Kamis, 09 Juni 2016

JURUS MABUK XL AXIS



Horee...hari ini ada program internet murah AXIS lagi. Siap-siap aktivasi kartu nih. Mumpung lagi ada programnya. Tahu tidak. Hari-hari biasa, harga paket internet AXIS juga mahal. Walaupun, tidak semahal XL saudara tua AXIS.

Nah, ini kesempatan, mengaktifasi kartu internet AXIS. Kemudian memasarkannya dengan harga bersaing. Karena tidak semua outlet tahu program ini. Jadi jangan heran jika di outlet tertentu, harga kartu perdana internet AXISnya lebih murah dibandingkan dengan outlet lainnya.

AXIS yang satu payung dengan XL setelah diakuisisi oleh XL Axiata, punya program internet murah setiap rabu dan jum'at. Kalau rabu digelari Rabu Rawit dan jum'at disebut Jum'at Baik. Caranya dengan mengisi pulsa pada kartu. Lalu paket datanya diaktifkan. Banyak konsumen yang sudah tahu program AXIS ini. Dan mengisi paket datanya sendiri. Tetapi ada pula konsumen yang senang beli kartu perdana internet baru. Walaupun mesti ganti-ganti kartu.

Kecenderungan konsumen yang tidak mau repot. Beli pulsa dan daftar paket. Tentu saja dilatarbelakangi oleh beberapa hal. Hal yang pertama, takut salah daftar paket. Kedua, harga kartu perdana internet tidak jauh beda dengan kalau isi paket data sendiri. Bahkan terkadang lebih murah. Ketiga, tidak sembarang waktu atau hanya waktu tertentu saja bisa daftar paket murah. Padahal kuota data habis di luar rabu dan jum'at.

Kebutuhan kartu perdana internet AXIS yang cenderung stabil bahkan cenderung meningkat. Apalagi harga paket internet XL saudara AXIS meroket tajam. Membuat outlet menggunakan kesempatan program Rabu Rawit dan Jum'at Baik. Untuk mengaktifasi kartu Perdana internet AXIS sesuai kebutuhan outlet.

Sebenarnya di luar rabu dan jum'at. Ada hari lain dimana outlet bisa mengaktifasi kartu internet AXIS dengan harga murah. Seperti yang telah diutarakan di awal tulisan. Tetapi jarang yang tahu kecuali outlet besar atau outlet yang punya hubungan baik dengan kanvaser. Beda dengan Rabu Rawit dan Jum'at Baik, sering ada SMS pemberitahuan di handphone konsumen. Satu hari sebelum rabu dan jum'at.

Tidak semua outlet mengaktifasi sendiri kartu perdana internet AXIS. Banyak juga outlet yang beli barang jadi. Dari outlet besar ataupun dari para broker. Dengan harga mendekati modal dasar. Sehingga harga jual kartu internet di outlet yang bersangkutan menjadi hampir sama dengan outlet yang produksi sendiri. Tetapi menjadi kepuasan tersendiri ketika bisa menjual produk yang diaktifasi sendiri. Persediaan produk pun bisa terjaga. Karena tidak tergantung dengan pemasok. Dan Kartu internet pun bisa bervariasi.

Bukan tidak beresiko mengaktifasi kartu perdana internet AXIS. Resiko yang pertama, salah tembak paket data. Misalnya paket data 2 GB yang kita inginkan, dengan harga 19.900. Yang tertembak 1 GB, dengan harga 9.900. Sehingga, harus ditransfer pulsa yang tersisa. Dan sisa pulsa yang tersisa harus lima ribu rupiah. Jadi kalau sudah begitu, mau dijual berapa? Yang kedua, sistem transfer pulsa. Karena kartu perdana AXIS berisi pulsa 3.000. Maka ketika mau mengaktifkan paket data 2 GB seharga 19.900 harus ditransfer pulsa 16.900. Dengan biaya transfer pulsa 1.000. Kalau salah transfer bisa-bisa ongkos transfer dobel. Artinya, bertambah biaya aktifasi atau modal kartu perdana internetnya.

Bukan satu dua kali terjadi hal seperti di atas. Ketika melakukan aktifasi data AXIS. Tetapi bukan wirausaha namanya ketika menghadapi resiko, mundur dan menyerah. Resiko buat dihadapi. Bahkan bisa menjadi penyemangat. Karena faktor resiko bisa jadi adalah anugerah. Ketika orang lain menyerah menyadari resiko yang ada. Tetapi kita mampu mengelola resiko dan mengubahnya menjadi rezeki. Dengan kehati-hatian dan konsentrasi penuh. Semua resiko, insya Allah dapat terhindarkan.

Tidak seperti operator lain, yang program paket internetnya sudah pasti. Operator XL seperti menggunakan jurus mabuk. Paket internetnya tiap harinya bisa berubah. Seperti ketika sebulan lalu paket data XL 5 GB seharga 50.000 sekarang paket data XL 3 GB seharga 65.000. Demikian pula, AXIS yang bisa berubah harganya kapan saja. Ini saja tiap Rabu dan Jum'at. Bisa beda-beda paket yang muncul. Kadang kita mengharap yang ada paket 2 GB. Karena kartu perdana internet 2 GB sudah habis. Ternyata yang ada paket data 5 GB. Begitulah. Bikin penasaran. Dan membuat kita mesti standby. Siap-siap dengan kemunculan paket-paket data internet yang tak terduga.

Sebagai tukang registrasi kartu, mesti siap sedia bergelut dengan tumpukan kartu. Meregistrasi kartu, mentransfer pulsa dari kartu perdana satu ke kartu perdana lain. Kemudian mengaktifkan paket datanya. Dengan diselingi pekerjaan rumah yang seakan tak ada habisnya. Enjoy dan menikmati semua aktivitas itu. Anugerah dari Tuhan Sang Maha Pemberi Rezeki. Semoga berkah adanya.

Hamsinah Hamid Dg. Lu'mu
Meta cell Pampang

Minggu, 29 Mei 2016

Rajaku Bernama Coto Makassar


Entah harus marah pada siapa, asu-dahlah. Gampang saja mengangkat jari telunjuk siapa yang bisa disalahkan, dan pihak lain akan dengan enaknya merasa benar dan punya hak lebih, begitu pula sebaliknya. Sudah jadi lingkaran para setan, ehh pammoporanga, lingkaran setan.

Inakke, bukan ji keturunan karaeng lompo tapi bukan juga ji keturunan ata. Begitu kata tettaku almarhum. Tapi bukan itu poinnya.

Yang terpenting, dan tidak terbantahkan adalah saya lahir dan besar di Gowa. Tetta dan ammaku juga lahir dan besar di Gowa. Jadi darahku selain bergolongan darah B secara medis, juga bergenetika Makassar. Titik.

F
Jadi pantaslah ada rasa yg seakan ingin selalu meledak, meski saya sering mengabaikannya bahkan menahannya, ketika melihat hal-hal yg berkaitan dengan Makassar. Itulah primordialisme, assahbiyah. Wajar-wajar saja, kalau proporsional.

Lebih-lebih ketika melihat kejadian mutakhir. Ada bupati yg sekaligus ingin menjadi ràja; raja baru yg dilarang masuk istana dan terpaksa dilantik di hotel. Itulah headline berhari-hari yg kian menggerus nilai-nilai keMakassaran. Asu-dahlah pasti muatannya negatif. Dan yakin saja, secara statistik, dampaknya adalah makin banyak orang Makassar yg malu bahkan enggan mengakui kemakassarannya.

Asu-dalah
Rasa inilah yang mungkin disebut pacce. Masih ada sedikit pacce. Ahh, kenapa rasa ini tidak hilang saja. Biar hidup bisa enjoy-enjoy saja.

Bukankah Gowa yg dulu digjaya itu memang sudah takluk. Dan semuanya hanya tersisa sejarah manis di masa lalu dan skarang sisa pahitnya belaka, seperti kopi yang tidak ori lagi karna sudah dipadu jagung. Bahkan sudah kw1 hingga kw2.

Apakah memang para karaeng lebih asik-mansuk dengan hedonisme politik tanpa peduli pada masalah nilai ke-Makassaran yang lebih mendasar. Persoalan yg perlu dibangun menurutku adalah bagaimana orang Makassar banģga dengan kemakassarannya, dan saking hebatnya, orang luar Makassar pun latah mengaku-aku orang Makassar. Itulah yg perlu dibangun dan diperjuangkan. Bukan sebaliknya.

Asu-dalah. Lebih enak menyantap coto makassar. Kuliner yg tidak ada duanya, menurut saya. Assabiyah lagi. Bahkan mengalahkan rendang padang hingga spagetti itali . Tak mengapa dianggap subjektif, karna memang saya orang Makassar, dan lagi pula lidah saya jujur mengakuinya.

Biar mi tensi darah agak tinggi pun dokter melarangnya, tak mengapa mencicipi Coto Makassar. Kan, adaji jeruk nipisnya sebagai penyeimbang. Makanya, kalo sudah berhadapan semangkok coto, jangan buru-buru ditaburi garam  atau dialiri kecap. Tapi yang mula-mula adalah menghujaninya dengan perasan jeruk nipis.

Bumbu Coto Makassar juga menyehatkan. Empat puluh jenis rempah beradu-tak-mau-kalah ingin menyehati penikmatnya. Biar mami belum ada penelitian ilmiah. Tapi setidaknya itu yg saya rasakan. Pun banyak orang jujur mengakuinya.  Cukup manggut-manggut kalo setujuki ato senyum-senyum simpul juga bisa.

Biar tanggal tua, beli saja Coto Makassar, paling tidak setengah daging ato kuahnya saja. Baru jangan ki lupa minta tambah lagi kuahnya. Gratis ji toh. Ketupatnya mo saja banyak-banyak dibeli. Dijamin membuat kita bertenaga. Apalagi kalo demam biasa ji daeng, amba mi saja Coto Makassar dua mangkok, baru pigi tidur dengan tiga lapis selimut. Insya Allah sehatki. Tapi tolong digaris bawahi kata insya Allah nya, bukan cotonya. Itulah istimewanya Coto Makassar.

Asu-dalah. Daripada pusing kepala berbi memikirkan kisruh raja gowa. lebih baik kuangkat rajaku sendiri, akan kulantik sendiri dalam batinku. Akan kuserukan aru kesetiaanku. Engkaukah rajaku Coto Makassar, karaengku Coto Makassar. Catat, bukan Soto Makassar apalagi Coto Ujungpandang. Tapi sekali lagi Coto Makassar.

Kenapa engkau kuangkat menjadi rajaku, Coto Makassar. Karena engkau ada di mana-mana di nusantara ini. Pengaruhmu begitu besar. sebagaimana dahulu kerajaan Gowa pengaruhnya ada di mana-mana. Engkaulah representasi sekaligus pelanjut tak terbantahkan dari kedigdayaan Gowa-Tallo (Makasar) zaman dulu.

Bahkan engkau lebih stabil dan tidak uring-uringan terpikat kepentingan politik seperti mereka.

Terimakasih Coto Makassar telah mengabadikan Makassar. Nama Makassar

Alfatihah selalu kepada para penemu, peramu, chef, dan penyebar Coto Makassar.

Keberuntungan dan keberkahan senantiasa kepada para penjual Coto Makassar

Pun kelimpahan dan kesehatan selalu menghampiri para penikmat Coto Makassar

Asu-dalah. Akan kucoba menelusuri seluruh aroma coto di setiap warung, bahkan ke warung Coto Maros sekali pun. Apa pun minumannya makanan favoritnya pasti Coto Makassar

Oleh :
Rajab Sabbarang

Jumat, 27 Mei 2016

Tas Pilihan



Ketika melihat adik saya menggunakan tas yang bermerk. Yang harganya beratus-ratus ribu rupiah. Saya bilang walaupun saya punya uang banyak, saya tidak akan membeli tas semahal itu. Banyak kok, tas murah tapi bagus. Khan, suatu barang itu yang penting fungsinya. Bukan harga maupun merknya.

Adik saya bilang kenapa dia beli tas yang bagus dan bermerk seperti itu. Karena lingkungan keluarga suaminya dari kalangan menengah ke atas, yang nota bene punya selera tinggi. Saya bilang kenapa ikutan selera mereka. Kita mesti tampil beda. Mestinya kita memilih barang bukan karena merknya tetapi karena fungsi barang itu.

Teringat perkataan terhadap adik saya. Membuat saya malu sendiri. Karena akhirnya, saya terpaksa beli tas yang agak punya nama di dunia per'tas'an di Indonesia. Bukan karena merknya. Tetapi, karena sudah tidak percaya dengan berbagai macam tas yang ada. Sudah berapa kali beli tas, yang saya harap berumur panjang. Ternyata ada-ada saja yang rusak. Resleting tak bisa terkancinglah, talinya putuslah.

Tas-tas itu ada yang murah meriah, ada juga yang agak mahal. Tetapi ternyata sama saja. Saya agak kecewa dengan kenyataaan seperti itu. Kok tas murah dan tas mahal sama saja. Gampang rusak. Cukup lama saya tidak pakai tas ketika bepergian. Kadang hanya pakai dompet plastik yang serupa tas. Dan kalaupun harus pakai tas. Saya pakai tas yang rusak resletingnya itu. Kadang terganggu juga pakai tas yang rusak resletingnya. Sedikit-sedikit mesti dilihat isi tasnya.

Melihat berbagai macam tas yang berseliweran di dunia maya. Membuat hati kepincut. Tapi rasa khawatir menggelayut. Jangan sampai tidak sesuai yang diharapkan. Menarik juga sebenarnya. Apalagi tasnya bagus-bagus. Sambil melihat detil harga. Mana-mana yang sesuai isi kantong. Tapi seperti tidak puas rasanya kalau beli suatu barang tanpa melihat dan memegang serta mengangkat-angkatnya. Hehe..kebiasaan saat belanja offline.

Saya tidak jadi belanja online. Karena itu tadi, barangnya tidak hadir nyata dihadapan untuk dipilih. Saya kemudian bertanya dalam suatu group WhattUpp. Saya tanyakan tas apa yang murah dan bagus. Teman saya menyebutkan merk tas yang lumayan terkenal. Dan aku senyum kecil, ternyata merk tas yang sama dengan tas adikku. Nah lho. Katanya sudah 10 tahun dia beli tas merknya seperti itu tapi masih bagus. Saya berterima kasih atas rekomendasinya. Dan bilang kepada sang teman, insya Allah, kapan-kapan saya ke show roomnya

Terbayang ucapan kepada adik saya. Saya seperti menjilat ludah sendiri. Kalau beli tas bermerk. Yang harganya lumayan mahal. Tapi terlanjur kecewa dengan tas-tas yang pernah saya beli. Saya bilang ke suami. Saya mau beli tas merk ini. Ada yang rekomendasikan bagus dan tahan lama. Suami setuju. Katanya, hadiah buat saya yang rajin buat paket internet. Maklum, kerja suami jualan pulsa, paket data dan teman-temannya. Dan aku kerjanya selain, ibu rumah tangga, ikut bantu-bantu suami. Alhamdulillah, kalau begitu. Kata suami, yang penting harganya tidak lebih dari sekian-sekian..ssst rahasia berapa nominalnya.

Pada siang menjelang sore itu, saya masuk show room tas. Saya berharap semoga harga tas yang tersedia, tidak lebih dari yang telah ditentukan. Sambil melihat-lihat dan memegang tas. Saya periksa harganya. Saya terbelalak melihat harga-harganya. Mahal amir. Eh mahal amat. Tambah mahalki di'. Tidak adami harga ta' duaratus ka. Dua kali lipatmi. Kayaknya, gagalki ini rencana beli tas klo begini. Sambil keliling-keliling, saya memeriksa label harga di setiap tas itu. Masih berharap ada yang harganya lebih murah di antara tas yang sangat mahal harganya menurut saya. Belum tentu, menurut ibu-ibu yang lain lho. Tergantung kondisi kantong barangkali, yah.

Setelah, memeriksa sana memeriksa sini. Saya temukan tas yang lumayan bagus. Warna cream. Dan harganya paling murah. Banyak yang bagus-bagus tapi mahalll. Tidak sesuai isi kantong. Takutnya kalau dipaksakan. Bukanmi fungsi yang diutamakan tapi ke"cantik"annya. Ya..jadilah tas cream itu pilihanku. Harganya sebenarnya melebihi yang telah ditentukan suami. Tapi ini yang paling murah. Termurah di antara tas-tas yang ada di sini. Entah, kalau ada tas yang luput dari pengamatanku. Lagi pula surveinya singkat sekali. Tidak cukup setengah jam.

Saya pergi bayar ke kasir. Saya harap tas yang saya beli ini. Tahan lama. Tidak gampang rusak. Sampai sepuluh tahun lamanya. Semoga tetap setia mendampingi. Kemana pun saya pergi.

Kamis, 26 Mei 2016

DUNIA MAYA




Saat kuketik huruf demi huruf di layar smartphone ini, mestinya aku mengaktivasi kartu demi kartu internet AXIS. Tetapi sayang, godaan untuk mengarungi samudera dunia maya lebih besar. Dibandingkan bayangan lembaran uang yang telah menanti. Ketika kartu internet itu laku terjual lembar demi lembarnya.

Nah, itu tadi salah satu contoh sulitnya beranjak dari pesona dunia maya yang dialami sendiri oleh penulis. Sedangkan pekerjaan yang menghasilkan uang ditinggalkan. Apalagi pekerjaan rumah yang nota bene tidak menghasilkan uang, secara nyata. Demi keasyikan berselancar di dunia maya.

Godaan dunia maya memang begitu dahsyat. Orang rela berlama-lama di dalamnya. Betah berjam-jam duduk, baring ataupun dengan gaya lainnya. Bergumul dengan smartphonenya sampai lupa waktu. Ah.. sudah jam berapa nih. Belum masak ... belum cuci piring, padahal sudah hampir siang.

Lalu ngebutlah ia mengerjakan semuanya. Belum lagi sambil ngintip-ngintip facebook, Whattapps ataupun BBM-nya. Semakin lamalah durasi masak memasak atau cuci mencuci di dapur. Bagi yang punya asisten rumah tangga sih mungkin ndak masalah. Tapi kalau tidak ada yang bantu, maka ini menjadi masalah serius. Karna bisa-bisa seluruh penghuni kelaparan.

Barangkali kita tidak pernah menghitung berapa jam sehari kita memegang ponsel kita. Tapi yakinlah bahwa sebagian besar waktu kita ketika tidak tidur. Adalah mengutak atik smartphone kita. Apakah itu facebook an, Whattapps ataupun BBM-an. Apalagi klo kita jualan online. Klo jualan online tentu saja mesti sering-sering nengok status-statusnya di Facebook, WhattApp ataupun BBM-annya. Jangan-jangan ada koment, dan tentu saja order yang terlewatkan. Demikian pula, ketika menjadi admin di suatu grup WhattApp kita wajib untuk mengikuti setiap saat. Karena kalau tidak kita akan ketinggalan info dari group.

Begitulah, sepertinya kita sok sibuk. Padahal sebagian waktu habis dalam genggaman dunia maya. Kita lebih pentingkan dunia maya dari pada dunia sesungguhnya kita, dunia nyata. Anak berbicara kepada ibu atau ayah. Mata ibu atau ayah tetap tertuju ke ponselnya. Suami berbicara kepada istri. Pikiran istri melantur mencari jawaban komentar di statusnya. Istri berbicara pada suami. Perhatian suami tak lepas dari cincin-cincin permata koleksi seseorang di facebook. Ibu atau ayah berbicara pada sang anak. Sang anak senyum-senyum tak jelas, ternyata lagi baca status-status temannya yang lucu-lucu.

So...bagaimana sebenarnya hidup kita ini. Sepertinya yang jauh lebih dekat. Yang dekat seperti terasa jauh. Gaya komunikasi macam apa ini. Orang-orang yang jauh walaupun kita tidak kenal. Karena medsos terasa akrab sekali. Tetapi anak, suami, istri atau orang tua kita. Hubungan terasa biasa-biasa saja. Bahkan terkesan apa adanya. Terasa kurang kehangatan dalam keluarga. Barangkali ini bagi keluarga yang sudah kecanduan akan dunia maya. Padahal dalam sebuah keluarga yang harmonis dan penuh kehangatanlah. Anak-anak akan tumbuh menjadi manusia yang penuh kehangatan dan punya empati kepada sesama.

Kira-kira apa yang mesti kita lakukan. Untuk mengurangi ketergantungan kita kepada gadget?

