Sabtu, 13 Januari 2018

KRISIS MELANDA HIMPUNAN



Dalam suatu perbincangan dalam grup WA, terbetiklah beberapa komentar mengapa terjadi krisis di HMI.  Melihat kasus yang terjadi  bahwa kader  baru tidak merasa nyaman aktif di HMI.  Mereka  anak-anak seorang senior  yang menitipkan anaknya di HMI untuk dibina. Seorang teman, Alam mengatakan  salah satu masalahnya adalah bahwa terjadi mainstream  mazhab di dalam tubuh HMI MPO  Makassar. Namun ada seorang senior  kohati, Mbak Ning  yang mengatakan bahwa ketidaknyamanan itu mungkin dikarenakan faktor anak itu sendiri.  Bahwa tidak mungkin seorang anak diawasi selama 24 jam. Mungkin mereka tidak merasa cocok dengan kultur HMI yang islami.

Seorang senior, Kanda Amir mengatakan  masalah mazhab bisa dituntaskan di follow up. Kader perlu belajar tentang berbagai mazhab dalam tubuh Islam. Penjelasannya cukup rinci tentang penganut berbagai mazhab dengan penyebarannya di berbagai belahan dunia.  Senior kohati, Ina mengatakan tidak masalah ketika terjadi mainstream mazhab selama bisa merangkul yang lain. Menghormati mazhab yang lain. Bukankah HMI adalah rumah besar bagi semua. Itulah mengapa penghuninya merasa nyaman.  Alam menyangkalnya karena faktanya mengatakan lain.  Katanya, itulah mengapa dia dan beberapa teman yang lain hengkang dari grup alumni karena HMI  kewahabi-wahabian dan HMI MPO keDIPO-DIPOan. Ina mengatakan hal-hal seperti itu memang harus diungkapkan agar bisa diketahui faktor-faktor apa saja yang bisa menyebabkan minggatnya seorang kader dari Himpunan. Lyana turut berkomentar, seorang kader sah-sah saja merasa tidak nyaman dalam sebuah organisasi dan menjadi haknya dia untuk meninggalkan organisasi.

Senior kohati, Ina mengatakan bahwa memang tidak masalah ketika organisasi dalam keadaan baik-baik saja tetapi berbeda kalau organisasi dalam kondisi kritis. Tentu kita perlu mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan anggota merasa tidak nyaman berada dalam sebuah himpunan. Mungkin pendekatan terhadap  kader perlu ditinjau kembali. Kita tidak boleh menuntut hasil secara instan. Biarkan mereka berproses.

Beberapa hal penyebab mundurnya HMI MPO khususnya di cabang Makassar, menurut pengamatan penulis adalah :

Pertama, Tidak adanya HMI CENTRE, Pikiran pengurus terporsir cukup besar untuk memikirkan pengadaan sekretariat setiap pergantian pengurus. Padahal tenaga dan pikiran pengurus bisa untuk penguatan lembaga dan pembinaan kader jika HMI Centre sudah ada.

Kedua, Adanya dualisme kepemimpinan, menjelang Pilpres 2014, yaitu di bawah kepemimpinan Hamzah Rakhabau dan Najamuddin Arfah. Kemudian menyatu kembali. Tetapi, kader terlanjur bingung.

Ketiga, Ketua Cabang periode 2016-2017 mengundurkan diri. Praktis kegiatan-kegiatan di cabang mandek.

Keempat, Pendekatan terhadap kader baru mungkin kurang relevan. Sistem doktrin dengan hasil instan. Perlu ditinjau kembali.

Kelima, Mainstream mazhab yang dominan. Cenderung mencurigai dan menafikan mazhab lain. Hal ini mengabaikan  pluralitas dalam tubuh HMI. Sesuatu yang bertentangan dengan Khittah Perjuangan HMI.

Kita tidak perlu mencari kambing hitam  penyebab kemunduran HMI khususnya HMI MPO Cabang Makassar. Tetapi, kita tidak bisa selalu membela diri dan menutup mata atas fakta yang terjadi di HMI. Yang terpenting sekarang adalah apa solusi terhadap permasalahan ini. Sehingga HMI cabang Makassar bisa bangkit. Dan jaya seperti dahulu kala. Yakusa.

1 komentar: