Kamis, 17 November 2016

Di antara Dua Amanah



Saya bersedia ditempatkan dimanapun dan jadi apapun. Begitulah jawabanku ketika ditanya kesediaanku untuk menjadi panitia musyawarah FKM. Sekjen pada waktu itu berkata, okelah kalau begitu. Usai, percakapannya dengan ketum FKM, katanya saya ditempatkan jadi sekretaris panitia. Saya terima amanah itu karena saya memang punya pengalaman sebagai seorang sekretaris. Saya pernah jadi sekretaris IPPNU (Ikatan Putri-Putri Nahdlatul Ulama) Kota Makassar.

Alhamdulillah, kak Mauliah Mulkin sebagai stering sangat membantu tugasku dalam hal pembuatan proposal dan beliau juga menjadi tempatku berkonsultasi tentang tugas-tugasku. Dan kak Mila, sangat luar biasa menjalankan tugasnya selaku ketua panitia. Saya bersyukur sekali punya ketua panitia yang baik hati dan sangat rajin.

Dengan bantuan dan partisipasi dari teman-teman panitia dan pengurus, serta simpatisan FKM, alhamdulillah acara seminar dan musyawarah berjalan dengan lancar dan sukses. Acara seminar bertemakan "Dahsyatnya Kerja Sama Guru dan Orang Tua untuk Hasil Pendidikan yang Berkarakter", yang menghadirkan tiga narasumber, yaitu wawali kota Makassar, Bapak Syamsu Rizal, Kak Ningsih (konsultan pendidikan) dan Kak Herman Kajang. Acara ini dihadiri sekitar 250an peserta, terutama para guru utusan dari sekolah, orang tua utusan dari majelis taklim dan para sahabat yang meluangkan waktunya menghadiri acara seminar ini.

Setelah seminar, musyawarah FKM pun digelar. Akhirnya dari beberapa formatur yang terpilih, setelah berunding diputuskanlah bahwa Kak Asma Khuluq yang menjadi formatur ketua umum. Diumumkan pula pada perundingan itu menetapkan saya sebagai sekretaris jenderal dan kak Irma Suriani sebagai bendahara umum.

Tentu saja saya menolak. Saya merasa tidak pantas menduduki jabatan sekrusial itu. Sepenting itu. Sehebat itu. Sekretaris Jenderal. Jabatan yang mentereng sebenarnya. Tapi saya tak akan sanggup memegang amanah itu. Saya takut. Betul-betul takut. Bagaimana kalau saya tidak bisa melaksanakan amanah itu. Saya menolak. Tolong gantikan saya. Cari yang lebih cocok untuk jabatan strategis itu kasiaaan. Help me. Berbagai alasan telah kukemukakan, tapi ditolak.

Saya pulang dalam keadaan kacau dan galau. Soalnya, daengku sudah mewanti-wanti saya. Sejak jauh-jauh hari agar tidak jadi pengurus inti. Inii..eeh malah ditunjuk jadi sekretaris jenderal. Aah.. aduh kodoong. Bagaimana kuutarakan bahwa saya yang jadi sekjennya. Umminya Atika yang mengantarku pulang menghiburku.

Ketika saya ceritakan bahwa kak Asma yang terpilih jadi ketua umum. Daengku menanyakan siapa sekretarisnya. Saya bilang terus terang saya yang dipilih. Daengku sontak bilang dia tidak melarang saya tapi dia tidak mendukung saya sepenuhnya. Bahwa menjadi sekretaris itu memang keinginanku. Karena saya tidak menolak keras jabatan itu. Iih kodong daeng..abanya Ersyah..Bagaimana caranya menolak. Saya tidak tahu. Saya pasrahmi ini.

Malam itu, saya jadi tak bersemangat ber-WA dan massenger ria dengan teman-teman yang selama ini menemani keseharianku. Sewaktu merencanakan dan mempersiapkan acara seminar dan musyawarah FKM. Keesokan harinya pun demikian. Saya berharap keputusan untuk memilihku jadi sekjen bisa berubah. Berubah. Please, gantilah saya. Ganti dengan teman yang lain. Nanti saya jadi wakilnya saja, ya. Ya...Ya...

Tapi, keputusan itu tak kunjung berubah. Saya tetap sekjen. Kenyataannya, saya adalah sekjen. Saya tak bisa merubah keputusan itu. Dan daengku tak mendukungku sepenuhnya. Oh my God. Berilah saya kekuatan menaklukan hati kekasihku. Saya takkan diantar kalau pergi rapat atau ada kegiatan. Saya harus pergi sendiri. Padahal ada kereta mungil yang menganggur. Boleh dong diantar sesekali daengku. Hik..hik..hik..Tapi tidak apalah. Biar tak diantar yang penting saya diijinkan pergi alias tidak dilarang ke luar. Yang penting tidak terlalu sering-sering keluar-keluar, katanya.

Saat ini saya mencoba untuk berdamai dengan diri. Mencoba memaklumi kecemasan-kecemasan bapaknya anak-anakku. Bagaimana supaya kekhawatiran-kekhawatirannya tidak terbukti. Kekhawatirannya bahwa saya akan lebih banyak disibukkan tugasku dalam organisasi. Khawatir saya akan sering pergi-pergi tinggal anak-anak dan dirinya. Ehhm..Kekhawatirannya bahwa saya tidak bisa membantunya lagi dalam bisnis yang kami perjuangkan bersama sejak nol. Saya harus punya kekuatan dan semangat lebih untuk membuktikan diri bahwa saya sanggup berperan sebagai isteri yang baik, partner kerja yang bisa diandalkan, dan ibu yang penuh kasih, serta seorang pengurus yang amanah menjalankan tanggungjawab organisasi.


Untuk suamiku :

Sekarang, semua sudah terlanjur, sayangku. Saya tidak bisa mundur dari amanah yang terlanjur diberikan kepadaku. Tetapi, engkau dan keluarga kita adalah yang terpenting bagiku di dunia ini. Maka, ijinkanlah saya untuk tetap bersamamu, selalu mendampingimu dalam keadaan senang apalagi susah. Namun harapanku, relakanlah saya untuk memberikan sedikit waktu buat berhimpun dan berjuang bersama saudara-saudaraku dalam kehidupan yang begitu singkat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar