Sabtu, 13 Januari 2018

Apresiasi dan Kritik Buku

Napoleon Bonaparte Seorang Muslim yang Berasal dari Makassar-Indonesia


Sudah sejak lama muncul dalam perbincangan  sambil lalu  atau sekedar candaan jikalau Napoleon Bonaparte itu aslinya adalah orang Indonesia, tepatnya dari Makassar. Buktinya, lagi-lagi, hanya sekedar melihat namanya belaka.  Kaisar hebat ini bernama Napo Daeng Liong bin Bora Daeng Irate, Napoleon Bonaparte. Mirip sekali memang. Tidak lebih dari itu. Selesai.

Cocoklogi tersebut akhirnya membuka ruang diskusi baru sekaligus semakin meluas ketika  buku  yang berjudul “Napoleon Bonaparte ternyata seorang Muslim, Diduga Ia berasal dari Makassar”  terbit tahun 2012 lalu, yang baru juga kami  dapatkan di penghujung tahun 2017.

Di bagian awal buku setebal 139 halaman ini, bab 1, 2 dan 3, secara umum mengulas  tentang kondisi dunia  abad ke-17  hingga abad 18, era dimana Napoleon dilahirkan, sepak terjangnya dalam  militer Perancis, pengangkatannya sebagai kaisar hingga kejatuhannya, termasuk kehidupan asmaranya dengan beberapa wanita. Ulasan semacam ini lazim ditemukan dibanyak buku sejarah, yang boleh jadi, mayoritas pembaca cenderung mengabaikan bagian-bagian ini. Tentu saja karena kita jauh lebih penasaran ingin membaca  bagaimana bisa panglima  besar ini, yang berada di urutan ke- 34   tokoh paling berpengaruh di sepanjang sejarah,  bisa menjadi seorang muslim dan asal usulnya dari Makassar, Indonesia.

Akhirnya tibalah di intisari buku ini, bab 4, 5 dan 6. Ada beberapa alasan yang menjadi dasar mengapa Napoleon diduga berasal dari Makassar. Pertama, konon  Sultan Hasanuddin  memiliki keturunan bernama  I Yandulu Daeng Mangalle, yang  pergi ke Siam (Thailand) bersama pengikutnya,  setelah kekalahan kerajaan Makassar pasca perjanjian Bongaya, dan mendapat suaka di sana. Kemudian Daeng Mangalle bersama adik raja Siam terlibat dalam rencana pemberontakan untuk menjatuhkan tahta Raja Narai. Sayang rencana tersebut terlanjur bocor. Meski ada peluang pengampunan dari raja, tapi Daeng Mangalle dan pengikutnya tidak menyerah hingga terjadi pertempuran yang tidak seimbang yang dimenangkan oleh pihak kerajaan. Meskipun sedikit, pasukan Makassar ini dikatakan hampir menguasai kerajaan karena semangat tempurnya yang tak kenal mundur. Inilah yang membuat kagum tentara Perancis yang mengetahui peristiwa ini. Lantas dua putra I Yandullu Daeng Mangalle  diampuni oleh raja Siam kemudian keduanya dibawa menetap di  Perancis bahkan keduanya dimasukkan ke akademi tentara di Perancis.  Mereka berdua kemudian berganti nama, Daeng Ruru berganti nama menjadi Louis Pierre de Macassart, yang kedua Daeng Tulolo menjadi Louis Dauphin.  Mereka  inilah yang dianggap melahirkan sang tokoh besar Napoleon Bonaparte.

Kedua, dari segi fisik, Napoleon memiliki ukuran tubuh yang  relatif kecil. Ia lebih mirip orang Makassar pada umumnya,  dibandingkan  orang-orang Eropa lainnya yang bertubuh tinggi. Ketiga, lambang ‘sakral’ Perancis berupa ayam jantan, konon katanya diinspirasi  kepahlawanan Sultan Hasanuddin yang bergelar  ayam jantan dari Timur. Barangkali yang paling mudah dilihat adalah  logo ayam yang tersemat di bagian dada  baju kesebelasan Perancis.

Lantas bagaimana Napoleon menjadi muslim ini diungkap dalam harian resmi Prancis, Le Moniteour Universal (terbit dalam kurun waktu 1789-1868). Disebutkan bahwa Napoleon  resmi menjadi Muslim  pada 1798. Kutipan berita inilah  yang kemudian dimuat dalam buku Satanic Voices – Ancient and Modern karya David Musa Pidcock  tepatnya pada halam 61.

Buku Pidcock ini terbit pada 1992, demikian tulisan yang dikutip media.isnets.org. pidcock juga menuliskan bahwa Napoleon memilih nama Ali sebagai nama barunya, sehingga menjadi Ali Napoleon Bonaparte.

Napoleon disebut-sebut mengakui superiotas hukum Islam, bahkan berniat menerapkannya  dalam kekaisarannya di Perancis.  Prinsip-prinsip  syariah itu sempat dimasukkan ke dalam Civil Code Napoleon atau hukum  yang ditulis  oleh Napoleon. Kode Napoleon ini kemudian menginsipirasi  konstitusi Perancis  dan konstitusi negara-negara taklukan Napoleon di Eropa.

