Beberapa pekan lalu, komunitas forum kajian kami mendapat undangan dari seorang sahabat, yang juga anggota komunitas, untuk jalan-jalan ke kebun rambutannya. Tentu saja kami sangat senang. Saya berpikir, kapan lagi piknik sambil makan rambutan langsung dari pohonnya. Anugrah lagi...anu gratis...hehehe..
Menjelang hari H, anakku yang ketiga, Renaisa sakit, dia fluber, flu berat. Ia muntah-muntah berkali-kali juga buang-buang air besar. Saya jadi ragu mungkinkah saya bisa ikut ke kebun rambutan. Rasanya sangat penasaran untuk berkunjung kesana.
Melihat kondisi Renaisa yang masih lemah, saya mempersiapkan diri untuk tetap tinggal di rumah saja menemaninya. Sehingga ketika saya ditanya mau ikut atau tidak ke kebun. Saya bilang tergantung Renaisa ji. Kalau sehatmi bisaji ikut, saya juga ikut. Renaisa bilang ia sudah sembuh. Dan ia mau ikut.
Melihat kondisi Renaisa yang masih lemah, saya mempersiapkan diri untuk tetap tinggal di rumah saja menemaninya. Sehingga ketika saya ditanya mau ikut atau tidak ke kebun. Saya bilang tergantung Renaisa ji. Kalau sehatmi bisaji ikut, saya juga ikut. Renaisa bilang ia sudah sembuh. Dan ia mau ikut.
Sebenarnya abanya Renaisa juga lagi sakit. Tapi ia begitu bersemangat untuk pergi ke kebun rambutan. Maka jadilah kami berangkat menuju lokasi kebun yang letaknya cukup jauh dari kota Makassar.
Dengan harap-harap cemas, doa kupanjatkan semoga tidak hujan. Karena kami hanya mengendarai motor. Walaupun pakai jas hujan pasti akan basah kuyup juga karena jauhnya jarak tempuh menuju lokasi kebun rambutan. Berbeda jika naik mobil, tentu akan aman dari terpaan hujan.
Sekitar pukul 07.30, kami berangkat menuju lokasi kebun. Motorpun dipacu dengan cepat. Untung jalanan tidak macet. Sehingga motor melaju tanpa halangan. Alhamdulillah, selama dalam perjalanan menuju ke lokasi hujan tidak turun membasahi bumi. Sehingga kami tidak perlu berhenti untuk menunggu redanya hujan. Memang, langit cukup cerah. Tak ada awan hitam menggelayut di atas sana. Awan hitam pekat yang menandakan cepat atau lambat akan turun hujan.
Setelah menempuh perjalanan tidak cukup sejam. Tibalah kami di depan sebuah lapangan luas. Kami tidak langsung menuju lokasi. Soalnya, baru pertama kali kami akan berkunjung kesana. Sambil duduk-duduk di sebuah tempat penjual jagung masak yang masih belum buka, kami menunggu teman yang juga sementara dalam perjalanan menuju lokasi rihlah. Tidak lama kemudian, berhentilah iring-iringan motor di depan lapangan. Ternyata rombongan dari Tamalanrea. Alhamdulillah, ternyata memang di sekitar situlah tempatnya.
Kami menyeberang jalan dan bergabung dengan teman-teman yang lain menuju lokasi. Ternyata, tempatnya tidak jauh dari jalan raya. Di sebuah rumah penduduk, kami parkir motor kami. Ada beberapa motor di parkir di situ. Saya melihat seorang ibu di pintu belakang rumah itu memandang kami. Saya merasa tidak enak hati. Saya bilang sama ibu itu, minta ijin yah ibu, kami simpan motor kami di sini dulu. Ibu itu bilang, iye simpan maki Nak.
Sekitar pukul 07.30, kami berangkat menuju lokasi kebun. Motorpun dipacu dengan cepat. Untung jalanan tidak macet. Sehingga motor melaju tanpa halangan. Alhamdulillah, selama dalam perjalanan menuju ke lokasi hujan tidak turun membasahi bumi. Sehingga kami tidak perlu berhenti untuk menunggu redanya hujan. Memang, langit cukup cerah. Tak ada awan hitam menggelayut di atas sana. Awan hitam pekat yang menandakan cepat atau lambat akan turun hujan.
Setelah menempuh perjalanan tidak cukup sejam. Tibalah kami di depan sebuah lapangan luas. Kami tidak langsung menuju lokasi. Soalnya, baru pertama kali kami akan berkunjung kesana. Sambil duduk-duduk di sebuah tempat penjual jagung masak yang masih belum buka, kami menunggu teman yang juga sementara dalam perjalanan menuju lokasi rihlah. Tidak lama kemudian, berhentilah iring-iringan motor di depan lapangan. Ternyata rombongan dari Tamalanrea. Alhamdulillah, ternyata memang di sekitar situlah tempatnya.
Kami menyeberang jalan dan bergabung dengan teman-teman yang lain menuju lokasi. Ternyata, tempatnya tidak jauh dari jalan raya. Di sebuah rumah penduduk, kami parkir motor kami. Ada beberapa motor di parkir di situ. Saya melihat seorang ibu di pintu belakang rumah itu memandang kami. Saya merasa tidak enak hati. Saya bilang sama ibu itu, minta ijin yah ibu, kami simpan motor kami di sini dulu. Ibu itu bilang, iye simpan maki Nak.
Saat menyusuri jalan memasuki kebun yang lumayan luas itu. Serasa seperti di dalam surga. Pohon-pohon rambutan yang sementara berbuah dan sungai yang mengalir di bawahnya. Rupanya, kebun itu di kelilingi oleh sungai. Kata Fitri, mana bidadarinya. Ada yang jawab, bidadarinya itu yah..kita-kita ini. Hehehe...Aamiin... Bukankah wanita sholehah itu nantinya di surga akan menjadi bidadari. Bahkan lebih cantik dan lebih segala-galanya dari bidadari penghuni surga.
Sambil berjalan mengitari kebun menikmati suasana kebun yang sejuk, kami memetik buah rambutan yang kulitnya sudah memerah. Senang sekali rasanya memetik buah rambutan langsung dari pohonnya. Buahnya ada yang bisa dipetik tanpa menjolok atau pun memanjat. Mantap sekali karena ada banyak pohon rambutan yang lagi berbuah. Walaupun kata beliau yang punya kebun, musim ini buahnya tidak serempak matang, masih banyak yang muda. Tapi, sebenarnya itu suatu keuntungan juga. Supaya buahnya lama dinikmati. Kalau langsung masak semua. Bisa-bisa tak ada lagi yang tersisa untuk waktu-waktu ke depan. Habis semua dipanen dalam waktu singkat. Begitu barangkali, menurut saya.
Sambil jalan-jalan menikmati pemandangan yang luar biasa ini. Saya berpikir bagaimana kalau kita semua punya kebun yang berbeda-beda. Ada yang punya kebun rambutan, ada kebun mangga, ada kebun apel dan kebun buah-buahan yang lainnya. Jadi kita nanti ganti-gantian berkunjung ke kebun masing-masing. Masya Allah...bolehlah dicita-citakan ya...Ilahi aamiin.
Anak-anak sudah tak sabar ingin mandi-mandi di sungai. Begitupun Sabrina. Sayang sekali, Renaisa tidak bisa ikut karena masih dalam proses penyembuhan. Untuk mencapai sungai, kita harus jalan menuruni tanah yang lumayan terjal. Begitu umumnya, jalan menuju sungai dari atas bukit. Saya saja agak takut untuk turun. Takut terpeleset. Tapi anak-anak itu tidak. Mereka dengan santainya turun ke sungai. Kata teman yang sudah tiga kali ke tempat itu. Katanya, sungainya tidak dalam. Karena ada batu hitam di bawah sungai itu.
Saya meninggalkan Sabrina dengan kakaknya, juga dengan teman-temannya yang lain yang sementara mandi-mandi di sungai. Kelihatannya mereka senang sekali. Bahagianya mereka...
Satu hal yang tak bisa kukekang pada saat berkunjung pada suatu tempat atau suatu acara adalah mengambil gambar. Rupanya kebiasaan ini berlanjut di tempat ini. Saya lagaknya fotografer amatiran, memotret setiap ada kesempatan. Teman-teman bilang paparazzi. Ada beberapa yang sempat kuabadikan momentnya. Kak Impa yang lagi kerja ikan, kak Lukman yang bakar ikan, kak Yati yang lagi goreng pisang dan beberapa momen lainnya.
Tentang kak Yati dan Kak Amrin. Mereka yang paling dinanti-nanti kedatangannya pada waktu itu. Karena sudah hampir siang mereka belum datang. Kami khawatir terjadi apa-apa dengan mereka. Mereka berangkat dari rumah dengan mengendarai dua buah motor. Satu dibawa kak Amrin dan yang satunya lagi dibawa oleh keponakan kak Yati. Ternyata, keponakan kak Yati kesasar. Untunglah, mereka bisa sampai ke kebun dengan selamat. Alhamdulillah.
Setelah ikan bakarnya matang dan sayur kelor yang dipetik langsung dari kebun masak. Kamipun makan bersama dengan lahapnya. Eh, ada lawa ikannya lagi. Baru pertama kali saya makan Lawa ikan. Eheem.. rasanya lumayan enak juga. Setelah makan, dihidangkan lagi pisang goreng dan kopi. Maknyus betul minum kopi di tengah-tengah kebun rambutan yang lagi berbuah. Sambil minum kopi, memandangi rambutan yang ranum. Rasa-rasanya ingin menjangkau buah berambut itu dengan tangan di dahan yang tinggi. Membayangkan tangan yang bisa memanjang menjangkau buah-buah itu. Hehehe..
Bapak-bapak ganti-gantian menjolok rambutan. Saya juga ingin menjolok tapi tidak tau caranya. Akhirnya, saya tinggal memunguti rambutan yang jatuh dari hasil jolokan. Untungnya, bapak-bapak berbaik hati mempersilakan mengambil buah-buah yang berjatuhan. Seruu sekali, karena kita bisa mengambil buah rambutan dengan cara menjolok bisa juga dengan memetik langsung buah dari ranting yang letaknya rendah. Tapi lebih seru lagi seandainya pohon rambutan itu bisa dipanjat. Karena pohon rambutan batangnya bercabang-cabang rendah. Mudah sekali dipanjat biar ibu-ibu sekalipun. Sayangnya, katanya tidak diperbolehkan oleh tukang kebun. Katanya, bisa-bisa pohon rambutannya sulit berbuah lagi dengan segera. Soalnya, kalau ibu-ibu yang manjat bisa lupa diri. Buahnya diambil sekalian dengan ranting-rantingnya. Padahal dari ranting-ranting itu bisa bermunculan lagi buah-buah baru. Oh yah, di kebun itu setidaknya ada dua jenis rambutan, ada yang buahnya besar-besar tapi rasanya kurang manis. Dan ada yang buahnya kecil tapi rasanya lebih manis. Dua-duanya, ternyata banyak peminatnya.
Hujan tiba-tiba turun. Namun cuma sejenak. Rupanya Allah membiarkan kami menikmati ciptaan-Nya yang indah ini. Seperti di surga saja rasanya. Sayangnya, kami harus bergegas pulang ketika jam sudah menunjuk angka satu. Abanya tidak enak badan dan ditakutkan hujan tiba-tiba mengguyur bumi. Takutnya Renaisa yang juga masih belum fit benar, kena hujan dalam perjalanan menuju pulang. Dan benar, sebelum fly over hujan tiba-tiba turun. Tak ada tempat singgah untuk berteduh. Syukurlah, hujannya tidak begitu deras dan cepat berhenti.
Saya bersyukur bisa mengikuti rihlah bersama teman-teman komunitas forum kajian. Suasana kekeluargaan begitu terasa membuat rihlahnya begitu menyenangkan. Dan ucapan terima kasih kami haturkan kepada senior kami yang telah mengundang kami ke kebunnya. Dan membiarkan kami dengan leluasa menikmati rambutan segar langsung dari pohonnya dan juga membawa pulang sekantong rambutan ke rumah. Semoga Allah melimpahkan rezeki yang berkah buat kakanda berdua. Jazakumullahu khaeran katsiran.
Sangat bersyukur dikelilingi para sahabat yang saling menyayangi. Bersatu dan bersama dalam jamaah. Semoga dipertemukan kembali di akhirat kelak dalam surga-Nya.
Aamiin aamiin ya robbal alamin.
Allohumma sholli ala Muhammad wa ali Muhammad.
Alhamdulillahi robbil alamin...
Sambil berjalan mengitari kebun menikmati suasana kebun yang sejuk, kami memetik buah rambutan yang kulitnya sudah memerah. Senang sekali rasanya memetik buah rambutan langsung dari pohonnya. Buahnya ada yang bisa dipetik tanpa menjolok atau pun memanjat. Mantap sekali karena ada banyak pohon rambutan yang lagi berbuah. Walaupun kata beliau yang punya kebun, musim ini buahnya tidak serempak matang, masih banyak yang muda. Tapi, sebenarnya itu suatu keuntungan juga. Supaya buahnya lama dinikmati. Kalau langsung masak semua. Bisa-bisa tak ada lagi yang tersisa untuk waktu-waktu ke depan. Habis semua dipanen dalam waktu singkat. Begitu barangkali, menurut saya.
Anak-anak sudah tak sabar ingin mandi-mandi di sungai. Begitupun Sabrina. Sayang sekali, Renaisa tidak bisa ikut karena masih dalam proses penyembuhan. Untuk mencapai sungai, kita harus jalan menuruni tanah yang lumayan terjal. Begitu umumnya, jalan menuju sungai dari atas bukit. Saya saja agak takut untuk turun. Takut terpeleset. Tapi anak-anak itu tidak. Mereka dengan santainya turun ke sungai. Kata teman yang sudah tiga kali ke tempat itu. Katanya, sungainya tidak dalam. Karena ada batu hitam di bawah sungai itu.
Saya meninggalkan Sabrina dengan kakaknya, juga dengan teman-temannya yang lain yang sementara mandi-mandi di sungai. Kelihatannya mereka senang sekali. Bahagianya mereka...
Satu hal yang tak bisa kukekang pada saat berkunjung pada suatu tempat atau suatu acara adalah mengambil gambar. Rupanya kebiasaan ini berlanjut di tempat ini. Saya lagaknya fotografer amatiran, memotret setiap ada kesempatan. Teman-teman bilang paparazzi. Ada beberapa yang sempat kuabadikan momentnya. Kak Impa yang lagi kerja ikan, kak Lukman yang bakar ikan, kak Yati yang lagi goreng pisang dan beberapa momen lainnya.
Tentang kak Yati dan Kak Amrin. Mereka yang paling dinanti-nanti kedatangannya pada waktu itu. Karena sudah hampir siang mereka belum datang. Kami khawatir terjadi apa-apa dengan mereka. Mereka berangkat dari rumah dengan mengendarai dua buah motor. Satu dibawa kak Amrin dan yang satunya lagi dibawa oleh keponakan kak Yati. Ternyata, keponakan kak Yati kesasar. Untunglah, mereka bisa sampai ke kebun dengan selamat. Alhamdulillah.
Setelah ikan bakarnya matang dan sayur kelor yang dipetik langsung dari kebun masak. Kamipun makan bersama dengan lahapnya. Eh, ada lawa ikannya lagi. Baru pertama kali saya makan Lawa ikan. Eheem.. rasanya lumayan enak juga. Setelah makan, dihidangkan lagi pisang goreng dan kopi. Maknyus betul minum kopi di tengah-tengah kebun rambutan yang lagi berbuah. Sambil minum kopi, memandangi rambutan yang ranum. Rasa-rasanya ingin menjangkau buah berambut itu dengan tangan di dahan yang tinggi. Membayangkan tangan yang bisa memanjang menjangkau buah-buah itu. Hehehe..
Bapak-bapak ganti-gantian menjolok rambutan. Saya juga ingin menjolok tapi tidak tau caranya. Akhirnya, saya tinggal memunguti rambutan yang jatuh dari hasil jolokan. Untungnya, bapak-bapak berbaik hati mempersilakan mengambil buah-buah yang berjatuhan. Seruu sekali, karena kita bisa mengambil buah rambutan dengan cara menjolok bisa juga dengan memetik langsung buah dari ranting yang letaknya rendah. Tapi lebih seru lagi seandainya pohon rambutan itu bisa dipanjat. Karena pohon rambutan batangnya bercabang-cabang rendah. Mudah sekali dipanjat biar ibu-ibu sekalipun. Sayangnya, katanya tidak diperbolehkan oleh tukang kebun. Katanya, bisa-bisa pohon rambutannya sulit berbuah lagi dengan segera. Soalnya, kalau ibu-ibu yang manjat bisa lupa diri. Buahnya diambil sekalian dengan ranting-rantingnya. Padahal dari ranting-ranting itu bisa bermunculan lagi buah-buah baru. Oh yah, di kebun itu setidaknya ada dua jenis rambutan, ada yang buahnya besar-besar tapi rasanya kurang manis. Dan ada yang buahnya kecil tapi rasanya lebih manis. Dua-duanya, ternyata banyak peminatnya.
Hujan tiba-tiba turun. Namun cuma sejenak. Rupanya Allah membiarkan kami menikmati ciptaan-Nya yang indah ini. Seperti di surga saja rasanya. Sayangnya, kami harus bergegas pulang ketika jam sudah menunjuk angka satu. Abanya tidak enak badan dan ditakutkan hujan tiba-tiba mengguyur bumi. Takutnya Renaisa yang juga masih belum fit benar, kena hujan dalam perjalanan menuju pulang. Dan benar, sebelum fly over hujan tiba-tiba turun. Tak ada tempat singgah untuk berteduh. Syukurlah, hujannya tidak begitu deras dan cepat berhenti.
Saya bersyukur bisa mengikuti rihlah bersama teman-teman komunitas forum kajian. Suasana kekeluargaan begitu terasa membuat rihlahnya begitu menyenangkan. Dan ucapan terima kasih kami haturkan kepada senior kami yang telah mengundang kami ke kebunnya. Dan membiarkan kami dengan leluasa menikmati rambutan segar langsung dari pohonnya dan juga membawa pulang sekantong rambutan ke rumah. Semoga Allah melimpahkan rezeki yang berkah buat kakanda berdua. Jazakumullahu khaeran katsiran.
Sangat bersyukur dikelilingi para sahabat yang saling menyayangi. Bersatu dan bersama dalam jamaah. Semoga dipertemukan kembali di akhirat kelak dalam surga-Nya.
Aamiin aamiin ya robbal alamin.
Allohumma sholli ala Muhammad wa ali Muhammad.
Alhamdulillahi robbil alamin...















Nah dengan adanya blog Ini lumayan bisa mewakili Cerita ceria versi sungai kenabian
BalasHapusAlhamdulillah...hanya catatan sederhana untuk mengabadikan momen indah kebersamaan di komunitas 😊
HapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus