Kamis, 10 Maret 2016

ASMARA REMAJA




Sejak pertama Hani bertemu Kamil, gadis itu merasa ada rasa yang lain di hatinya. Terasa seperti ada dawai-dawai berdenting dengan merdunya. Setiap melihat Kamil, terasa hatinya berdebar-debar syahdu. Hani sudah berusaha mencoba menghapuskan segala rasa itu. Tetapi rasa itu tak kunjung jua bisa tercerabut dari hatinya. Satu hari tak melihat Kamil, rasanya seperti tak melihatnya berabad-abad lamanya. Bayangan sang pemuda tak mau lepas dari benaknya.

Ya...dialah Kamil. Pemuda yang membuat Hani kalang kabut. Dia yang telah membuat Hani jatuh hati. Timbul pertanyaan di hati Hani, seperti inikah rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama?

Kamil adalah kakak kelas Hani. Mereka bersekolah di sebuah SMA di kota Makassar. Sebuah sekolah favorit di kota ini, namanya SMA Garuda Nusantara. Kamil pemuda yang biasa-biasa saja, bahkan orangnya rada-rada cuek. Cuek dengan segala penampilannya. Berbeda dengan teman-temannya yang lain. Tau khan, gimana penampilan anak-anak SMA sekarang ini. Mereka sangat memperhatikan penampilan mereka. Tapi Kamil tidak, dia berbeda. Tapi justru disitulah letak keunikannya. Dan Hani suka.

Sudah sejak lama Hani suka sama Kamil. Tapi Hani tak pernah mengutarakan perasaannya pada siapapun. Bahkan pada sahabatnya sendiri, Yanti. Tapi lama kelamaan Yanti mulai curiga kepada Hani. Melihat perubahan sikap Hani. Menurutnya, Hani suka melamun akhir-akhir ini. Bahkan sering pula senyum-senyum sendiri. Tapi Hani belum mau terus terang kepadanya. Dan sahabatnya itu seperti biasanya, hanya tersenyum dan malah bersenandung menggoda: oow...oow siapa dia. Siapa yang telah merebut hati sahabatnya, Hani. Yanti tidak marah ketika Hani belum mau mengatakan padanya. Hani beruntung punya sahabat seperti Yanti, yang sabar dan mengerti dirinya.

Suatu saat Hani bertemu Kamil di depan kantin sekolah. Kamil sedang bersama temannya, Dani dan Alwi. Mereka memang sahabat baik. Di mana-mana, mereka slalu bersama. Mereka seperti trio kwek kwek kwek. Tanpa sengaja Hani melihat ke arah Kamil. Dan ternyata Kamilpun juga melihat ke arah Hani. Hani tersipu malu dan pura-pura tidak melihat pemuda itu. Ehm....

Sejak saat itu, setiap berpapasan, Kamil selalu menyapa Hani. Duh.. hanya disapa saja, Hani sudah merasa sangat bahagia. Apalagi kalau bisa lebih dekat dengan dia. Bisa ngobrol bareng, jalan bareng. Woow pasti lebih bahagia lagi.

Hari-hari yang terlalui terasa indah. Seindah pelangi di atas cakrawala. Penuh warna warni. Begitu indahnya. Perasaan Hani ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Melalui sahabatnya, Yanti, Kamil menitip salam padanya. Ternyata Kamil juga suka padanya dan  pemuda itu ingin kenal lebih dekat dengannya.

Bagaimana mungkin? Hani bertanya dalam hati kecilnya. Menurutnya, dia hanya gadis biasa. Masih banyak gadis yang lebih segala-galanya darinya. Mengapa Kamil memilihnya. Dia merasa seakan-akan itu hanya mimpi. Tapi, kenyataannya yang berbicara bahwa Kamil juga suka padanya. Kenyataan itu melambungkan perasaannya. Bagai terbang di langit yang indah.

Dan akhirnya, Hani mengakui kepada Yanti. Bahwa dia juga suka pada Kamil. Nah, pertanyaan Yanti selama ini terjawab sudah. Siapakah pemuda yang telah merebut hati sahabatnya. Ternyata Kamillah orangnya. Dan tentu saja Hani bersedia jika Kamil mau mengenalnya lebih dekat. Yanti menggodanya. Dan tak berhenti-henti menggodanya. Yanti bilang Hani beruntung. Katanya, Kamil orangnya baik. Tak pernah pacaran sebelumnya, dengan gadis manapun. Yanti kenal baik dengan Kamil. Mereka tetanggaan, bahkan berdekatan rumah. Kenyataannya saat ini, Kamil ingin kenal lebih dekat dengan Hani dan menjadikannya teman istimewanya. Tentunya, Hani adalah orang spesial.

Hari itu Hani berjumpa dengan Kamil di perpustakaan. Dia ternyata sendirian. Entah di mana Alwi dan Dani saat itu. Kamil mengajak Hani duduk di meja yang sama. Walaupun mereka duduk agak berjauhan. Jantung Hani terasa berdebar. Tak berani melihat ke arah sang pemuda pujaan. Kamil bilang kepadanya agar Hani santai saja. Dan menganggap dirinya sebagai orang yang sudah lama Hani kenal. Hanipun mengiyakan dan tersenyum malu.

Sejak saat itu, Mereka slalu bersama. Ke kantin, ke perpustakaan dan duduk-duduk di halaman sekolah. Selalu bersama. Tetapi mereka tidak pernah berdua. Mereka slalu bersama Yanti, sahabat Hani. Kecuali kalau Kamil menjemput Hani di rumahnya dan mengantar Hani kembali ke rumahnya sepulang sekolah. Orang tua Hani bahkan sudah mengenalnya dengan baik karena seringnya Kamil mengantar dan menjemput anak mereka.

Walaupun Kamil telah menjadi teman spesial Hani. Kamil tak pernah menyentuh Hani satu kalipun. Dia begitu menghormatinya. Ternyata dari ibunyalah, dia mendapat nasehat untuk menghargai wanita. Sebenarnya ibunya pernah mengatakan padanya untuk tidak pacaran, atau memiliki teman spesial perempuan. Pesan ibunya bertemanlah sebanyak-banyaknya, jangan pacaran. Tapi, kata Kamil, dia tak kuasa menepis perasaannya bahwa dia menyayangi Hani..duh so sweet.

Suatu saat pada musim liburan, Kerohanian Islam (Rohis) di mushollah sekolah mereka mengadakan semacam pesantren kilat. Hani serta Kamil pun mengikuti acara tersebut. Selama tiga hari acara tersebut diadakan. Di dalam acara pesantren kilat itu ada materi yang membahas tentang batas-batas pergaulan antara lelaki dan perempuan dalam Islam. Materi itu membuat mereka merasa tersentil. Tapi, Kamil masih mengantar dan menjemput Hani pulang. Sebenarnya sesuatu telah berkecamuk di hati Hani. Bahwa apa yang Hani jalani bersama Kamil adalah hal yang salah. Sudah melanggar batas. Bersama-sama selalu, walau ada teman yang lain. Berboncengan dengan Kamil. Padahal Kamil bukan mahramnya. Aaah... Hani merasa pusing. Antara cinta dan perasaan bersalah. Entahlah, Hani tak tahu, apakah Kamil juga merasakan apa yang dia rasakan.

Suatu hari Hani, Kamil dan teman-temannya yang lain, lagi duduk-duduk nyantai di kantin. Sambil menikmati bakso spesial buatan mbak Ida sang pengelola kantin. Kamil mengutarakan sesuatu kepada Hani. Ternyata dia ingin memutuskan hubungannya dengan Hani. Tapi katanya dia takut kehilangan Hani. Menurut Kamil, Hani begitu berarti buat dia. Tapi dia sadar bahwa ini semua harus diakhiri. Karena hubungan mereka telah melanggar batas-batas pergaulan antara perempuan dan laki-laki. Mereka berdua bukan mahram. Tetapi sering bersama. Kalau mau tetap berhubungan. Lebih baik menikah dulu. Agar tidak terjebak lebih dalam lagi dalam kubangan dosa. Memang saat ini mereka masih mampu untuk mempertahankan kesucian diri. Tetapi sampai kapan. Sedangkan setan selalu mencari-cari kesempatan untuk menjerumuskan manusia.

Haah...menikah? Pikir Hani, mana mungkin mereka menikah. Mereka masih sekolah. Masih duduk di bangku SMA. Tidak mungkin mereka menikah saat ini. Dan tidak mungkin orangtua mereka mengijinkan. Lagipula Hani mau kuliah dulu, Kamil pun demikian. Mereka sudah berencana habis kuliah, cari kerja. Setelah dapat kerja baru mereka menikah. Bagi mereka tak usah punya rumah dulu. Ngontrakpun bolehlah. Sejauh itu sudah rencana mereka berdua. Mereka serius menjalani hubungan. Saling memperhatikan dan saling menjaga. Jadi sekarang, gimana dong? Betul-betul pusing ketika menghadapi dua pilihan yang sama beratnya. Putus hubungan atau nikah. Tapi melihat sìkon dan kenyataan yang ada. Sepertinya keputusan untuk memutuskan hubungan lebih realistis untuk ditempuh.

Hani sampai meneteskan airmata menandakan betapa sedihnya dirinya. Malah Hani sampai terisak-isak, tak kuasa menahan tangis. Tapi Hani sadar. Cepat atau lambat, hal ini akan diungkapkan Kamil juga. Sama seperti dirinya yang akan menyatakan hal yang sama. Tapi ternyata Hani tak tega dan sepertinya belum rela berpisah dari Kamil. Hanipun menyatakan kepada Kamil sungguh berat melepas kekasihnya itu. Tapi kalau memang hal ini harus terjadi. Hanipun pasrah.

Merekapun berpisah baik-baik. Kamil berkata agar Hani menjaga dirinya baik-baik. Kalau mereka memang berjodoh maka Tuhan akan menyatukan mereka kembali.

Begitulah akhir kisah Hani bersama pemuda pujaan hatinya. Mereka berdua menyadari tidak semestinya hubungan asmara antara lelaki dan perempuan terjalin, sebelum diresmikan dalam sebuah pernikahan. Dan satu hal yang pasti, keduanya, Hani dan Kamil tak ada yang merasa tersakiti. Karena keputusan untuk berpisah dan mengakhiri hubungan mereka dilandasi oleh kesadaran. Kesadaran mereka untuk menjadi insan-insan yang taat kepada yang memberi anugerah cinta  yang indah itu. Allah Arrahman Arrahim.

Rasa cinta tak pernah salah
karena cinta itu anugerah
Tetapi letakkanlah rasa cinta itu
di tempat yang semestinya
dan di saat yang tepat

5 komentar:

  1. Hwuaaaa... sedihnya.

    Bagus tuh keputusannya Hani & Kamil.

    BalasHapus
  2. Makasih mbak Ahliah Citra. Sudah berkunjung ke blogku.
    Ceritanya sedih yah...hehe...
    Insya Allah, itu keputusan yang terbaik untuk mereka berdua 😊

    BalasHapus
  3. INGIN CEPAT JADI JUTAWAN YUK MARI GABUNG SEKARANG JUGA

    KharismaPokerMenjadiSitusBandarQOnlineTerprcayaIndonesia

    Promo yang diberikan :

    Minimal DP dan WD Rp. 20.000.
    Support bank lokal : BCA, BNI, BRI, MANDIRI, dan DANAMON.
    Bisa dimainkan di iPhone, Android, PC / Laptop.
    Online 24 jam setiap hari meskipun hari libur nasional.
    Memiliki link alternatif : KharismaPoker.net.
    CS nya banyak , jadi pelayanannya cepat.
    Bonus REFERRAL 20% setiap minggunya.
    Bonus CASHBACK 0,5% setiap minggunya.
    Contact resmi kharismaPoker :

    Telp :+85588278896
    BBM;dc7cdd80

    BalasHapus
  4. INGIN CEPAT JADI JUTAWAN YUK MARI GABUNG SEKARANG JUGA

    KharismaPokerMenjadiSitusBandarQOnlineTerprcayaIndonesia

    Promo yang diberikan :

    Minimal DP dan WD Rp. 20.000.
    Support bank lokal : BCA, BNI, BRI, MANDIRI, dan DANAMON.
    Bisa dimainkan di iPhone, Android, PC / Laptop.
    Online 24 jam setiap hari meskipun hari libur nasional.
    Memiliki link alternatif : KharismaPoker.net.
    CS nya banyak , jadi pelayanannya cepat.
    Bonus REFERRAL 20% setiap minggunya.
    Bonus CASHBACK 0,5% setiap minggunya.
    Contact resmi kharismaPoker :

    Telp :+85588278896
    BBM;dc7cdd80

    BalasHapus