Dalam suatu perbincangan dalam grup WA, terbetiklah beberapa
komentar mengapa terjadi krisis di HMI. Melihat
kasus yang terjadi bahwa kader baru tidak merasa nyaman aktif di HMI. Mereka anak-anak
seorang senior yang menitipkan anaknya
di HMI untuk dibina. Seorang teman, Alam mengatakan salah satu masalahnya adalah bahwa terjadi
mainstream mazhab di dalam tubuh HMI
MPO Makassar. Namun ada seorang senior kohati, Mbak Ning yang mengatakan bahwa ketidaknyamanan itu
mungkin dikarenakan faktor anak itu sendiri. Bahwa tidak mungkin seorang anak diawasi selama
24 jam. Mungkin mereka tidak merasa cocok dengan kultur HMI yang islami.
Seorang senior, Kanda Amir mengatakan masalah mazhab bisa dituntaskan di follow up.
Kader perlu belajar tentang berbagai mazhab dalam tubuh Islam. Penjelasannya cukup
rinci tentang penganut berbagai mazhab dengan penyebarannya di berbagai belahan
dunia. Senior kohati, Ina mengatakan
tidak masalah ketika terjadi mainstream mazhab selama bisa merangkul yang lain.
Menghormati mazhab yang lain. Bukankah HMI adalah rumah besar bagi semua. Itulah
mengapa penghuninya merasa nyaman. Alam
menyangkalnya karena faktanya mengatakan lain.
Katanya, itulah mengapa dia dan beberapa teman yang lain hengkang dari
grup alumni karena HMI kewahabi-wahabian
dan HMI MPO keDIPO-DIPOan. Ina mengatakan hal-hal seperti itu memang harus
diungkapkan agar bisa diketahui faktor-faktor apa saja yang bisa menyebabkan
minggatnya seorang kader dari Himpunan. Lyana turut berkomentar, seorang kader
sah-sah saja merasa tidak nyaman dalam sebuah organisasi dan menjadi haknya dia
untuk meninggalkan organisasi.
Senior kohati, Ina mengatakan bahwa memang tidak masalah
ketika organisasi dalam keadaan baik-baik saja tetapi berbeda kalau organisasi
dalam kondisi kritis. Tentu kita perlu mengetahui faktor-faktor apa saja yang
menyebabkan anggota merasa tidak nyaman berada dalam sebuah himpunan. Mungkin pendekatan
terhadap kader perlu ditinjau kembali. Kita
tidak boleh menuntut hasil secara instan. Biarkan mereka berproses.
Beberapa hal penyebab mundurnya HMI MPO khususnya di cabang
Makassar, menurut pengamatan penulis adalah :
Pertama, Tidak adanya HMI CENTRE, Pikiran pengurus terporsir cukup besar untuk memikirkan pengadaan sekretariat setiap pergantian pengurus. Padahal tenaga dan pikiran pengurus bisa untuk penguatan lembaga dan pembinaan kader jika HMI Centre sudah ada.
Kedua, Adanya dualisme kepemimpinan, menjelang Pilpres
2014, yaitu di bawah kepemimpinan Hamzah Rakhabau dan Najamuddin Arfah.
Kemudian menyatu kembali. Tetapi, kader terlanjur bingung.
Ketiga, Ketua Cabang periode 2016-2017 mengundurkan diri. Praktis
kegiatan-kegiatan di cabang mandek.
Keempat, Pendekatan terhadap kader baru mungkin kurang
relevan. Sistem doktrin dengan hasil instan. Perlu ditinjau kembali.
Kelima, Mainstream mazhab yang dominan. Cenderung mencurigai
dan menafikan mazhab lain. Hal ini mengabaikan pluralitas dalam tubuh HMI. Sesuatu yang
bertentangan dengan Khittah Perjuangan HMI.
Kita tidak perlu mencari kambing hitam penyebab kemunduran HMI khususnya HMI MPO
Cabang Makassar. Tetapi, kita tidak bisa selalu membela diri dan menutup mata
atas fakta yang terjadi di HMI. Yang terpenting sekarang adalah apa solusi
terhadap permasalahan ini. Sehingga HMI cabang Makassar bisa bangkit. Dan jaya
seperti dahulu kala. Yakusa.
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus