Selasa, 08 Januari 2019

Review Film Death Note

Film Death Note ini diangkat dari manga atau komik Jepang, yang kemudian dijadikan anime, singkatan dari animation. Manga ini sangat populer di Jepang. Film ini saya temukan secara tidak sengaja di laptop. Sebenarnya saya sering melihat folder film ini ketika mencari file atau mencari film untuk dinonton bersama.

Suatu hari saya penasaran membuka folder film ini. Saya buka filmnya dan saya putar. Menarik juga. Akhirnya, saya nonton sampai selesai. Lalu saya temukan lagi folder lain dengan judul yang sama, ternyata sequel film tadi. Boleh dikatakan itu kelanjutan film yang kunonton sebelumnya.



Film Death Note ini menceritakan tentang seorang pemuda jenius dan keren yang ingin menjadi penyelamat dunia. Yagami Light, nama pemuda itu, berambisi menjadikan dunia bebas dari orang jahat. Ia jengkel melihat orang jahat yang bebas melakukan kejahatan tanpa tersentuh hukum. Ia marah melihat ketidakadilan itu.

Tiba-tiba ia mendapatkan sebuah buku hitam milik Shinigami (Dewa Kematian).

Dengan hanya mencatat nama seseorang di kertas dalam buku hitam yang berjudul "Death Note" itu, maka orang yang dicatat namanya akan mati. Tiba-tiba orang itu akan sesak napas, dan akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Seperti orang yang mengalami serangan jantung.

Banyaknya kematian di mana-mana membuat kepolisian menjadi kalang kabut mencari pelakunya. L menjadi tumpuan harapan. L, seorang jenius yang menguasai teknologi komputer. Tampangnya seperti orang culun tetapi kemampuannya luar biasa. Beberapa kasus sudah diselesaikan olehnya.

Polisi bekerja sama dengan L untuk memecahkan kasus kematian yang terjadi secara beruntun. Namun itu tidaklah mudah, Kira, nama lain dari Light, ternyata pintar. Dia berusaha mengecoh polisi dan L. Karena kepintarannya, ia dengan mudahnya mendapat informasi rahasia dari situs resmi kepolisian. Apalagi dia seorang anak dari seorang polisi senior yang bertugas menyelidiki kasus ini.

Agar tidak dicurigai sebagai Kira, Light meminta untuk bergabung dengan ayahnya dan polisi lainnya, juga L untuk mengungkap kasus ini. Namun, ayahnya menolak.

Sebenarnya L curiga dengan Light. Ia meminta para polisi yang bekerja sama dengannya untuk memasang alat sadap di rumah Light. Tentu saja, ayah Light menjadi gusar, namun demi kelancaran misi. Penyadapan itu harus dilakukan.

Light tahu kalau rumahnya disadap. Ia melakukan kegiatan seperti biasanya. Ia rajin membaca buku. Para polisi memuji Light di hadapan ayah Light. Pada hari berikutnya, Light mengambil sebungkus kerupuk. Sambil memakannya ia menjelajah internet. Pada saat itu, seorang kriminal mati.

Para polisi senang melihat kenyataan bahwa Light bukanlah pelakunya. Karena ada yang mati sementara Light sedang melakukan aktivitas seperti biasanya. L memerintahkan untuk membuka alat penyadap di rumah Light. Di sini timbul pertanyaaan, siapa sebenarnya yang melakukan pembunuhan kriminal tadi.

Ternyata, saat Light makan kerupuk, di dalam bungkus kerupuk itu ada tv kecil dan sobekan kertas dan sebuah pena. Light menuliskan nama kriminil itu seolah-olah ia mengambil keripik dalam bungkusnya.

Masih panjang ceritanya tapi saya sudah capek menuliskan lanjutan kisahnya...

Review Film Bahubali 1 dan 2

Saya termasuk salah seorang penggemar film. Kalau lagi butuh refreshing, saya tak perlu kemana-mana, saya tinggal mendownload film yang ingin saya nonton. Kalau nonton film di bioskop yah baru satu kali selama 30 tahun terakhir. Itupun diajak sahabat-sahabatku.

Saya suka nonton film India. Whaaat? Film India. Film yang banyak nyanyi-nyanyi sambil menari itu yah? Ah yang beneer? Eeiits jangan salah yah. Film India banyak yang bagus lho. Seperti Tare Zamen Pare, PK, 3 Idiots, Bajran Bhaijan dan masih banyak yang lainnya. Kalau dibilang film Bolliwood berlatar agama Hindu, tidak semua sih. Tapi kalau pun memang benar. Saya kira tidak masalah khan. Banyak juga pencinta film Hollywood, yang kita tahu notabene banyak buatan sutradara Yahudi. Saya pikir tidak masalah. Nilai-nilai universalisme Islam tetap ada seperti keadilan, kebenaran, cinta dan kasih sayang juga nilai-nilai lainnya. Saya melihat dalam setiap ideologi, selain Islam tentunya karena saya beragama Islam tentu harus yakin dong agama yang kuanut sempurna, itu ada benarnya dan ada buruknya. Kita ambil yang baiknya dan kita hindari yang buruknya. Okeey. Lanjut.



Saat ini saya ingin bercerita tentang sebuah film India berjudul Bahubali. Film dengan tokoh utama Amarendra dan Devsana ini termasuk film yang menarik. Film ini sebenarnya terdiri dari dua film. Yaitu Bahubali 1 : The Beginning dan Bahubali 2 : The Conclusion. Sayang film Bahubali 1 yang sudah saya download hilang bersama film-film lainnya. Ketika memori hardisk satu tera ku tidak terbaca. Sudah banyak film yang kudownload di situ. Ada Adventure, film Star War lengkap. Dan masih banyak yang lainnya. So sad.

Film Bahubali sangat menarik karena mengusung kisah epos fiktif berlatar belakang India Kuno. Film yang disutradarai oleh S.S Rajamouli, dibintangi oleh Prabhas, Rana Daggubati, Tamannah, dan Anushka Shetti. Bintang film yang asing sebenarnya bagiku. Tidak seperti misalnya Amita Bhaccan, Amir Khaan, Syahruk Khaan. Pasti semua pada kenal khan. Tapi walaupun mereka kelihatannya seperti bintang yang tidak terkenal. Mungkin bagiku. Tapi akting mereka cukup memukau.


Film Bahubali 1: The Beginning, mengisahkan tentang kehidupan Mahendra yang ketika masih bayi ditemukan oleh Sanga dan suaminya. Ketika dewasa, Mahendra tahu siapa sebenarnya orang tua aslinya dan ia pun tahu apa tujuan hidupnya. Mahendra pun terlibat konfrontasi besar dengan Bhalladeva yang perkasa. Dalam film ini, terjadi flash back ke masa silam, sewaktu ayahanda Mahendra, Amarendra Baahubali masih hidup. Baahubali sangat kuat dan perkasa. Dan ia mendapat kecintaan dari rakyatnya. Baahubali sejak kecil dipelihara oleh tantenya, ibu Suri Srivademi. Karena ibunya meninggal sejak kecil. Dia dipelihara bersama dengan sepupunya Bhalladeva.

Ketika mereka terlibat pertempuran dengan bangsa lain, terlihat kehebatan Bhalladeva menghadapinya. Trik-trik peperangan banyak dipertontonkan. Efek visualnya teramat canggih. Itu berkat kolaborasi sinesa India dengan prosesor AMD untuk membuat efek visual dan animasi.



Film Bahubali 2, The Conclusion, kisah berlanjut. Amarendra Bahubali, ternyata diangkat menjadi pangeran mahkota oleh ibu Suri. Hal itu menimbulkan kemarahan saudara sepupunya, Bhalladeva dan ayahnya. Bhalladeva diberi hadiah oleh ibu Srivademi sebuah istana. Tetapi hadiah itu ditampiknya. Amarendra kemudian jatuh hati pada seorang putri cantik yang pandai bertarung bernama Devsana. Dia seorang putri dari sebuah kerajaan kecil. Bhalladeva tahu hal itu. Dan membujuk ibu Ratu untuk melamarkan gadis itu. Ibu Ratu setuju dan mempersiapkan hantaran emas yang banyak kepada gadis itu. Tak disangka sang Putri menolak. Ibu Ratu marah besar.

Maka dikumpulkanlah patih dan panglima di balairung. Sang ratu ingin menyerang kerajaan kecil itu dan menangkap sang putri yang telah berani menantangnya. Amarendra yang menyamar sebagai rakyat biasa di kerajaan sang putri diperintahkan untuk menangkap sang putri. Amarendra sebelumnya telah menolong kerajaan kecil itu dari serangan kerajaan lain. Dan Devsana pun jatuh hati kepada Amarendra. Amarendra salah menyangka bahwa dialah yang dijodohkan dengan putri Devsana. Dia berjanji untuk melindungi sang putri apapun yang terjadi di istana nanti.

Sesampai di kerajaan Mahespati, Ibu Ratu menyuruh Devsana berjalan ke arah calon suaminya. Ternyata Devsana berjalan menuju ke arah Amarendra Bahubali. Bhalladeva marah. Ratu pun juga demikian. Dia memerintahkan Devsana ke arah Bhalladeva. Tetapi Devsana menolak dan memilih Bahubali. Ratu murka dan mencopot janji atas pengangkatan Bahubali menjadi raja di Mahespati dan digantikan Bhalladeva. Berbagai kejadian yang memilukan setelah itu terjadi. Sampai pembunuhan Bahubali oleh pembantu setia kerajaan, Kappala. Akibat fitnahan atasnya. Anaknya pun lahir tapi Bhalladeva berusaha membunuhnya. Ini mengakibatkan Ibu Suri terbunuh karena melindungi anak Bahubali, Mahendra Bahubali.

Setelah dewasa, Mahendra menuntut balas atas kematian ayahandanya dan membebaskan ibunya dari pasungan Raja Bhalladeva. Akhirnya dengan melalui pertempuran yang dahsyat akhirnya Raja Bhalladewa dan pasukannya dapat dikalahkan.

