Kamis, 21 April 2016

Antara R.A Kartini dan Cut Nyak Dien



Hari ini, 21 April, setiap orang mengenang jasa Raden Ajeng Kartini. Beliau dianggap sebagai pelopor emansipasi wanita di Indonesia. Yang memperjuangkan persamaan hak perempuan dengan laki-laki. Surat-surat beliau kepada sahabatnya, Rosa Abendanon, istri J.H Abendanon di Belanda. Menyatakan kegalauannya terhadap nasib kaum perempuan di zamannya. Salah satunya, karena tidak mendapat pendidikan seperti layaknya kaum lelaki.

Tetapi, pendidikan apa sebenarnya, yang dimaksud R.A Kartini pada waktu itu. Padahal, ketika itu pendidikan keagamaan, dalam hal ini agama Islam sudah diajarkan pada mereka, kaum perempuan. Apakah pendidikan ala barat? Ala Belanda?

Di sinilah, letak keheranan saya, kenapa, R.A Kartini yang nota bene bersahabat dengan orang Belanda, yang bangsanya pada saat itu menjajah bangsa kita. Menjadi seorang tokoh utama perempuan yang menjadi contoh bagi perempuan Indonesia. Bukannya Cut Nyak Dien, yang walaupun seorang perempuan, dengan gagah beraninya melawan Belanda dengan rencongnya di Tanah Aceh. Mengapa bukan Cut Nyak Dien?

Menurut saya, Cut Nyak Dien lebih pantas menduduki sosok pertama perempuan Indonesia yang patut dikenang jasa-jasanya daripada R.A Kartini. Cut Nyak Dien berani melawan dengan secara terang-terangan bangsa penjajah dan penindas dari bumi Aceh. Untuk mengusir para penjajah itu. Sedangkan R.A Kartini malah bersurat-suratan dengan orang Belanda pada saat itu. Walaupun, suratnya berisi tentang sesuatu yang dianggap berjasa bagi kaum perempuan. Tentang kesamaan hak. Tapi hak untuk apa? Bukankah, ajaran Islam sendiri telah mengangkat harkat dan martabat perempuan.

Bukannya saya tidak menghargai ataupun menganggap bahwa R.A Kartini tidak punya andil atau tidak berjasa dalam memperjuangkan hak perempuan. Tetap R.A Kartini punya jasa dengan ide-idenya untuk memajukan perempuan. Tetapi , Cut Nyak Dien sudah membuktikan bahwa dirinya sosok perempuan yang berani, tangguh dan pantang menyerah walaupun akhirnya ditawan oleh tentara Belanda. Cut Nyak Dien, menggambarkan betapa sosok perempuan, juga punya kapasitas melawan para penjajah. Bukan cuma kaum laki-laki saja.

Tapi, walaupun begitu. Saya menghormati dan mengucapkan "Selamat Hari Kartini" bagi yang memperingatinya. Tetapi, bagi saya, Cut Nyak Dinlah yang lebih pantas dan lebih layak untuk itu, mendapat posisi yang lebih utama di hati kaum perempuan Indonesia. Dan masih banyak tokoh-tokoh perempuan lainnya yang lebih layak tinimbang R.A Kartini. Mari belajar sejarah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar