Senin, 29 Agustus 2016

SEMINAR PAK HERNOWO



Saat itu, ketika kubuka facebook, aku melihat suatu kiriman yang menandaiku. Kiriman itu dari kanda Mauliah Mulkin. Ternyata aku diundang untuk menghadiri sebuah seminar parenting dan literasi. Seminar itu akan menghadirkan pak Hernowo Hasim, seorang penulis yang sangat produktif. Bapak ini telah menelurkan karyanya, 24 buku selama 4 tahun. Undangan yang menarik, batinku. Gratis lagi. Langsung saja kukomentari undangan itu dengan menjawab bahwa aku ikut mendaftar.

Keesokan harinya, kutanya pada daengku. Mau tidak ke acara seminar yang akan dilaksanakan di Gowa Trade Centre (GTC). Daengku bilang dia juga mau ikut. Sekalian berakhir pekan, katanya. Alhamdulillah, aku bersyukur. Artinya ada yang mengantar nih. Aku kemudian membagikan kiriman kak Uli. Dan sahabatku, Mila Nurhayati ternyata mau juga ikut didaftarkan. Tetapi sayang sekali, menjelang acara dia bilang dia tidak bisa ikutan ke acara itu. Karena ada halangan.

Pada hari "H"nya, aku cemas karena anak-anak belum bangun padahal sudah pukul 08.00 pagi. Sedangkan acara di mulai pukul 08.30. Sampai pukul 08.30, aku mulai serius membangunkan mereka. Takutnya, batal berangkat kalau kelamaan. Akhirnya mereka bangun juga. Aku secepatnya memandikan si bungsu dan memakaikan bajunya. Si ayah membersihkan kereta yang mau dipakai. Sudah dibersihkan tetapi tetap saja berdebu. Barangkali karena tidak ditutupi.

Setelah anak siap, melalui whatsapp, aku melihat kak Faridah Idris mengatakan acara sudah dimulai. Aku deg-degan. Padahal aku mau memintaizinkan dulu Renaisa kepada gurunya di sekolah. Renaisa masuk pukul 10.00. Jadi aku mesti minta izin sebelumnya. Sebenarnya gurunya agak keberatan mengizinkan. Tetapi, aku juga tidak bisa meninggalkannya di rumah sendirian. Waima ada adik dan karyawan lain di ruko. Aku mesti membawanya bersamaku. Apalagi acara ini juga akan sangat bermanfaat buat dia.

Berangkatlah kami ke GTC. Sesampai di sana, lumayan oke dan mantap penyambutan panitianya. Mereka menyambut kami dengan ramah. Di sepanjang jalan, ada panitia yang menunjukkan ke arah tempat berlangsungnya acara seminar. Aku senang sekali. Karena hal itu memudahkan dan mempercepat kami sampai di tempat acara. Apalagi kami rada-rada terlambat.

Sesampai di dalam ruangan, aku melihat Hadijah Sandra sudah duduk dengan nyaman. Aku menyangka dia belum datang. Karena belum lama berselang, dia menyapa melalui whattsapp, menanyakan di mana tempat seminar. Tidak  kusangka dia sudah duduk manis dalam ruangan. Dia lalu memanggilku duduk di dekatnya. Sedangkan daengku lebih memilih duduk di belakang. Sambil mendengarkan bapak Hernowo, aku mencari kak Faridah. Ternyata beliau berada di deretan depan. Di depannya, aku melihat kak Sulhan Yusuf dan kak Mauliah Mulkin. Sepasang suami isteri pegiat literasi di Makassar.  Lumayan banyak juga yang menghadiri acara seminar ini. Aku kemudian melihat kak Abdul Rasyid Idris bersama istri, kak Rusnawati, duduk di belakang daengku.



Setelah bapak Hernowo usai memaparkan isi buku terbarunya. Lalu diisi dengan sesi tanya jawab. Ada yang bertanya, apa doanya agar anak bisa rajin membaca dan beberapa pertanyaan lainnya. Sayang sekali, sound sistemnya agak berdengung sehingga aku kurang bisa menikmati setiap pemaparan demi pemaparan. Tapi untungnya, buku Flow in Socmed sudah tersedia di tempat seminar. Dengan harga diskon pula. Dengan buku itu, kita bisa menemukan cara bagaimana bisa membaca ngemil dan menulis bagai air mengalir. Seperti apa itu membaca ngemil dan menulis bagai air mengalir. Silakan beli bukunya dan mari mendarasnya.

Setelah sesi tanya jawab, ternyata ada sesi untuk minta tanda tangannya pak Hernowo. Aku yang belum memegang bukunya, bergegas ke depan mencari buku itu, demikian pula Hadijah Sandra. Peserta yang lain juga ikut mengantri untuk membeli bukunya pak Hernowo. Kapan lagi ada kesempatan seperti ini. Jarang-jarang lho, kita dapat tanda tangan si empunya karya di buku kita. Peserta seminar antri guna mendapat tanda tangan pak Hernowo. Momen itu diabadikan daengku melalui hp sederhananya. Momen yang menyenangkan. Terlihat dari wajah-wajah riang mereka. Senang sekali kelihatannya.Aku pun demikian.



Setelah sesi penandatanganan buku selesai, ada sesi foto-foto rupanya dengan pak Hernowo. Mendapat kesempatan untuk berfoto dengan pak Hernowo, kami tidak sia-siakan. Jarang-jarang ada momen seperti ini. Siapa tau kepiawaian menulis pak Hernowo menular kepada kami. Minimal semangatnya. Bisa membuat ketertarikan kami pada dunia literasi semakin membuncah.

Aku menikmati seminar ini. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Semoga di kesempatan lain bisa mengikuti acara-acara yang menarik dan bermanfaat seperti ini. Sekarang saatnya mendaras buku yang sudah berada dalam pangkuan ini. Mendaras "Flow in Socmed". Semoga buku ini bisa membawa perubahan dan perbaikan pada diriku. Barakallahu.

Thengkyu buat gurunda, Mauliah Mulkin..

Tentang Menulis

Mengalir seperti air

Bagaimana menulis mengalir seperti air?
Ketika kita menulis tanpa ada beban yang membuat kita ragu dalam menuliskan ide-ide yang mengendap dalam pikiran kita. Terkadang banyak ide atau gagasan yang kita punyai tetapi kita tak mampu menuangkan di atas kertas atau lembaran halaman di laptop kita. Kira-kira ada apa dan kenapa yah. Barangkali karena kita takut apa yang kita tuliskan salah, tidak mendalam atau pitikana-kanai. Tetapi jika kita takut untuk memulai menuangkan ide atau apa yang bersembunyi di balik fikiran kita. Kapan lagi kita bisa? Takut, cemas atau rasa kawatir itu biasa. Apalagi bagi seorang pemula.

Sebenarnya tidak susah-susah amat untuk menyalurkan ide kita di atas secarik kertas atau di halaman laptop kita. Tinggal mengetik-ngetik. Jadi deh. Dari mana asal kata-kata itu muncul. Semua itu hasil dari mendengar dan membaca. Jadi ketika kita ingin menulis dengan baik. Rajin-rajinlah mendengarkan para ahli dalam menguraikan pendapatnya. Dan paling penting juga untuk sering-sering membaca buku. Karena dari buku, kosa kata kita akan bertambah. Sehingga ketika kita menuliskan ide, kita akan lebih mudah karena kita telah memiliki perbendaharaan kata yang mumpuni yang berasal dari bahan bacaan kita.

Kapan kita memulai menulis. Bisa kapan saja. Tergantung waktu dan kesempatan kita. Tak jarang kita berdalih, tak ada waktu dan tak ada kesempatan. Itulah alasan yang muncul ketika ditanya kenapa tidak menulis lagi. Tetapi itu tidak bisa menjadi alasan untuk kita tidak menulis. Sebab, jika kita memang punya tekad yang kuat. Punya rasa cinta dalam menulis. Kita akan merasa rindu dan merasa seperti ada yang kurang ketika kita tidak menulis untuk satu hari saja. Begitulah seperti ada dorongan yang kuat untuk menuangkan tulisan. Apa itu berupa pengalaman, perasaan saat itu atau apapun saja.

Untuk menjaga semangat dalam menulis, aku senang membaca tulisan para senior yang telah menggeluti dunia literasi. Mereka produktif sekali dalam menulis. Seperti tak pernah kehabisan ide untuk melahirkan sebuah karya bergizi yang menyehatkan jiwa. Aku senang membaca karya-karya mereka. Tak jarang aku juga merasa cemburu melihat para yunior yang juga begitu kreatif dalam menuangkan ide mereka. Mereka lah juga yang membuatku begitu bersemangat dalam mempelajari dunia tulis menulis ini.

Harapanku dengan melalui tulisan, aku bisa berbagi apa saja. Berbagi kegembiraan, semangat dan tentu saja mengajak kepada kebaikan.

Rabu, 22 Juni 2016

SAHUR

Waah..sudah pukul 02.00 lewat nih. Bangunkan diri yang masih tergelayuti ngantuk super berat. Buru-buru kukeluarkan nasi dari dalam penanak nasi. Lupa soalnya tadi. Mengeluarkan nasi itu lalu merendamnya. Tapi, ndak apalah. Sisa nasi yang mengering. Gampang dibersihkan. Kalau sudah terendam air. Setelah wadah anti lengket penanak nasi bersih, Kucuci beras dan memasukkannya ke dalam penanak nasi. Habis itu sholat dulu.

Kupotong sayur, yang tersedia di kulkas. Rencana bikin sawi putih tumis campur irisan cabe merah. Sayur sederhana namun menggugah selera. Ini resep dari kak Nanna Nurhasanah. Senior kohati dari UMI. Setiap bikin sayur ini. Aku akan terkenang beliau. Ketika beliau dan suaminya, Kak Arief tinggal di Pampang. Aku yang waktu itu masak-masak di rumah kos beliau. Lauknya, kebetulan ada udang ukuran agak besar. Anak keduaku, pesan udang crisphy. Insya Allah, mama bikinkan deh. Caranya gampang saja, udangnya dibersihkan, lalu dibuang kepala dan ekornya. Lalu dibaluri tepung bumbu sajiku. Goreng di atas wajan. Dengan api sedang. Gorengnya sampai ke coklat-coklatan. Jangan sampai kehitam-hitaman, yah. Itu namanya ammutung. Hehe...

Tak lupa, sambal pedasnya juga. Oh, saya ingat masih ada sisa sambal tadi malam. Jadi tak perlu bikin lagi. Masih cukup untuk makan kali ini. Habis itu bikin teh manis. Ini minuman favorit baik sahur maupun buka puasa. Ketika buka puasa, Walau ada sirup, mesti tetap ada teh hangat. Supaya lambung tidak kaget, katanya.

Setelah tersedia semua, mulai membangunkan anak. Nah, ini yang paling sulit setiap sahur. Bukan masaknya. Tapi membangunkan anak-anak. Dibisik, dicolek, diangkat. Segala cara dilakukan. Sampai mengusap air ke muka. Sudah bangun, tidur lagi. Dan, akhirnya mereka bangun juga. Ada yang menggerutu dulu dan ada yang langsung cuci muka. Hehe..anak-anak. Disuruh bangun untuk makan saja, susahnya. Bagaimana, kalau disuruh bangun untuk masak, yah. Hemm. Tapi, aku senang sekali, ketika mereka makan dengan lahapnya. Sambil sesekali menyeruput teh hangat. Alhamdulillah.

Sabtu, 11 Juni 2016

POLIGAMI



Saya senyum-senyum melihat sebuah meme. Gambar laki-laki,  beristri satu sampai empat. Dan ada juga laki-laki tanpa istri. Dengan tulisan bahwa yang sempurna adalah yang memiliki empat istri. Dan laki-laki tanpa istri disebutkan ada masalah. Namun, saya tidak akan menyinggung tentang lelaki tanpa pendamping yang dikatakan memiliki masalah.

Apa memang betul, lelaki beristri lebih dari satu jauh lebih baik dari yang beristri satu. Dan dikatakan sempurna jika memiliki empat istri. Aah...belum tentu. Barangkali, di gambarnya, memang betul kelihatan adem ayem, tenteram dan rukun. Tetapi, kenyataannya gimana? Coba bandingkan kehidupan seorang suami dengan seorang istri. Apakah mereka kompak terus? Tentu saja tidak. Terkadang ada masalah di antara mereka. Yang membuat mereka cuek-cuekan. Walaupun setelahnya mereka bertambah mesra. Iya, kan? Bagaimana dengan seorang suami dengan dua istri atau lebih. Boleh dibayangkan.

******************************************

Sebagian lelaki ketika membicarakan poligami. Bukan tersirat lagi, terpampang jelas, ketertarikan mereka. Begitu dahsyat dan menariknya wacana poligami ini. Sehingga wacana lain menjadi kalah seru dibandingkan dengan wacana poligami ini. Dari perbincangan-perbincangan tersebut. Tercetus salah satu di antaranya, kalau aku tidak salah simak. Bahwa seakan-akan suatu keharusan atau kewajiban lelaki berpoligami. Untuk menolong wanita-wanita yang belum menikah. Dengan alasan, jumlah kaum wanita lebih banyak dari lelaki.

Bukannya, saya menentang poligami yah. Tetapi, bolehlah kita baca kembali surah Al Qur'an tentang diperbolehkannya poligami. Tolong dicatat baik-baik. Dibolehkan. Bukan diwajibkan. Tak ada satu pun kata perintah di dalam ayat tersebut. Yang mewajibkan poligami. Terkadang, baca ayatnya pun sepotong-sepotong...nikahilah satu sampai empat. Titik. Tidak dibaca sebelum dan sesudahnya. Maka cobalah baca baik-baik. Dan renungkan.

Lagi pula, diturunkannya ayat yang menyangkut poligami itu. Karena pada waktu itu, sudah umum di jazirah Arab, seorang lelaki memiliki banyak istri. Bahkan bisa lebih dari sepuluh istri. Oleh karena itu, dengan adanya ayat Allah itu, poligami dibatasi sampai empat istri. Sehingga boleh dikatakan bahwa ayat itu malah memberi batasan. Bukan ayat untuk mewajibkan poligami.

Sebagian lelaki, begitu antusiasnya ketika membahas poligami itu. Seakan-akan belum sempurna hidup mereka ketika belum beristri lebih dari satu. Seakan-akan hanya itu yang akan membawa kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hidup berpoligami. Sampai-sampai menuduh wanita yang tidak mau dipoligami. Wanita egois. Wanita penentang perintah Allah. Betulkah demikian? Mereka mengatakan bahwa wanita yang memperbolehkan bahkan menyuruh suaminya menikah lagi. Apalagi si istri mencarikan perempuan untuk dinikahi suami mereka. Adalah wanita yang sangat mulia.

Tak taukah mereka. Bahwa wanita paling mulia. Bunda Fatimah Azzahra sa. Tidaklah dimadu. Semasa beliau masih hidup, suaminya, Imam Ali sa, tidak pernah menikahi wanita lain. Padahal beliau adalah penghulu wanita surga. Demikian pula, Bunda Khadijah Al Kubro sa. Ibundanya Fatimah AzZahra sa. Rasulullah saw tidak pernah menikah dengan wanita lain ketika beliau masih hidup. Padahal Bunda Khadijah al Kubro adalah wanita yang dijanjikan masuk surga. Apakah mereka ini bukan wanita-wanita mulia. Apakah mereka ini wanita-wanita egois. Tentu saja, tidak bukan. Seandainya saja, mereka pernah menyuruh suami-suami mereka berpoligami. Tentunya wanita-wanita muslimah yang menjadikan mereka teladannya. Akan berlomba-lomba untuk menyuruh suami-suami mereka untuk berpoligami.

Membayangkan kehidupan poligami itu penuh bunga. Dikeliling bidadari-bidadari dunia cantik nan memikat. Yang selalu siap sedia melayani kebutuhan sang suami. Betul-betul menggairahkan. Tapi, cobalah jangan yang dibayangkan yang enaknya saja. Coba bayangkan bagaimana memenuhi kebutuhan mereka semua. Sandang, pangan dan papannya mesti dipenuhi. Disamaratakan. Tidak boleh dibeda-bedakan. Harus adil. Apalagi pendidikan anak-anak yang semakin mahal. Memang benar rezeki itu dari Allah. Allah sudah menjaminnya. Tetapi, kita juga yang mesti berusaha untuk memperoleh rezeki itu.

Allah mensyaratkan laki-laki yang berpoligami itu harus adil. Kalau tidak mampu berbuat adil. Cukup satu saja. Yang tau bisa berbuat adil atau tidak itu, yah sang pencipta Allah, orangnya sendiri dan orang terdekatnya, yaitu istrinya. Mengapa kebanyakan istri tidak rela dimadu? Karena mereka tidak yakin suaminya bisa berlaku adil. Dan terutama juga perasaan sakit yang teramat sakit. Ketika mendengar seorang suami menikah lagi. Apalagi dirinya yang mengalami sendiri. Kita tidak bisa menafikan perasaan sakit seorang wanita ketika tau dirinya dimadu. Ini mengingatkan saya kejadian yang sudah lama berselang.

Dan anehnya juga, ada pengkategorian wanita-wanita yang tidak mau berpoligami. Dengan beberapa tingkatan, yang sampai pada tingkat ingkar kepada perintah Allah. Sejauh itu? Apakah termasuk menolak dipoligami itu ingkar kepada Allah? Ingkar kepada Allah artinya durhaka kepada Allah. Wow...Alangkah dahsyatnya pengkategorian itu. Sepertinya poligami adalah satu-satunya jalan menuju surga-Nya. Karena wanita yang hidup berpoligami itu telah dijanjikan masuk surga. Iya, kalau ikhlas. Kalau tidak, bagaimana?

Menurut saya, kehidupan berpoligami itu bisa mengantarkan ke surga bisa juga mengantarkan ke neraka. Bisa mengantarkan ke surga, jika suami bisa berlaku adil kepada istri-istrinya. Dan para istri ikhlas dengan kehidupannya berpoligami. Tetapi bisa juga mengantar ke neraka. Ketika suami tidak bisa berlaku adil. Membeda-bedakan. Apalagi menelantarkan salah satu istrinya. Juga anak-anaknya. Demikian pula, ketika kehidupan poligaminya melalaikan dirinya dari mengingat Allah. Berkurang ibadahnya bermunajat kepada-Nya, karena sibuk mengurusi istri-istrinya.

Menurut Bapak Quraysh Shihab, bahwa poligami itu ibarat pintu darurat pada sebuah kapal terbang. Pintu ini bisa digunakan ketika pesawat mengalami guncangan yang teramat dahsyat. Tetapi kalau kapal terbangnya aman-aman saja. Pintu darurat itu tidak diperlukan.

Saya prihatin ketika poligami dijadikan wacana super seksi. Bahan olok-olokan. Digampang-gampangkan. Kalau mau berpoligami tinjau diri sendirilah. Mampu tidak, diri ini berpoligami. Bisa tidak, menghadapi konsekuensi-konsekuensinya. Kalau merasa mampu majulah sendiri. Jangan mencoba mendorong-dorong orang lain untuk maju duluan. Memprovokatori orang lain berpoligami. Tidak akan berhasil, Bung. Ketika anda tidak menjalani sendiri terlebih dahulu. Bahkan, saya melihat orang yang sudah berpoligami jarang menyuruh-nyuruh orang lain untuk berpoligami. Ehh...ini yang belum menjalani, begitu bersemangatnya mengompor-ngompori orang lain. Mau berpoligami berjamaah barangkali.

Biasanya, yang sering berwacana itu. Hanya akan menjadi sekadar wacana. Jika tidak ada keberanian untuk mewujudkannya. 

Kamis, 09 Juni 2016

JURUS MABUK XL AXIS



Horee...hari ini ada program internet murah AXIS lagi. Siap-siap aktivasi kartu nih. Mumpung lagi ada programnya. Tahu tidak. Hari-hari biasa, harga paket internet AXIS juga mahal. Walaupun, tidak semahal XL saudara tua AXIS.

Nah, ini kesempatan, mengaktifasi kartu internet AXIS. Kemudian memasarkannya dengan harga bersaing. Karena tidak semua outlet tahu program ini. Jadi jangan heran jika di outlet tertentu, harga kartu perdana internet AXISnya lebih murah dibandingkan dengan outlet lainnya.

AXIS yang satu payung dengan XL setelah diakuisisi oleh XL Axiata, punya program internet murah setiap rabu dan jum'at. Kalau rabu digelari Rabu Rawit dan jum'at disebut Jum'at Baik. Caranya dengan mengisi pulsa pada kartu. Lalu paket datanya diaktifkan. Banyak konsumen yang sudah tahu program AXIS ini. Dan mengisi paket datanya sendiri. Tetapi ada pula konsumen yang senang beli kartu perdana internet baru. Walaupun mesti ganti-ganti kartu.

Kecenderungan konsumen yang tidak mau repot. Beli pulsa dan daftar paket. Tentu saja dilatarbelakangi oleh beberapa hal. Hal yang pertama, takut salah daftar paket. Kedua, harga kartu perdana internet tidak jauh beda dengan kalau isi paket data sendiri. Bahkan terkadang lebih murah. Ketiga, tidak sembarang waktu atau hanya waktu tertentu saja bisa daftar paket murah. Padahal kuota data habis di luar rabu dan jum'at.

Kebutuhan kartu perdana internet AXIS yang cenderung stabil bahkan cenderung meningkat. Apalagi harga paket internet XL saudara AXIS meroket tajam. Membuat outlet menggunakan kesempatan program Rabu Rawit dan Jum'at Baik. Untuk mengaktifasi kartu Perdana internet AXIS sesuai kebutuhan outlet.

Sebenarnya di luar rabu dan jum'at. Ada hari lain dimana outlet bisa mengaktifasi kartu internet AXIS dengan harga murah. Seperti yang telah diutarakan di awal tulisan. Tetapi jarang yang tahu kecuali outlet besar atau outlet yang punya hubungan baik dengan kanvaser. Beda dengan Rabu Rawit dan Jum'at Baik, sering ada SMS pemberitahuan di handphone konsumen. Satu hari sebelum rabu dan jum'at.

Tidak semua outlet mengaktifasi sendiri kartu perdana internet AXIS. Banyak juga outlet yang beli barang jadi. Dari outlet besar ataupun dari para broker. Dengan harga mendekati modal dasar. Sehingga harga jual kartu internet di outlet yang bersangkutan menjadi hampir sama dengan outlet yang produksi sendiri. Tetapi menjadi kepuasan tersendiri ketika bisa menjual produk yang diaktifasi sendiri. Persediaan produk pun bisa terjaga. Karena tidak tergantung dengan pemasok. Dan Kartu internet pun bisa bervariasi.

Bukan tidak beresiko mengaktifasi kartu perdana internet AXIS. Resiko yang pertama, salah tembak paket data. Misalnya paket data 2 GB yang kita inginkan, dengan harga 19.900. Yang tertembak 1 GB, dengan harga 9.900. Sehingga, harus ditransfer pulsa yang tersisa. Dan sisa pulsa yang tersisa harus lima ribu rupiah. Jadi kalau sudah begitu, mau dijual berapa? Yang kedua, sistem transfer pulsa. Karena kartu perdana AXIS berisi pulsa 3.000. Maka ketika mau mengaktifkan paket data 2 GB seharga 19.900 harus ditransfer pulsa 16.900. Dengan biaya transfer pulsa 1.000. Kalau salah transfer bisa-bisa ongkos transfer dobel. Artinya, bertambah biaya aktifasi atau modal kartu perdana internetnya.

Bukan satu dua kali terjadi hal seperti di atas. Ketika melakukan aktifasi data AXIS. Tetapi bukan wirausaha namanya ketika menghadapi resiko, mundur dan menyerah. Resiko buat dihadapi. Bahkan bisa menjadi penyemangat. Karena faktor resiko bisa jadi adalah anugerah. Ketika orang lain menyerah menyadari resiko yang ada. Tetapi kita mampu mengelola resiko dan mengubahnya menjadi rezeki. Dengan kehati-hatian dan konsentrasi penuh. Semua resiko, insya Allah dapat terhindarkan.

Tidak seperti operator lain, yang program paket internetnya sudah pasti. Operator XL seperti menggunakan jurus mabuk. Paket internetnya tiap harinya bisa berubah. Seperti ketika sebulan lalu paket data XL 5 GB seharga 50.000 sekarang paket data XL 3 GB seharga 65.000. Demikian pula, AXIS yang bisa berubah harganya kapan saja. Ini saja tiap Rabu dan Jum'at. Bisa beda-beda paket yang muncul. Kadang kita mengharap yang ada paket 2 GB. Karena kartu perdana internet 2 GB sudah habis. Ternyata yang ada paket data 5 GB. Begitulah. Bikin penasaran. Dan membuat kita mesti standby. Siap-siap dengan kemunculan paket-paket data internet yang tak terduga.

Sebagai tukang registrasi kartu, mesti siap sedia bergelut dengan tumpukan kartu. Meregistrasi kartu, mentransfer pulsa dari kartu perdana satu ke kartu perdana lain. Kemudian mengaktifkan paket datanya. Dengan diselingi pekerjaan rumah yang seakan tak ada habisnya. Enjoy dan menikmati semua aktivitas itu. Anugerah dari Tuhan Sang Maha Pemberi Rezeki. Semoga berkah adanya.

Hamsinah Hamid Dg. Lu'mu
Meta cell Pampang

Minggu, 29 Mei 2016

Rajaku Bernama Coto Makassar


Entah harus marah pada siapa, asu-dahlah. Gampang saja mengangkat jari telunjuk siapa yang bisa disalahkan, dan pihak lain akan dengan enaknya merasa benar dan punya hak lebih, begitu pula sebaliknya. Sudah jadi lingkaran para setan, ehh pammoporanga, lingkaran setan.

Inakke, bukan ji keturunan karaeng lompo tapi bukan juga ji keturunan ata. Begitu kata tettaku almarhum. Tapi bukan itu poinnya.

Yang terpenting, dan tidak terbantahkan adalah saya lahir dan besar di Gowa. Tetta dan ammaku juga lahir dan besar di Gowa. Jadi darahku selain bergolongan darah B secara medis, juga bergenetika Makassar. Titik.

F
Jadi pantaslah ada rasa yg seakan ingin selalu meledak, meski saya sering mengabaikannya bahkan menahannya, ketika melihat hal-hal yg berkaitan dengan Makassar. Itulah primordialisme, assahbiyah. Wajar-wajar saja, kalau proporsional.

Lebih-lebih ketika melihat kejadian mutakhir. Ada bupati yg sekaligus ingin menjadi ràja; raja baru yg dilarang masuk istana dan terpaksa dilantik di hotel. Itulah headline berhari-hari yg kian menggerus nilai-nilai keMakassaran. Asu-dahlah pasti muatannya negatif. Dan yakin saja, secara statistik, dampaknya adalah makin banyak orang Makassar yg malu bahkan enggan mengakui kemakassarannya.

Asu-dalah
Rasa inilah yang mungkin disebut pacce. Masih ada sedikit pacce. Ahh, kenapa rasa ini tidak hilang saja. Biar hidup bisa enjoy-enjoy saja.

Bukankah Gowa yg dulu digjaya itu memang sudah takluk. Dan semuanya hanya tersisa sejarah manis di masa lalu dan skarang sisa pahitnya belaka, seperti kopi yang tidak ori lagi karna sudah dipadu jagung. Bahkan sudah kw1 hingga kw2.

Apakah memang para karaeng lebih asik-mansuk dengan hedonisme politik tanpa peduli pada masalah nilai ke-Makassaran yang lebih mendasar. Persoalan yg perlu dibangun menurutku adalah bagaimana orang Makassar banģga dengan kemakassarannya, dan saking hebatnya, orang luar Makassar pun latah mengaku-aku orang Makassar. Itulah yg perlu dibangun dan diperjuangkan. Bukan sebaliknya.

Asu-dalah. Lebih enak menyantap coto makassar. Kuliner yg tidak ada duanya, menurut saya. Assabiyah lagi. Bahkan mengalahkan rendang padang hingga spagetti itali . Tak mengapa dianggap subjektif, karna memang saya orang Makassar, dan lagi pula lidah saya jujur mengakuinya.

Biar mi tensi darah agak tinggi pun dokter melarangnya, tak mengapa mencicipi Coto Makassar. Kan, adaji jeruk nipisnya sebagai penyeimbang. Makanya, kalo sudah berhadapan semangkok coto, jangan buru-buru ditaburi garam  atau dialiri kecap. Tapi yang mula-mula adalah menghujaninya dengan perasan jeruk nipis.

Bumbu Coto Makassar juga menyehatkan. Empat puluh jenis rempah beradu-tak-mau-kalah ingin menyehati penikmatnya. Biar mami belum ada penelitian ilmiah. Tapi setidaknya itu yg saya rasakan. Pun banyak orang jujur mengakuinya.  Cukup manggut-manggut kalo setujuki ato senyum-senyum simpul juga bisa.

Biar tanggal tua, beli saja Coto Makassar, paling tidak setengah daging ato kuahnya saja. Baru jangan ki lupa minta tambah lagi kuahnya. Gratis ji toh. Ketupatnya mo saja banyak-banyak dibeli. Dijamin membuat kita bertenaga. Apalagi kalo demam biasa ji daeng, amba mi saja Coto Makassar dua mangkok, baru pigi tidur dengan tiga lapis selimut. Insya Allah sehatki. Tapi tolong digaris bawahi kata insya Allah nya, bukan cotonya. Itulah istimewanya Coto Makassar.

Asu-dalah. Daripada pusing kepala berbi memikirkan kisruh raja gowa. lebih baik kuangkat rajaku sendiri, akan kulantik sendiri dalam batinku. Akan kuserukan aru kesetiaanku. Engkaukah rajaku Coto Makassar, karaengku Coto Makassar. Catat, bukan Soto Makassar apalagi Coto Ujungpandang. Tapi sekali lagi Coto Makassar.

Kenapa engkau kuangkat menjadi rajaku, Coto Makassar. Karena engkau ada di mana-mana di nusantara ini. Pengaruhmu begitu besar. sebagaimana dahulu kerajaan Gowa pengaruhnya ada di mana-mana. Engkaulah representasi sekaligus pelanjut tak terbantahkan dari kedigdayaan Gowa-Tallo (Makasar) zaman dulu.

Bahkan engkau lebih stabil dan tidak uring-uringan terpikat kepentingan politik seperti mereka.

Terimakasih Coto Makassar telah mengabadikan Makassar. Nama Makassar

Alfatihah selalu kepada para penemu, peramu, chef, dan penyebar Coto Makassar.

Keberuntungan dan keberkahan senantiasa kepada para penjual Coto Makassar

Pun kelimpahan dan kesehatan selalu menghampiri para penikmat Coto Makassar

Asu-dalah. Akan kucoba menelusuri seluruh aroma coto di setiap warung, bahkan ke warung Coto Maros sekali pun. Apa pun minumannya makanan favoritnya pasti Coto Makassar

Oleh :
Rajab Sabbarang

Jumat, 27 Mei 2016

Tas Pilihan



Ketika melihat adik saya menggunakan tas yang bermerk. Yang harganya beratus-ratus ribu rupiah. Saya bilang walaupun saya punya uang banyak, saya tidak akan membeli tas semahal itu. Banyak kok, tas murah tapi bagus. Khan, suatu barang itu yang penting fungsinya. Bukan harga maupun merknya.

Adik saya bilang kenapa dia beli tas yang bagus dan bermerk seperti itu. Karena lingkungan keluarga suaminya dari kalangan menengah ke atas, yang nota bene punya selera tinggi. Saya bilang kenapa ikutan selera mereka. Kita mesti tampil beda. Mestinya kita memilih barang bukan karena merknya tetapi karena fungsi barang itu.

Teringat perkataan terhadap adik saya. Membuat saya malu sendiri. Karena akhirnya, saya terpaksa beli tas yang agak punya nama di dunia per'tas'an di Indonesia. Bukan karena merknya. Tetapi, karena sudah tidak percaya dengan berbagai macam tas yang ada. Sudah berapa kali beli tas, yang saya harap berumur panjang. Ternyata ada-ada saja yang rusak. Resleting tak bisa terkancinglah, talinya putuslah.

Tas-tas itu ada yang murah meriah, ada juga yang agak mahal. Tetapi ternyata sama saja. Saya agak kecewa dengan kenyataaan seperti itu. Kok tas murah dan tas mahal sama saja. Gampang rusak. Cukup lama saya tidak pakai tas ketika bepergian. Kadang hanya pakai dompet plastik yang serupa tas. Dan kalaupun harus pakai tas. Saya pakai tas yang rusak resletingnya itu. Kadang terganggu juga pakai tas yang rusak resletingnya. Sedikit-sedikit mesti dilihat isi tasnya.

Melihat berbagai macam tas yang berseliweran di dunia maya. Membuat hati kepincut. Tapi rasa khawatir menggelayut. Jangan sampai tidak sesuai yang diharapkan. Menarik juga sebenarnya. Apalagi tasnya bagus-bagus. Sambil melihat detil harga. Mana-mana yang sesuai isi kantong. Tapi seperti tidak puas rasanya kalau beli suatu barang tanpa melihat dan memegang serta mengangkat-angkatnya. Hehe..kebiasaan saat belanja offline.

Saya tidak jadi belanja online. Karena itu tadi, barangnya tidak hadir nyata dihadapan untuk dipilih. Saya kemudian bertanya dalam suatu group WhattUpp. Saya tanyakan tas apa yang murah dan bagus. Teman saya menyebutkan merk tas yang lumayan terkenal. Dan aku senyum kecil, ternyata merk tas yang sama dengan tas adikku. Nah lho. Katanya sudah 10 tahun dia beli tas merknya seperti itu tapi masih bagus. Saya berterima kasih atas rekomendasinya. Dan bilang kepada sang teman, insya Allah, kapan-kapan saya ke show roomnya

Terbayang ucapan kepada adik saya. Saya seperti menjilat ludah sendiri. Kalau beli tas bermerk. Yang harganya lumayan mahal. Tapi terlanjur kecewa dengan tas-tas yang pernah saya beli. Saya bilang ke suami. Saya mau beli tas merk ini. Ada yang rekomendasikan bagus dan tahan lama. Suami setuju. Katanya, hadiah buat saya yang rajin buat paket internet. Maklum, kerja suami jualan pulsa, paket data dan teman-temannya. Dan aku kerjanya selain, ibu rumah tangga, ikut bantu-bantu suami. Alhamdulillah, kalau begitu. Kata suami, yang penting harganya tidak lebih dari sekian-sekian..ssst rahasia berapa nominalnya.

Pada siang menjelang sore itu, saya masuk show room tas. Saya berharap semoga harga tas yang tersedia, tidak lebih dari yang telah ditentukan. Sambil melihat-lihat dan memegang tas. Saya periksa harganya. Saya terbelalak melihat harga-harganya. Mahal amir. Eh mahal amat. Tambah mahalki di'. Tidak adami harga ta' duaratus ka. Dua kali lipatmi. Kayaknya, gagalki ini rencana beli tas klo begini. Sambil keliling-keliling, saya memeriksa label harga di setiap tas itu. Masih berharap ada yang harganya lebih murah di antara tas yang sangat mahal harganya menurut saya. Belum tentu, menurut ibu-ibu yang lain lho. Tergantung kondisi kantong barangkali, yah.

Setelah, memeriksa sana memeriksa sini. Saya temukan tas yang lumayan bagus. Warna cream. Dan harganya paling murah. Banyak yang bagus-bagus tapi mahalll. Tidak sesuai isi kantong. Takutnya kalau dipaksakan. Bukanmi fungsi yang diutamakan tapi ke"cantik"annya. Ya..jadilah tas cream itu pilihanku. Harganya sebenarnya melebihi yang telah ditentukan suami. Tapi ini yang paling murah. Termurah di antara tas-tas yang ada di sini. Entah, kalau ada tas yang luput dari pengamatanku. Lagi pula surveinya singkat sekali. Tidak cukup setengah jam.

Saya pergi bayar ke kasir. Saya harap tas yang saya beli ini. Tahan lama. Tidak gampang rusak. Sampai sepuluh tahun lamanya. Semoga tetap setia mendampingi. Kemana pun saya pergi.

Kamis, 26 Mei 2016

DUNIA MAYA




Saat kuketik huruf demi huruf di layar smartphone ini, mestinya aku mengaktivasi kartu demi kartu internet AXIS. Tetapi sayang, godaan untuk mengarungi samudera dunia maya lebih besar. Dibandingkan bayangan lembaran uang yang telah menanti. Ketika kartu internet itu laku terjual lembar demi lembarnya.

Nah, itu tadi salah satu contoh sulitnya beranjak dari pesona dunia maya yang dialami sendiri oleh penulis. Sedangkan pekerjaan yang menghasilkan uang ditinggalkan. Apalagi pekerjaan rumah yang nota bene tidak menghasilkan uang, secara nyata. Demi keasyikan berselancar di dunia maya.

Godaan dunia maya memang begitu dahsyat. Orang rela berlama-lama di dalamnya. Betah berjam-jam duduk, baring ataupun dengan gaya lainnya. Bergumul dengan smartphonenya sampai lupa waktu. Ah.. sudah jam berapa nih. Belum masak ... belum cuci piring, padahal sudah hampir siang.

Lalu ngebutlah ia mengerjakan semuanya. Belum lagi sambil ngintip-ngintip facebook, Whattapps ataupun BBM-nya. Semakin lamalah durasi masak memasak atau cuci mencuci di dapur. Bagi yang punya asisten rumah tangga sih mungkin ndak masalah. Tapi kalau tidak ada yang bantu, maka ini menjadi masalah serius. Karna bisa-bisa seluruh penghuni kelaparan.

Barangkali kita tidak pernah menghitung berapa jam sehari kita memegang ponsel kita. Tapi yakinlah bahwa sebagian besar waktu kita ketika tidak tidur. Adalah mengutak atik smartphone kita. Apakah itu facebook an, Whattapps ataupun BBM-an. Apalagi klo kita jualan online. Klo jualan online tentu saja mesti sering-sering nengok status-statusnya di Facebook, WhattApp ataupun BBM-annya. Jangan-jangan ada koment, dan tentu saja order yang terlewatkan. Demikian pula, ketika menjadi admin di suatu grup WhattApp kita wajib untuk mengikuti setiap saat. Karena kalau tidak kita akan ketinggalan info dari group.

Begitulah, sepertinya kita sok sibuk. Padahal sebagian waktu habis dalam genggaman dunia maya. Kita lebih pentingkan dunia maya dari pada dunia sesungguhnya kita, dunia nyata. Anak berbicara kepada ibu atau ayah. Mata ibu atau ayah tetap tertuju ke ponselnya. Suami berbicara kepada istri. Pikiran istri melantur mencari jawaban komentar di statusnya. Istri berbicara pada suami. Perhatian suami tak lepas dari cincin-cincin permata koleksi seseorang di facebook. Ibu atau ayah berbicara pada sang anak. Sang anak senyum-senyum tak jelas, ternyata lagi baca status-status temannya yang lucu-lucu.

So...bagaimana sebenarnya hidup kita ini. Sepertinya yang jauh lebih dekat. Yang dekat seperti terasa jauh. Gaya komunikasi macam apa ini. Orang-orang yang jauh walaupun kita tidak kenal. Karena medsos terasa akrab sekali. Tetapi anak, suami, istri atau orang tua kita. Hubungan terasa biasa-biasa saja. Bahkan terkesan apa adanya. Terasa kurang kehangatan dalam keluarga. Barangkali ini bagi keluarga yang sudah kecanduan akan dunia maya. Padahal dalam sebuah keluarga yang harmonis dan penuh kehangatanlah. Anak-anak akan tumbuh menjadi manusia yang penuh kehangatan dan punya empati kepada sesama.

Kira-kira apa yang mesti kita lakukan. Untuk mengurangi ketergantungan kita kepada gadget?

Pertama, atur jadwal ber-medsos
Pagi      : sekitar pukul 06.00 - 07.00
Siang    : sekitar pukul 13.00 - 15.00
Malam :  sekitar pukul 23.00 - 01.00
Ini sekedar bayangan saja. Kita bisa mengatur sendiri jadwal sesuai rutinitas kita masing-masing. Mula-mula barangkali terasa berat, tetapi kalau disiplin, yakin bisa.

Yang kedua, ketika keluarga kita berbicara, simpanlah smartphone kita. Agar komunikasi dua arah tercipta dengan baik. Yakinlah keluarga kita, anak kita, suami atau istri kita lebih butuh perhatian daripada orang-orang di dunia maya. Bermain, bercanda bersama anak dan keluarga adalah hal terindah di dunia. So, jangan dilewatkan, karna masa-masa indah itu takkan terulang kembali. Mereka akan tumbuh besar dewasa dan suatu saat akan meninggalkan kita. Maka nikmatilah saat-saat terindah ini.

Masih banyak lagi tips-tips yang bisa mengurangi kadar kecintaan pada dunia maya. Kita bisa memilih dan memilahnya untuk diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi kita masing-masing.

Semoga tulisan ini bermanfaat adanya.

Selasa, 10 Mei 2016

Mulutmu Harimau-mu

Mulutmu harimaumu
Sebelum berucap dipikir terlebih dahulu
Terlanjur terucap tak mungkin ditarik kembali
Maaf tak cukup
Harus ada sanksi
Turunkan !!!

Kudukung perjuangan kalian
Pantang langkah surut kembali
Darah muda bergejolak
Membakar semangat
Niat tulus merubah keadaan
Memberi harapan baru

Biarkan para pencemooh
Berceloteh seenak dengkulnya

Kamis, 21 April 2016

Antara R.A Kartini dan Cut Nyak Dien



Hari ini, 21 April, setiap orang mengenang jasa Raden Ajeng Kartini. Beliau dianggap sebagai pelopor emansipasi wanita di Indonesia. Yang memperjuangkan persamaan hak perempuan dengan laki-laki. Surat-surat beliau kepada sahabatnya, Rosa Abendanon, istri J.H Abendanon di Belanda. Menyatakan kegalauannya terhadap nasib kaum perempuan di zamannya. Salah satunya, karena tidak mendapat pendidikan seperti layaknya kaum lelaki.

Tetapi, pendidikan apa sebenarnya, yang dimaksud R.A Kartini pada waktu itu. Padahal, ketika itu pendidikan keagamaan, dalam hal ini agama Islam sudah diajarkan pada mereka, kaum perempuan. Apakah pendidikan ala barat? Ala Belanda?

Di sinilah, letak keheranan saya, kenapa, R.A Kartini yang nota bene bersahabat dengan orang Belanda, yang bangsanya pada saat itu menjajah bangsa kita. Menjadi seorang tokoh utama perempuan yang menjadi contoh bagi perempuan Indonesia. Bukannya Cut Nyak Dien, yang walaupun seorang perempuan, dengan gagah beraninya melawan Belanda dengan rencongnya di Tanah Aceh. Mengapa bukan Cut Nyak Dien?

Menurut saya, Cut Nyak Dien lebih pantas menduduki sosok pertama perempuan Indonesia yang patut dikenang jasa-jasanya daripada R.A Kartini. Cut Nyak Dien berani melawan dengan secara terang-terangan bangsa penjajah dan penindas dari bumi Aceh. Untuk mengusir para penjajah itu. Sedangkan R.A Kartini malah bersurat-suratan dengan orang Belanda pada saat itu. Walaupun, suratnya berisi tentang sesuatu yang dianggap berjasa bagi kaum perempuan. Tentang kesamaan hak. Tapi hak untuk apa? Bukankah, ajaran Islam sendiri telah mengangkat harkat dan martabat perempuan.

Bukannya saya tidak menghargai ataupun menganggap bahwa R.A Kartini tidak punya andil atau tidak berjasa dalam memperjuangkan hak perempuan. Tetap R.A Kartini punya jasa dengan ide-idenya untuk memajukan perempuan. Tetapi , Cut Nyak Dien sudah membuktikan bahwa dirinya sosok perempuan yang berani, tangguh dan pantang menyerah walaupun akhirnya ditawan oleh tentara Belanda. Cut Nyak Dien, menggambarkan betapa sosok perempuan, juga punya kapasitas melawan para penjajah. Bukan cuma kaum laki-laki saja.

Tapi, walaupun begitu. Saya menghormati dan mengucapkan "Selamat Hari Kartini" bagi yang memperingatinya. Tetapi, bagi saya, Cut Nyak Dinlah yang lebih pantas dan lebih layak untuk itu, mendapat posisi yang lebih utama di hati kaum perempuan Indonesia. Dan masih banyak tokoh-tokoh perempuan lainnya yang lebih layak tinimbang R.A Kartini. Mari belajar sejarah.

Minggu, 10 April 2016

Gejolak Hati Seorang Isteri



Malam ini terasa sepi. Rembulan di atas langit tertutupi awan yang cukup tebal. Bintang-bintang pun bersembunyi di balik awan. Suara desiran angin sesekali terdengar. Malam ini aku sendirian lagi bertemankan nyamuk-nyamuk yang pada reseh. Menggigit kakiku, tanganku dan semua yang tidak tertutupi. Sesekali kukibaskan tanganku untuk mengusir nyamuk-nyamuk nakal itu. Tadi siang aku lupa beli obat nyamuk. Padahal persediaan sudah habis. Aku tidak suka pakai kelambu, dengan alasan panas rasanya tidur di dalam kelambu.

Malam ini sudah sekian kalinya, suamiku, Daeng Arif, tidak menemaniku. Soalnya, ada tugas ke luar kota katanya. Dia ditugaskan dari kantor. Kuakui terasa sepi tanpa Daeng Arif di sisiku. Sepi ini begitu mencekam. Apalagi kami belum dikaruniai anak. Anak sang penyejuk mata. Kalau ada anak, mungkin rasa sepi ini takkan begitu kurasakan. Karena ada sang anak menemani. Entah mengapa, saya dan Daeng Arif belum dikarunia momongan. Padahal sudah empat tahun kami menikah. Kami sudah memeriksakan diri ke dokter kandungan. Tak ada masalah dengan kami berdua. Memang pernah ada kista di rahimku. Tapi kista itu sudah diangkat. Dan dokter menyatakan aku sehat dan siap punya anak. Kalau kami belum dikaruniai buah hati, barangkali belum rezeki kami.

Aku kenal Daeng Arif melalui sepupuku. Sepupuku, Maya, memang sangat besar perhatiannya padaku. Dia kasian padaku, yang sudah berusia mendekati kepala empat. Daeng Arif jauh lebih muda dariku. Sekitar lima tahunan jaraknya. Tetapi aku tidak mempersoalkan umur. Yang penting dia bertanggung jawab. Lagipula menurutku cinta tak mengenal perbedaan umur.

Tanpa melalui proses pacaran yang lama. Setelah berapa kali kami bertemu, Daeng Arif melamarku. Aku pun menerima lamarannya. Setelah melalui beberapa prosesi lamaran, kami menikah dengan pesta yang cukup meriah. Banyak kawan-kawan yang datang. Kami begitu bahagia.

Saat ini sudah hampir mencapai lima tahun usia pernikahan kami. Tapi yang dinanti belum juga ada tanda-tanda bakal kehadirannya. Aku merasa tertekan setiap ada yang tanya padaku. Sudah berapa anakmu, Hani? Tapi Daeng Arif, malah santai saja mendengarnya. Dia bilang, jangan hiraukan kata-kata mereka. Ada atau tanpa anak, dia bahagia hidup denganku. Entah terbuat dari apa hati suamiku. Begitu sabarnya dia. Saya kadang berfikir, sanggupkah suamiku dengan kondisi pernikahan seperti ini. Tidak punya keturunan. Bukankah, salah satu tujuan orang menikah itu, untuk memperoleh keturunan. Saya pernah bertanya seperti itu kepadanya. Apa jawab suamiku. Jawabnya, "Khan, kita bisa angkat anak. Anak tidak harus yang kamu lahirkan. Banyak anak yang terlunta-lunta di luar sana. Ada juga yang di panti asuhan. Me reka butuh kasih sayang kita. Suatu saat kita akan mengangkat salah satu dari mereka."

Rencana untuk mengangkat anak itu belum terlaksana sampai saat ini. Barangkali karena kesibukan Daeng Arif di kantornya. Kantornya buka cabang baru di tempat lain. Dan suamiku yang diamanahkan untuk mengurus segala sesuatunya. Mendapat kepercayaan dari kantor membuat Daeng Arif begitu bersemangat. Aku pun ikut senang mendengar hal ini. Bukankah suatu kesyukuran apabila kita mendapat kepercayaan dari orang lain. Apalagi dari pemimpin perusahaan tempat kita bekerja.

Begitulah, setelah mendapat amanah di kantor cabang baru itu. Daeng Arif semakin sibuk dengan pekerjaannya. Sering kudengar ada telpon dari kantor. Katanya ada urusan kantor mendadak. Maklum cabang baru. Jadi banyak urusan yang mesti diselesaikan.

Aku tak pernah curiga kepada Daeng Arif. Aku percaya pada suamiku. Bahwa dia lelaki yang setia. Lelaki yang tak mau menyakiti wanita, apalagi istrinya sendiri. Yah, aku sangat percaya padanya. Sampai suatu sore saya melihat hp suamiku yang tergeletak di atas meja dalam kamar tidur kami. Suamiku kebetulan berada dalam kamar mandi. Lagi mandi sore. Terdengar gemercik air dari dalam kamar mandi. Aku angkat hp itu, sepertinya ada panggilan. Tapi tidak terdengar bunyi panggilan. Ternyata hp itu disetting dengan mode diam. Aku lalu melihat sebuah nama perempuan tertulis di sana. ARYANI. Oh..Aryani. Siapa dia yah. Teman kantornya kah atau siapa? Aku tak tau.

Saat Daeng Arif keluar dari kamar mandi, kutanyakan siapa Aryani pada suamiku. Begitulah, aku terkadang tidak bisa menyembunyikan rasa penasaranku. Aku mesti dapat jawaban secepatnya, jika aku penasaran. Kalau tidak, aku bisa memikirkannya sepanjang hari. Mendengar pertanyaanku, Daeng Arif menjawab bahwa Aryani adalah karyawan baru di kantornya. Karena pekerjaan menumpuk, Aryani membawa pekerjaan ke rumahnya. Mungkin karena ada pekerjaan yang kurang dimengertinya, makanya Aryani menelpon suamiku. Aku mengangguk-angguk mendengar jawabannya. Walaupun terasa aneh kedengarannya. Mengapa suamiku yang slalu ditelponnya. Bukan karyawan lainnya. Apalagi ada beberapa karyawan lama yang juga pasti mengerti masalah-masalah seperti itu.

