.

     “Oh, kamu bos. Silakan masuk," Kata Malik, teman Irwan. “Wah, kamu bawa cewek rupanya nih. Pacarmu inikah, manis juga yah?"

     “Ah kamu, Malik, selalunya kalau lihat cewek pasti kamu gombal," Sahut Irwan.

     Ami dan Irwan masuk ke rumah Malik. Mereka duduk berdua di sofa. Malik mengambilkan minuman.

     “Eeh Malik, jangan repot-repot yah. Kami cuma sebentar saja,” Kata Irwan.

     “Kok, mau pulang cepat-cepat. Di sini tak ada siapa-siapa, orangtuaku paling besok baru pulang. Mereka pergi ke acara keluarga di kampung. Tinggal aku yang jaga rumah,” Sahut Irwan.

     “Oh, iya kalau begitu, ambil semua apa yang ada di dapur..hehehe," Kata Irwan tertawa.

     Ami tersenyum mendengar percakapan mereka. Malik berjalan ke dapur lalu muncul dengan membawa nampan berisi dua gelas teh dengan sepiring kue.

     “Oh yah, nama kamu siapa,," Tanya Malik.

     “Nama saya Ami,’’ Jawab Ami.

     Begitulah, mereka ngobrol sana-sini, ngalor ngidul. Sampai tidak terasa hari sudah sore.

     “Bagaimana masih betah di sini, khan? Kalau kalian pulang, saya pasti kesepian sendiri,” Kata Malik. Istirahatlah di sini, ada kamar yang bisa dipakai istirahat.”

     Ami sebenarnya ragu. Mau pulang saja. Takut dimarahi orang tuanya kalau terlambat pulang. Tapi Irwan membujuknya supaya mau tetap tinggal menemani. Akhirnya Ami mengiyakan permintaan Malik. Ami kemudian ditunjukkan kamar yang bisa dipakai istirahat olehnya. Sementara itu Malik dan Irwan tetap berbincang-bincang di kamar tamu.

     Sementara Ami terlelap, Irwan mulai suntuk. Dia minta ijin untuk istirahat kepada Malik. Irwan ditunjukkan kamar oleh Malik. Kamar yang berbeda dengan Ami. Tapi Irwan penasaran, apa yang sedang dikerjakan Ami di kamarnya. Sudah tidurkah dia atau sedang apa. Lalu Irwan mengetuk pintu kamar Ami. Tidak ada jawaban. Lalu dia memutar gagang pintu. Eh tidak terkunci. Irwan lalu masuk. Dia menyaksikan Ami tertidur dengan pulasnya. Dia mendekat dan memandangi wajah Ami yang tampak sangat cantik.

     Timbul pikiran di hatinya untuk membelai wajah kekasihnya itu. Dia pun membelai rambutnya. Ami tersadar. Dia terkejut Irwan sudah berada di sampingnya. Tapi dia membiarkan saja perlakuan Irwan terhadapnya. Dia sangat mencintai Irwan. Demikian pula sebaliknya. Mereka lupa bahwa mereka belum menikah. Malam itu, terjadilah sesuatu yang sangat tidak pantas dilakukan oleh mereka. Yang akhirnya berbuah pahit.

     Sejak kejadian itu, mereka tetap saja menjalin pertemuan. Mereka merasa tak berdosa. Mereka mungkin tau bahwa itu perbuatan dosa. Tapi mereka menepisnya. Atas nama cinta. Cinta yang tak halal.

     Sampai suatu hari, Ami terlambat datang bulan. Dia kaget dan sangat takut. Tapi apa mau dikata. Sudah terlanjur. Irwan harus diberitahu. Supaya bertanggung jawab atas anak dalam kandungannya. Ami berpikir Irwan pasti mau bertanggung jawab atas kehamilannya karena Irwan sangat mencintainya. Tapi tak disangka Irwan ragu untuk segera menikahinya dengan berbagai alasan. Ami sangat sedih.

     Malam itu ditemani cahaya bulan purnama, Ami tampak duduk diteras. Orang tuanya sudah terlelap. Ami yang sedari tadi menunggu telepon dari Irwan, sudah tidak sabar menunggu. Dia memutuskan untuk menelepon duluan. Dia mengangkat hpnya lalu mulai menelepon Irwan. Telepon diangkat oleh Irwan.

     “Halo, Irwan, bagaimana sekarang keputusanmu,” Tanya Ami.