Itulah sekelumit kisah dari film India yang berjudul Bahubali 1 dan Bahubali 2. Film yang menarik apalagi yang suka dengan film laga. Mantaplah ini film pokoknya. Alasan saya suka film adalah karena film ini berlatar kerajaan klasik. Saya suka dengan yang klasik-klasik. Klasik bukan berarti kuno lho. Tapi yang kuno itu, biasanya harganya mahal. Seperti barang kuno atau antik yah..hehehe..

Kalau teman-teman penasaran dengan film ini, bisa dinonton di youtube, atau download dulu dengan subtittlenya. Selamat menikmati filmnya sambil menyeruput kopi atau teh manis.

Senin, 10 Desember 2018

Sebuah Permintaan

Seorang bapak singgah di depan sebuah rumah. Bapak itu memberi salam, "Assalamu 'alaikum." Tuan rumah, seorang ibu, membalas salamnya, "Waalaikumsalam."

Si bapak duduk di kursi teras dan berkata pada ibu itu, "Ibu, saya mau minta tolong." Ibu itu bertanya, "Iya, minta tolong apa, Pak?" Bapak itu menjawab, "Begini Ibu, saya mau minta jilbab, Bu. Saya mau berikan pada adikku yang mau masuk pesantren."

Ibu itu menjawab, "Oh iya, Pak. Saya juga kurang jilbabku, Pak. Saya biasa sumbangkan kalau ada yang butuh." Bapak itu menukas, "Yang ada saja, Bu." Ibu itu membalas, "Ada memang Pak, tapi saya jarang beli jilbab. Apalagi sekarang mesin cuci rusak dan saya sibuk, jilbab belum dicuci, Pak."

Bapak itu bilang, "Tolong Bu, ini untuk adekku yang mau masuk pesantren, biar yang kotor saja, Bu." Ibu itu merasa aneh, kok kayak ada nada pemaksaan dalam nada bicara si Bapak. Ibu itu bilang, "Minta Maaf ya, Pak. Insya Allah lain kali ya."

Bapak itu bergegas berdiri lalu bilang sama si ibu, "Kalau begitu tidak usah, Bu. Ibu sombong sekali." Lalu, Bapak itu berlalu dengan membawa bungkusan kantong kresek hitamnya. Entah apa isinya.

Dan ibu itupun melongo dan berbisik, "Astagfirullah...Duh Tuhan, salahkah diriku 😢?"

#KisahRenungan

DIARY

Dulu sekitar tahun 1980-1990an, ada kebiasaan menulis diary yang dilakukan oleh remaja usia SMP-SMA. Diary yang dimaksud pada waktu itu bukanlah buku untuk menulis catatan harian kegiatan. Tetapi diary yang dimaksud itu adalah buku agenda yang cantik yang biasanya diisi oleh teman-teman satu kelas. Biasanya yang punya diary adalah remaja cewek. Yang cowok bukannya tidak ada, tapi pada umumnya yang biasa punya buku diary ini kebanyakan yang cewek.



Sebelum buku diary itu diberikan kepada teman sekelas, si pemilik menulis terlebih dahulu. Yang ditulis itu tentang nama, alamat, cita-cita, hobby dan motto. Apalagi yah? Saya sudah lupa. Paling menyenangkan jika semua teman menulis di diary yang kita miliki. Dari semua yang dituliskan itu ada satu hal yang menarik. Yaitu motto. Motto yang paling sering dituluskan itu adalah One by One. Dan hampir sebagian besar yang isi diary menulis seperti itu.

One by one. Pada waktu itu saya tidak mengerti sepenuhnya apa yang dimaksud dengan motto itu. One by one atau satu tetap satu. Bahkan ada yang menambahkan, one by one, satu tetap satu, tidak mungkin jadi dua, dan haram menjadi tiga. Entah apa yang dimaksud kalimat itu, karena pada waktu itu, yang menulis motto itu rata-rata tidak punya pacar. Karena pada waktu itu yang namanya pacaran tidak selazim seperti sekarang.

Dulu jaman SMP kita masih lugu-lugu, tidak seperti sekarang masih SD sudah punya "yayang-yayang." Terlihat dari beberapa postingan beberapa teman FB saya masih di bawah umur. Sering mengucapkan pada temannya yang lagi berulang tahun pacarannya. "Pianiv 1month yah, semoga langgeng. Pianiv 3 month yah, semoga bertambah sayangnya." Pianiv maksudnya happy anniversary. Membacanya aku jadi geli sekaligus miris. Kasihan sebagian anak-anak sekarang, semestinya pada usia seperti itu, bagus-bagusnya berteman, eh ini malah pacar-pacaran.

Jadi, One by One, motto yang paling favorit dituliskan oleh teman-teman pada waktu itu. Entah apa yang mendasarinya atau alasannya mengapa memilih motto itu. Apakah karena motto itu terlanjur terkenal atau apa?