                    *****************

Malam ini suamiku pergi lagi. Aku merasa kesepian. Kucoba mengusir sepi ini dengan menonton televisi. Kuputar chanel 1, lalu ganti-ganti chanel . Tak ada yang menarik. Kuraih buku novel dari tempatnya. Kubuka lembaran pertama, lalu lembaran kedua. Seperti tak ada selera untuk membacanya. Kutaruh novel itu ke rak buku kembali. Akhirnya kuputuskan untuk segera tidur. Tapi mata ini tak mau terpejam. Aku bangkit dari tempat tidur. Menuju ke kamar mandi. Aku berwudhu dan kemudian kulangkahkan kakiku menuju mushalla mungilku. Di situlah tempatku, bermunajat kepada-Nya.

Setelah itu, aku merasa cukup tenang. Perasaan lega memenuhi ruang kalbuku. Aku telah menuangkan segala perasaanku. Tentang kegalauanku kepada Sang Maha Penyayang. Apapun yang terjadi ke depan. Semuanya akan kujalani dengan segala kepasrahan.

Kudengar ketukan pintu. Aku bangkit dan berjalan menuju ke pintu depan. Ke arah suara ketukan berasal. Kubuka pintu dengan perlahan. Dan kulihat suamiku berdiri di depan pintu. Kulihat dia begitu kuyuh. Barangkali dia begitu lelah bekerja. Aku kasian padanya. Lalu suamiku masuk. Dengan langkah gontai. Aku mengikutinya dan menanyakan apakah Daeng Arif ingin minum teh atau semacamnya. Daeng Arif bilang, "Tak usah, sayang. Engkau cukup lelah menungguku bukan?" Sambil tersenyum, aku bilang, "Ndak apa Daeng, khan cuman teh saja." Daeng Arif balas tersenyum.

Aku ke dapur. Tidak lama kemudian, aku membawa 2 gelas teh hangat di atas nampan. Satu untuk daeng Arif dan satu untukku. Setelah minum teh, daeng Arif lalu berkata, "Hani, aku mau tanya ke kamu." Saya jawab sambil tersenyum, "Langsung saja Daeng, tanya saja. Kok bertanya dulu."  Daeng Arif berkata," Oh, iyya. Bagaimana menurutmu, kalau aku sudah menikah lagi dek Hani."  Aku terperanjat mendengar pertanyaan itu. Aku sebenarnya sudah tau arah pertanyaan Daeng Arif. Tapi tetap saja aku kaget dan merasa terpukul. Kucoba menguatkan hatiku. Bersusah payah aku menahan air mataku untuk tidak tumpah. Tapi air mataku sepertinya tak dapat terbendung lagi. Aku menangis. Daeng Arif memelukku dan berusaha menenangkanku.

Setelah tangisku reda. Aku berkata kepada suamiku, "Sudah kuduga Daeng, sebenarnya selama ini aku sudah curiga. Tapi aku mau, Daeng  jujur kepadaku. Kenapa Daeng  tega melakukan semua ini padaku. Aku belum siap Daeng."  Daeng Arif menjawab, "Maafkan aku Dek
Hani, Aku tidak minta izin sebelumnya padamu. Aku takut kamu tidak mengizinkan aku menikah lagi. Aku melakukan ini karena aku ingin punya keturunan. Umurku sudah mulai menua, anak belum punya."  Dengan tersedu, aku membalas, "Aku khan sudah bilang Daeng, tapi Daeng selalu menyemangati aku. Rencana kita untuk angkat anak, gimana? Siapa yang punya usulan seperti itu? Daeng sendiri, khan. Ternyata sekarang Daeng ternyata sudah menikah lagi." Tangisku kembali pecah. Tak tertahankan. Sakit rasanya hati ini. Merasa dikhianati oleh orang yang kucintai.

Aku sedih dan juga marah. Aku menyuruh Daeng Arif meninggalkanku sendiri. Biarlah dia malam ini tidur di kamar tamu. Aku mau sendiri. Aku menutup pintu. Aku merasa terpuruk. Aku rebahkan badan di kasur. Menangis sejadi-jadinya. Sampai bantal menjadi basah karena air mata yang tumpah ruah, seperti tak ada habis-habisnya. Aku tak peduli mataku memerah dan bengkak karena tangisan ini.

Dini hari menjelang, kokok ayam jantan saling bersahutan. Aku masih menangis meluahkan perasaan. Aku bangkit menuju ke kamar kecil. Mau berwudhu. Seusai berwudhu aku menuju musholla. Ternyata Daeng Arif sudah ada terlebih dahulu di musholla. Dia sementara sholat. Aku tidak jadi ke musholla. Balik kembali ke kamar. Di kamar aku juga bisa sholat. Rasanya aku belum siap untuk bertemu dan berbicara lagi dengan Daeng Arif. Di atas sajadah, aku bersujud ke haribaan-Nya. Melepas segala duka yang kurasakan. Bertanya kepada-Nya, mengapa hal ini terjadi padaku. Mengapa? Sesuatu yang sangat menyakitkan dan mengiris hati. Tapi apa daya. Barangkali memang ini takdir yang harus kujalani. Menjadi istri pertama.

Paginya, suara ketukan di pintu kamar membangunkan aku. Ternyata daeng Arif. Suamiku lalu berkata, "Hani, saya mau berangkat dulu ke kantor, yah. Itu ada di atas meja sarapan buatmu. Pasti kamu lapar, dari tadi malam nangis terus." Aku tidak menjawab. Rasa sakit hati masih sangat terasa. Aku tak lapar. Dan tak mau makan. Terdengar bunyi mobil, Daeng Arif meninggalkan rumah menuju kantornya.

Aku keluar kamar. Menuju ke kamar mandi. Kuguyur badanku dengan air dingin. Kuharap kepalaku menjadi dingin. Demikian pula hatiku. Agar kemarahan dan kesedihanku mereda. Setelah mandi, badanku menjadi segar. Aku berfikir, tak mudah memang menerima kenyataan ini. Tapi semua sudah terjadi. Toh, ini bukan kesalahan Daeng Arif semata. Dia ingin punya keturunan. Bersamaku tak cukup. Butuh orang lain yang bisa memberikan keturunan buatnya. Oh. Tuhan...apakah aku sanggup menerima semua ini.

Menjelang magrib, suara mobil Daeng Arif memasuki halaman. Kubukakan pintu rumah. Tanpa menunggunya, aku balik ke kamar. Sekarang kamar menjadi tempat favoritku. Aku malas keluar. Terdengar suara pintu ditutup. Daeng Arif mengetuk pintu kamar. Minta diijinkan masuk. Aku kemudian membuka pintu. Dia membawakan aku makanan kesukaanku, gado-gado. Tapi aku tak lapar. Suamiku bilang, "Hani ayo kita makan gado-gado ini yah, Daeng juga belum makan nih." Aku jawab, "Aku tak lapar Daeng,"  Suamiku   bilang, "Klo begitu temani aku saja yah." Aku mengangguk.

Selesai makan, Daeng Arif berkata, "Hani, aku tau kamu marah. Dan aku mengerti mengapa kamu marah. Maafkan aku. Aku cuma ingin keturunan. Itu saja. Satu-satunya perempuan yang kucintai hanya kamu. Tapi aku tak kuasa menolak cinta Riyani. Dia yang selalu membantuku di kantor. Dia sangat baik padaku. aku berutang budi padanya. Dan yang terpenting, dia mau jadi isteri kedua. Dia akan menghormatimu sebagai isteri pertamaku." Aku kemudian menjawab, "Baiklah kalau begitu, Daeng.  Walaupun hatiku terasa sakit. Aku menerima semua ini yang penting Daengku harus adil." Daeng Arif memelukku dan berkata, "Terima kasih sayang, atas pengertiannya." Dan bulanpun meredup, di atas sana. Seperti merasakan derita hati yang belum sembuh dari sakit yang mendera.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Sudah menginjak dua tahun. Sejak Daeng Arif menikah lagi dengan Aryani.  Suamiku berusaha adil kepada kami berdua. Istri-istrinya. Tapi biar bagaimanapun perasaan sakit yang kurasakan. Tak pernah betul-betul sembuh. Sampai saat ini hubunganku dengan demadku - adek maduku belum bisa harmonis. Saya tidak mengerti mengapa disebut madu. Madu khan rasanya manis. Sesuatu yang menyenangkan. Ini??? Aku tak habis pikir dengan istilah itu. Begitulah hubunganku dengan Aryani, tak pernah betul-betul baik. Sering kami bepergian bersama. Menghadiri acara bersama. Tapi tak pernah ada komunikasi yang tercipta antara kami berdua. Daeng Arif sudah berusaha mendekatkan kami berdua. Tapi sepertinya, semuanya sia-sia. Ada yang mengganjal. Terutama dariku. Sepertinya, aku tak pernah betul-betul rela dimadu. Aku seperti dipaksa untuk menjalani kehidupan seperti ini. Tapi demi cintaku yang begitu besar pada suamiku, Daeng Arif. Aku mencoba bertahan. Walau ada wanita lain dalam kehidupan suamiku.

Sudah menginjak dua tahun pernikahan Daeng Arif dan Aryani. Mereka belum juga dikaruniai anak. Padahal suamiku sangat mendambakan keturunan. Pernikahannya dengan Aryani untuk memperoleh keturunan. Sesuatu yang belum didapatkannya melalui pernikahannya denganku. Sepertinya Daeng Arif mulai putus asa. Sampai kapan menanti dan menanti sang buah hati yang tak kunjung tiba.

Tiba-tiba, di suatu pagi yang cerah. Aku merasa mual. Kepala terasa pusing jika berdiri. Aku kira aku lagi masuk angin. Aku cari minyak kayu putih. Kuoleskan ke dahi dan perut. Rasa pusing agak mereda karenanya. Aku berbaring di tempat tidur saja. Menunggu Daeng Arif pulang. Tadi suamiku nelpon, dia merasa cemas. Katanya, dia mau cepat pulang. Kudengar bunyi suara mobil memasuki halaman rumah, Daeng Arif dengan langkah tergesa memasuki kamar. Daeng Arif bertanya, "Sakit apa Hani? Ayo kita ke dokter." Aku jawab, "Aku tak apa-apa, Daeng. Aku hanya pusing." Dengan lega, suamiku berkata, "Klo begitu, aku pijitin yah, supaya lekas sembuh. Tapi, besok kita ke dokter yah, periksakan kesehatan kamu." Aku bilang, "Iyye Daeng, besok kita ke dokter."

Keesokan harinya, aku bersama Daeng Arif ke dokter praktek langganan kami. Sebenarnya aku malas pergi ke dokter. Kalau aku sakit paling obatku madu sama minyak kayu putih. Tapi kali ini, karena tadi pagi berulang lagi mual muntahnya, Daeng Arif khawatir akan kondisiku. Setelah berbagai pemeriksaan kujalani. Hasilnya ternyata aku positif hamil. Haah...aku kaget campur bahagia. Lebih-lebih suamiku, dia langsung bersujud syukur. Akhirnya akan terwujud sudah keinginan dan impiannya. Punya keturunan.

Kami pulang dengan hati riang. Namun, ada ganjalan sedikit. Menurut dokter, aku harus menjaga baik-baik kandunganku. Apalagi umur yang sudah rentan. Kalau aku keguguran, bisa-bisa aku tidak bisa hamil lagi. Aku cuma pasrah. Tapi aku akan berusaha menjaga dan mempertahankan kehamilanku ini. Semoga bisa selamat. Insya Allah, aku akan mampu melewati semua ini.

Sejak mengetahui diriku hamil, Daeng Arif betul-betul sangat memperhatikan diriku. Dia tak memperbolehkan aku kecapean. Untuk itu dia mencarikan aku asisten rumah tangga yang bisa membantuku mengurus rumah dan memasak. Akhir-akhir ini, Deeng Arif lebih sering menemaniku. Dia lebih sering ada di rumah. Pernah kutanyakan kenapa Daeng Arif tidak pulang ke rumah Aryani. Dia bilang bahwa aku lebih membutuhkannya daripada Aryani. Waduh...sudah tidak beres ini. Bagaimana ini? Ini khan sudah tidak adil namanya. Lalu aku menyuruh Daeng Arif pulang ke rumah Aryani. Aku khawatir Daeng Arif berdosa dengan sikapnya. Aku khan takut kena imbasnya.

Daeng Arif meninggalkanku dengan hati kecewa. Sepertinya dia ingin menemaniku. Tapi apa boleh buat, dia punya isteri selain diriku. Yang harus dia datangi dan perhatikan juga. Sebagai seorang isteri yang baik. Tentu saja aku harus menjaga suamiku dari berbuat dosa. Tidak adil terhadap isteri itu perbuatan dosa. Peringatan Tuhan sudah jelas dalam firman-Nya. Seorang laki-laki bisa menikahi sampai empat perempuan yang penting bisa berlaku adil terhadap mereka. Kalau merasa tidak bisa adil, ya cukup satu saja.

Kehamilanku memang terasa berat. Apalagi ini yang pertama di usia yang sudah rentan untuk hamil. Tetapi mengingat, bayi yang kukandung, buah hati yang selama ini kami nanti-nanti. Semangatku berlipat-lipat. Aku bahagia dengan keberadaannya di rahimku. Aku rela merasakan apa saja. Demi dirinya, buah hatiku.

Aku rajin ke dokter memeriksakan kehamilanku. Setiap nasehat yang diberi kupatuhi. Berbagai suplemen dan vitamin yang diresepkan kulahap, demi kesehatan si bayi. Makanan bergizi pun demikian.

Maka, tibalah hari yang dinanti-nanti. Akan lahirnya si buah hati. Tetiba, aku merasa rasa sakit di perutku yang lain dari yang biasanya. Semakin lama semakin sering. Aku menelepon Daeng Arif. Daeng Arif pulang dan kemudian mengantarku ke rumah sakit bersalin.

Sesampai di rumah sakit, aku diperiksa katanya masih lama proses kelahirannya. Baru pembukaan pertama. Tapi aku merasa sangat kesakitan. Berbagai doa kulantunkan. Demi kelancaran kelahiran si buah hati. Aku jalan-jalan terus selama di rumah sakit. Semakin sering jalan. Katanya pergerakan bayi turun semakin cepat. Rasa sakit yang kurasakan karena bayi mencari jalan keluar. Tetiba, ada air yang mengucur membasahi kain sarung yang kupakai. Aku segera  memanggil dokter. Menanyakan apa yang terjadi. Katanya, air ketuban sudah keluar. Aku diperiksa lagi. Kata dokter, pembukaan sudah lengkap. Mulailah proses persalinan. Ternyata rasanya luar biasa. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sakit yang tak ada duanya. Hanya Nama-Nya yang tak henti-hentinya kusebut. Kupasrahkan segalanya.

Kemudian, terdengarlah tangisan bayi. Melengking, memecah kesunyian malam. Menandai dimulainya kehidupan baru. Kelahiran seorang bayi mungil yang membawa harapan baru dan kebahagiaan tak terlukiskan dengan beribu kata. Terutama bagi kedua orang tuanya. Yang telah lama mendambanya. Rasa sakit yang kurasakan seperti sirna seketika bersamaan dengan kelahirannya. Setelah dibersihkan dan diberi pakaian, bidan menyerahkan bayi lelaki itu kepada Daeng Arif.  Suamiku kemudian membacakan azan di telinga anak kami. Dia terlihat begitu bahagia menimang anaknya. Matanya kelihatan berkaca-kaca. Kemudian Daeng Arif menyerahkannya kepadaku. Lalu  dia berkata, "Terima kasih sayang, engkau telah berjuang. Anak kita normal dan sehat. Alhamdulillah. Kini, beristirahatlah."

Setelah aku cukup sehat, kami pulang ke rumah dengan perasaan bahagia. Apalagi sekarang, sudah ada si kecil di antara kami. Hari-hari jadi berwarna karena kehadirannya. Walaupun mesti begadang menunggui sang bayi tertidur, aku merasa senang. Apalagi ada sang ayah yang sangat perhatian sama anaknya. Di malam hari, tak jarang Daeng Arif, yang mengganti popoknya ketika aku kecapean.

Oh ya, suamiku sudah setiap hari selalu ada di rumah. Kenapa bisa. Khan ada isterinya yang lain. Begini ceritanya. Daeng Arif sepertinya enggan meninggalkanku yang lagi hamil. Aryani merasa bahwa Deeng Arif tidak mencintainya. Karena setiap Daeng Arif di rumah Aryani, hanya aku yang lagi hamil, yang jadi bahan pembicaraannya. Aryani merasa tidak tahan karena walaupun Daeng Arif berada di rumahnya, namun jiwa dan pikiran Daeng Arif bersamaku. Istri pertamanya. Akhirnya Aryani minta cerai. Walaupun dengan berat hati, Daeng Arif mengabulkannya.

Hari-hari selanjutnya kulalui dengan bahagia. Bersama anak dan suamiku. Walaupun, pernah terselip kisah sedih yang menghiasi perjalanan hidupku. Aryani pun demikian, kudengar sudah menikah lagi. Semoga diapun bahagia dengan kehidupan barunya.

Sumber Photo by Google.

By : Hamsinah Hamid