Selasa, 08 Maret 2016

Bagi Outlet Tri yang Terbaik



Tidak pernah terlintas dalam fikiran, pengguna TRI bisa melonjak seperti sekarang ini. Padahal dulu, jangankan pakai TRI, melirik ke kartu TRI pun, mereka enggan. Mereka hanya mau memilih kartu Telkomsel atau yang lainnya. Kanvaser-kanvaser TRI bahkan pernah ditolak outlet karena produk TRI tidak laku untuk dipasarkan.

Tapi perlahan-lahan TRI, merangkak bahkan berlari, mengejar pesaing-pesaing yang lainnya. Penjualan produk TRI semakin meningkat. Bisa dikatakan sekitar 50% penjualan dari outlet berasal dari penjualan produk TRI. Bahkan bisa melebihi 50%. Produk TRI itu berupa voucher pulsa, voucher kuota internet dan kartu perdana internet.

Papan klasemen operator seluler di Indonesia versi GSMA Intelegensi hingga kuartal ketiga 2015 lumayan mengejutkan. Dikutip dari blog Mobile World Live (28/9), penguasa pasar seluler di Indonesia masih dikuasai Telkomsel dengan penguasaan 45%. Indosat di posisi runner up, dengan penguasaan 18%, TRI di peringkat ketiga dengan penguasaan 14,4%, sedangkan XL berada pada posisi keempat dengan penguasaan 14%.

TRI menempati peringkat ketiga mengalahkan XL yang menempati peringkat keempat atas penguasaan pasar seluler Indonesia. Hal ini disebabkan peningkatan penjualan produk TRI yang begitu pesat. Mengapa penjualan produk TRI melaju dengan kencang, terutama kartu perdana internetnya. Karena TRI mengeluarkan produk Kartu Perdana internet yang berlaku 1 tahun, yaitu paket Always On 12 atau AON 12 dengan pilihan besaran kuota yang cukup lengkap, mulai dari 1 gb sampai 10 gb. Bandingkan kartu TRI yang masa aktif kuotanya berlaku 1 tahun, dengan operator lain yang paling lama masa aktif kuota hanya sampai 3 bulan. Sebenarnya sih, berapa lama kuota habis itu tergantung pemakaian. Tapi karena berlakunya 1 tahun, pelanggan bisa santai menggunakannya tanpa khawatir masa aktif kartu habis.

Selain masa aktifnya panjang, kartu TRI juga tergolong lebih murah dibandingkan dengan kartu operator lain. Kenapa? Karena produk kartu perdana internet TRI sangat melimpah. Setiap outlet berlomba-lomba mengaktifkan kartu karena dari setiap kartu atau voucher kuota yang diregistrasi akan mendapatkan point yang namanya duitri dan kointri. Duitri ini dikumpulkan selama 4 bulan. Dan ketika mencapai duitri 7000, berhak mengikuti acara karnaval. Sebenarnya dulu, apabila outlet sudah mencapai 4000 duitri, sudah bisa mengikuti karnaval. Baru beberapa musim terakhir ini, naik menjadi 7000 duitri. Outlet yang tidak mencapai duitri 7000 disarankan untuk menukar duitri menjadi kointri. Kointri ini bisa dibelanjakan di toko-toko yang telah ditentukan, kapan saja.

Pada awal Pebruari 2016 telah diselenggarakan acara Karnaval TRI yang ke- 10. Acara Karnaval TRI diadakan lima bulan sekali. Di acara karnaval inilah, pemilik outlet menukarkan duitri dengan berbagai macam barang. Sesuai dengan jumlah duitri yang telah dikumpulkan oleh outlet. Barang yang tersedia dari handphone seluler sampai mobil. Jika duitri dikonversi ke dalam rupiah, barang yang berupa mobil maupun motor, lebih murah dari harga toko. Karena barang langsung didatangkan dari Jakarta.

Dengan adanya program ini, banyak pemilik outlet, yang sudah punya mobil. Karena pemilik bisa melunasinya dalam waktu satu musim, satu musim itu 4 bulan, bisa pula diinden. Maksudnya inden itu, musim pertama membayar sebagian, dan musim selanjutnya dilunaskan. Jadi kurang lebih 8 bulan perburuan duitrinya, sudah bisa dapat mobil. Dan menariknya, mobil yang diinden lebih murah dari mobil yang langsung dilunaskan dalam waktu satu musim saja.

Program perburuan duitri ini menyebabkan persaingan sangat ketat antar outlet. Karena masing-masing outlet ingin menjual sebanyak-banyaknya kartu internet TRI demi mencapai target duitrinya. Apalagi ada juga peringkat-peringkat outlet, ada divisi 1 atau divisi utama, divisi 2 dan terakhir divisi 3. Divisi 1 atau divisi utama harus mencapai duitri 100.000, divisi dua harus mencapai 40.000 duitri dan divisi tiga mesti mencapai 10.000. Jika tidak mencapai target berarti turun peringkat. Menariknya setiap divisi memiliki bonusnya masing-masing. Divisi 3 bonusnya 10%, divisi 2 bonusnya 15%, divisi 1 atau utama bonusnya 20% dari total duitrinya.

Semakin tinggi divisi, outlet semakin mudah menentukan harga yang kompetitif di tengah persaingan outlet yang ada, karena adanya bonus divisi. Apalagi outlet-outlet smakin menjamur, seperti halnya toko-toko klontongan. Untuk mencapai target divisi itulah outlet berlomba-lomba untuk mengaktifkan kartu internet agar dapat mencapai divisi tertinggi. Akibatnya harga barang ditekan habis. Ada yang bilang terjadi perang harga. Harga kartu perdana internet TRI terkadang tidak masuk akal. Sangat murah bahkan ada yang bilang terkesan murahan. Tapi disitulah letak kelebihan operator TRI mampu menciptakan program yang mampu mendorong outlet untuk berlomba-lomba meningkatkan produktivitasnya. Dimana Reward-nya sangat menjanjikan. Ketika operator lain membuat program untuk outlet, hanya outlet-outlet tertentu yang bisa memperoleh hadiah mobil atau motor misalnya. Tetapi di TRI, setiap outlet mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh apa yang diinginkan tergantung dari pencapaian poin atau duitrinya.

Satu hal yang sampai saat ini dibanggakan outlet dari TRI. TRI tidak pernah mengecewakan outlet-outlet yang mengikuti programnya. Tidak seperti operator lain, yang kadang reward-nya tidak seperti yang telah dijanjikan sebelumnya. Makanya, outlet sangat setia kepada TRI dalam mengikuti program-programnya.

Namun, dibalik keunggulan TRI, terdengar keluhan tentang lalod atau lambat loading-nya jaringan TRI. Jaringan tidak merata di semua tempat. Kartu-kartu yang diregistrasi terkadang gagal SIM alias kartu SIM tidak dikenali. Kartu-kartu yang telah diisi paket data nihil kuota. Hal ini menjadi PR buat operator TRI agar segera mungkin membenahi persoalan yang ada sehingga pelayanan terhadap konsumen dapat dioptimalkan. Agar konsumen puas dan menjadikan TRI sebagai pilihan utamanya. Kalau tidak ditangani dengan baik, tidak mustahil konsumen akan pindah ke operator seluler lain yang lebih bagus jaringannya dan kartunya dipastikan tidak zero kuota.

Hamsinah Hamid Dg. Lu'mu
Meta Cell Makassar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar