Jumat, 20 Januari 2017

Menikmati Senja yang Mendadak Bisu



Mendaras buku kumpulan cerpen yang berjudul "Senja yang Mendadak Bisu" Karya Lugina W.G. seperti menjelajahi berbagai wilayah di nusantara. Kita seperti diajak untuk menyelami budaya lokal dari latar cerita itu.

Ada beberapa budaya yang menarik namun ada pula yang sadis yang bisa membuat kita bergidik. Tetapi, begitulah adanya budaya daerah. Seperti, adat di Papua, di mana seorang perempuan dari suku Dani harus memotong seruas demi seruas jari tangannya ketika ada anggota keluarganya yang meninggal. Setiap ada yang meninggal satu ruas jari mesti dipotong. Sehingga hampir seluruh ruas jarinya terpotong, tinggal tersisa satu ruas jari tangan sang perempuan dalam cerita itu.

Setiap ada kerabat dekat yang meninggal. Seorang perempuan dari suku Dani mau tidak mau memotong seruas jarinya. Mereka memotong jarinya sendiri dengan sebuah kapak. Sebelumnya, perempuan itu menyediakan daun-daunan untuk mengurangi rasa sakit dan mengobati luka akibat jari yang terpotong itu. Perempuan suku Dani teramat tabah tetapi mereka juga merasa sedih dengan apa yang menimpa mereka. Tetapi, mereka tetap pasrah karena terlahir sebagai perempuan dari suku Dani.

Cerita dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan bercerita tentang seorang pemuda yang ingin sekali membuat upacara Rambu Solo buat ambenya yang telah meninggal dunia. Sebelum Rambu Solo diadakan, si mayit itu, dianggap belum meninggal, tapi masih sakit. Upacara Rambu Solo itu sendiri merupakan upacara kematian dengan mengorbankan delapan ekor kerbau dan lima puluh ekor babi. Sebagai anak lelaki tertua, sang pemuda merasa berkewajiban untuk mengadakan upacara Rambu Solo untuk ambenya. Apa daya keuangan sang pemuda dan keluarga tak mencukupi untuk mengadakan upacara itu.

Sementara itu, indo sang pemuda senantiasa mempertanyakan kapan mereka bisa mengadakan upacara Rambu Solo. Indonya bilang kasihan ambenya belum mencapai paya atau nirwana karena belum diantarkan dengan upacara itu. Sang pemuda berpikir keras bagaimana mengadakan upacara itu. Sedangkan mereka belum mampu.

Sang pemuda adalah seorang guide atau pemandu wisata yang pekerjaannya mengantar turis ke tempat-tempat wisata di Tator. Ke Londa makam-makam yang letaknya di dinding batu bebukitan, ke makam anak-anak kecil di lobang-lobang pepohonan. Dan ada juga, makam sepasang remaja yang saling mencintai yang bunuh diri karena tidak mendapat restu dari orang tua mereka. Mereka mendapat gelaran Romeo dan Juliet. Sang pemuda sangat senang menceritakan kisah sepasang remaja itu kepada para turis yang berkunjung ke tempat itu.

Akhirnya, sang pemuda memperoleh biaya untuk mengadakan upacara untuk ambenya. Dengan jalan yang pasti akan dikutuk dan dihina oleh kaumnya. Pemuda itu telah menjual kerangka tulang belulang Romeo dan Juliet ke toko cendera mata. Sebelumnya, sang pemuda telah mengganti yang asli dengan replika tulang Romeo dan Juliet. Dan tentu saja, langkah sang pemuda akan disesalinya kemudian hari.

Cerita dari Tanah Minang. Seorang gadis yang bersedih hati. Lamaran sang kekasih kepada keluarganya disambut oleh mamaknya dengan persyaratan mahar yang sangat tinggi. 30 mayang emas. Sang gadis berusaha membujuk mamaknya supaya menurunkan maharnya menjadi 3 mayang. Dengan alasan, bahwa perempuan yang paling mulia itu yang maharnya paling murah. Tetapi sang mamak bergeming. Bahkan memberi jangka waktu dua bulan untuk memenuhi persyaratan itu. Kalau tidak, gadis itu akan dinikahkan dengan pemuda lain. Yang sanggup menyanggupi 30 mayang emas.

Sang gadis bersedih. Di hari pernikahannya, dia melihat kekasihnya duduk di antara kursi tamu. Pemuda itu sudah memenuhi janjinya untuk datang ke pesta pernikahan gadis itu. Di kamarnya, gadis itu menunggu deringan sms dari sang pemuda. Terdengar bunyi ringtone tanda pesan masuk. SMS itu berisi permintaan maaf dari sang pemuda yang tidak sanggup memenuhi mahar yang telah ditentukan oleh sang mamak. Pemuda itu mengucapkan salam perpisahan. Dan gadis itupun berduka.

Ada cerita dari tana Luwuk yang getir, yang diharapkan happy ending ternyata berakhir sedih. Seorang istri yang menunggu suaminya siang dan malam. Menyiapkan semangkuk kapurung dan dua piring setiap waktu makan. Satu untuk dirinya dan satu untuk suaminya. Satu bulan, satu minggu, satu tahun dan tahun berganti tahun. Perempuan itu masih setia menunggu. Dengan semangkuk kapurung dan dua buah piring, satu untuk dirinya dan satu untuk suaminya. Suami yang pergi ke ibukota untuk mencari pekerjaan dan bertarung nasib demi perbaikan hidup keluarga mereka. Tapi, sama seperti biasanya, hanya satu yang terpakai.

Seorang lelaki menyusuri jalan kampung mendekati rumah yang ditinggalkannya beberapa tahun lalu. Dia yang pernah lupa ingatan karena terjatuh dan tertumbuk batu. Itulah sebabnya sang suami tak pernah berkirim kabar pada istrinya di kampung. Setelah ingatannya pulih kembali ia memutuskan untuk balik ke kampung berkumpul bersama istrinya kembali.

Sesampai di rumahnya, lelaki itu mengintip, takut jangan-jangan istrinya sudah menikah lagi. Karena dia sudah lama pergi dan tidak pernah berkirim kabar padanya. Dia kemudian terhenyak melihat semangkuk kapurung, makanan kegemarannya dengan sepasang piring. Di samping istrinya yang terbaring seperti menunggu seseorang. Dia menyangka istrinya sudah menikah lagi. Buktinya, ada sepasang piring yang tersedia. Untuk apa piring yang satunya lagi kalau bukan untuk suaminya yang baru.