Pertama, atur jadwal ber-medsos
Pagi      : sekitar pukul 06.00 - 07.00
Siang    : sekitar pukul 13.00 - 15.00
Malam :  sekitar pukul 23.00 - 01.00
Ini sekedar bayangan saja. Kita bisa mengatur sendiri jadwal sesuai rutinitas kita masing-masing. Mula-mula barangkali terasa berat, tetapi kalau disiplin, yakin bisa.

Yang kedua, ketika keluarga kita berbicara, simpanlah smartphone kita. Agar komunikasi dua arah tercipta dengan baik. Yakinlah keluarga kita, anak kita, suami atau istri kita lebih butuh perhatian daripada orang-orang di dunia maya. Bermain, bercanda bersama anak dan keluarga adalah hal terindah di dunia. So, jangan dilewatkan, karna masa-masa indah itu takkan terulang kembali. Mereka akan tumbuh besar dewasa dan suatu saat akan meninggalkan kita. Maka nikmatilah saat-saat terindah ini.

Masih banyak lagi tips-tips yang bisa mengurangi kadar kecintaan pada dunia maya. Kita bisa memilih dan memilahnya untuk diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi kita masing-masing.

Semoga tulisan ini bermanfaat adanya.

Selasa, 10 Mei 2016

Mulutmu Harimau-mu

Mulutmu harimaumu
Sebelum berucap dipikir terlebih dahulu
Terlanjur terucap tak mungkin ditarik kembali
Maaf tak cukup
Harus ada sanksi
Turunkan !!!

Kudukung perjuangan kalian
Pantang langkah surut kembali
Darah muda bergejolak
Membakar semangat
Niat tulus merubah keadaan
Memberi harapan baru

Biarkan para pencemooh
Berceloteh seenak dengkulnya

Kamis, 21 April 2016

Antara R.A Kartini dan Cut Nyak Dien



Hari ini, 21 April, setiap orang mengenang jasa Raden Ajeng Kartini. Beliau dianggap sebagai pelopor emansipasi wanita di Indonesia. Yang memperjuangkan persamaan hak perempuan dengan laki-laki. Surat-surat beliau kepada sahabatnya, Rosa Abendanon, istri J.H Abendanon di Belanda. Menyatakan kegalauannya terhadap nasib kaum perempuan di zamannya. Salah satunya, karena tidak mendapat pendidikan seperti layaknya kaum lelaki.

Tetapi, pendidikan apa sebenarnya, yang dimaksud R.A Kartini pada waktu itu. Padahal, ketika itu pendidikan keagamaan, dalam hal ini agama Islam sudah diajarkan pada mereka, kaum perempuan. Apakah pendidikan ala barat? Ala Belanda?

Di sinilah, letak keheranan saya, kenapa, R.A Kartini yang nota bene bersahabat dengan orang Belanda, yang bangsanya pada saat itu menjajah bangsa kita. Menjadi seorang tokoh utama perempuan yang menjadi contoh bagi perempuan Indonesia. Bukannya Cut Nyak Dien, yang walaupun seorang perempuan, dengan gagah beraninya melawan Belanda dengan rencongnya di Tanah Aceh. Mengapa bukan Cut Nyak Dien?

Menurut saya, Cut Nyak Dien lebih pantas menduduki sosok pertama perempuan Indonesia yang patut dikenang jasa-jasanya daripada R.A Kartini. Cut Nyak Dien berani melawan dengan secara terang-terangan bangsa penjajah dan penindas dari bumi Aceh. Untuk mengusir para penjajah itu. Sedangkan R.A Kartini malah bersurat-suratan dengan orang Belanda pada saat itu. Walaupun, suratnya berisi tentang sesuatu yang dianggap berjasa bagi kaum perempuan. Tentang kesamaan hak. Tapi hak untuk apa? Bukankah, ajaran Islam sendiri telah mengangkat harkat dan martabat perempuan.

Bukannya saya tidak menghargai ataupun menganggap bahwa R.A Kartini tidak punya andil atau tidak berjasa dalam memperjuangkan hak perempuan. Tetap R.A Kartini punya jasa dengan ide-idenya untuk memajukan perempuan. Tetapi , Cut Nyak Dien sudah membuktikan bahwa dirinya sosok perempuan yang berani, tangguh dan pantang menyerah walaupun akhirnya ditawan oleh tentara Belanda. Cut Nyak Dien, menggambarkan betapa sosok perempuan, juga punya kapasitas melawan para penjajah. Bukan cuma kaum laki-laki saja.

Tapi, walaupun begitu. Saya menghormati dan mengucapkan "Selamat Hari Kartini" bagi yang memperingatinya. Tetapi, bagi saya, Cut Nyak Dinlah yang lebih pantas dan lebih layak untuk itu, mendapat posisi yang lebih utama di hati kaum perempuan Indonesia. Dan masih banyak tokoh-tokoh perempuan lainnya yang lebih layak tinimbang R.A Kartini. Mari belajar sejarah.

Minggu, 10 April 2016

Gejolak Hati Seorang Isteri



Malam ini terasa sepi. Rembulan di atas langit tertutupi awan yang cukup tebal. Bintang-bintang pun bersembunyi di balik awan. Suara desiran angin sesekali terdengar. Malam ini aku sendirian lagi bertemankan nyamuk-nyamuk yang pada reseh. Menggigit kakiku, tanganku dan semua yang tidak tertutupi. Sesekali kukibaskan tanganku untuk mengusir nyamuk-nyamuk nakal itu. Tadi siang aku lupa beli obat nyamuk. Padahal persediaan sudah habis. Aku tidak suka pakai kelambu, dengan alasan panas rasanya tidur di dalam kelambu.

Malam ini sudah sekian kalinya, suamiku, Daeng Arif, tidak menemaniku. Soalnya, ada tugas ke luar kota katanya. Dia ditugaskan dari kantor. Kuakui terasa sepi tanpa Daeng Arif di sisiku. Sepi ini begitu mencekam. Apalagi kami belum dikaruniai anak. Anak sang penyejuk mata. Kalau ada anak, mungkin rasa sepi ini takkan begitu kurasakan. Karena ada sang anak menemani. Entah mengapa, saya dan Daeng Arif belum dikarunia momongan. Padahal sudah empat tahun kami menikah. Kami sudah memeriksakan diri ke dokter kandungan. Tak ada masalah dengan kami berdua. Memang pernah ada kista di rahimku. Tapi kista itu sudah diangkat. Dan dokter menyatakan aku sehat dan siap punya anak. Kalau kami belum dikaruniai buah hati, barangkali belum rezeki kami.

Aku kenal Daeng Arif melalui sepupuku. Sepupuku, Maya, memang sangat besar perhatiannya padaku. Dia kasian padaku, yang sudah berusia mendekati kepala empat. Daeng Arif jauh lebih muda dariku. Sekitar lima tahunan jaraknya. Tetapi aku tidak mempersoalkan umur. Yang penting dia bertanggung jawab. Lagipula menurutku cinta tak mengenal perbedaan umur.

Tanpa melalui proses pacaran yang lama. Setelah berapa kali kami bertemu, Daeng Arif melamarku. Aku pun menerima lamarannya. Setelah melalui beberapa prosesi lamaran, kami menikah dengan pesta yang cukup meriah. Banyak kawan-kawan yang datang. Kami begitu bahagia.

Saat ini sudah hampir mencapai lima tahun usia pernikahan kami. Tapi yang dinanti belum juga ada tanda-tanda bakal kehadirannya. Aku merasa tertekan setiap ada yang tanya padaku. Sudah berapa anakmu, Hani? Tapi Daeng Arif, malah santai saja mendengarnya. Dia bilang, jangan hiraukan kata-kata mereka. Ada atau tanpa anak, dia bahagia hidup denganku. Entah terbuat dari apa hati suamiku. Begitu sabarnya dia. Saya kadang berfikir, sanggupkah suamiku dengan kondisi pernikahan seperti ini. Tidak punya keturunan. Bukankah, salah satu tujuan orang menikah itu, untuk memperoleh keturunan. Saya pernah bertanya seperti itu kepadanya. Apa jawab suamiku. Jawabnya, "Khan, kita bisa angkat anak. Anak tidak harus yang kamu lahirkan. Banyak anak yang terlunta-lunta di luar sana. Ada juga yang di panti asuhan. Me reka butuh kasih sayang kita. Suatu saat kita akan mengangkat salah satu dari mereka."

Rencana untuk mengangkat anak itu belum terlaksana sampai saat ini. Barangkali karena kesibukan Daeng Arif di kantornya. Kantornya buka cabang baru di tempat lain. Dan suamiku yang diamanahkan untuk mengurus segala sesuatunya. Mendapat kepercayaan dari kantor membuat Daeng Arif begitu bersemangat. Aku pun ikut senang mendengar hal ini. Bukankah suatu kesyukuran apabila kita mendapat kepercayaan dari orang lain. Apalagi dari pemimpin perusahaan tempat kita bekerja.

Begitulah, setelah mendapat amanah di kantor cabang baru itu. Daeng Arif semakin sibuk dengan pekerjaannya. Sering kudengar ada telpon dari kantor. Katanya ada urusan kantor mendadak. Maklum cabang baru. Jadi banyak urusan yang mesti diselesaikan.

Aku tak pernah curiga kepada Daeng Arif. Aku percaya pada suamiku. Bahwa dia lelaki yang setia. Lelaki yang tak mau menyakiti wanita, apalagi istrinya sendiri. Yah, aku sangat percaya padanya. Sampai suatu sore saya melihat hp suamiku yang tergeletak di atas meja dalam kamar tidur kami. Suamiku kebetulan berada dalam kamar mandi. Lagi mandi sore. Terdengar gemercik air dari dalam kamar mandi. Aku angkat hp itu, sepertinya ada panggilan. Tapi tidak terdengar bunyi panggilan. Ternyata hp itu disetting dengan mode diam. Aku lalu melihat sebuah nama perempuan tertulis di sana. ARYANI. Oh..Aryani. Siapa dia yah. Teman kantornya kah atau siapa? Aku tak tau.

Saat Daeng Arif keluar dari kamar mandi, kutanyakan siapa Aryani pada suamiku. Begitulah, aku terkadang tidak bisa menyembunyikan rasa penasaranku. Aku mesti dapat jawaban secepatnya, jika aku penasaran. Kalau tidak, aku bisa memikirkannya sepanjang hari. Mendengar pertanyaanku, Daeng Arif menjawab bahwa Aryani adalah karyawan baru di kantornya. Karena pekerjaan menumpuk, Aryani membawa pekerjaan ke rumahnya. Mungkin karena ada pekerjaan yang kurang dimengertinya, makanya Aryani menelpon suamiku. Aku mengangguk-angguk mendengar jawabannya. Walaupun terasa aneh kedengarannya. Mengapa suamiku yang slalu ditelponnya. Bukan karyawan lainnya. Apalagi ada beberapa karyawan lama yang juga pasti mengerti masalah-masalah seperti itu.