#Kenangan
#FreeWriting

Selasa, 04 Desember 2018

Intoleransi

Saya pernah mengunfriend seseorang. Alasan saya memutus pertemanan dengannya karena saya menilai dia intoleran. Banyak yang memanggil dia habib saat berkomentar di statusnya. Statusnya bagus-bagus. Kecintaan terhadap Rasul dan keluarga Rasul. Banyak yang like dan share. Saya juga senang membacanya. Tetapi, kalau menyinggung tentang muslimah bercadar, dia sepertinya anti banget.

Pernah teman fbku itu memosting gambar tentang muslimah bercadar yang lagi berendam di kolam renang. Dia beri caption "Ikan Pari Ngambang". Kaget juga melihat statusnya. Kok ada habib postingannya begitu sih. Apa untuk kesenangan semata. Happy fun atau apa? Lalu banyak komentar negatif yang muncul di postingan tersebut. Dia beri emoticon ketawa. Sesekali dia menanggapi dengan ber haha hihi. Betapa senangnya dia dengan cemoohan terhadap saudarinya yang muslimah. Bukankah setiap muslim itu bersaudara? Mau dia berjilbab, bercadar, atau belum berjilbab, tetaplah saudara.

Ketidaksukaan terhadap muslimah bercadar itu memang biasa. Banyak komentar miring terhadapnya. Tetapi kalau seorang habib seperti itu alangkah sayangnya. Karena hasil pembacaan saya tentang bunda Fatimah dan isteri-isteri Rosulullah, mereka itu bercadar. Mungkin tidak seperti model cadar (penutup muka) yang dipakai di Indonesia. Walaupun dikatakan bahwa cadar itu budaya Arab. Atau budaya Yahudi sekali pun. Itu tidak menjadi masalah. Itu pilihan masing-masing person.

Setiap orang punya kebebasan dalam menentukan pilihannya, begitu pula dalam hal berpakaian. Selama masih sopan dan tidak mengganggu orang lain. Begitu juga dengan seorang muslimah. Mau bercadar, berjilbab atau tidak berjilbab sekalipun. Menghargai pilihan orang lain itu lebih baik daripada menghinanya.

By : Hamsinah Hamid

#IbukIbukMenulis

Selasa, 11 September 2018

Sabrina "Bad Mood" Sekolah

Setelah satu minggu tidak pergi sekolah. Sabrina mau lagi menginjakkan kakinya di tempatnya bersekolah. Sebelumnya, selama seminggu kalau ditanya kapan ke sekolah lagi. Dia bilang hari senin pi.

Hari ini, si bungsu ke sekolah bersamaku. Ia tidak mau ditinggalkan. Selama beberapa menit kami di pintu saja. Ia pegang tanganku, seperti tak mau ditinggalkan. Kubujuk ia dan kusemangati. Mana semangatmu..ini semangatku. Aku tersenyum dan mengajaknya tersenyum. Ia pun tersenyum. Dan memelukku.

Aku masuk ke kelas. Agar ia juga ikut masuk. Aku duduk di bangku kecil. Sabrina dipanggil temannya untuk duduk di dekatnya. Tapi Sabrina enggan meninggalkanku. Aku membiarkannya di dekatku. Gurunya memanggil dengan lembut, di sini duduk Sabrina. Sabrina hanya tersenyum.



Selang beberapa menit kemudian, pelajaran telah berlangsung. Menyanyi dan membaca do'a dan permainan yel-yel anak. Anak-anak belajar dan bermain dengan riangnya. Aku berusaha membangkitkan semangatnya untuk bergabung dengan temannya yang lain.

Aku mengatakan padanya. Saya tidak pergi ji nak kutemani jaki nak. Aku angkat kedua tangan. Sabrina pun mengangkat tangannya. Kami toss. Sabrina ketawa. Aku ketawa. Kami ketawa bersama. Tapi ketawa kami perlahan, takut mengganggu teman-teman yang lagi belajar.

Ketika teman-teman berdo'a dipimpin sama gurunya. Teman-temannya mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. Aku mengajak Sabrina mengangkat kedua tangannya juga untuk berdoa. Sabrina kuajak mengikuti arahan gurunya tanpa bergabung dengan teman-temannya yang lain.

Dan, ketika Sabrina mau ikut gabung sama temannya. Saya lega. Walaupun sesekali Sabrina melirik kepadaku yang duduk di bangku kecil di belakangnya. Mungkin untuk sementara Sabrina harus kutemani dulu.

Sabrina..anakku yang terkecil, umur genap 5 tahun bulan ini. Entah mengapa mengalami perubahan. Dia menjadi takut ditinggalkan. Padahal selama dua bulan, ia cuma diantar dan dijemput, tak ada masalah.

Oh iya, ada peristiwa sebelum terjadi perubahan pada sikap Sabrina. Hari itu kami melayat. Melayat sepupunya yang meninggal. Dia ikut duduk di samping jenazah. Banyak yang menangis. Bagaimana tidak bersedih jika yang meninggal ini seorang pemuda yang baik, masih muda, baru tamat SMA. Kami pun turut larut dalam kesedihan.