Dengan air mata bercucuran, lelaki itu meninggalkan rumah itu. Takut berjumpa dengan suami baru istrinya. Dia memaklumi dan memaafkan istrinya yang
telah menikah lagi. Karena bertahun-tahun ditinggal tanpa ada kabar darinya. Padahal seandainya dia tahu. Bahwa piring yang satu itu adalah untuk dia. Suami yang tetap ditunggu-tunggu sang istri. Kasiaan...hik..hik...Coba saja lelaki itu mau ketemu istrinya. Dan bersay hello. Kesalahpahaman bisa dielakkan. Tapi saya kira itulah keunikan dari cerita ini. Akhir cerita yang tak gampang ditebak.

Masih banyak cerita lain yang menarik dari kumpulan cerpen "Senja yang Mendadak Bisu" ini. Cara dan gaya bercerita, dengan untaian kata yang indah membuat kita menikmati berbagai kisah anak manusia di dalamnya. Bagus untuk merefresh otak sekaligus menambah pengetahuan akan keanekaragaman budaya nusantara kita.

Kamis, 19 Januari 2017

Mencari Karyawan

Sudah beberapa hari ini karyawan yang kerja di toko Meta Cell tinggal seorang. Biasanya ada tiga orang. Ada yang pulang kampung belum tentu datang kembali. Dan ada yang berhenti bekerja karena mau bikin usaha sendiri. Alhamdulillah.

Seorang karyawan sangat tidak cukup untuk menggawangi toko. Apalagi dia hanya masuk sore sampai malam hari. Jadi sang bos sendiri mesti turun tangan. Juga saya ikut membantu menjaga toko. Alhasil, banyak yang terbengkalai pekerjaan lain. Misalnya, Foto kopi, pergi belanja voucher, Alat Tulis Kantor. Juga pekerjaan rumah tangga tidak terurus dengan baik. Soalnya keluar masuk rumah.

Sebenarnya sudah ada beberapa orang yang menawarkan diri untuk menjadi karyawan. Tetapi mereka masih sementara dipertimbangkan. Mengingat pengalaman kami sebelumnya mempekerjakan karyawan. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman itu. Yang membuat kami agak sulit untuk menerima seseorang menjadi karyawan. Memang sih tak ada yang sempurna pada diri seseorang. Tapi setidaknya bisa diperoleh pekerja yang optimal dalam melalukan tugasnya.

Dari sekian banyak pengalaman mempekerjakan orang, saya melihat beberapa aspek yang penting dilihat dari karyawan, yaitu

1. Kejujuran
Kejujuran dalam hal ini sangat penting. Dalam pekerjaan ini, pencatatan uang masuk dan keluar tidak ketat. Sangat gampang ketika karyawan berniat jahat. Mengambil selembar dua lembar uang seratus ribu itu tidak akan ketahuan.

2. Kedisiplinan
Karyawan yang disiplin itu ketika sudah ditentukan waktu masuknya. Tidak akan sengaja membuat dirinya terlambat. Misalnya, jam 08.00 dia mesti masuk. Dia tidak akan sengaja masuk pukul 08.15. Karena ketika ini menjadi kebiasaan. Maka pimpinan akan kurang respek. Dan bisa saja akan berpengaruh pada komisi kurang atau kenaikan gaji yang tertunda.

3. Patuh
Seorang karyawan ketika pimpinan mengatakan tolong dikerjakan ini, akan mengerjakan tugas yang diberikan. Tidak mencari-cari alasan pembenaran agar pekerjaan yang diberikan tidak dilakukan. Kalau misalnya pekerjaan yang diberikan berat. Sebaiknya menggunakan kata-kata yang sopan untuk menolaknya.

4. Penguasaan pekerjaan
Seorang karyawan yang baik akan menguasai pekerjaannya dengan baik. Karena dia akan aktif bertanya. Apa-apa saja yang tidak diketahui dan diperlukan untuk kelancaran pekerjaan. Contoh, pada pekerjaan jual beli, sebaiknya karyawan menanyakan harga-harga barang dan mengetahui posisi-posisi barang yang dijual. Jangan sampai baru bertanya ketika sudah ada pembeli yang datang membeli. Seperti tidak profesional bukan. Juga menghambat proses jual beli.

5. Tidak online pada saat bekerja
Ketika seorang karyawan aktif online saat bekerja. Tentu saja akan kurang fokus pada pekerjaannya. Sudah ada konsumen yang datang. Masih sibuk browsing-browsing. Apalagi untuk menata dan membersihkan barang, pastinya tidak akan deh.

Dari sekian banyak aspek yang perlu dipertimbangkan, hanya lima yang saya paparkan. Mungkin ada beberapa aspek lain juga yang penting. Tetapi kalau kelima aspek di atas sudah terpenuhi, saya pikir pekerjaan akan lancar. Dan target penjualan akan meningkat. Dan gaji pun akan meningkat. Karena pimpinan senang melihat sikap dan kinerja sang karyawan.

Sabtu, 07 Januari 2017

CLBK



Wanita cantik yang berumur menjelang 40 tahun itu tersedu sedan. Mencoba menahan tangis untuk menyembunyikan kepiluan di hatinya, namun akhirnya bobol juga. Sungguh, Jamilah, nama wanita itu yang juga teman karibku, kelihatan sangat menderita. Kubiarkan ia melampiaskan rasa di hatinya. Yang sepertinya sedang berkecamuk dan sudah lama terpendam.

Jamilah memelukku dan berkata, "Sungguh berat masalah yang kuhadapi sekarang ini, say. Sangat berat. Seakan-akan tak ada jalan keluar lagi." Kujawab perlahan, "Sabar say, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Menangislah, kalau itu bisa membuat hatimu merasa lega."

Jamilah dalam isaknya menjawab, "Tidak say, aku  merasa lumpuh tak berdaya. Seolah-olah aku tak punya kekuatan untuk menghadapi semua ini. Terus apa dong yang harus saya lakukan." Aku yang dari tadi penasaran menjawab, "Aduuh say, ada apa sih say, dari tadi aku kan belum tahu apa yang terjadi padamu. Bagaimana aku bisa menjawabnya?"

Teman karibku itupun berkata, perlahan, "Tapi jangan bilang-bilang siapa yah, say. Tentang masalahku ini. Siapapun juga. Ini rahasia kita berdua. Janji yah say." Dia kembali menangis.

Sebenarnya aku sudah mulai menerka-nerka apa yang terjadi pada Jamilah. Mungkinkah suaminya telah selingkuh. Atau melirik wanita lain. Sehingga Jamilah kelihatannya benar-benar terpukul karenanya.

Aku menunggu dengan sabar, apa yang akan dikatakan oleh Jamilah. Dia menatapku lekat seolah-olah tak percaya bahwa aku takkan membocorkan masalah yang dihadapinya kepada orang lain. Akupun berujar kepadanya, "Kalau kamu belum sanggup menceritakannya padaku, tidak apalah. Dan barangkali kamu tidak percaya padaku yah. Bisa jadi karena aku orangnya cerewet. Tapi untuk masalah ini. Aku janji tidak akan menceritakannya kepada siapapun."

"Anisah sayang, aku jatuh cinta pada seseorang," Jamilah berbisik padaku. Aku kaget. "Itu, kamu kaget, kan? Aku sangat berharap say, apapun yang kuceritakan ini, tidak mengubah sikap dan perasaanmu padaku," Pinta Jamilah. Aku menjawab,  "Iya, aku berjanji, say. Kita adalah sahabat. Sahabat yang akan saling menguatkan. Percayalah."

Aku sebenarnya kaget. Kaget karena dugaanku salah. Terbalik seratus delapunpuluh derajat. Kukira suaminya yang selingkuh. Ternyata dia yang jatuh cinta pada seseorang. Aduuh kasihan, cobaan apalagi ini yang menimpamu, sobat.

"Sebenarnya, bagaimana awalnya ceritanya sih, kamu jatuh cinta pada PIL (Pria Idaman Lain) mu itu. Maaf yah kawan, aku memakai istilah itu." Jamilah menjawab, "Awalnya, aku menghadiri reuni SMA. Aku bertemu dengannya, mantanku. Banyak yang berubah darinya. Sikapnya yang jauh lebih dewasa. Penampilannya yang charming. Kata teman lain, ia sudah menjadi pengusaha sukses. Tapi sayang, ia belum menikah. Ia menyapaku dengan hangat dan menanyakan nomor  Whattsup ku.  Akupun memberikan nomor WA ku. Akhirnya kami pun chattingan. Chattingan dengannya begitu mengasyikkan. Sampai lupa waktu. Kami cerita ini itu, cerita masa lalu yang penuh kenangan. Sampai akhirnya aku terbuai. Dan rasa sayang pun bertumbuh kembali tanpa bisa dikendalikan lagi.. Pada akhirnya kusadari, perasaan cinta kepada suamiku sendiri hilang begitu saja. Perasaanku kepada suamiku terasa hambar."

Aku merespon ceritanya, Aku katakan padanya, "Artinya CLBK Ki ini say. Cinta Lama yang Bersemi Kembali.  Aku pikir ini ujian, say. Sekian lama engkau dan suamimu kelihatannya harmonis. Tak pernah ada masalah yang berarti di antara kalian berdua. Tapi, karena kehadiran seseorang dari masa lalumu membuatmu terlibat dalam masalah yang cukup rumit.  Hmmm. Tapi aku yakin, kamu bisa melewati semua ini. Bagaimana dengan suamimu? Apa suamimu tahu perasaanmu padanya?"

Sahut Jamilah, "Suamiku tahu say, tapi dia tidak peduli. Dia terlalu mencintaiku. Dia memang suami yang sangat baik. Malah saat ini, dengan kondisiku yang labil ini. Dia yang mengerjakan urusan rumah tangga. Dia yang memasak. Dia yang mencuci. Pokoknya, dia melayani aku. Seperti seorang hamba terhadap majikannya. Sungguh, aku kasihan sekali padanya."

"Betul-betul, seorang suami yang baik. Jamilah say, ini ujian dan cobaan bagimu. Lelaki yang di dunia maya itu, seperti imajinasi saja. Kelihatan manis tapi belum tentu faktanya demikian. Nah, suamimu ini yang sudah nyata kebaikannya. Jangan kau sia-siakan say. Apalagi sudah hadir di antara kalian anak-anak yang manis itu. Kan kasian anak-anak yang belum mengerti apa-apa itu. Jika terjadi perpisahan kedua orang tuanya. Yakinlah anak-anak itu yang akan jadi korbannya."

"Iya, betul itu, aku juga menyadarinya. Tapi perasaan sayang itu tak bisa hilang. Aku sudah berusaha menghilangkannya. Tapi, tetap tidak bisa," Keluh Jamilah.

"Insya Allah, kamu bisa say, cobalah untuk menghapus kontakmu dengannya. Putuskan semuanya. Line, WA maupun massanger. Kalau dia menghubungi. Jangan pedulikan. Lupakanlah dia. Memang berat. Sangat berat say. Kalau tidak berat bukan ujian namanya. Insya Allah, kamu mampu melupakannya." Ujarku.

Jamilah dengan mata berbinar menatapku. Mungkin ia merasa sedikit lega. Sudah mencurahkan isi hatinya pada orang lain. Sahabatnya sendiri. Dia memelukku dan berjanji akan mengikuti saranku. Akupun  memeluknya dengan erat. Seakan ingin memberikan kekuatan baru kepadanya. Bahwa masalahnya akan selesai dan semuanya akan baik-baik saja.

Setelah perjumpaanku dengan Jamilah, aku merenungkan apa yang telah menimpanya. Sadar tidak sadar,  Jamilah sudah terkena dampak negatif dari medsos. Suatu hal yang tampak wajar. Dengan alasan menyambung tali silaturrahmi, tanpa sadar telah melanggar aturan yang telah ditetapkannya, tentang pergaulan antara lawan jenis. Aturan yang semestinya tidak dilanggar. Memang tidak ada batasan yang baku. Tapi sebagai seorang muslim/ah sudah sepatutnya kita menjaga diri dan jarak dengan lawan jenis.

Mengapa ada kasus perselingkuhan, perceraian dan semacamnya, karena kita sendiri yang tidak menjaga diri dan hati kita. Kita sudah punya suami, tapi kita masih curhat dengan lelaki lain yang bukan mahram kita. Kita sudah punya istri tapi masih ngobrol chatting yang tidak penting dengan wanita lain. Kita yang belum punya suami atau isteri tetapi kita berinboxria dengan lelaki atau perempuan yang bukan mahram kita. Padahal sudah ada peringatan dari Nabi kita, bahwa barang siapa yang berduaan laki-laki dan perempuan, maka yang ketiganya adalah setan.

Dalam bermedsospun, peringatan Rasulullah ini mesti kita ingat. Setanpun bisa berada di antara kita. Ketika mulai chattingan, inbox-an atau massenger-an dengan lawan jenis. Harus ingat rambu-rambunya. Boleh atau tidak boleh. Kalau bukan sesuatu yang sangat penting, hanya sekedar say hello, apalagi untuk curhat, sebaiknya jangan deh. Karena biasanya, awalnya curhat lama-kelamaan menjadi simpati dan akhirnya tumbuh benih benih cinta alias jatuh ma'bung...eh jatuh cinta. Akhirnya setanpun berperan. Menggoda, merayu dan akhirnya kita pun terjatuh dalam lembah dosa. 

Jumat, 06 Januari 2017

Harga Naik

Dengar-dengar eh baca-baca di medsos Biaya STNK naik. Biaya BPKB naik. Eh. Harga cabe rawit juga naik. Semua pada naik yah. Orang-orang jadi pada kaget. Bingung dan banyak yang marah-marah. Tapi ada juga yang diam. Mencari info apa benar adanya.

Ada yang kemudian yang mengklarifikasi. Bilang kenaikan itu benar adanya. Tetapi jangan panik. Karena kenaikan itu tidak seperti yang kita pikirkan. Bahwa mengurus BPKB itu khan tidak setiap tahun. Cukup pada saat kita beli kendaraan atau balik nama kendaraan kita. Apa kita setiap tahun mengurus BPKB. Atau membalik nama kendaraan yang kita punyai. Tidak khan cuma sekali. Kita khan tidak setiap tahun beli kendaraan. Mengurus STNK juga tidak tiap tahun. Paling lima tahun sekali.

Ada juga nih, berita cabe naik menjadi 90- 100 ribu per kg. Wah bahaya atuh. Kita ini pemakan cabe. Tidak ada cabe tidak asyik. Hehehe. Memang klo kita makan cabe itu harus tersedia. Apakah sudah berubah wujud menjadi sambel atau masih utuh belum diapa-apakan. Itu cabe sudah menjadi menu utama sama seperti nasi yang harus ada. Tapi tidak perlu banyak. Cukup seadanya saja.

Dengan naiknya harga cabe. Ibuk-ibuk mesti mikir bagaimana menyediakan cabe dengan harga murah. Caranya yah. Harus kreatif dong. Mulai menanam cabe. Hehe.. Gampang kok menanam cabe. Tidak perlu lahan luas. Cukup pakai pot atau galon bekas. Lalu tanah plus sekam dimasukkan ke pot. Biji-biji cabe disemaikan. Klo sudah tumbuh beberapa. Pilih tanaman cabe yang subur dan kelihatan kokoh. Siram setiap hari pagi dan sore. Boleh dipupuk pakai air beras . Nah. Tanaman cabe tumbuh semakin subur dan lebat. Tinggal menunggu berbunga dan berbuah deh.

Free writing

Senin, 02 Januari 2017

Perempuan dan Fitnah



Seorang perempuan mengeluh. Dia bilang, kenapa yah, dia dituduh macam-macam. Kenapa hanya dia. Padahal banyak yang seperti itu. Kenyataannya, dia tidak melakukan apa-apa. Tidak berbuat sejauh apa yang dituduhkan oleh yang menuduhnya.

Begitulah, keluhan seorang perempuan dalam curhatnya. Dia mengeluh seakan-akan dia tidak menyadari apa yang dilakukannya selama ini. Ataukah ia sengaja menepiskannya. Selama ini, katanya ia cuma menganggap partner seorang laki-laki. Seorang laki-laki yang memberi perhatian padanya. Mengajaknya jalan bareng. Bahkan memberikan hadiah padanya.

Kedekatannya itu, kemudian ditampilkan di depan umum. Melalui gambar-gambar mereka di medsos. Di facebook maupun lewat instagram. Dengan caption dibumbuhi kata-kata sayang. Terlontarlah komentar-komentar yang tak disangka-sangka olehnya. Ucapan selamatpun bertebaran. Pertanyaanpun tertuju padanya. Sudah nikah kak? Kapan nikah dek? Itu baru komentar-komentar yang tampak. Belum yang melalui inbox. Entah apa yang terjadi. Nasehatkah atau hujatankah.

Tentu saja, orang yang biasa melihat gambar-gambar wanita itu dan yang katanya partnernya itu tidak terkejut. Cepat atau lambat, ia akan terkena tuduhan yang macam-macam itu. Orang kadang gampang menyimpulkan sesuatu walaupun itu hanya persangkaan belaka. Mereka tidak mau tau apakah memang benar persangkaan mereka atau tidak. Mereka pikir, gambar yang berbicara tentang kemesraan itu sudah cukup. Sedangkan lewat gambar yang diunggah di medsos saja terlihat mesra apalagi di belakang layar.

Itulah yang namanya fitnah. Terkadang, kita sendiri yang membuat diri kita terkena fitnah. Sering berjalan berdua dengan non muhrim. Kemudian, difoto dan diunggah di medsos, diimbuhi caption romantis. Orang bisa menduga macam-macam. Apalagi, kita sebagai seorang muslimah yang tentu saja lebih paham tentang pergaulan dengan lawan jenis. Orang akan berkomentar macam-macam. Wajar saja, karena kitalah yang mengundang komentar-komentar negatif tentang kita.

Dan perlu diingat, janji iblis buat anak cucu Adam benar adanya. Untuk menggelincirkan manusia dalam jurang kesalahan. Kita tidak boleh menjamin diri kita untuk tetap terjaga kesuciaannya. Ketika sering jalan berduaan. Karena, ketika laki-laki dan wanita berduaan, maka ada setan diantaranya. Pasukan iblis itu tidak akan puas sebelum melihat kalian tergelincir. Maka, sebelum terlambat hindarilah berduaan.

Wanita,
Jagalah dirimu
Karena engkau seperti permata
Jika telah retak tak bisa utuh kembali

Kamis, 29 Desember 2016

Perempuan dan Organisasi

Aktivis perempuan ketika masih berstatus single. Belum nikah dan belum punya anak. Tentu saja sangat beda kondisinya dengan perempuan yang sudah nikah apalagi yang sudah punya anak. Sangat beda sekali.

Ketika aktivis perempuan belum nikah. Tentu saja memiliki kesempatan dan waktu luang yang lebih banyak dari pada perempuan yang sudah menikah. Sebagai seorang istri tentu saja harus mendapatkan izin dari suami ketika harus berperan di luar rumah. Tugas dan tanggung jawab dalam rumahpun harus beres. Kalau tida, maka bisa menjadi sumber ketidakharmonisan keluarga. Betul khan? Masa' mau berperan di luar rumah, urusan rumah tangga sendiri tidak beres.

Olehnya, itu ketika seorang perempuan yang berstatus istri harus sering-sering keluar rumah. Karena merupakan pengurus dari organisasi perempuan. Saya kurang setuju. Karena seorang istri punya tanggung jawab besar dalam rumah tangganya. Bukan cuma urusan dapur, sumur juga. Tetapi ternyata suami juga sebenarnya tidak suka ditinggal-tinggalkan. Mereka ingin lihat istrinya senantiasa mendampinginya. Perasaannya sangat senang ketika istri berada di rumah. Bukannya mereka mengekang sang istri bukan itu. Tapi, seperti pepatah, rumahku adalah surgaku. Bagaimana rumah menjadi surga, padahal sang bidadari tidak ada di samping. Nelangsa bukan?

Seperti yang diungkapkan oleh seorang tokoh wanita, kita ini sementara berjuang, bukan cuma untuk keluarga, tetapi juga untuk masyarakat. Saya sangat sepakat. Tetapi, keluarga tetaplah mesti menjadi prioritas bagi seorang istri atau seorang ibu. Ketika seorang istri atau ibu lebih aktif dalam organisasinya maka tentu saja hal ini mengakibatkan ketimpangan dalam rumah tangga. Efeknya bisa fatal, suami merasa tidak diperhatikan, dan bisa saja suami memboikot seorang istri yang lebih mementingkan urusan organisasinya di luar. Tentu saja kita tidak mengharapkan demikian bukan.

Tentu saja, keadaan dan kondisi seorang perempuan berbeda-beda. Bisa jadi ada seorang perempuan yang berstatus istri sudah bebas dari tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga. Karena memiliki pembantu yang mengurusi tetek bengek urusan rumah tangga. Anak-anaknya sudah besar atau pun tidak memiliki anak kecil yang masih butuh perhatian lebih dari ibundanya. Tetapi ada juga perempuan yang segala sesuatu urusan rumah tangga, ia harus urus sendiri. Mulai dari cuci piring, cuci pakaian, masak dan bersih-bersih rumah. Belum lagi kalau mereka punya anak kecil. Seperti tidak ada habis-habisnya pekerjaan. Dari mulai bangun sampai tidur kembali.

Kondisi yang agak berat, sebenarnya. Apalagi mesti aktif lagi berorganisasi. Tapi, seorang perempuan butuh tempat untuk mengaktualisasikan dirinya. Bertemu dengan sahabat-sahabat yang bisa saling menguatkan. Tidak ada larangan sebenarnya untuk aktif organisasi. Selama bisa menyesuaikan dengan keluarga. Sama sekali tidak. Tetapi kalau mesti sering-sering keluar. Rapat ini rapat itu, padahal tema rapat tidak terlalu penting untuk bertatap muka. Dan, bisa saja lewat group massanger atau WA. Kenapa tidak. Kita bisa memanfaatkan teknologi yang super canggih itu.

Jadi, pada dasarnya seorang perempuan yang berstatus seorang istri atau ibu itu basisnya adalah rumah. Seorang perempuan mesti sering membaca. Membaca Al Qur'an dan juga buku-buku lainnya. Agar pemahamannya bertambah dan wawasannya terbuka. Agar tidak terkena pepatah yang mengatakan bagaikan katak dalam tempurung. Berawal dari rumah kita tebarkan kebaikan ke seluruh penjuru dunia. Teringat bunda Maryam as dan bunda Fatimah AzZahra, mereka lebih sering di rumah. Tetapi derajat mereka sangat mulia di sisi Tuhan. Mereka adalah para perempuan penghuni surga.

Free writing 2

Rabu, 28 Desember 2016

AIR MACET

Saya galau. Tidak tau mau bikin apa. Air tidak mengalir. Itu soalnya. Stok air yang tersedia tidak mencukupi keperluan rumah tangga. Dari cuci piring, masak, apalagi cuci pakaian. Cuci pakaian mesti pakai air mengalir. Nah, ini mesin mati.

Persoalannya, karena listrik untuk mesin air masih pake listrik pengontrak. Jadi tergantung dong. Mereka mau hidupkan atau nyalakan. Sudah beberapa hari ini mesin tidak menyala. Dimatikan sama pengontrak. Soalnya, ada gangguan pada mesin air pengontrak. Bunyi-bunyi terus walaupun tidak ada kran yang terbuka. Nenek yang tinggal di sebelah merasa terganggu dan tidak bisa tidur akibat bunyi-bunyi itu. Tante Pia yang tinggal di sebelah pun protes. Mengetuk-ngetuk pintu dan menyampaikan keluhan nenek.

Akhirnya, pengontrak mencabut stop kontak mesin air. Berhubung, mesin air ke rumahku dan mesin air untuk pengontrak satu sambungan maka terputus pulalah sambungan listrik untuk mesin air ke rumah. Saya putar kran tidak mengalir-ngalir. Jadinya kesal. Kerjaan tidak beres-beres. Lebih parah lagi kalau mau buang air besar. Parah. Gmana dong.

Beberapa hari tidak mencuci, pakaian jadi menumpuk. Harus dicari cepat solusinya ini. Sebenarnya sudah ada meteran listrik dipasang di garasi tapi ada masalah sedikit. Tapi, masalah itu mesti diabaikan karena ada yang lebih urgen. Ketersediaan air.

Free Writing 1

Sabtu, 17 Desember 2016

Novel The Marked Son


Novel The Marked Son karya seorang novelis perempuan. Buku yang lumayan tebal sebenarnya. Meskipun tebal, cerita fiksi action yang bernuansa misteri ini lumayan bagus dan seru. Sayapun terlarut di dalamnya. Menikmati helaian demi helaian, cerita terangkai begitu nyaman dibaca.

Novel ini menceritakan tentang kisah seorang pemuda yang bernama Dylan. Dylan sering bermimpi tentang seorang wanita cantik. Mimpi ini sering berulang semenjak dia kecil. Kehidupannya dengan ibunya yang sering bergonta-ganti pasangan amat menyedihkan. Dia merasa tidak dibutuhkan oleh siapapun. Dia lahir tanpa seorang ayah. Ibunya hamil di luar nikah. Karena takut, ibunya minggat dari rumah dalam keadaan hamil.

Menjelang tamat SMA, Dylan dibawa ibunya ke rumah orangtuanya di pinggir sebuah hutan. Hutan yang misterius. Di dalam hutan itu, hidup orang-orang pertama yang diistilahkan darah murni. Yang memisahkan antara tempat manusia dan orang-orang berdarah murni ini adalah dinding penghalang. Selain darah murni ada juga orang-orang berdarah campuran. Orang-orang berdarah campuran hasil pernikahan antara orang-orang berdarah murni dan manusia.

Pada saat itu, raja orang murni menghilang. Maka muncullah, Navar kesatria, yang gagah nan sakti tapi sayangnya bengis. Dia tak segan-segan membunuhi orang-orang yang menghalangi keinginannya untuk menjadi raja. Satu hal yang sangat ditakutkan darinya, Navar ingin menjaga kemurnian dari orang-orang pertama. Untuk itu, ia memburu orang-orang berdarah campuran dan membunuh mereka.

Orang-orang berdarah campuran akhirnya terasingkan. Memilih untuk bersembunyi dari kejaran sang Navar. Sudah banyak korban darinya. Termasuk Lani, seorang sahabat Kera. Kera inilah gadis yang selalu diimpikan Dylan semenjak Dylan masih kecil.

Kera adalah putri bangsawan terkemuka di negeri itu. Ia ingin diperistri oleh Navar. Kera ingin menolak tetapi sang Ayah tetap menjodohkannya dengan Navar. Dengan tak sengaja ia ketemu Dylan di hutan. Timbul harapan, Dylan bisa menolongnya. Sang Putri merasakan ada kekuatan maha dahsyat dari seorang Dylan. Hanya pria itu yang bisa melawan Navar.