                    *****************

Malam ini suamiku pergi lagi. Aku merasa kesepian. Kucoba mengusir sepi ini dengan menonton televisi. Kuputar chanel 1, lalu ganti-ganti chanel . Tak ada yang menarik. Kuraih buku novel dari tempatnya. Kubuka lembaran pertama, lalu lembaran kedua. Seperti tak ada selera untuk membacanya. Kutaruh novel itu ke rak buku kembali. Akhirnya kuputuskan untuk segera tidur. Tapi mata ini tak mau terpejam. Aku bangkit dari tempat tidur. Menuju ke kamar mandi. Aku berwudhu dan kemudian kulangkahkan kakiku menuju mushalla mungilku. Di situlah tempatku, bermunajat kepada-Nya.

Setelah itu, aku merasa cukup tenang. Perasaan lega memenuhi ruang kalbuku. Aku telah menuangkan segala perasaanku. Tentang kegalauanku kepada Sang Maha Penyayang. Apapun yang terjadi ke depan. Semuanya akan kujalani dengan segala kepasrahan.

Kudengar ketukan pintu. Aku bangkit dan berjalan menuju ke pintu depan. Ke arah suara ketukan berasal. Kubuka pintu dengan perlahan. Dan kulihat suamiku berdiri di depan pintu. Kulihat dia begitu kuyuh. Barangkali dia begitu lelah bekerja. Aku kasian padanya. Lalu suamiku masuk. Dengan langkah gontai. Aku mengikutinya dan menanyakan apakah Daeng Arif ingin minum teh atau semacamnya. Daeng Arif bilang, "Tak usah, sayang. Engkau cukup lelah menungguku bukan?" Sambil tersenyum, aku bilang, "Ndak apa Daeng, khan cuman teh saja." Daeng Arif balas tersenyum.

Aku ke dapur. Tidak lama kemudian, aku membawa 2 gelas teh hangat di atas nampan. Satu untuk daeng Arif dan satu untukku. Setelah minum teh, daeng Arif lalu berkata, "Hani, aku mau tanya ke kamu." Saya jawab sambil tersenyum, "Langsung saja Daeng, tanya saja. Kok bertanya dulu."  Daeng Arif berkata," Oh, iyya. Bagaimana menurutmu, kalau aku sudah menikah lagi dek Hani."  Aku terperanjat mendengar pertanyaan itu. Aku sebenarnya sudah tau arah pertanyaan Daeng Arif. Tapi tetap saja aku kaget dan merasa terpukul. Kucoba menguatkan hatiku. Bersusah payah aku menahan air mataku untuk tidak tumpah. Tapi air mataku sepertinya tak dapat terbendung lagi. Aku menangis. Daeng Arif memelukku dan berusaha menenangkanku.

Setelah tangisku reda. Aku berkata kepada suamiku, "Sudah kuduga Daeng, sebenarnya selama ini aku sudah curiga. Tapi aku mau, Daeng  jujur kepadaku. Kenapa Daeng  tega melakukan semua ini padaku. Aku belum siap Daeng."  Daeng Arif menjawab, "Maafkan aku Dek
Hani, Aku tidak minta izin sebelumnya padamu. Aku takut kamu tidak mengizinkan aku menikah lagi. Aku melakukan ini karena aku ingin punya keturunan. Umurku sudah mulai menua, anak belum punya."  Dengan tersedu, aku membalas, "Aku khan sudah bilang Daeng, tapi Daeng selalu menyemangati aku. Rencana kita untuk angkat anak, gimana? Siapa yang punya usulan seperti itu? Daeng sendiri, khan. Ternyata sekarang Daeng ternyata sudah menikah lagi." Tangisku kembali pecah. Tak tertahankan. Sakit rasanya hati ini. Merasa dikhianati oleh orang yang kucintai.

Aku sedih dan juga marah. Aku menyuruh Daeng Arif meninggalkanku sendiri. Biarlah dia malam ini tidur di kamar tamu. Aku mau sendiri. Aku menutup pintu. Aku merasa terpuruk. Aku rebahkan badan di kasur. Menangis sejadi-jadinya. Sampai bantal menjadi basah karena air mata yang tumpah ruah, seperti tak ada habis-habisnya. Aku tak peduli mataku memerah dan bengkak karena tangisan ini.

Dini hari menjelang, kokok ayam jantan saling bersahutan. Aku masih menangis meluahkan perasaan. Aku bangkit menuju ke kamar kecil. Mau berwudhu. Seusai berwudhu aku menuju musholla. Ternyata Daeng Arif sudah ada terlebih dahulu di musholla. Dia sementara sholat. Aku tidak jadi ke musholla. Balik kembali ke kamar. Di kamar aku juga bisa sholat. Rasanya aku belum siap untuk bertemu dan berbicara lagi dengan Daeng Arif. Di atas sajadah, aku bersujud ke haribaan-Nya. Melepas segala duka yang kurasakan. Bertanya kepada-Nya, mengapa hal ini terjadi padaku. Mengapa? Sesuatu yang sangat menyakitkan dan mengiris hati. Tapi apa daya. Barangkali memang ini takdir yang harus kujalani. Menjadi istri pertama.

Paginya, suara ketukan di pintu kamar membangunkan aku. Ternyata daeng Arif. Suamiku lalu berkata, "Hani, saya mau berangkat dulu ke kantor, yah. Itu ada di atas meja sarapan buatmu. Pasti kamu lapar, dari tadi malam nangis terus." Aku tidak menjawab. Rasa sakit hati masih sangat terasa. Aku tak lapar. Dan tak mau makan. Terdengar bunyi mobil, Daeng Arif meninggalkan rumah menuju kantornya.

Aku keluar kamar. Menuju ke kamar mandi. Kuguyur badanku dengan air dingin. Kuharap kepalaku menjadi dingin. Demikian pula hatiku. Agar kemarahan dan kesedihanku mereda. Setelah mandi, badanku menjadi segar. Aku berfikir, tak mudah memang menerima kenyataan ini. Tapi semua sudah terjadi. Toh, ini bukan kesalahan Daeng Arif semata. Dia ingin punya keturunan. Bersamaku tak cukup. Butuh orang lain yang bisa memberikan keturunan buatnya. Oh. Tuhan...apakah aku sanggup menerima semua ini.

Menjelang magrib, suara mobil Daeng Arif memasuki halaman. Kubukakan pintu rumah. Tanpa menunggunya, aku balik ke kamar. Sekarang kamar menjadi tempat favoritku. Aku malas keluar. Terdengar suara pintu ditutup. Daeng Arif mengetuk pintu kamar. Minta diijinkan masuk. Aku kemudian membuka pintu. Dia membawakan aku makanan kesukaanku, gado-gado. Tapi aku tak lapar. Suamiku bilang, "Hani ayo kita makan gado-gado ini yah, Daeng juga belum makan nih." Aku jawab, "Aku tak lapar Daeng,"  Suamiku   bilang, "Klo begitu temani aku saja yah." Aku mengangguk.

Selesai makan, Daeng Arif berkata, "Hani, aku tau kamu marah. Dan aku mengerti mengapa kamu marah. Maafkan aku. Aku cuma ingin keturunan. Itu saja. Satu-satunya perempuan yang kucintai hanya kamu. Tapi aku tak kuasa menolak cinta Riyani. Dia yang selalu membantuku di kantor. Dia sangat baik padaku. aku berutang budi padanya. Dan yang terpenting, dia mau jadi isteri kedua. Dia akan menghormatimu sebagai isteri pertamaku." Aku kemudian menjawab, "Baiklah kalau begitu, Daeng.  Walaupun hatiku terasa sakit. Aku menerima semua ini yang penting Daengku harus adil." Daeng Arif memelukku dan berkata, "Terima kasih sayang, atas pengertiannya." Dan bulanpun meredup, di atas sana. Seperti merasakan derita hati yang belum sembuh dari sakit yang mendera.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Sudah menginjak dua tahun. Sejak Daeng Arif menikah lagi dengan Aryani.  Suamiku berusaha adil kepada kami berdua. Istri-istrinya. Tapi biar bagaimanapun perasaan sakit yang kurasakan. Tak pernah betul-betul sembuh. Sampai saat ini hubunganku dengan demadku - adek maduku belum bisa harmonis. Saya tidak mengerti mengapa disebut madu. Madu khan rasanya manis. Sesuatu yang menyenangkan. Ini??? Aku tak habis pikir dengan istilah itu. Begitulah hubunganku dengan Aryani, tak pernah betul-betul baik. Sering kami bepergian bersama. Menghadiri acara bersama. Tapi tak pernah ada komunikasi yang tercipta antara kami berdua. Daeng Arif sudah berusaha mendekatkan kami berdua. Tapi sepertinya, semuanya sia-sia. Ada yang mengganjal. Terutama dariku. Sepertinya, aku tak pernah betul-betul rela dimadu. Aku seperti dipaksa untuk menjalani kehidupan seperti ini. Tapi demi cintaku yang begitu besar pada suamiku, Daeng Arif. Aku mencoba bertahan. Walau ada wanita lain dalam kehidupan suamiku.

Sudah menginjak dua tahun pernikahan Daeng Arif dan Aryani. Mereka belum juga dikaruniai anak. Padahal suamiku sangat mendambakan keturunan. Pernikahannya dengan Aryani untuk memperoleh keturunan. Sesuatu yang belum didapatkannya melalui pernikahannya denganku. Sepertinya Daeng Arif mulai putus asa. Sampai kapan menanti dan menanti sang buah hati yang tak kunjung tiba.

Tiba-tiba, di suatu pagi yang cerah. Aku merasa mual. Kepala terasa pusing jika berdiri. Aku kira aku lagi masuk angin. Aku cari minyak kayu putih. Kuoleskan ke dahi dan perut. Rasa pusing agak mereda karenanya. Aku berbaring di tempat tidur saja. Menunggu Daeng Arif pulang. Tadi suamiku nelpon, dia merasa cemas. Katanya, dia mau cepat pulang. Kudengar bunyi suara mobil memasuki halaman rumah, Daeng Arif dengan langkah tergesa memasuki kamar. Daeng Arif bertanya, "Sakit apa Hani? Ayo kita ke dokter." Aku jawab, "Aku tak apa-apa, Daeng. Aku hanya pusing." Dengan lega, suamiku berkata, "Klo begitu, aku pijitin yah, supaya lekas sembuh. Tapi, besok kita ke dokter yah, periksakan kesehatan kamu." Aku bilang, "Iyye Daeng, besok kita ke dokter."

Keesokan harinya, aku bersama Daeng Arif ke dokter praktek langganan kami. Sebenarnya aku malas pergi ke dokter. Kalau aku sakit paling obatku madu sama minyak kayu putih. Tapi kali ini, karena tadi pagi berulang lagi mual muntahnya, Daeng Arif khawatir akan kondisiku. Setelah berbagai pemeriksaan kujalani. Hasilnya ternyata aku positif hamil. Haah...aku kaget campur bahagia. Lebih-lebih suamiku, dia langsung bersujud syukur. Akhirnya akan terwujud sudah keinginan dan impiannya. Punya keturunan.

Kami pulang dengan hati riang. Namun, ada ganjalan sedikit. Menurut dokter, aku harus menjaga baik-baik kandunganku. Apalagi umur yang sudah rentan. Kalau aku keguguran, bisa-bisa aku tidak bisa hamil lagi. Aku cuma pasrah. Tapi aku akan berusaha menjaga dan mempertahankan kehamilanku ini. Semoga bisa selamat. Insya Allah, aku akan mampu melewati semua ini.

Sejak mengetahui diriku hamil, Daeng Arif betul-betul sangat memperhatikan diriku. Dia tak memperbolehkan aku kecapean. Untuk itu dia mencarikan aku asisten rumah tangga yang bisa membantuku mengurus rumah dan memasak. Akhir-akhir ini, Deeng Arif lebih sering menemaniku. Dia lebih sering ada di rumah. Pernah kutanyakan kenapa Daeng Arif tidak pulang ke rumah Aryani. Dia bilang bahwa aku lebih membutuhkannya daripada Aryani. Waduh...sudah tidak beres ini. Bagaimana ini? Ini khan sudah tidak adil namanya. Lalu aku menyuruh Daeng Arif pulang ke rumah Aryani. Aku khawatir Daeng Arif berdosa dengan sikapnya. Aku khan takut kena imbasnya.

Daeng Arif meninggalkanku dengan hati kecewa. Sepertinya dia ingin menemaniku. Tapi apa boleh buat, dia punya isteri selain diriku. Yang harus dia datangi dan perhatikan juga. Sebagai seorang isteri yang baik. Tentu saja aku harus menjaga suamiku dari berbuat dosa. Tidak adil terhadap isteri itu perbuatan dosa. Peringatan Tuhan sudah jelas dalam firman-Nya. Seorang laki-laki bisa menikahi sampai empat perempuan yang penting bisa berlaku adil terhadap mereka. Kalau merasa tidak bisa adil, ya cukup satu saja.

Kehamilanku memang terasa berat. Apalagi ini yang pertama di usia yang sudah rentan untuk hamil. Tetapi mengingat, bayi yang kukandung, buah hati yang selama ini kami nanti-nanti. Semangatku berlipat-lipat. Aku bahagia dengan keberadaannya di rahimku. Aku rela merasakan apa saja. Demi dirinya, buah hatiku.

Aku rajin ke dokter memeriksakan kehamilanku. Setiap nasehat yang diberi kupatuhi. Berbagai suplemen dan vitamin yang diresepkan kulahap, demi kesehatan si bayi. Makanan bergizi pun demikian.

Maka, tibalah hari yang dinanti-nanti. Akan lahirnya si buah hati. Tetiba, aku merasa rasa sakit di perutku yang lain dari yang biasanya. Semakin lama semakin sering. Aku menelepon Daeng Arif. Daeng Arif pulang dan kemudian mengantarku ke rumah sakit bersalin.

Sesampai di rumah sakit, aku diperiksa katanya masih lama proses kelahirannya. Baru pembukaan pertama. Tapi aku merasa sangat kesakitan. Berbagai doa kulantunkan. Demi kelancaran kelahiran si buah hati. Aku jalan-jalan terus selama di rumah sakit. Semakin sering jalan. Katanya pergerakan bayi turun semakin cepat. Rasa sakit yang kurasakan karena bayi mencari jalan keluar. Tetiba, ada air yang mengucur membasahi kain sarung yang kupakai. Aku segera  memanggil dokter. Menanyakan apa yang terjadi. Katanya, air ketuban sudah keluar. Aku diperiksa lagi. Kata dokter, pembukaan sudah lengkap. Mulailah proses persalinan. Ternyata rasanya luar biasa. Tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sakit yang tak ada duanya. Hanya Nama-Nya yang tak henti-hentinya kusebut. Kupasrahkan segalanya.

Kemudian, terdengarlah tangisan bayi. Melengking, memecah kesunyian malam. Menandai dimulainya kehidupan baru. Kelahiran seorang bayi mungil yang membawa harapan baru dan kebahagiaan tak terlukiskan dengan beribu kata. Terutama bagi kedua orang tuanya. Yang telah lama mendambanya. Rasa sakit yang kurasakan seperti sirna seketika bersamaan dengan kelahirannya. Setelah dibersihkan dan diberi pakaian, bidan menyerahkan bayi lelaki itu kepada Daeng Arif.  Suamiku kemudian membacakan azan di telinga anak kami. Dia terlihat begitu bahagia menimang anaknya. Matanya kelihatan berkaca-kaca. Kemudian Daeng Arif menyerahkannya kepadaku. Lalu  dia berkata, "Terima kasih sayang, engkau telah berjuang. Anak kita normal dan sehat. Alhamdulillah. Kini, beristirahatlah."

Setelah aku cukup sehat, kami pulang ke rumah dengan perasaan bahagia. Apalagi sekarang, sudah ada si kecil di antara kami. Hari-hari jadi berwarna karena kehadirannya. Walaupun mesti begadang menunggui sang bayi tertidur, aku merasa senang. Apalagi ada sang ayah yang sangat perhatian sama anaknya. Di malam hari, tak jarang Daeng Arif, yang mengganti popoknya ketika aku kecapean.

Oh ya, suamiku sudah setiap hari selalu ada di rumah. Kenapa bisa. Khan ada isterinya yang lain. Begini ceritanya. Daeng Arif sepertinya enggan meninggalkanku yang lagi hamil. Aryani merasa bahwa Deeng Arif tidak mencintainya. Karena setiap Daeng Arif di rumah Aryani, hanya aku yang lagi hamil, yang jadi bahan pembicaraannya. Aryani merasa tidak tahan karena walaupun Daeng Arif berada di rumahnya, namun jiwa dan pikiran Daeng Arif bersamaku. Istri pertamanya. Akhirnya Aryani minta cerai. Walaupun dengan berat hati, Daeng Arif mengabulkannya.

Hari-hari selanjutnya kulalui dengan bahagia. Bersama anak dan suamiku. Walaupun, pernah terselip kisah sedih yang menghiasi perjalanan hidupku. Aryani pun demikian, kudengar sudah menikah lagi. Semoga diapun bahagia dengan kehidupan barunya.

Sumber Photo by Google.

By : Hamsinah Hamid


Jumat, 25 Maret 2016

UANG PANAI



Sejatinya, pernikahan itu mestinya dipermudah bukannya dipersulit.

Setiap anak manusia memiliki kecenderungan menyukai lawan jenisnya. Rasa suka ini wajar-wajar saja, dan bahkan tidak wajar jika tak anda rasa suka. Karena rasa suka ini, maka kehidupan manusia masih terus berlanjut sampai saat ini. Untuk menyatukan dua anak manusia itu perlu adanya suatu peresmian. Peresmian itu bernama pernikahan.

Melalui pernikahan yang sakral, diharapkan sepasang anak manusia dapat berbahagia. Membangun keluarga sakinah mawaddah warahmah. Juga melahirkan keturunan yang sholeh sholehah.

Tetapi terkadang pernikahan itu terhambat. Bukan karena syarat wajibnya untuk terjadinya sebuah pernikahan tidak terpenuhi. Ada hal yang lain yang tidak disanggupi pemenuhannya. Apakah itu? Dalam budaya Bugis Makassar, itulah yang dinamakan uang panai. Uang panai itu bukan mahar, tetapi lebih mendekat pada uang belanja. Biasanya semakin tinggi status sosial seorang perempuan, semakin tinggi uang panainya. Demikian pula, dengan status pendidikan.




Dengan tingginya uang panai ini, terkadang sepasang anak manusia tidak jadi menikah karena ketidakmampuan pihak laki-laki untuk memenuhi permintaan uang panai dari keluarga perempuan. Dan ada juga yang harus kawin lari. Bahkan, ada juga yang hamil di luar nikah. Karena kalau pihak perempuan sudah hamil. Mau tidak mau mereka akan dinikahkan untuk menghindari rasa malu keluarga, karena anak perempuan mereka hamil di luar nikah. Dan banyak juga, perempuan yang harus menjadi perawan tua, karena terhambat uang panai yang tinggi. Tentu saja, hal-hal tersebut tidak diinginkan.

Kira-kira apa yang dilakukan untuk menghadapi masalah seperti ini. Pertama-tama harus diketahui dulu apa sebenarnya yang menjadi rukun pernikahan, yaitu :
1. Pengantin laki-laki
2. Pengantin perempuan
3. Wali
4. Saksi
5. Ijab kabul
Jadi dari kelima rukun pernikahan itu, tidak ada uang belanja (uang panai) disebutkan. Memang ada yang namanya mahar. Tetapi mahar ini merupakan pemberian pengantin laki-laki untuk memuliakan wanita. Pemberian mahar ini mesti atas kerelaan dan keikhlasan pengantin laki-laki. Pengantin wanitapun berhak menolak atau menerimanya. Tetapi kalau uang panai' yang menentukan adalah pihak keluarga perempuan. Gunanya untuk membiayai pesta pernikahan yang akan dilangsungkan.

Mengenai mahar sendiri, dalil wajibnya dalam suatu pernikahan itu ditunjukkan antara lain dalam firman Allah SWT surah An-Nisa ayat 4 yang berbunyi "Berikanlah mahar kepada wanita-wanita yang kalian nikahi, sebagai pemberian dengan penuh kerelaan". Bentuk Mahar tersebut bisa berupa apapun, baik harta benda (emas, rumah, perhiasan dll), Al Qur'an, alat sholat, bahkan keislaman seseorang lelaki yang sebelumnya kafir.

Tentang mahar pula, Rasulullah bersabda bahwa sebaik-baik mahar adalah yang paling ringan. Dan di hadis yang lain, Rasul bersabda : Pernikahan yang paling besar barokahnya adalah yang paling murah maharnya (HR. Ahmad). Rasulullah juga mengatakan bahwa wanita yang paling mulia adalah wanita yang maharnya paling sedikit dan lelaki yang paling mulia adalah yang memberikan mahar banyak meskipun yang diminta sedikit. Namun yang terjadi di masyarakat sekarang, justru bukan mahar yang menjadi masalah tetapi uang panai atau uang belanja. Sepertinya semakin tinggi uang panai, semakin menjadi prestasi tersendiri.

Ketika kita sudah memahami bahwa uang panai bukan salah satu rukun pernikahan dan bukan pula syarat sahnya sebuah pernikahan. Maka kita mesti mensosialisasikan hal ini pada masyarakat kita. Khususnya pula buat calon pengantin perempuan, sejak jauh-jauh hari mesti mensosialisasikan kepada orang tuanya bahkan kerabatnya yang lain.



Perempuan sebagai pihak yang akan dilamar perlu berjuang di keluarganya. Agar ketika si perempuan dilamar nanti pihak keluarga tidak meminta uang panai yang berlebihan. Alangkah baiknya kalau sesuai dengan kemampuan pihak laki-laki. Kenapa perempuan mesti memperjuangkannya. Karena apabila uang panai yang diminta tidak sanggup dipenuhi oleh calon mempelai laki-laki, maka pernikahan bisa gagal. Dan tentu saja akan mengecewakan kedua belah pihak. Mengecewakan buat sang perempuan, bukan cuma pihak laki-lakinya saja. Perempuan jangan menyerahkan persoalan ini sepenuhnya kepada pihak laki-laki. Karna toh, pernikahan yang akan terjadi bukan untuk kebahagiaan sang laki-laki tapi juga untuk kebahagiaan sang perempuan, yah untuk kebahagiaan bersama.

Sebelum pihak laki-laki melamar sang perempuan secara resmi sebaiknya dikompromikan dulu berapa kemampuan sang laki-laki ke perempuannya. Karena kalau langsung melamar, dikhawatirkan adanya permintaan uang panai yang tidak sesuai kemampuan pihak laki-laki. Setelah dikonfirmasikan, sang perempuan bisa menyampaikan berapa kemampuan sang laki-laki pada orang tuanya. Sebagai orang tua yang sayang kepada anaknya, tentu saja akan mempertimbangkannya demi kebahagiaan anak gadisnya. Tetapi ini bukan perkara yang mudah. Untuk memutuskan suatu pernikahan, diperlukan juga pendapat para kerabat. Orang tua yang baik akan menyampaikan kepada kaum kerabat bahwa demi kebahagiaan anaknya, mereka tidak akan meminta uang panai lebih dari kemampuan pihak laki-laki. Barangkali ada pertentangan atau ketidaksetujuan dari kaum kerabat. Tapi pada akhirnya mereka akan menyetujui, karena biar bagaimanapun yang berhak mengambil keputusan adalah orang tua si perempuan.

Pihak laki-laki sebaiknya juga giat mencari bekal untuk melamar sang perempuan. Walaupun, uang panai yang akan diminta sesuai kemampuannya, tetap saja ia harus bersungguh-sungguh mencari uang. Untuk memenuhi uang panai yang akan diminta pada saat melamar sang perempuan. Tetapi, biasanya yang menyediakan uang panai itu pihak orang tua sang laki-laki. Kebanyakan seperti itu. Tetapi tak jarang juga, sang laki-laki sendiri yang mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Dan menyimpannya untuk melamar sang calon istri dan untuk masa depan mereka. Kalau misalnya uang panai yang diminta pihak sang perempuan tidak terlalu banyak. Cukup untuk menyelenggarakan sebuah pesta pernikahan yang sederhana. Maka sisa uang sang laki-laki bisa digunakan sebagai modal usaha atau juga bisa dipakai sebagai panjar untuk mencicil rumah.

Sebesar atau setinggi apapun uang panai, tidak bisa menjamin kebahagiaan sepasang insan dalam sebuah pernikahan. Lagi pula sebanyak apapun uang panai, akan habis juga. Untung, kalau uang panai itu bukan uang pinjaman. Kalau uang pinjaman, setelah menikah pinjaman itu harus dibayar. Tentu saja akan jadi menjadi beban bagi kehidupan pengantin baru. Memang pernikahan itu membutuhkan pengorbanan. Tetapi, kalau bisa pernikahan terjadi tanpa embel-embel uang panai yang tinggi, khan lebih baik. Sekiranya, ada seorang pemuda yang mampu memberi uang panai yang tinggi, tetapi dia menolak hal seperti itu. Itu adalah untuk memberi contoh kepada yang lain. Agar pemuda-pemuda yang kurang mampu bisa juga menikah tanpa uang panai yang tinggi.

Biaya pesta pernikahan pihak mempelai perempuan semestinya jangan dilimpahkan sepenuhnya kepada pihak mempelai lelaki. Sebagai orang tua perempuan, hendaknya ikut membiayai pesta pernikahan itu. Karena pernikahan itu untuk kebahagiaan anak perempuan mereka juga, bukan untuk kebahagiaan suami anak mereka saja. Kalau tidak mampu menyelenggarakan pesta yang mewah, pesta sederhanapun jadilah. Walaupun pesta pernikahan sederhana, yang penting berkah. Insya Allah..

Senin, 21 Maret 2016

YOU CAME TO ME By SAMI YUSUF



(VERSE1)
YOU CAME TO ME IN THAT HOUR OF NEED
WHEN I WAS SO LOST, SO LONELY
YOU CAME TO ME TOOK MY BREATH AWAY
SHOWED ME THE RIGHT WAY, THE WAY TO LEAD

(BRIDGE 1)
YOU FILLED MY HEART WITH LOVE
SHOWED ME THE LIGHT ABOVE
NOW ALL I WANT IS TO BE WITH YOU
YOU ARE MY ONE TRUE LOVE
TAUGHT ME TO NEVER JUDGE
NOW ALL I WANT IS TO BE WITH YOU

(CHORUS)
ALLAHUMA SALLI ‘ALA SAYIDEENA MUSTAFA
‘ALAA HABEEBIKA NABIEEKA MUSTAFA

(VERSE2)
DIKAU HADIR KALA KU SEDIH SENDIRIAN DAN HILANG
DIKAU HADIR KALA AKU MENDAMBAKAN PETUNJUK JALAN

(BRIDGE2)
FOR YOU I’D SACRIFICE
FOR YOU I’D GIVE MY LIFE
ANYTHING, JUST TO BE WITH YOU
I FEEL SO LOST AT TIMES
BY ALL THE HURT AND LIES
NOW ALL I WANT IS TO BE WITH YOU

(CHORUS)
ALLAHUMA SALLI ‘ALA SAYIDEENA MUSTAFA
‘ALAA HABEEBIKA NABIEEKA MUSTAFA

(MIDDLE 8)
SHOWED RIGHT FROM WRONG
TAUGHT ME TO BE STRONG
NEED YOU MORE THAN EVER
YA RASUL ALLAH
TELAH KAU DATANG
TERANGLAH ALAM
DAKU PERLUKAN MU
YA RASULULLAH

(BRIDGE3)
YOU FILLED MY HEART WITH LOVE
SHOWED ME THE LIGHT ABOVE
NOW ALL I WANT IS TO BE WITH YOU
YOU ARE MY ONE TRUE LOVE
TAUGHT ME TO NEVER JUDGE
NOW ALL I WANT IS TO BE WITH YOU


Arti Dari LIRIK LAGU
YOU Came To Me By

Kau Datang Padaku

Engkau Datang Padaku
Disaat aku membutuhkan
Ketika Aku begitu Bimbang ,
Ketika Aku sendiri

Kau datang padaku,
Membawa nafasku pergi
Tunjukan aku jalan yang benar ,
Jalan yang kau pimpin

Kau Isi hatiku dengan cinta
Menunjukkanku Cahaya
Sekarang Keinginanku Hanya Ingin Bersamamu

Kau Cinta Sejatiku
Mengajarkanku untuk tidak menghakimi
Sekarang Keinginanku Hanya Ingin Bersamamu

ALLAHUMA! Salli 'ala Sayideena Mustafa
'Alaa Habeebika Habeebika Mustafa
(ya allah! kirimkan Berkatmu kepada sang pemimpin , yang terpilih (Muhammad (Damai bersamanya))
Kepada kekasihmu, Nabimu, yang terpilih)

Kau datang padaku disaat aku Putus asa
Aku memanggilmu, Engkau berada disana
Tanpamu apa arti hidupku ?
Untuk tidak mengetahui yang terlihat , Diantara dunia

Untukmu aku berkorban
Untukmu aku berikan hidupku
Apapun...Hanya untuk bersamamu ?
Aku merasa Bimbang Pada waktu itu
Dengan rasa sakit dan kebohongan
Sekarang yang kuinginkan hanya bersamamu

CHORUS (x2)
Tunjukkan Aku Yang Baik Dan Yang Buruk
Ajarkan Aku agar lebih kuat
Aku Sangat Membutuhkanmu
Ya Rasul ALLAH (Wahai pembawa pesan dari Allah (Muhammad (Damai bersamamu)

Kau datang padaku
Disaat aku membutuhkan
Aku Sangat Membutuhkanmu
Ya Rasul ALLAH (Wahai pembawa pesan dari Allah (Muhammad (Damai bersamamu)

Kau Isi hatiku dengan cinta
Menunjukkanku Cahaya
Sekarang Keinginanku Hanya Ingin Bersamamu

Kau Cinta Sejatiku
Mengajarkanku untuk tidak menghakimi
Sekarang Keinginanku Hanya Ingin Bersamamu



Sami Yusuf mengungkapkan rasa syukurnya akan kedatangan “you” dalam lagu ini. Lagu dan liriknya sama-sama indah, tak ayal banyak sekali yang menyukai karya ini. Beliau juga sempat membuat versi duetnya bersama Siti Nurhaliza, penyanyi perempuan terkenal asal Malaysia.

Sekilas Tentang Lagu “You Came to Me” – Sami Yusuf

Lagu ini masuk dalam album ketiganya Om Sami yang bertajuk “Wherever You Are”. Rilisnya pada 29 Oktober 2010, di bawah label ETM Entertainment. Sementara durasinya yaitu 4 menit, 6 detik.

Lirik dan Terjemahan Lagu “You Came to Me” – Sami Yusuf

You came to me in that hour of need
Engkau datang padaku di saat-saat daku sedang butuh

When I was so lost, so lonely
Ketika daku tersesat, ketika daku sangat kesepian

You came to me, took my breath away
Engkau datang padaku, mengambil pergi napasku

Showed me the right way, the way to le
Tunjukan padaku jalan yang lurus, jalan untuk diikuti


You filled my heart with love, showed me the light above
Engkau mengisi hatiku dengan cinta, menunjukkan padaku cahaya dari atas

Now all I want is to be with you
Sekarang semua yang kuingin adalah bersamamu

You are my one true love, taught me to never judge
Engkau adalah satu cinta sejatiku, mengajariku untuk tak pernah menghakimi

Now all I want is to be with you
Sekarang semua yang kuingin adalah bersamamu


CHORUS
Allahuma sholli ‘alla sayiddina mustafa
Ala habibika nabika mustafa

You came to me in a time of despair
Engkau datang padaku di masa-masa keputusasaan

I called on you, you were there
Daku memanggilmu, Engkau ada di sana

Without you what would my life mean?
Tanpa Engkau, apalah artinya hidupku?

To not know the unseen?, the worlds between
untuk tidak mengetahui apa yang tidak terlihat?, dunia diantara

For you I’d sacrifice, for you I’d give my life
Untukmu daku berkorban, untukmu daku mempersembahkan hidup

Any thing just to be with you
Apapun asal daku bisa bersamaMu

I feel so lost at times by all the hurt and lies
Daku merasa hampa oleh segala luka dan kepalsuan

Now all I want is to be with you
Sekarang semua yang kuingin adalah bersamamu

CHORUS

Allahuma sholli ‘alla sayiddina mustafa
Ala habibika nabika mustafa

Showed me right from wrong
Tunjukan padaku sesuatu yang baik dari sesuatu yang buruk

Told me to be strong
Katakan padaku untuk tetap kuat

Need you more than ever ya Rasulallah
Daku membutuhkanMu lebih dari apapun ya Rasulallah

You came to me in that hour of need
Engkau datang padaku di saat-saat daku sedang butuh

Need you more than ever ya Rasulallah
Daku membutuhkanMu lebih dari apapun ya Rasulallah

You filled my heart with love, showed me the light above
Engkau mengisi hatiku dengan cinta, menunjukkan padaku cahaya dari atas

Now all want is to be with you
Sekarang semua yang kuingin adalah bersamamu

You are my one true love, taught me to never judge
Engkau adalah satu cinta sejatiku, mengajariku untuk tak pernah menghakimi

Now all I want is to be with you
Sekarang semua yang kuingin adalah bersamamu

CHORUS
Allahuma sholli ‘alla sayiddina mustafa
Ala habibika nabika mustafa
..........

Senin, 14 Maret 2016

SERBA SERBI PAKET DATA




Sepertinya manusia tidak bisa lagi dipisahkan dengan dunia internet. Anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak bahkan kakek nenek pun tidak mau ketinggalan berinternet ria. Baik di desa lebih-lebih di kota. Di rumah kayu, rumah batu, rumah kos, rumah pribadi, semuanya penghuninya doyan internet. Kata mereka, lebih baik tidak ada pulsa nelpon dari pada pulsa internet. Dan bahkan, ada yang lebih ekstrim lagi, katanya, lebih rela tidak makan daripada tidak main internet. Nah loh. Iya sih, banyak orang yang lupa makan dan lupa minum klo lagi menjelajah dunia maya. Benar ndak8. Nah, di sini pentingnya pengendalian diri. Iya, khan.

Nah, untuk memperoleh kartu yang digunakan untuk main internetan itu, apakah untuk nonton youtube, berfacebook ria, BBM-an, whatsupp, Line dan teman-temannya. Maka pengguna internet mesti membeli di outlet-outlet yang tersedia.

Setiap pembeli kartu data internet yang datang ke outlet, biasanya bertanya kartu apa yang paling bagus dipakai internetan. Mendapat pertanyaan seperti ini, satu hal yang perlu ditekankan kepada pembeli bahwa kartu internet yang cocok dipakai di suatu tempat belum tentu cocok dipakai di tempat lain. Maka, biasanya pembeli disarankan untuk memilih paket data yang paling kecil. Sehingga ketika kartu internet yang telah dipilih, jaringannya tidak atau kurang bagus pada saat digunakan di tempatnya, maka pembeli tidak terlalu kecewa. Sayang khan, klo sudah beli paket data mahal-mahal ternyata tidak bisa dipakai karena jaringannya tidak bagus di tempat si pembeli.

Pembeli juga biasa bertanya berapa lama kuota internet dipakai. Tentu saja lamanya kuota internet itu dipakai tergantung aplikasi apa yang dibuka atau digunakan. Aplikasi yang paling banyak menguras kuota adalah youtube dan video call. Kalau Facebook, bbm atau browsing tidak terlampau besar menyedot kuota. Kalo sekedar mau facebook-an, bbm-an, atau browsing saja, kuota 1 GB atau 2 GB sudah cukup dipakai untuk beberapa bulan ke depan. Tetapi pengguna data yang suka buka youtube atau men-download, biasanya memilih kuota yang lebih besar, seperti kuota 5 GB ke atas. Biasanya kartu kuota sering dipakai menonton youtube atau mendownload, dua minggu atau tiga minggu dipakai sudah habis kuotanya.

Lain halnya paket unlimited, seperti produk SMARTFREN, menurut sebagian pelanggan, bisa nonton youtube sepuas-puasnya selama masa aktif belum habis. Sayangnya, untuk kartu SMARTFREN, handphone yang cocok hanya handphone SMARTFREN , sedangkan handphone merek lain tidak bisa .

Lain lagi dengan paket Unlimited-nya AXIS-XL, yang sebenarnya dibatasi dgn kuota 1,5 gb. Jadi tidak benar-benar unlimited. Tetapi jika sampai pemakaian mencapai 1,5 GB maka kecepatan menurun dan terkadang tidak nampak gambar. Namun, sebagian pelanggan menyukai AXIS-XL unlimited, karena katanya cukup buat facebook-an dan BBM-an selama sebulan. Menurut mereka kalau pakai paket data 2 GB paling 2 minggu sudah habis kuota. Katanya paket kuota boros.

Sebenarnya kalau mau dapat kartu data yang murah. Bertanyalah pad outlet. Program khusus apa skarang yang ada. Kartu data yang ikut program khusus biasanya agak murah harganya karena outlet mendapat insentif dari pengaktifan kartu data itu.



Satu hal yang tidak boleh pembeli lupakan adalah menanyakan masa aktif kartu. Banyak pembeli yang mengeluh. Bahwa mereka pernah beli kartu perdana yang kuotanya lumayan besar tapi habis dalam waktu tiga hari. Oleh karna itu perlu dicek dulu masa aktif kartunya.

Selain masa aktif kartu, yang tidak boleh adalah mengecek jumlah kuota. Sesuai tidak yang tercantum di cover atau yang dikatakan penjual. Jangan sampai yang tercantum 10 GB ternyata isinya cuma 2 GB. Tidak masalah kalau dibeli di outlet yang dikenal. Tapi kalau dibeli di mobil-mobil pinggir jalan. Gimana mau komplainnya, kalau penjualnya sudah tak ada di tempat.

Untuk pembeli kartu perdana pastikan kamu mengambil kode PIN toko. Karena dikhawatirkan ketika kamu sudah kebelet mau online. Ternyata tidak mau connect-connect. Kemungkinan kartumu minta kode PIN toko.

Satu lagi khusus buat pengguna handphone dua sim ketika memasang kartunya atau simnya. Bila kartu yang dipakai untuk internetan ditaruh di SIM 1, pastikan pada pengaturan jaringan selulernya, jaringan data di SIM 1, jangan di SIM 2. Karna bisa menyebabkan pulsa yang ada pada SIM 2 untuk nelpon atau sms-an amblas. Dan, bisa juga membuatmu marah-marah pada outlet. Karna jaringan tidak mau connect-connect. Padahal kamu yang salah atur di pengaturan data.

Setelah mendapat kartu data yang cocok di tempatnya masing-masing. Sebaiknya, pelanggan tidak perlu mengganti kartunya. Setiap habis kuota, pelanggan bisa minta pada outlet untuk mengisi ulang paket datanya. Karena untuk ke depannya, registrasi  kartu sepertinya akan lebih diperketat. Memang, isi ulang paket data agak lebih mahal dari kartu perdana. Seperti Indosat, Xl-AXIS, maupun Telkomsel. Kecuali ada program khusus seperti  rabu rawit dan jum'at baik untuk kartu AXIS-XL. Pada hari itu,  pengguna kartu AXIS bisa mendaftar paket data yang harganya lebih murah 30% persen dari harga biasanya.

Dalam hal isi ulang paket data, kartu TRI selangkah lebih maju. TRI menyediakan voucher paket data 1 GB sampai 10 GB. Hal ini membuat pengguna TRI merasa nyaman menggunakan paket data TRI. Kalau kuota data habis, bisa beli voucher kuota data yang tersedia. Sementara operator lainnya tidak menyediakan voucher isi ulang paket data. Mereka mesti beli pulsa untuk mendaftar paket data sendiri atau minta dikirimkan paket isi ulang. Operator lain tidak sepraktis TRI dalam hal ini. Makanya pengguna operator lain, lebih memilih membeli kartu perdana baru daripada mengisi ulang paket datanya. Tapi, hal ini tidak bisa terus menerus berlangsung, manakala peraturan Menkominfo tentang diharuskannya setiap kartu perdana diregistrasi dengan identitas yang sebenarnya, bukan rekayasa, lebih diperketat.

Demi kenyamanan dan kelancaran berinternet ria, maka hal-hal di atas perlu diperhatikan. Kita mesti membeli kartu internet bukan karena dia murah, atau banyak orang yang pakai. Tapi karena kartu internet itu cocok di tempat kita. Jaringannya bagus atau lancar. Biar mahal sedikit yang penting jaringannya mantap. Dan belilah di outlet-outlet terpercaya.


Kamis, 10 Maret 2016

ASMARA REMAJA




Sejak pertama Hani bertemu Kamil, gadis itu merasa ada rasa yang lain di hatinya. Terasa seperti ada dawai-dawai berdenting dengan merdunya. Setiap melihat Kamil, terasa hatinya berdebar-debar syahdu. Hani sudah berusaha mencoba menghapuskan segala rasa itu. Tetapi rasa itu tak kunjung jua bisa tercerabut dari hatinya. Satu hari tak melihat Kamil, rasanya seperti tak melihatnya berabad-abad lamanya. Bayangan sang pemuda tak mau lepas dari benaknya.

Ya...dialah Kamil. Pemuda yang membuat Hani kalang kabut. Dia yang telah membuat Hani jatuh hati. Timbul pertanyaan di hati Hani, seperti inikah rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama?

Kamil adalah kakak kelas Hani. Mereka bersekolah di sebuah SMA di kota Makassar. Sebuah sekolah favorit di kota ini, namanya SMA Garuda Nusantara. Kamil pemuda yang biasa-biasa saja, bahkan orangnya rada-rada cuek. Cuek dengan segala penampilannya. Berbeda dengan teman-temannya yang lain. Tau khan, gimana penampilan anak-anak SMA sekarang ini. Mereka sangat memperhatikan penampilan mereka. Tapi Kamil tidak, dia berbeda. Tapi justru disitulah letak keunikannya. Dan Hani suka.

Sudah sejak lama Hani suka sama Kamil. Tapi Hani tak pernah mengutarakan perasaannya pada siapapun. Bahkan pada sahabatnya sendiri, Yanti. Tapi lama kelamaan Yanti mulai curiga kepada Hani. Melihat perubahan sikap Hani. Menurutnya, Hani suka melamun akhir-akhir ini. Bahkan sering pula senyum-senyum sendiri. Tapi Hani belum mau terus terang kepadanya. Dan sahabatnya itu seperti biasanya, hanya tersenyum dan malah bersenandung menggoda: oow...oow siapa dia. Siapa yang telah merebut hati sahabatnya, Hani. Yanti tidak marah ketika Hani belum mau mengatakan padanya. Hani beruntung punya sahabat seperti Yanti, yang sabar dan mengerti dirinya.

Suatu saat Hani bertemu Kamil di depan kantin sekolah. Kamil sedang bersama temannya, Dani dan Alwi. Mereka memang sahabat baik. Di mana-mana, mereka slalu bersama. Mereka seperti trio kwek kwek kwek. Tanpa sengaja Hani melihat ke arah Kamil. Dan ternyata Kamilpun juga melihat ke arah Hani. Hani tersipu malu dan pura-pura tidak melihat pemuda itu. Ehm....

Sejak saat itu, setiap berpapasan, Kamil selalu menyapa Hani. Duh.. hanya disapa saja, Hani sudah merasa sangat bahagia. Apalagi kalau bisa lebih dekat dengan dia. Bisa ngobrol bareng, jalan bareng. Woow pasti lebih bahagia lagi.

Hari-hari yang terlalui terasa indah. Seindah pelangi di atas cakrawala. Penuh warna warni. Begitu indahnya. Perasaan Hani ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Melalui sahabatnya, Yanti, Kamil menitip salam padanya. Ternyata Kamil juga suka padanya dan  pemuda itu ingin kenal lebih dekat dengannya.

Bagaimana mungkin? Hani bertanya dalam hati kecilnya. Menurutnya, dia hanya gadis biasa. Masih banyak gadis yang lebih segala-galanya darinya. Mengapa Kamil memilihnya. Dia merasa seakan-akan itu hanya mimpi. Tapi, kenyataannya yang berbicara bahwa Kamil juga suka padanya. Kenyataan itu melambungkan perasaannya. Bagai terbang di langit yang indah.

Dan akhirnya, Hani mengakui kepada Yanti. Bahwa dia juga suka pada Kamil. Nah, pertanyaan Yanti selama ini terjawab sudah. Siapakah pemuda yang telah merebut hati sahabatnya. Ternyata Kamillah orangnya. Dan tentu saja Hani bersedia jika Kamil mau mengenalnya lebih dekat. Yanti menggodanya. Dan tak berhenti-henti menggodanya. Yanti bilang Hani beruntung. Katanya, Kamil orangnya baik. Tak pernah pacaran sebelumnya, dengan gadis manapun. Yanti kenal baik dengan Kamil. Mereka tetanggaan, bahkan berdekatan rumah. Kenyataannya saat ini, Kamil ingin kenal lebih dekat dengan Hani dan menjadikannya teman istimewanya. Tentunya, Hani adalah orang spesial.

Hari itu Hani berjumpa dengan Kamil di perpustakaan. Dia ternyata sendirian. Entah di mana Alwi dan Dani saat itu. Kamil mengajak Hani duduk di meja yang sama. Walaupun mereka duduk agak berjauhan. Jantung Hani terasa berdebar. Tak berani melihat ke arah sang pemuda pujaan. Kamil bilang kepadanya agar Hani santai saja. Dan menganggap dirinya sebagai orang yang sudah lama Hani kenal. Hanipun mengiyakan dan tersenyum malu.

Sejak saat itu, Mereka slalu bersama. Ke kantin, ke perpustakaan dan duduk-duduk di halaman sekolah. Selalu bersama. Tetapi mereka tidak pernah berdua. Mereka slalu bersama Yanti, sahabat Hani. Kecuali kalau Kamil menjemput Hani di rumahnya dan mengantar Hani kembali ke rumahnya sepulang sekolah. Orang tua Hani bahkan sudah mengenalnya dengan baik karena seringnya Kamil mengantar dan menjemput anak mereka.

Walaupun Kamil telah menjadi teman spesial Hani. Kamil tak pernah menyentuh Hani satu kalipun. Dia begitu menghormatinya. Ternyata dari ibunyalah, dia mendapat nasehat untuk menghargai wanita. Sebenarnya ibunya pernah mengatakan padanya untuk tidak pacaran, atau memiliki teman spesial perempuan. Pesan ibunya bertemanlah sebanyak-banyaknya, jangan pacaran. Tapi, kata Kamil, dia tak kuasa menepis perasaannya bahwa dia menyayangi Hani..duh so sweet.

Suatu saat pada musim liburan, Kerohanian Islam (Rohis) di mushollah sekolah mereka mengadakan semacam pesantren kilat. Hani serta Kamil pun mengikuti acara tersebut. Selama tiga hari acara tersebut diadakan. Di dalam acara pesantren kilat itu ada materi yang membahas tentang batas-batas pergaulan antara lelaki dan perempuan dalam Islam. Materi itu membuat mereka merasa tersentil. Tapi, Kamil masih mengantar dan menjemput Hani pulang. Sebenarnya sesuatu telah berkecamuk di hati Hani. Bahwa apa yang Hani jalani bersama Kamil adalah hal yang salah. Sudah melanggar batas. Bersama-sama selalu, walau ada teman yang lain. Berboncengan dengan Kamil. Padahal Kamil bukan mahramnya. Aaah... Hani merasa pusing. Antara cinta dan perasaan bersalah. Entahlah, Hani tak tahu, apakah Kamil juga merasakan apa yang dia rasakan.

Suatu hari Hani, Kamil dan teman-temannya yang lain, lagi duduk-duduk nyantai di kantin. Sambil menikmati bakso spesial buatan mbak Ida sang pengelola kantin. Kamil mengutarakan sesuatu kepada Hani. Ternyata dia ingin memutuskan hubungannya dengan Hani. Tapi katanya dia takut kehilangan Hani. Menurut Kamil, Hani begitu berarti buat dia. Tapi dia sadar bahwa ini semua harus diakhiri. Karena hubungan mereka telah melanggar batas-batas pergaulan antara perempuan dan laki-laki. Mereka berdua bukan mahram. Tetapi sering bersama. Kalau mau tetap berhubungan. Lebih baik menikah dulu. Agar tidak terjebak lebih dalam lagi dalam kubangan dosa. Memang saat ini mereka masih mampu untuk mempertahankan kesucian diri. Tetapi sampai kapan. Sedangkan setan selalu mencari-cari kesempatan untuk menjerumuskan manusia.

Haah...menikah? Pikir Hani, mana mungkin mereka menikah. Mereka masih sekolah. Masih duduk di bangku SMA. Tidak mungkin mereka menikah saat ini. Dan tidak mungkin orangtua mereka mengijinkan. Lagipula Hani mau kuliah dulu, Kamil pun demikian. Mereka sudah berencana habis kuliah, cari kerja. Setelah dapat kerja baru mereka menikah. Bagi mereka tak usah punya rumah dulu. Ngontrakpun bolehlah. Sejauh itu sudah rencana mereka berdua. Mereka serius menjalani hubungan. Saling memperhatikan dan saling menjaga. Jadi sekarang, gimana dong? Betul-betul pusing ketika menghadapi dua pilihan yang sama beratnya. Putus hubungan atau nikah. Tapi melihat sìkon dan kenyataan yang ada. Sepertinya keputusan untuk memutuskan hubungan lebih realistis untuk ditempuh.

Hani sampai meneteskan airmata menandakan betapa sedihnya dirinya. Malah Hani sampai terisak-isak, tak kuasa menahan tangis. Tapi Hani sadar. Cepat atau lambat, hal ini akan diungkapkan Kamil juga. Sama seperti dirinya yang akan menyatakan hal yang sama. Tapi ternyata Hani tak tega dan sepertinya belum rela berpisah dari Kamil. Hanipun menyatakan kepada Kamil sungguh berat melepas kekasihnya itu. Tapi kalau memang hal ini harus terjadi. Hanipun pasrah.

Merekapun berpisah baik-baik. Kamil berkata agar Hani menjaga dirinya baik-baik. Kalau mereka memang berjodoh maka Tuhan akan menyatukan mereka kembali.

Begitulah akhir kisah Hani bersama pemuda pujaan hatinya. Mereka berdua menyadari tidak semestinya hubungan asmara antara lelaki dan perempuan terjalin, sebelum diresmikan dalam sebuah pernikahan. Dan satu hal yang pasti, keduanya, Hani dan Kamil tak ada yang merasa tersakiti. Karena keputusan untuk berpisah dan mengakhiri hubungan mereka dilandasi oleh kesadaran. Kesadaran mereka untuk menjadi insan-insan yang taat kepada yang memberi anugerah cinta  yang indah itu. Allah Arrahman Arrahim.

Rasa cinta tak pernah salah
karena cinta itu anugerah
Tetapi letakkanlah rasa cinta itu
di tempat yang semestinya
dan di saat yang tepat