Besoknya, Sabrina diantar ke sekolah sama ayahnya. Sabrina sendiri yang memanggil ayah. Padahal anakku yang lain memanggil aba. Tiba-tiba ada telpon dari gurunya, katanya Sabrina nangis. Gurunya heran karena selama ini Sabrina tidak begitu. Ayahnya pergi menjemputnya ke sekolah. Anakku pun pulang. Saya tanya dia, kenapa pulang. Katanya, cari mama.

Jadi untuk sementara ini, saya minta izin ibu guru untuk menemani anakku. Sampai ia betul-betul siap untuk ditinggalkan. Bersama dengan teman-temannya yang lain. Bermain, belajar dan bersosialisasi.

@Tulisan sambil menunggu anak.

#KisahSabrina

Kamis, 23 Agustus 2018

Balon Gas Lebaran

Setiap hari raya baik hari raya Iedul Fitri atau Iedul Adha di lapangan pada waktu menunaikan sholat ied pasti penjual balon gas selalu meramaikan. Balon-balon gas itu selalu bisa menarik perhatian anak kecil. Beragam bentuk, warna dan gambar balon membuat anak-anak tidak tahan untuk segera mendapatkannya.

Ada yang berbentuk kapal, mobil dan masih banyak lagi. Berwarna-warni pula. Gambar semacam Upin Ipin, Putri Salju, dan gambar terkini, yaitu Tayo, sejenis bus dari film Tayo.

Baru memasuki lapangan, anak sudah berteriak balon ma balon ma. Tayo Tayo. Dijawab bentar dulu nak. Habis sholat baru kita beli yah. Habis sholat ied, khutbah pun berkumandang, anak semakin tak sabar. Grasa grusu minta dibelikan. Salah sendiri ibunya bilang belinya habis sholat. Nah sekarang nagih deh. Tapi penjualnya cukup jauh. Di luar pagar. Harus melewati banyak orang kalau mau pergi beli.

Sepanjang khutbah dia merengut marah-marah. Rupanya dia tak sabar. Sampai-sampai jilbab kakaknya ditarik-tariknya. Aduh jangan dong. Yang sabar yah. Ceramahnya hampir selesai. Baru kita beli yah.



Ada balon gas yang terbang. Ditunjukkan kepadanya. Itu nak ada balon lepas terbang deh. Nanti terbang juga kalau kita beli sekarang. Sabar yah. Dia pun jadi tenang. LaLu kubujuk kakaknya untuk membelikannya. Tapi katanya tidak enak melewati orang banyak. Jadi bersabarlah kita menghadapi anak yang mupeng dengan balon gas cantik itu.

Sepanjang khutbah itu, ada terbetik pikiran. Waduh sebaiknya dilarang saja ini penjual balon ke lokasi sholat ied. Mengganggu konsentrasi saja. Boleh saja menjual kalau sholat sudah selesai baru mereka datang. Mungkin bisa menunggu dulu di tempat yang tidak jauh dari lokasi. Pikiran konyol barangkali itu yah. Mereka khan ikut sholat ied juga. Dan lebih menyedihkan lagi kalau mereka dilarang berjualan. Itu khan ladang rezeki mereka. Kejam nian pikiran itu yah.

Sehabis khutbah, si kecil langsung kelihatan riang. Tidak marah-marah lagi. Kami bergegas menuju tempat penjual balon gas. Banyak pembelinya. Kami mesti antri. Saya berharap semoga tidak kehabisan. Dan tidak ada yang mengambil balon Tayo incarannya. Dia senang sekali sewaktu balon Tayo sudah berpindah ke tangannya. Saya pun senang melihatnya tertawa bahagia sambil memegang balonnya.

Rabu, 21 Maret 2018

Wanita dan Hijab, Sebuah Perspektif

Sekarang saya mengerti mengapa ada sebuah do'a yang berbunyi :
"Karuniakanlah kepada kaum perempuan rasa malu dan kesucian."

Pada era kiwari ini,  lewat medsos seorang bisa mengupload foto apa saja lewat smartphonenya. Ribuan foto berseliweran setiap detik melalui beranda facebook. Foto-foto itu menandakan keeksisan penguploadnya. Foto diri pun tampil menghiasi halaman facebook ataupun instagram yang sangat menarik dan menyita waktu penggunanya. Diakui atau tidak, medsos merupakan magnet yang sangat kuat. Seseorang bisa tahan berjam-jam melototi benda datar di genggamannya. Interaksi antar pengguna di medsos luar biasa baik melalui jempol maupun komentar. Bahkan terkadang bisa dilanjutkan dengan chattingan.

Melalui fb dan instagram perempuan dan lelaki bisa leluasa mengupload foto dan memampangkan wajahnya secara close up di fb. Di mana teman-teman fbnya bukan hanya sesama jenis tapi juga lawan jenis. Dapat melihatnya dan memperhatikan raut muka foto yang tampil.

Foto yang tampil tentu saja yang terbaik bahkan kalau perlu pakai editan agar tampak kinclong. Khususnya foto perempuan bahkan ada yang bergincu dan berpemerah pipi. Tampak cantik sekali. Barangkali wajah bukanlah aurat menurut pendapat sebagian besar orang. Tetapi memasang foto diri yang sudah bersolek. Bisa menarik hati dan gairah lawan jenis. Betul apa bener 😊😄

Suatu hal yang mengherankan ketika perilaku memajang foto diri secara close up bukan hanya dilakukan oleh orang awam. Tetapi juga oleh yang sudah paham mengenai hijab.

Terbukti di medsos dalam hal ini facebook maupun instagram berseliweran foto-foto selfi akhwat berjilbab syar'i. Like bertebaran dan komentar memuji kecantikan si akhwat pun juga tak ketinggalan. Sang pemuji pun mayoritas lelaki. Kalau begitu di mana letak hijab seorang perempuan ketika wajahnya yang cantik dan memesona terpampang dan banyak penikmatnya.

Maka menjadi wajarlah ketika cadar diwajibkan oleh sebagian ulama. Hal itu bertujuan agar kecantikan seorang perempuan terjaga dari pandangan yang bukan mahramnya. Tak lain dan tak bukan untuk membantu kaum lelaki dalam menundukkan pandangannya. Toh, tidak semua lelaki mampu menundukkan pandangan.

Tak menjadi soal ketika seorang perempuan tidak menutup muka (cadar) ketika dia tidak menghias muka dengan berbagai alat kosmetik yang membuat kecantikannya lebih menonjol. Terlebih lagi jika ia mengupload foto selfinya di medsos. Karena jika hal itu dilakukannya, tidakkah itu melanggar fungsi hijab? Bukankah perhiasan yang paling indah dan menakjubkan adalah wajah indah dan menawan penuh pesona. Menarik mana wajah atau tangan yang mesti ditutupi?  Pada umumnya, ketika seorang lelaki tertarik kepada seorang perempuan bagian manakah yah paling menarik dan bisa membuatnya terbayang-bayang pagi, siang dan malam. Hayooo dijawab..

Kembali ke persoalan semula tentang kesucian dan kehormatan seorang perempuan. Kita mengenal beberapa tokoh perempuan suci dalam agama Islam. Mereka adalah contoh maksimal dalam kehidupan kita. Semisal Maryam as, bagaimana seorang Maryam tak pernah bertemu dan bersentuhan dengan sosok lelaki non mahram. Selalu beribadah di mihrabnya. Sebelum diberi amanah mengandung dan melahirkan seorang nabi agung, nabi Isa as. Hal yang pastilah sulit dilakukan oleh kita pada jaman canggih ini.

Barangkali kita tidak bisa seperti beliau tetapi kita bisa menjaga perilaku dan pergaulan kita. Membatasi pergaulan dengan lelaki non mahram. Bergaul boleh tetapi ada batasnya. Demikian pula, perempuan perlu mengetahui tentang hijab atau penutup aurat.

Secara umum aurat wanita yang perlu dijaga :
(1). Menutup aurat bagi seorang wanita itu adalah semua badannya kecuali wajah, tangan sampai pergelangan.
(2). Kaki itu harus ditutup dan ini wajib.
(3). Cadar, yaitu yang menutupi wajah kecuali mata, hukumnya sunnah saja dan tidak wajib.
(4). Kalau wajahnya dihiasi, begitu pula tangannya, maka wajib di tutup juga.
(5). Tidak boleh pakai wewangian di depan bukan muhrim.
(6). Tidak boleh melembut-lembutkan suara pada yang bukan muhrim.
(7). Tidak boleh keluar rumah tanpa ijin orang tuanya dan/atau suami (kalau sudah menikah).

Adapun tentang cadar, ada juga ulama yang berpendapat seperti ini.

* Al Allamah Ibnu Abidin berkata:
Terlarang bagi wanita menampakan wajahnya karena khawatir akan dilihat oleh para lelaki, kemudian timbullah fitnah. Karena jika wajah dinampakkan, terkadang lelaki melihatnya dengan syahwat”. (Hasyiah вЂ˜Alad Durr Al Mukhtaar, 3/188-189).

* Al Allamah Ibnu Najiim berkata:

Para ulama madzhab kami berkata bahwa terlarang bagi wanita muda untuk menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki di zaman kita ini, karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah”. (Al Bahr Ar Raaiq, 284).

Beliau berkata demikian di zaman beliau, yaitu beliau wafat pada tahun 970 H, bagaimana dengan zaman kita sekarang?

Madzhab Maliki
Mazhab Maliki berpendapat bahwa wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Bahkan sebagian ulama Maliki berpendapat seluruh tubuh wanita adalah aurat.

Berdasarkan uraian tentang batasan aurat di atas kita bisa menyimpulkan sendiri bagaimana kita sebagai seorang perempuan menutup aurat kita. Baik dalam rangka memenuhi kewajiban kita sebagai hamba dalam mematuhi perintah berhijab. Dan untuk kenyamanan dan keamanan kita dalam pergaulan.

Dalam berhijab tak ada paksaan, sama halnya ketika dalam beragama dan berkeyakinan juga tak ada paksaan. Kita boleh memilih mau berhijab atau tidak, berhijab seperti apa dan bagaimana. Karena semua pilihan kita, akan kita pertanggungjawabkan sendiri. Baik di hadapan manusia apalagi di hadapan sang Khalik.









Senin, 05 Maret 2018

Kader dan Independensi

Saya seorang kader. Saya akui itu. Sebagai seorang kader ketika mendapat tugas atau amanah. Maka harus dilaksanakan. Akan tetapi, saya dalam situasi seperti ini merasa tidak sanggup untuk melakukannya. Apa penyebabnya. Karena mungkin saya belum move on dari pengalaman yang saya rasa sangat tidak menyenangkan.

Pengalaman apakah itu? Bagi teman-teman sehimpunan mungkin taulah penyebabnya. Saat di mana kita sebagai seorang pluralis mesti berhadapan dengan beberapa senior yang anti terhadap kelompok tertentu. Berada di antara mereka, di kelilingi oleh mereka yang senantiasa menyuarakan ketidaksukaannya terhadap kelompok lain bagi saya sangat dan sangat tidak menyenangkan.

Saat itu saya ditugaskan memandu di salah satu basic training. Sebenarnya sudah duapuluhtahunan saya tidak pernah turun memandu tetapi karena kondisi cabang yang kekurangan pemandu akhwat sehingga saya pun diturunkan. Agak canggung rasanya memandu untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Namun karena hal itu pernah menjadi kebiasaan di masa lampau maka semua bisa diatasi.

Saya malam itu menginap mendampingi adik-adik peserta dan panitia. Dan paginya memandu materi pertama. Pematerinya adalah teman saya, mantan ketua kohati cabang. Periodenya pasangan saya menjabat ketua cabang pada waktu itu. Saya sangat senang memandunya. Soalnya saya sangat mengenalnya.

Saya pulang dan kembali lusanya karena sebelumnya saya sudah menyampaikan bahwa saya tidak bisa full time di lokasi mengingat status saya sebagai ibu rumah tangga. Dan kebetulan ada tamu saya dari kampung. Ponakan suami menginap selama tiga hari di rumah. Ketika kembali ke lokasi bastra, seorang pemandu senior akhwat menyatakan bahwa pemateri untuk materi akhwat tidak bisa hadir. Maka dia menyebut penggantinya. Lantas saya bilang saya kira yang bisa bawakan materi di bastra itu lulusan Senior Course yang otomatis lulusan LK 2. Beliau menjawab sudah berubahmi dek peraturannya, yang penting komitmen terhadap HMI dan kata Kak N yang penting bukan syiah.

Saya kaget alang kepalang. Saya lantas protes. Saya katakan berubahmi peraturannya? Kapan kak? Kenapa ada larangan seperti itu. Ada apa? saya kira Syiah itu Islamji juga, sama seperti Sunni dan Wahabi. Kalau sunni dan wahabi bisa ceramah di himpunan kenapa Syiah tidak. Kakak senior itu menjawab tanya maki kak N langsung dek. Kenapa saya harus tanya kak N,saya menyangkal. Bukankah dalam khittah perjuangan tak ada larangannya. Dia bilang, justru dalam khittah perjuangan itu tidak ada kata-kata syiah di dalamnya. Saya jawab, memang syiah tidak ada di dalamnya tetapi umat Islam itu apa dan siapa? Yah itu kelompok-kelompok Islam tak terkecuali Syiah pun includ di dalamnya. Senior bilang bicara maki saja sama Kak N. Saya jawab untuk apa Kak? Kak N bukan seniorku. Kak N bukan seniorku. Saking marahku itu sama si pembuat statement "yang penting bukan syiah".

Saya waktu itu bertiga sama sahabatku Mil. Mila menyaksikan aku mencak-mencak ala demonstran. Saking kaget dan terperangahnya aku mendengar pernyataan dari seniorku itu.
Betapa tidak himpunan yang kukenal selama ini adalah rumah besar bagi semua. Beragam pemikiran tumpah ruah di sana. Berdialektika dan sangat dinamis. Sekarang mau dimonopoli oleh segolongan orang laksana mau mengkhalaqahkan himpunan tercinta. Saya syok dan merasa terpukul.

Sebenarnya saya tidak mau mengungkapkan kejadian di ruang pemandu itu ke forum terbuka H3 tetapi saya merasa ini sangat berkaitan dengan kejadian belakangan ini. Di mana seorang mantan ketua kohati dikambinghitamkan menyebabkan krisis kohati. Beliau dituduh melarikan kader untuk aktif di tempat lain. Dan kejadian di sebuah forum alumni, tempat alumni Kohati berhimpun, terdapat pula pernyataan bahwa kalau ada pengurus yang ketahuan AB pecat saja. Selain itu saya merasa harus mengungkapkannya untuk memperoleh klarifikasi secara menyeluruh. Saya ingin mengetahui tanggapan dari para senior, pembuat statement dan pihak cabang tentang statemen yang dampaknya merugikan proses perkaderan di himpunan.