Dylan kemudian akhirnya membuktikan kekuatan itu. Pertama kalinya dia kaget akan kekuatannya. Tetapi kemudian dapat mengendalikannya. Dylan dan Kera kemudian ke negeri Kera. Mereka bertemu Falcon, guru Kera sekaligus peramal kerajaan. Falcon melarang Kera untuk bersama Dylan. Demi keselamatan rakyat, Kera harus menjadi istri Navar. Tetapi Kera bersikeras bahwa Dylan bisa melawan Navar. Kera kemudian berpisah dengan Dylan.

Dylan kembali ke rumah kakek neneknya di luar hutan. Tetapi betapa terkejutnya karena beberapa tempat sudah terbakar. Kakeknya masuk rumah sakit. Ternyata Navar dan pasukannya sudah menyerang melintasi dinding pembatas dunia mereka dengan dunia luar.

Dengan ditemani oleh dua temannya, yang baru ketemu dan nenek temannya. Mereka masuk ke dunia Kera dengan melewati dinding pembatas. Dengan harapan ingin menyelamatkan Kera yang sebentar lagi melangsungkan pernikahan dengan Navar. Berbagai kejadian dan pertempuran mereka lewati. Sayang, salah satu teman Dylan tewas terbunuh.

Dylan kemudian bertempur dengan Falcon. Dan akhirnya Falcon terbunuh. Dylan dan Navar pun akhirnya bertempur. Dan Dylan pun bisa memenangkan pertempuran. Tapi sayang, Dylan kemudian koma. Akankah Dylan selamat dan bertemu kembali dengan Kera?

Novel yang menggambarkan kejahatan dan kebengisan, kekuatan cinta dan persahabatan ini menarik. Penggemar fiksi misteri pastinya suka. Apalagi di dalam hutan, digambarkan banyak makhluk ganjil berbahaya juga makhluk unik yang bersahabat. Mirip-mirip cerita Star War atau Stark Trek. Baca deh untuk lebih puasnya. Soalnya, bisa jadi uraianku di atas tidak begitu memuaskan dibandingkan jika kamu baca sendiri.

Minggu, 27 November 2016

Sepetak Tanah Pemberian Ummi

Tetiba aku berdiri sambil menghentakkan kaki. Seperti berlari meninggalkan ruangan. Ruangan tempat dimana aku menjadi seperti seorang pesakitan. Yang akan diadili karena kesalahan yang telah kuperbuat.

Sebelumnya, Tuti memanggilku ke rumah nene' Ummi untuk membicarakan satu hal. Bersama saudara-saudara yang lain, mama dan nene' Ummi. Saya menyangka masalah yang akan dibicarakan nantinya berkaitan dengan dinding rumah yang akan diperbaiki. Rumah mama yang kutempati sekarang sudah dibagi dua. Sepotong untuk tante Dina, saudaraku yang tinggal di Tarakan dan sepotongnya lagi diberikan kepada tante Ati, saudara sulungku. Dan sepotongnya sudah dibeli pihak puskesmas. Tempat yang dibeli puskesmas itu akan dibongkar. Untuk menjadi akses masuk ke Puskesmas. Selama ini puskesmas letaknya di belakang rumah. Masalahnya, ketika dibongkar, tidak lagi penopang dan penutup dinding rumah. Selain tripleks yang dipasang di rumah Dina. Akibatnya klo hujan bisa kebasahan.

Sungguh aku  kaget sekali. Tak pernah terbayangkan. Bagaikan petir menyambar, kilat menyambar dan guntur menggodam. Aku seperti tersengat aliran listrik. Ketika nenek Ummi bilang," Bagaimana itu gaddea di luar, katena nia antu situju nisareangko anjo, kajaiki assaribattang, mallaka sallang sisala-salako. Talebakkako anjo kusareang. Sementaraji nupake." Astagfirullah, sontak aku bangkit dari tempat dudukku dan bilang,"Kukana tuntasmi. Apapoeng ero' ribicarakang." Lantas aku angkat kaki secepat kilat dari situ. Dengan suara kaki berdebum-debum. Saking kagetku. Saudara-saudaraku dan tanteku dan mamakku sontak memanggil-manggilku,"Ooee..ooee tayangi rong." Saya tidak peduli lagi. Saya harus secepatnya meninggalkan tempat itu.

Aku sedih sekali. Tega sekali ummi dan saudara-saudaraku memperlakukan aku seperti itu. Pantaskah barang yang sudah diberikan tidak diakui lagi. Ummi menolak mengakui bahwa gaddea itu sudah diberikannya kepadaku. Katanya Pia tidak pernah ikhlas dengan pemberian itu. Karena sudah diberikan padanya semua tanah milik ummi itu. Jadi, saudara-saudaraku yang lain hanya percaya pada Pia dan tidak padaku..hiks..hiks..

Tapi, Aku merasa yakin. Bahwa tempat itu diberikan kepadaku. Dengan alasan,

Pertama,

Tidak mungkin suamiku membangun toko di atasnya kalo tempat itu belum diberikan kepada saya. Suami sangat perasa. Dan tak akan mungkin bergerak, klo tak ada kepastian hak.

Kedua,

Dulu, ketika masih berbentuk toko, belum dipindahkan ke depan (tempat Dina), klo ada ummi di depan toko, selalu ummi bilang kepada pelanggan yang dikenalnya,"Kusareangtongmi anne kodong tempatka, ka eroki appare usaha na riboko kodong balla'na".

Ketiga,

Pernah aku sudah mau buatkan surat sertikat, rumah yang kutempati dan tempat kecil pemberian ummi itu. Dan ummi sama Pia diam-diam dan santai-santai saja mendengarnya. Lantas Pia bilang, mauku juga bikin surat ini tempatku tapi tidak ada uangku. Tapi, rencana untuk bikin surat itu tidak jadi. Padahal sudah dicek oleh suami ke Kecamatan rinciknya. Bahkan Pia bilang, liat baik-baik ukurannya. Sejajar itu kamar ke depan tokomu.

Ke empat,

Belum cukup sebulan saya sudah perbaiki renovasi tempat itu lagi. Menimbunnya. Membeli timbunan dan mengongkosi pengangkatan timbunannya. Lalu saya ganti tegelnya yang baru. Tidak ada komplain dari mereka. Kenapa, tidak melarangku kalau tempat itu hanya sementara kupakai.

Jadi, saya pikir tidak ada masalah lagi. Tak pernah terpikirkan bahwa sekarang akan diungkit-ungkit lagi tempat itu. Mungkin, karena sekarang akses ke puskemas sudah terbuka. Dan tentu saja akan  lebih ramai kondisinya nanti. Saudaraku, berniat menjual-jual juga. Dan untuk lebih mudahnya, mengambil kembali tempat yang telah diberikan ummi padaku.

Kamis, 17 November 2016

Di antara Dua Amanah



Saya bersedia ditempatkan dimanapun dan jadi apapun. Begitulah jawabanku ketika ditanya kesediaanku untuk menjadi panitia musyawarah FKM. Sekjen pada waktu itu berkata, okelah kalau begitu. Usai, percakapannya dengan ketum FKM, katanya saya ditempatkan jadi sekretaris panitia. Saya terima amanah itu karena saya memang punya pengalaman sebagai seorang sekretaris. Saya pernah jadi sekretaris IPPNU (Ikatan Putri-Putri Nahdlatul Ulama) Kota Makassar.

Alhamdulillah, kak Mauliah Mulkin sebagai stering sangat membantu tugasku dalam hal pembuatan proposal dan beliau juga menjadi tempatku berkonsultasi tentang tugas-tugasku. Dan kak Mila, sangat luar biasa menjalankan tugasnya selaku ketua panitia. Saya bersyukur sekali punya ketua panitia yang baik hati dan sangat rajin.

Dengan bantuan dan partisipasi dari teman-teman panitia dan pengurus, serta simpatisan FKM, alhamdulillah acara seminar dan musyawarah berjalan dengan lancar dan sukses. Acara seminar bertemakan "Dahsyatnya Kerja Sama Guru dan Orang Tua untuk Hasil Pendidikan yang Berkarakter", yang menghadirkan tiga narasumber, yaitu wawali kota Makassar, Bapak Syamsu Rizal, Kak Ningsih (konsultan pendidikan) dan Kak Herman Kajang. Acara ini dihadiri sekitar 250an peserta, terutama para guru utusan dari sekolah, orang tua utusan dari majelis taklim dan para sahabat yang meluangkan waktunya menghadiri acara seminar ini.

Setelah seminar, musyawarah FKM pun digelar. Akhirnya dari beberapa formatur yang terpilih, setelah berunding diputuskanlah bahwa Kak Asma Khuluq yang menjadi formatur ketua umum. Diumumkan pula pada perundingan itu menetapkan saya sebagai sekretaris jenderal dan kak Irma Suriani sebagai bendahara umum.

Tentu saja saya menolak. Saya merasa tidak pantas menduduki jabatan sekrusial itu. Sepenting itu. Sehebat itu. Sekretaris Jenderal. Jabatan yang mentereng sebenarnya. Tapi saya tak akan sanggup memegang amanah itu. Saya takut. Betul-betul takut. Bagaimana kalau saya tidak bisa melaksanakan amanah itu. Saya menolak. Tolong gantikan saya. Cari yang lebih cocok untuk jabatan strategis itu kasiaaan. Help me. Berbagai alasan telah kukemukakan, tapi ditolak.

Saya pulang dalam keadaan kacau dan galau. Soalnya, daengku sudah mewanti-wanti saya. Sejak jauh-jauh hari agar tidak jadi pengurus inti. Inii..eeh malah ditunjuk jadi sekretaris jenderal. Aah.. aduh kodoong. Bagaimana kuutarakan bahwa saya yang jadi sekjennya. Umminya Atika yang mengantarku pulang menghiburku.

Ketika saya ceritakan bahwa kak Asma yang terpilih jadi ketua umum. Daengku menanyakan siapa sekretarisnya. Saya bilang terus terang saya yang dipilih. Daengku sontak bilang dia tidak melarang saya tapi dia tidak mendukung saya sepenuhnya. Bahwa menjadi sekretaris itu memang keinginanku. Karena saya tidak menolak keras jabatan itu. Iih kodong daeng..abanya Ersyah..Bagaimana caranya menolak. Saya tidak tahu. Saya pasrahmi ini.

Malam itu, saya jadi tak bersemangat ber-WA dan massenger ria dengan teman-teman yang selama ini menemani keseharianku. Sewaktu merencanakan dan mempersiapkan acara seminar dan musyawarah FKM. Keesokan harinya pun demikian. Saya berharap keputusan untuk memilihku jadi sekjen bisa berubah. Berubah. Please, gantilah saya. Ganti dengan teman yang lain. Nanti saya jadi wakilnya saja, ya. Ya...Ya...

Tapi, keputusan itu tak kunjung berubah. Saya tetap sekjen. Kenyataannya, saya adalah sekjen. Saya tak bisa merubah keputusan itu. Dan daengku tak mendukungku sepenuhnya. Oh my God. Berilah saya kekuatan menaklukan hati kekasihku. Saya takkan diantar kalau pergi rapat atau ada kegiatan. Saya harus pergi sendiri. Padahal ada kereta mungil yang menganggur. Boleh dong diantar sesekali daengku. Hik..hik..hik..Tapi tidak apalah. Biar tak diantar yang penting saya diijinkan pergi alias tidak dilarang ke luar. Yang penting tidak terlalu sering-sering keluar-keluar, katanya.

Saat ini saya mencoba untuk berdamai dengan diri. Mencoba memaklumi kecemasan-kecemasan bapaknya anak-anakku. Bagaimana supaya kekhawatiran-kekhawatirannya tidak terbukti. Kekhawatirannya bahwa saya akan lebih banyak disibukkan tugasku dalam organisasi. Khawatir saya akan sering pergi-pergi tinggal anak-anak dan dirinya. Ehhm..Kekhawatirannya bahwa saya tidak bisa membantunya lagi dalam bisnis yang kami perjuangkan bersama sejak nol. Saya harus punya kekuatan dan semangat lebih untuk membuktikan diri bahwa saya sanggup berperan sebagai isteri yang baik, partner kerja yang bisa diandalkan, dan ibu yang penuh kasih, serta seorang pengurus yang amanah menjalankan tanggungjawab organisasi.


Untuk suamiku :

Sekarang, semua sudah terlanjur, sayangku. Saya tidak bisa mundur dari amanah yang terlanjur diberikan kepadaku. Tetapi, engkau dan keluarga kita adalah yang terpenting bagiku di dunia ini. Maka, ijinkanlah saya untuk tetap bersamamu, selalu mendampingimu dalam keadaan senang apalagi susah. Namun harapanku, relakanlah saya untuk memberikan sedikit waktu buat berhimpun dan berjuang bersama saudara-saudaraku dalam kehidupan yang begitu singkat ini.

Minggu, 23 Oktober 2016

Mimpi dan Buku

Sejak kecil saya suka membaca. Buku apapun akan saya baca jika terpampang di depanku. Yang paling saya suka waktu itu adalah majalah Ananda. Tetapi sayang, orang tua kurang memperhatikan masalah hobbi anak-anaknya yang gemar membaca. Saya dan kakak sangat senang membaca. Saya sering meminjam majalah dari perpustakaan sekolah.

Selain meminjam dari perpustakaan, saya suka menyewa buku atau majalah dari kawan. Malah saya juga pernah menyewa majalah terbitan sebuah bank. Hanya untuk membaca sebuah cerpen yang yang terletak di halaman paling belakang majalah itu.

Karena kegemaran membaca itu, sampai-sampai terbawa ke alam mimpi. Saya sering bermimpi berada di antara tumpukan buku-buku. Saya sangat senang sekali. Ingin segera membacanya satu persatu. Sayang, ketika saya menggapai buku-buku itu. Saya lalu terbangun. Ternyata itu hanya mimpi. Saya sedih sekali.

Mimpi itu sangat sering muncul dalam setiap tidurku. Sama seringnya, mimpiku tentang saya yang bangun kesiangan dan terlambat masuk sekolah. Mimpi yang buruk yah. Beda dengan mimpiku tentang tumpukan buku-buku yang sangat mempesona dan menggairahkan untuk didaras satu demi satu.

Kecintaanku kepada membaca buku terus berlanjut. Segala buku kubaca. Tapi yang paling kusuka adalah cerita-cerita fiksi. Saya suka baca novel yang tebal-tebal. Cerita horor, detektif, dan kerajaan-kerajaan. Sangat menarik dan tak pernah bosan untuk membaca tema-tema seperti itu.  Saya tetap sering menyewa sama teman. Tetapi, sedikit demi sedikit akupun mulai membeli majalah kegemaranku. Waktu SMA, saya sering membeli majalah Aneka Yess. Ya, itu majalah remaja. Tak butuh waktu lama untuk membaca semua isi majalah itu. Maklum, majalah ringan. Tak perlu mengerutkan kening ketika membacanya. Tak perlu memeras otak untuk memahami apa yang dibaca. Saya sering menunggu setiap bulannya akan terbitnya majalah itu. Rasanya lama sekali. Untuk beli majalah itu saya sisihkan uang saku untuk beli majalah kesayanganku itu.

Saya tidak tau kenapa waktu itu perpustakaan kurang menarik bagi saya. Barangkali waktu itu kurang bahan bacaan menarik di perpustakaan. Sehingga saya lebih banyak mencari di luar. Menyewa dari teman dan membeli bahan bacaan yang menurutku menarik pada waktu itu. Saya juga sering numpang membaca di kamar kakak. Soalnya, dia penggemar berat majalah Femina. Dan dia pun berlangganan majalah itu. Saya juga suka majalah itu. Tapi ogah membeli. Soalnya sudah ada kakak yang menyediakannya. Hehehe..

Menginjak bangku kuliah, bahan bacaanku pun bertambah semenjak memasuki rohis. Saya suka beli buku religi. Tentang jihad, jilbab dan lain-lain. Saya pun suka beli majalah seperti Sabili dan Hidayatullah. Tidak rutin sih. Karena faktor keuangan. Harus pandai-pandai menyisihkan uang saku untuk beli buku atau majalah-majalah itu. Saya juga suka pinjam buku di perpustakaan kampus. Banyak juga buku yang menarik dari perpustakaan yang bisa di pinjam.

Semenjak masuk himpunan hijau hitam, aku pun berkenalan dengan buku-buku Ali Shariati, Murthada Muthahari, Syafii Maarif, Nurcholis Majid dan lain-lain. Mereka intelektual dan pemikir yang luar biasa. Tulisan-tulisan mereka menggugah dan mencerahkan.

Waktu itu saya jarang beli buku karena faktor U. Hanya bisa meminjam dari teman-teman yang berbaik hati meminjamkan. Nanti setelah menikah, saya banyak membaca buku-bukunya suami. Ada bacaan yang berat, ada juga yang tergolong masih ringan. Saya baca yang ringan-ringan saja.

Mimpi berada di antara tumpukan buku itu, masih sering menghiasi setiap tidurku. Dan ketika ada Bazar Buku Murah dari Mizan di toko Papirus, saya berujar inilah mimpi menjadi kenyataan. Mimpi yang selalu diharap bahwa itu nyata adanya. Sekarang terwujud. Bayangkan dengan diskon 60% , peluang untuk memperoleh buku-buku sebagus itu sangat sulit untuk dilepaskan begitu saja. Buku-buku berbagai genre ada. Kami datang hari pertama agar stok masih lengkap. Sangat puas memilih buku-buku tersebut.



Karena ada buku yang ketinggalan ditambah masih ada pesananku. Kami datang kembali ke toko Papirus. Ternyata, oh ternyata sang bos menyuruh memilih-milih lagi buku yang terambil kemarin. Alhamdulillah, tamba-tambai sambalu. Saya senang sekali. Demikian pula Renaisa, putri ketigaku. Dia langsung memilih buku-buku kegemarannya. Terutama, Buku Kecil-kecil Punya Karya. Banyak sekali sudah buku-bukunya. Menarik-menarik pula. Karya calon penulis handal Indonesia masa depan.

Sengaja kami membeli buku lumayan banyak. Terutama, karena diskon yang menggiurkan sekitar 60 persen. Jarang khan ada diskon buku sebesar ini. Mizan lagi. Walaupun ada yang bilang, buku terbitan Mizan katanya merujuk ke mazhab tertentu. Dan haram untuk dibaca. Baca aja lagi. Tidak ada yang aneh menurut saya. Kecuali cerita-cerita fantasi yang memang mengandalkan imajinasi yang kuat. Dari setiap buku ada yang bisa kita petik hikmah atau pelajaran darinya.

Yang kedua, tidak mungkin dengan dana yang minim dapat memperoleh buku-buku murah tapi berkualitas. Nah, dengan adanya bursa buku murah ini, peluangnya menjadi besar. Alhasil, kami seperti memborong buku besar-besaran. Hehe..mumpung hemat 60 persen. Uang yang dikeluarkan pun tidak seberapa. Bisa dibayangkan, untuk ukuran normal. Paling banyak bisa didapat buku dengan jumlah uang seperti uang barangkali paling banter 30 -50 buku. Ini hampir 300 buku.

Selanjutnya, buku-buku yang kami beli itu untuk persiapan membuat Taman Baca di lokasi kami bermukim. Cukuplah kami yang kekurangan bahan bacaan. Mau membaca tapi tidak ada yang bisa dibaca. Lagipula, apa yang bisa kita perbuat untuk masyarakat. Untuk jiwa-jiwa yang haus akan ilmu. Selain, menyediakan bahan bacaan buat mereka. Bisa jadi mereka juga ingin membaca buku. Tetapi, tidak tau dimana bisa memperolehnya. Sedangkan orang tua mereka untuk beli yang pokok-pokok saja berat. Apalagi untuk membeli buku. Ada kata-kata begini; apa pale' yang bisa dikasi masyarakat, mauki kasiki uang masyarakat na tidak ada uangta yang bisa dikasikan. Begitulah, terinspirasi dari kalimat itu, kami berniat untuk membuat Taman Baca. Semoga dengan langkah kecil ini bisa ikut memberi andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.