Senin, 17 Juli 2017

Film Surat Kecil untuk Tuhan





Terus terang, sebelum nonton film ini saya buta tentangnya. Dulu saya berpikir film ini seperti film sebelumnya dengan judul yang sama. Dimana filmnya mengisahkan tentang seorang gadis pengidap kanker. Ternyata film ini jauh berbeda.

Film ini dibintangi oleh Bunga Citra Lestari (Angel dewasa), Aura Kasih (Ningsih dewasa), Joe Taslim (Martin dewasa) dan Maudy Koesnadi (mama angkat Angel). Kisahnya cukup mengharukan dan juga menegangkan.

Film ini diawali dengan adegan pemukulan seorang perempuan oleh suaminya. Seorang anak lelaki bersama saudara perempuannya tampak ketakutan melihat kejadian itu. Sang suami meminta uang kepada sang istri tapi istrinya menolak. Setelah memukul sang istri, lelaki tersebut mendekati kedua kakak beradik yang tampak ketakutan itu.   Lelaki itu bertanya kepada mereka.

"Di mana, kalian simpan uang yang diberikan oleh bibi kalian."

Mereka menggeleng. Lelaki itu tampak marah dan bersiap memukul mereka, tetapi istrinya melarang. Kemudian, lelaki itu memukul kembali istrinya. Kepala istrinya dibenturkan ke tembok. Sadis.

Ketika lelaki itu, sang paman, tertidur pulas ditemani botol-botol minuman keras yang bergeletakan, mereka berdua, sang kakak bernama Anton dan sang adik bernama Angel, melarikan diri. Mereka memanjat jendela dan keluar dari rumah itu.

Tiba-tiba sang adik berkata pada kakaknya,
"Kak Anton, jepit rambut saya ketinggalan,"
"Tidak apa Dek, nanti kita beli. Mari kita pergi dari sini."
"Kak, jepit rambut itu pemberian ibu"
"Baiklah, saya ambilkan dulu yah. Tunggu Kakak di sini. Jangan kemana-mana."

Sang kakak masuk kembali ke dalam rumah lewat jendela. Dan, detik-detik ini menjadi menegangkan. Penonton diantar untuk berpikir apakah Anton akan kedapatan oleh sang paman. Dan akhirnya kakak beradik itu akan terpisah?

Akhirnya, Anton muncul membawa jepit rambut adiknya. Adiknya pun tersenyum gembira. Mereka bergandeng tangan berlalu dari rumah itu.

Mereka terus berjalan dan berjalan. Dan tibalah mereka di kota besar, Jakarta. Mereka beristirahat untuk makan. Tiba-tiba orang di sekitar mereka berlarian. Ternyata ada satpol PP yang mengejar dan menangkap orang-orang di tempat itu. Anton dan Angel pun ikut berlari untuk menghindari kejaran petugas.

Mereka berlari dan terus berlari sambil menengok ke belakang. Apakah satpol PP masih mengejar mereka? Pada bagian ini, ketegangan melanda penonton. Apakah Anton dan adiknya akan tertangkap, atau akankah mereka berpisah, jika salah satunya tertangkap?

Suasana mencekam mengiringi langkah seribu mereka menghindari kejaran satpol PP. Sang adik merasa lelah lalu memohon kepada kakaknya untuk istirahat sejenak. Mereka lalu duduk di balik tiang besar sebuah gedung, sepertinya tempat parkir gedung itu. Tiba-tiba, seorang pria bertongkat mendekati mereka. Pria itu menawarkan untuk istirahat di tempatnya. Tapi mereka menolak. Pria itu pun berlalu.

Hujan deras jatuh membasahi bumi. Anton dan Angel kedinginan. Mereka berpelukan untuk menghangatkan badan mereka. Pria bertongkat datang kembali dengan membawa payung. Pria itu menawarkan bantuannya kembali. Angel menatap dalam mata kakaknya seolah memohon kepada kakaknya untuk menerima tawaran pria itu. Akhirnya, Antonpun mengangguk.

Bersambung







Tidak ada komentar:

Posting Komentar