     “Oh, iya Ami, saya sudah kasi tau orang tuaku. Mereka kaget, mereka juga marah. Tapi mereka mau menikahkankan saya. Mereka bilang, kenapa saya menghamili anaknya orang. Seandainya mereka tahu, mereka akan menikahkan saya sebelumnya,” Jawab Irwan.

     “Oh, syukurlah. Tapi saya belum beri tahu orang tuaku,” Kata Ami.

     “Kalau begitu, beritahukan segera orang tuamu, bilang ada yang mau datang melamar,” Sahut Irwan.

     “Tapi saya tidak bisa bilang kalau saya sudah hamil. Saya takut nanti saya dimarah dan dipukul,” Kata Ami.

     “Oh, iya, kalau begitu jangan kasi tau dulu, biar orang tuaku pergi melamar dulu, ” Kata Irwan.

     Ami merasa lega. Irwan mau melamarnya secepatnya. Ami segera memberi tahu orang tuanya. Bahwa ada yang akan datang melamarnya. Orang tuanya pun senang dan mempersilakan orang tua Irwan untuk datang melamar. Mereka juga memberi tahu kepada keluarga mereka yang lain. Mereka membicarakan berapa uang panai yang akan mereka minta. Ami ketar-ketir mendengarnya karena uang panai yang mereka akan minta cukup tinggi.

     Tibalah hari yang dinantikan oleh Ami. Keluarga Irwan datang melamar Ami. Mereka kemudian membicarakan hal ikhwal lamaran. Ternyata mereka tidak sepakat tentang uang panai. Kata keluarga Irwan, mereka tidak mampu memenuhi permintaan uang panai. Terlalu tinggi katanya. Keluarga Irwan pulang dengan menitip kata bahwa uang panai yang mereka sanggupi hanya seperdua uang yang diminta. Kalau keluarga Ami sepakat, lamaran akan ditindak lanjuti. Ami yang mendengarnya sangat sedih.

     Akhirnya, Ami mengaku kepada kedua orang tuanya, bahwa ia sudah hamil. Sudah menjelang tiga bulan usia kandungannya. Betapa terkejutnya orang tua Ami mengetahui hal itu. Mereka marah kepada Ami. Dan hampir saja Ami dipukul oleh bapaknya kalau saja tidak ditahan oleh neneknya. Ibu Ami bahkan shock mendengar hal itu. Dia terus saja menangis memikirkan hal itu. kenapa hal memalukan itu terjadi pada putri mereka. Putri semata wayang mereka. Apa kata orang. Hanya satu anak mereka, tapi mereka tidak bisa mendidiknya dengan baik. Itu yang terus terngiang-ngiang di kepalanya.

     Akhirnya, lamaran dilanjutkan. Setelah orang tua Ami menyetujui uang panai yang akan dibawa oleh pihak laki-laki. Tetapi keadaan menjadi begitu muram. Seharusnya kebahagian yang meliputi mereka. Karena akan ada yang menikah di rumah itu. Ibu Ami mengalami depresi karena beratnya beban malu yang dia mesti tanggung. Rasa malu yang menghunjam ke lubuk hatinya yang terdalam. Dan itu membuat Ami merasa sangat bersalah dan menyesali perbuatannya. Sesal yang tak ada gunanya lagi.

Mengembangkan Sayap Cinta

Dalam bukunya The Art of Loving, Erich Fromm menulis bahwa manusia modern sesungguhnya adalah orang-orang yang menderita. Aneh yah? Manusia modern yang dikelilingi oleh kecanggihan teknologi yang memudahkan mereka untuk hidup. Mereka juga mudah menjangkau informasi begitu beragam dan kaya. Mengapa mereka menderita?

Ternyata, penderitaan tersebut diakibatkan kehausan mereka untuk dicintai oleh orang lain. Mereka berusaha keras melakukan apa saja agar dapat dicintai. Anak-anak muda akhirnya terjerumus dalam pergaulan bebas karena mereka ingin dicintai dan diterima oleh kawan-kawan sebayanya.

Yang dilakukan manusia modern adalah upaya untuk dicintai, bukannya untuk mencintai. Dalam dunia modern, bahwa semakin keras manusia berusaha untuk dicintai, semakin sering pula mereka gagal dan dikecewakan. Adalah sulit untuk memperoleh kecintaan seluruh manusia. Kecintaan semacam ini adalah tujuan yang takkan pernah bisa dicapai karena selalu saja ada orang yang membenci orang lain. Manusia selalu dikelilingi oleh dua jenis orang : yang mencintai dan yang membenci dirinya.

Inilah rahasia kenapa upaya untuk dicintai itu menjadikan seseorang malah menderita. Tidak semua orang bisa memberikan cinta kepada diri kita. Tentu ada orang-orang yang tidak suka kepada kita. Akan lebih baik jika hidup kita diisi dengan upaya untuk mencintai ketimbang berharap dicintai oleh semua orang. Namun, bagaimana agar kita dapat senantiasa fokus untuk mencintai dan benar-benar dapat menghilangkan keinginan untuk dicintai?

Sebagaimana dikatakan oleh Erich Fromm, yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan penyakit itu (penyaki t bernama ‘untuk dicintai’) adalah dengan belajar mencintai. Kebahagiaan hidup kita bergantung pada apa yang kita cintai. Kebahagiaan tak dapat diperoleh dengan dicintai.

Untuk mampu mencintai, kita harus mulai belajar dari mencintai makhluk Allah, dengan mencintai pasangan kita, anak-anak kita. Itulah pelajaran mencintai tahap dasar, pelajaran cinta tahap awal. Cinta semacam itu adalah cinta yang dimiliki oleh anak-anak kecil. Mereka selalu mencintai hal-hal yang bersifat konkret atau lahiriah.

Selanjutnya, kita harus berusaha untuk mencintai hal-hal yang lebih abstrak. Nabi Muhammad SAW bersabda, Cintailah Allah atas anugerah-Nya kepadamu; dan cintailah keluargaku atas kecintaanku kepada mereka.’ Dalam sabda ini, Nabi Muhammad SAW menurunkan tiga jenis kecintaan yaitu kepada Allah SWT, Rasul-Nya, dan keluarga Rasul SAW. Nabi Muhammad juga mengajari kita untuk meninggalkan kecintaan pada hal-hal konkret dan menuju kecintaan kepada hal-hal yang abstrak.

Dalam Ihya Ulumuddin, Al Ghazali menyatakan bahwa adalah sebuah kebohongan besar jika seorang mencintai sesuatu tetapi dia tidak memiliki kecintaan kepada sesuatu yang lain yang berkaitan dengannya. Al Ghazali menulis,” Bohonglah orang yang mengaku mencintai Allah SWT, tetapi dia tidak mencintai Rasul-Nya; bohonglah orang yang mengaku mencintai Rasul-Nya tetapi dia tidak mencintai kafir miskin; dan bohonglah orang yang mengaku mencintai surga tetapi dia tidak mau menaati Allah SWT. Semua itu pada hakikatnya mengajari kita untuk mencintai hal-hal yang abstrak.

#Dikutip dari buku : Mengembangkan Sayap Cinta, The Road to Allah

Sabtu, 23 Desember 2017

Teman Sejati Tak Melihat Materi

Nak, berteman itu kebutuhan
Jalinlah pertemanan dengan ikhlas
Bukan mengharap materi dari teman

Jika teman memberi
Bukan karena keterpaksaan
tapi, ikhlas dari hati

Suatu saat nanti
Engkau akan temukan teman sejati
yang tidak memandang materi
tapi karena engkau layak
dijadikan sebagai seorang teman

Kamis, 26 Oktober 2017

Hati Selembut Sutera

Hati itu selembut sutera
Karenanya
Mudah tersentuh

Terbuai
Terlena
Ketika
Secuil perhatian
Membelai sukma

Siapa pun itu

Maka berhati-hatilah
Menata hati
Jika tak ingin
Derita cinta
Melukai hati

Rabu, 23 Agustus 2017

Mendownload Film dari Youtube di HP Android, Susah. Ah, Gampang Kok..

Memang susah kok, mendownload film dari youtube di hp android. Eeiits, tunggu dulu. Ituu...kalau kita tidak tau caranya. Kalau sudah tau, mah gampang sekali. Anak kecil pun juga bisa. Yang penting aplikasi untuk mendownload sudah terpasang.

Saya hampir tidak tidur semalam suntuk, begadang..ceritanya, habis subuh baru bisa tidur. Hanya karena penasaran, aplikasi apa yang tepat untuk mendownload film yang ada di youtube dari hp android. Supaya bisa tersimpan di galeri. Sebelum ditransfer ke komputer atau laptop.

Malam itu, saya googling aplikasi-aplikasi yang disarankan oleh Paman Google. Satu per satu aplikasi yang disarankan saya download, lalu saya coba menggunakannya. Tetapi, satu per satu aplikasi itu saya hapus. Karena tidak sesuai harapan. Susah cara menggunakannya.

Sampai akhirnya, saya menemukan aplikasi TubeMate. Oooh..akhirnya kumenemukanmu..hehehe. Jadilah saya mendownloadkan Upin dan Ipin untuk anakku menjelang fajar menyingsing. Nah, baru puas rasa hati awak.

Bagi kawan-kawanku yang lagi membaca tulisanku ini. Saya akan menunjukkan salah satu aplikasi yang dapat memudahkan kita untuk mendownload film dari youtube itu. Selamat menyimak yah.

Pertama-tama, ayo kita kenal gambar aplikasinya dulu di bawah ini:



Kemudian, ayo kita cari aplikasi tubemate ini di play store. Eeh, saya telusuri di play store tapi saya tidak menemukannya. Ada yang mirip tapi tidak sama. Maka saya beralih ke aplikasi Chrome untuk mencari si tubemate. Akhirnya, setelah saya ketikkan kata kunci "tubemate apk", maka muncullah ia di urutan pertama. Lalu saya klik tulisan unduh, maka terdownloadlah aplikasi impian itu..hehehe...


Setelah terinstal aplikasi tubematenya, selanjutnya, kita klik gambar aplikasinya yang sudah terpasang di layar hp. Maka muncullah gambar seperti  di bawah ini:


Setelah itu pilihlah film yang akan kita download. Setelah muncul film yang kita inginkan, terlihat ada tanda panah hijau di sebelah atas. Kliklah tanda panah itu.


Setelah tanda panah hijau kita klik maka tampillah gambar seperti di bawah ini. Pilihlah resolusi film yang kita inginkan semakin besar resolusinya semakin jernih gambar filmnya. Setelah itu klik tanda panah hijau di bawahnya.


Nah...film yang kita inginkan terdownload sudah. Setelah proses download mencapai 100%, maka otomatis film itu akan tersimpan di galeri. Bagaimana? Mudah bukan.


Kelebihan lain dari aplikasi ini, film yang didownload bisa kita pending, atau lanjutkan kembali, jika terputus atau habis kuota internet. Atau jika hp tiba-tiba mati.

Selamat mencoba, yah.
Semoga tulisan ini bermanfaat.

Senin, 17 Juli 2017

Film Surat Kecil untuk Tuhan





Terus terang, sebelum nonton film ini saya buta tentangnya. Dulu saya berpikir film ini seperti film sebelumnya dengan judul yang sama. Dimana filmnya mengisahkan tentang seorang gadis pengidap kanker. Ternyata film ini jauh berbeda.

Film ini dibintangi oleh Bunga Citra Lestari (Angel dewasa), Aura Kasih (Ningsih dewasa), Joe Taslim (Martin dewasa) dan Maudy Koesnadi (mama angkat Angel). Kisahnya cukup mengharukan dan juga menegangkan.

Film ini diawali dengan adegan pemukulan seorang perempuan oleh suaminya. Seorang anak lelaki bersama saudara perempuannya tampak ketakutan melihat kejadian itu. Sang suami meminta uang kepada sang istri tapi istrinya menolak. Setelah memukul sang istri, lelaki tersebut mendekati kedua kakak beradik yang tampak ketakutan itu.   Lelaki itu bertanya kepada mereka.

"Di mana, kalian simpan uang yang diberikan oleh bibi kalian."

Mereka menggeleng. Lelaki itu tampak marah dan bersiap memukul mereka, tetapi istrinya melarang. Kemudian, lelaki itu memukul kembali istrinya. Kepala istrinya dibenturkan ke tembok. Sadis.

Ketika lelaki itu, sang paman, tertidur pulas ditemani botol-botol minuman keras yang bergeletakan, mereka berdua, sang kakak bernama Anton dan sang adik bernama Angel, melarikan diri. Mereka memanjat jendela dan keluar dari rumah itu.

Tiba-tiba sang adik berkata pada kakaknya,
"Kak Anton, jepit rambut saya ketinggalan,"
"Tidak apa Dek, nanti kita beli. Mari kita pergi dari sini."
"Kak, jepit rambut itu pemberian ibu"
"Baiklah, saya ambilkan dulu yah. Tunggu Kakak di sini. Jangan kemana-mana."

Sang kakak masuk kembali ke dalam rumah lewat jendela. Dan, detik-detik ini menjadi menegangkan. Penonton diantar untuk berpikir apakah Anton akan kedapatan oleh sang paman. Dan akhirnya kakak beradik itu akan terpisah?

Akhirnya, Anton muncul membawa jepit rambut adiknya. Adiknya pun tersenyum gembira. Mereka bergandeng tangan berlalu dari rumah itu.

Mereka terus berjalan dan berjalan. Dan tibalah mereka di kota besar, Jakarta. Mereka beristirahat untuk makan. Tiba-tiba orang di sekitar mereka berlarian. Ternyata ada satpol PP yang mengejar dan menangkap orang-orang di tempat itu. Anton dan Angel pun ikut berlari untuk menghindari kejaran petugas.

Mereka berlari dan terus berlari sambil menengok ke belakang. Apakah satpol PP masih mengejar mereka? Pada bagian ini, ketegangan melanda penonton. Apakah Anton dan adiknya akan tertangkap, atau akankah mereka berpisah, jika salah satunya tertangkap?

Suasana mencekam mengiringi langkah seribu mereka menghindari kejaran satpol PP. Sang adik merasa lelah lalu memohon kepada kakaknya untuk istirahat sejenak. Mereka lalu duduk di balik tiang besar sebuah gedung, sepertinya tempat parkir gedung itu. Tiba-tiba, seorang pria bertongkat mendekati mereka. Pria itu menawarkan untuk istirahat di tempatnya. Tapi mereka menolak. Pria itu pun berlalu.

Hujan deras jatuh membasahi bumi. Anton dan Angel kedinginan. Mereka berpelukan untuk menghangatkan badan mereka. Pria bertongkat datang kembali dengan membawa payung. Pria itu menawarkan bantuannya kembali. Angel menatap dalam mata kakaknya seolah memohon kepada kakaknya untuk menerima tawaran pria itu. Akhirnya, Antonpun mengangguk.

Bersambung







KEMATIAN BAPAK

Lelaki yang telah melewati umur paruh baya itu terbaring lemah di ranjang kayunya. Lelaki yang kupanggil bapak itu sedang sakit. Bapak kelihatan meringis menahan rasa sakit yang dideritanya. Entah, sakit apa yang kini dideritanya. Setiap kali kusarankan untuk memeriksakan dirinya ke dokter, beliau tak pernah mengikutinya. Bapak bilang dirinya tidak apa-apa, beliau baik-baik saja. Beliau memang orangnya sabar, tak pernah terdengar keluhan dari bibirnya.

Keesokan harinya, bapak membangunkan aku untuk sholat shubuh. Beliau nampak keliatan lebih segar. Rupanya bapak sudah sembuh. Syukur Alhamdulillah. Bapak duduk-duduk di ruang tamu ditemani kopi hitam lengkap dengan unti sanggara. Aku kemudian duduk di samping beliau. Sudah tersedia pula untukku segelas kopi hitam. Wah, enak sekali ini. Udara pagi Malino yang dingin masih kurasakan sampai tulang sumsumku. Sarungku kukalimbu ke tubuhku yang menggigil kedinginan. Aku lupa memakai jaket yang tebal. Kebiasaan di Makassar yang udaranya panas menyengat di siang hari. Bahkan aku biasa buka baju saking panasnya udara yang kurasakan. Dasar orang Malino yang terbiasa dengan udara sejuk.

Bapak yang memulai pembicaraan. Beliau mengajakku untuk melayat ke rumah Daeng Tompo, tetangga kami. Rupanya Daeng Tompo meninggal dunia tadi malam. Akupun mengiyakan ajakan bapak. Sekitar pukul 09.00 kami melayat ke rumah duka. Yang rencananya akan dimakamkan siang ini. Di rumah duka, sudah ramai orang yang melayat. Banyak pula yang bertanya sebab kematian almarhum. Ada juga yang heran. Katanya, kemarin sore mereka masih melihat almarhum duduk-duduk di teras rumahnya. Sedang bersantai sambil minum kopi ditemani istrinya. Dan dia sempat dipanggil singgah oleh almarhum. Begitulah ajal, bisa datang kapan saja dan dimanapun kita berada. Tidak mengenal tua atau muda, sehat atau sakit, di laut atau di darat. Kalau ajal sudah menjemput, kita tidak bisa menolak atau menghindarinya.

Aku dan bapak mengantar jenazah ke tempat peristirahat terakhirnya. Banyak juga yang mengantar almarhum. Maklumlah, rasa kekeluargaan di kampung masih terpelihara. Tercermin ketika ada anggota masyarakat yang kematian, mengadakan pernikahan. Selalu ramai. Apalagi masih ada hubungan kekerabatan antara keluarga yang satu dengan yang lain di kampung.



Sepulang melayat, aku pamit kepada bapak. Aku hendak balik ke Makassar. Pasalnya, ada setumpuk pekerjaanku yang mesti kuselesaikan, yang menantiku di sana. Bapak mengijinkan aku.  Seraya memelukku, matanya berkaca-kaca. Sepertinya kerinduan masih bergelayut terhadap anak semata wayangnya itu. Sore itu, aku balik ke Makassar. Dengan berkendara Yamaha, aku tinggalkan rumah bapak. Terasa berat, meninggalkan rumah kenangan itu. Tapi kehidupanku ada di Makassar. Tempat mencari sesuap nasi untuk keluarga kecil kami. Tak ada yang bisa kulakukan di sini. Keahlianku tak bisa kuterapkan di kampung.

Aku mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Aku tidak bisa memacunya lebih cepat. Karena cahaya mulai remang-remang. Pertanda malam mulai tiba. Sedangkan jalan kulalui berkelok-kelok. Jurang di sebelah kiri jalan. Lengah sedikit, bisa-bisa terjun ke jurang. Belum lagi kendaraan yang berlawanan arah bisa-bisa muncul secara tiba-tiba. Konsentrasi buyar, alamat kendaraan berciuman yang bisa mengakibatkan kecelakaan fatal. Syukurlah, aku tidak dalam keadaan mengantuk sehingga aku berkendara dengan normal. Perlahan-lahan aku meninggalkan Malino menuju kota Makassar.

Aku disambut anak pertamaku yang masih berusia dua tahun dengan gembira. Sayang, aku tidak membawakan oleh-oleh untuknya dari kampung. Ada markisa di sana, dodoro dan juga tenteng. Keterbatasan waktu penyebabnya. Cuma dua hari. Istriku yang lagi hamil tujuh bulan. Tidak langsung menyambut kedatanganku. Karena lagi sibuk di dapur. Sejurus kemudian, Ani istriku, membawakan segelas kopi untukku. Ani menanyakan keadaan bapak.

“Daeng, bagaimana keadaan Bapak di kampung,” Tanya istriku. Aku menjawab, "Alhamdulillah, Bapak baik-baik saja, Ndik.” Istriku dengan gembira membalas, "Syukurlah kalau begitu, Daeng. Kasihan Bapak, hidup sendiri. Tak ada yang menemani. Bagaimana kalau Bapak tinggal bersama kita di sini, Daeng?” Aku menjawab, "Aku sudah bilang begitu kapada bapak. Tapi bapak tidak mau, Ndik. Bapak sangat mencintai rumah dan kampungnya. Katanya, banyak kenangan indah bersama ibuku di rumah itu. Beliau tidak bisa meninggalkan rumah bersejarah dan penuh kenangan itu.” Istriku berkata, "Oh, begitukah. Jadi siapami kodong yang rawatki Bapak, yang layani Bapak.”

“Alhamdulillah,” Kataku. “Bapak orangnya mandiri. Beliau bisa masak sendiri dan mencuci pakaian sendiri. Dari dulu beliau tidak pernah merepotkan orang lain. Bahkan sewaktu mendiang ibu masih ada, bapak terkadang mencuci bajunya sendiri. Jika ibu lagi tidak enak badan.” “Oh, baik betul Bapak, Daeng,” Ujar istriku sambil tersenyum.

“Iyya, begitulah, Ndik. Mestinya aku sering-sering menjenguknya. Karena aku satu-satunya anaknya. Tapi itu tidak mungkin, Ndik. Aku tidak bisa meninggalkan terus pekerjaanku. Mungkin karena saking rindunya sama aku sehingga bapak sering sakit."

Kenapa aku berkata begitu pada istriku. Bapak sakit karena rindu padaku. Karena, entah sudah berapa kali bapak sakit. Kalau aku datang menjenguknya. Tidak lama kemudian, ia sudah sembuh. Tapi, anehnya juga, setiap kali pulang kampung untuk menjenguk bapak yang lagi sakit. Pasti keesokan harinya aku akan pergi melayat dan mengantar tetangga yang meninggal dunia, bersama bapak.

Sore itu, ketika aku lagi bekerja, istriku menelepon dari rumah. Istriku berkata, ”Daeng, aku sudah merasa sakit yang datangnya secara berkala. Semakin lama semakin sering. Sepertinya aku sudah mau melahirkan. Oh ya, tadi ada telepon dari kampung, katanya bapak sedang sakit parah sepertinya sudah sakaratul maut.”

Aku terhenyak. Kok, tiba-tiba bapak sakit parah. Aku bingung. Waduh, bagaimana ini? Bapak sakit parah sedangkan istriku mau melahirkan. Apalagi pekerjaanku tidak bisa ditinggalkan. Profesiku sebagai seorang penerjemah dan sementara ini ada pekerjaan yang mesti kuselesaikan.

“Ndik, kalau aku terlambat pulang, pergi saja dulu ke rumah sakit. Jangan tunggu aku, karena ada pekerjaan yang mesti kuselesaikan terlebih dahulu. Tinggal sedikit. Nanti aku menyusulmu ke rumah sakit.”

“Iye, Daeng. Tapi ditungguKi bapak di kampung,” Ujar istriku. “Iye, kuselesaikan dulu pekerjaanku nah, sayang. Baru aku ke rumah sakit. Habis itu ke kampung,” Balasku meyakinkan istriku. Kututup telepon dengan perasaan tidak menentu. Tapi aku mencoba untuk tetap tenang menyelesaikan pekerjaanku.

Pekerjaankupun selesai. Kususul istri ke rumah sakit. Kulihat betapa istriku menahan rasa sakit. Aku was-was melihatnya. Perasaan iba terbersit di hatiku. Betapa berat pengorbanan seorang perempuan dalam mengandung dan melahirkan seorang anak manusia ke dunia ini. Dokter mengatakan bahwa kemungkinan besar istriku melahirkan besok. Bukan ini malam. Sebab baru pembukaan tiga. Tapi aku melihat istriku sudah tidak tahan lagi akan rasa sakit yang dirasakannya. Dia bolak-balik bolak-balik di atas ranjang rumah bersalin. Tak henti-hentinya syahadat terdengar dari mulutnya, bergantian dengan ucapan takbir, istighfar dan doa’-doa lainnya. Aku merasa iba melihatnya. Aku tak tahan melihatnya. Rasa haru menggelegak di dalam dada. Tidak terasa air mata meleleh di pipiku.

Tiba-tiba istriku bilang ada air yang mengucur deras dari jalan lahir sang calon bayi. Dokter segera memeriksa istriku dengan cekatan. "Wah, ini sudah pembukaan sembilan, katanya. "Sudah lengkap pembukaannya. Saya kira besok baru melahirkan ibunya." Dia segera memerintahkan bidan yang bertugas untuk segera membantu istriku melahirkan. Agak lama juga si jabang bayi nongol. Katanya, istriku gatta kelorang. Wanita hamil yang gatta kelorang itu, sebelum lahir bayinya, biasanya disertai lendir yang banyak. Nanti habis lendirnya, barulah bayi bisa keluar. Dan biasanya wanita hamil yang gatta kelorang akan merasakan sakit yang luar biasa. Katanya sih, penyebabnya adalah sewaktu hamil sering makan buah yang bergetah. Misalnya, buah langsat. Iyya juga sih, sewaktu istriku hamil pas musim langsat, jadi setiap hari makan langsat. Tidak bosan-bosannya istriku makan langsat. Entahlah, saya juga tidak tau hubungannya di mana.

Proses melahirkannya agak lama. Membuatku sangat cemas. Kecemasan juga melanda ibu dan tante istriku. Sehingga mereka memutuskan untuk pergi mencari obat dari neneknya istri yang pintar. Berupa air yang dibacakan do’a-do’a untuk memudahkan melahirkan. Sedangkan istriku masih berjuang hidup mati untuk melahirkan sang buah hati. Aku pun pergi mencari obat itu. Setelah mendapatkannya, aku segera ke rumah bersalin kembali. Sesampai di rumah sakit, Wah, ternyata istriku sudah melahirkan. Aku sangat bahagia dan bersyukur kepada-Nya tak terhingga. Kuambil bayi yang sudah dibersihkan dan diselimuti. Kucium dan kudekap dengan penuh kasih sayang. Dan membacakan iqamah di telinga kanannya.

Tiba-tiba ada telepon dari kampung yang menyatakan bahwa bapakku telah meninggal dunia. Diiiringi derai air mata, kuucapkan innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Aku sedih karena aku tidak bisa menemani detik-detik terakhir bapakku. Aku bilang, aku akan pulang segera. Aku pamit kepada istriku. Untuk pulang ke kampung. Malam itu juga aku pulang kampung menjumpai bapakku yang sudah tiada.

Keesokan harinya, sekitar pukul 09.00 pagi, jenazah bapakku dikebumikan. Ketika, para pengantar sudah pulang, aku tinggal sendirian di depan kuburan bapakku. Aku belai nisannya. Sambil berdoa memintakan ampun dan keselamatan bagi bapakku di alam sana.

Malam takziah digelar selama tiga malam berturut-turut. Setelahnya, aku pamit pada keluarga bapak untuk pulang kembali ke Makassar. Aku pulang ke Makassar. dengan perasaan yang masih diliputi duka akibat kepergian bapak. Tapi ada yang menungguku di sana, sesosok makhluk mungil yang baru lahir. Harapan baru yang mengingatnya saja. Menimbulkan kebahagiaan yang tak terlukiskan.

Aku mengetuk pintu. Terdengar tangisan bayi dari dalam. Tangisan bayi yang melengking. Menandakan bayi yang sehat. Alhamdulillah. Pintu dibuka istriku, dan langsung masuk ke dalam mengambil dan menggendong si bayi. Aku dilarangnya untuk menggendong sang bayi. Katanya, tidak boleh karena aku baru datang dari jauh. Sebentar-sebentarpi, katanya. Setelah, beberapa lama aku istirahat. Si mungil akhirnya dapat kutimang-timang. Aduh senangnya, memandang wajahnya yang lucu. Kuelus-elus pipinya yang halus, tapi matanya masih tertutup. Wah, masih tidur ternyata dia. Nantilah kalau dia terbangun dari tidurnya, baru main lagi sama bapak yah, Nak.

Istriku menghampiriku dan bertanya,”Bagaimana di kampung, Daeng. Ah, mauku juga ke kampung, Daeng. Lihatki Bapak untuk terakhir kalinya. Tapi tidak bisa kodong.” Aku jawab,”Iye, Ndik. Tidak dilihatmi Bapak . Karena bersamaan mauki melahirkan. Tidak apa-apaji. Sekarang Bapak sudah tenang di sisinya.”

“Daeng, pernahKi itu cerita dulu. Bilang ada itu ilmunya Bapak. Kalau sakitki bisa sembuh kembali. Dengan syarat, ada orang lain yang meninggal sebagai gantinya. Kuingatki itu waktuku melahirkan. Bateko mami berdo’a. Kuingatki itu ceritaTa.”

"Iyyoka,” Sahutku tertegun. Pernah memang aku bercerita tentang ilmunya bapak. Tapi sebenarnya aku juga kurang percaya akan cerita itu. Aku kira cerita itu hanya  sekedar cerita saja.

“Tapi, entahlah. Sewaktu aku dalam proses melahirkan itu. Aku teringat terus kepada Bapak yang dalam keadaan sakaratul maut. Aku terus berdoa memohon kelancaran dan keselamatan kepada yang Maha Kuasa. Alhamdulillah, bayi kita lahir dan dia sehat-sehat saja. Demikian pula dengan diriku. Tetapi, Bapak meninggal. Aku merasa bahwa Bapak mengorbankan dirinya demi keselamatan cucu dan menantunya. Bapak tidak menggunakan ilmunya dan nyawanya sebagai taruhannya,”Gumamku sedih.

Antara percaya dan tidak. Aku mendengar cerita isteriku dengan perasaan sedih. Yah, Bapak telah tiada. Namun, apapun cerita tentang Bapak.  Aku menganggap bahwa beliau adalah orangtuaku yang terbaik. Sampai kapanpun. Pandanganku menerawang ke masa silam. Masa-masa kecilku bersama bapak dan ibu di kampung.