Kritik
Sudah barang tentu buku ini patut diapresiasi. Serpihan-serpihan  ide dan tulisan yang berserakan  bisa berwujud buku yang manis seperti ini merupakan hasil kerja keras, ketekunan dan semangat dari penulis, apalagi temanya sangat unik dan langka.

Sayang sekali buku ini tidak memberi porsi penjelasan yang luas dan mendalam  pada tema pokok buku ini, yaitu  bagaimana  menelusuri riwayat  Napoleon benar-benar berasal dari Makassar. Buku setebal 138 halaman ini, hanya memberi ruang tidak lebih dari 5 halaman penjelasan tentang bagaimana Napoleon berasal dari Makassar. Ada keterputusan atau gap  riwayat  yang tidak disebut dalam buku ini, dari Daeng Ruru (Louis Pierre de Macassart) atau Daeng Tulolo (Louis Dophin) ke Napoleon Bonaparte. Para sejarawan Perancis dan dunia pun, sejauh ini, tidak ada yang membahas secara khusus tentang asal usul Napoleon yang berbeda dengan sejarah yang umum ditulis.
Sangat berbeda, misalnya, dengan Tun Abd Razak, perdana menteri pertama Malaysia, yang memiliki silsilah yang lengkap hingga ke Karaeng Sanrobone, Putra Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin. Atau dr. Wahidin Sudirohusodo yang memiliki riwayat  hingga ke Karaeng Naba, yang ikut terlibat membantu Trunajoyo dalam memerangi kompeni Belanda. 

Terkait riwayat Napoleon tersebut, tepatlah jika penulis buku ini memberi judul “......diduga dari Makassar”, karena memang hampir semuanya bersifat perkiraan belaka. Menganggap Napoleon berasal dari Makassar, jauh lebih  misteri  dibandingkan pendapat yang mengatakan bahwa Hang Tuah, bernama Makassar—Daeng Merupawah,   itu berasal dari kerajaan Bajeng, Gowa, yang dikisahkan dalam Babad Tanah  Melayu.

Mengenai keislaman Napoleon, memang, banyak sudah diungkap oleh media-media yang kredibel bahkan dari Perancis sendiri. Tapi yang luput diketengahkan oleh penulis, sebagai temuan di sisi lain, bahwa Napoleon justru dikatakan hanya ingin menarik simpati dari kalangan umat Islam di tengah kedudukannya yang mulai tertekan, terutama di Mesir dan India dalam menghadapi seteru besarnya yaitu Inggris.

Sangat disayangkan pula, buku ini hanya mendasarkan referensinya pada situs online saja. Di bagian daftar pustaka, tidak ada satu pun buku referensi yang dicantumkan. Pun, banyak referensi yang dikutip menggunakan hasil terjemahan yang masih kacau, hingga sulit dipahami bahkan keluar dari makna yang awal yang dimaksudkan, boleh  jadi karena sebagian masih menggunakan mesin terjemahan.

Oleh :

Rajab Sabbarang Daeng Nuntung
(Penggiat Rumah Baca Smart  & Cool)

3 komentar:

  1. Mencari Situs Judi Taruhan Ayam Terpercaya?

    Tenang saja, kini Agen BOLAVITA menyediakan Judi Taruhan Ayam yang sangat lengkap yang bisa Anda coba daftar dan mainkan.

    Daftar sekarang untuk dapatkan bonus new member 10% dan bonus setiap harinya 5%.

    Minimal Deposit dan Withdraw adalah 50.000.

    Permainan ini bisa dimainkan dimana dan kapanpun juga, baik di pc/laptop atau Handphone.

    Daftar sekarang juga di www.bolavita.ltd !!!!

    Baca juga =
    1. Cara Membuat Akun dan Bermain di Situs S128
    2. Promo Promo BOLAVITA

    Untuk info selanjutnya, bisa hubungi kami VIA:
    BBM : BOLAVITA / D8C363CA
    Whatsapp : +62812-2222-995
    Livechat 24 Jam

    BalasHapus
  2. bosen kalah kalah aja..?? silahkan coba registrasi di bolavita ayam bangkok tarung
    hanya dengan modal 50 ribu sudah bisa jadi jutawan
    buktikan sendiri no Hoax... ^^

    info lbh lanjut:

    WA: +628122222995

    BalasHapus
  3. Kesehatan Ayam Tercinta kita perlu kita jaga juga.
    Dalam kali ini saya akan memberikan sedikit pengetahuan untuk kesehatan Ayam Kesayangan kita.
    Berikut artikel yang barusan saya update.

    Kandungan Wortel Bagi Pakan Kesehatan Ayam
    https://tajenonline.net/kandungan-wortel-bagi-pakan-kesehatan-ayam/

    Jika anda kurang memahami nya, Boleh ditanyakan langsung dengan tajenonline
    Pasti akan langsung cepat direspon atau dibalas chatting anda.
    Terima kasih sudah menyukai komentar saya barusan.

    BalasHapus