Saya ungkapkanlah masalah itu di forum. Berbagai tanggapan muncul, ada yang pro dan kontra. Ada yang mendukungku dan ada juga yang menyatakan tidak pada tempatnya saya mengungkapkan masalah itu. Tapi saya berpikir, ini adalah masalah krusial jika tidak mendapat perhatian serius, perpecahan di depan mata. Jika tidak mendapat kejelasan tentang masalah ini. Masalah yang terus berlarut-larut, masalah yang semestinya sudah tuntas bagi kader-kader sejati. Masalah yang sangat klasik.

Tak ada tanggapan dari pembuat statement dan terutama dari pemilik otoritas tertinggi yaitu Ketua cabang, dan ini menurut saya mengecewakan. Kalau si pembuat statemen bungkam itu berarti dia mengakui pernyataannya itu. Tetapi pihak cabang yang semestinya mengeluarkan pernyataan di saat genting seperti ini dan butuh penyikapan; diam seribu bahasa. Menyembunyikan dirinya di balik kegelisahan seniornya melihat kenyataan pahit yang terjadi di himpunan. Seharusnya beliau yang terhormat menyatakan menjamin seluruh kader dari berbagai latar untuk memberi kontribusi dalam proses perkaderan di himpunan. Peraturan tidak berubah dan tak ada larangan untuk mazhab tertentu untuk berkiprah di himpunan. Khan menyejukkan kalau seperti itu.

Saya pamit dari grup. Saya berharap permasalahan bisa dicari solusinya. Agar himpunan bisa seperti dulu lagi. Tempat berhimpun untuk semua. Dari berbagai latar, warna warninya beragam namun indah. Tempat pembelajaran, dunia mini masyarakat Islam yang majemuk. Berbeda tapi saling menghormati. Begitu menakjubkan.

Saya dimasukkan kembali dalam grup setelah satu bulan tidak aktif. Saya bilang jangan Kak karena saya tidak tahan melihat hal-hal yang tidak beres. Refleks ja itu komentar. Kakak senior bilang masuk saja, komentar saja. Saya sebenarnya sudah malas ke grup selama masih ada dalam grup yang anti terhadap mazhab tertentu. Tapi saya di add kembali sama senior dan tak bisa kutolak.

Pada suatu sore, seorang pemandu mengirim gambar situasi bastra yang sedang berlangsung. Dan foto itu mendapat banyak jempol dari teman-teman WAG. Sampai seorang seniorku yang terkenal anti syiah, menyoroti sang pemateri yang memakai kaos oblong dalam forum sebagai pelanggaran berat. Dan mengaitkannya dengan jabatannya sebelumnya. Dan Kak Ning pun ikut menimpalinya dengan berbagai komentar. Dan seorang senior yang lain pun ikut memberi tanggapun. Lantas saya bilang saya kira tidak substansialji itu memakai pakaian kaos oblong di forum. Mana pelanggaran yang berat memakai kaos oblong atau melarang pemateri karena mazhab tertentu. Lantas pernyataanku itu ditanggapi macam-macam. Ada yang bilang kadernya siapa ini. Angkatan berapa.Tidak pantas kader setingkat SC bisa mengeluarkan pernyataan seperti itu. Kalau begitu tidak usah pakai jilbab di forum, atau tak usah berpakaian sekalian. Ada yang bilang untung tidak mengikutkan keponakannya bastra kalau pemandunya seperti saya. Berbagai macam tanggapan muncul. Kak Arrang mengakuiku dan Kak Danial berharap saya bukan kadernya.

Kak Taju karena tidak tahan melihat diriku seorang ibu-ibu dibully habis-habisan, ikut berkomentar dengan nada menyejukkan tapi menurut kak Jamaluddin Karim itu juga merupakan tamparan bagi yang lain.

Sampai ada kiriman video pemateri yang sementara dibahas kaos oblongnya. Dibilang menistakan sahabat nabi padahal setelah mendengarnya tidak ada pernyataannya yang menghina sahabat nabi. Beliau cuma mencoba menuturkan kembali sejarah Islam di masa awal sepeninggal nabi.
Pro kontra bermunculan. Para senior mengeluarkan pernyataannya masing-masing. Dan sekali lagi Ketua Cabang tidak pernah muncul memberi komentar.
Sampai titik di mana suasana kembali mulai cair karena para guru turun tangan dengan mengeluarkan pernyataan yang menjejukkan misalnya dari Kak Ahmad Mujahid, Kak Tajuddin Noer, Kak Rajab Sabbarang, Kak Lukman Amir dan Kak Syafi Al Mandary dan yang lainnya.

Begitulah, kenyataan yang terjadi. Dua minggu kemudian saya diminta lewat whatsaap oleh ketua cabang untuk turun memandu. Pas bertepatan dengan malam pembukaan bastra. Saya meminta maaf tidak bisa. Penyampaian begitu mendadak sedangkan banyak kegiatan yang mesti saya ikuti dalam pekan itu. Dan saya sebenarnya belum sanggup berada di lingkungan, di antara orang-orang "intoleran". Saya trauma. Lagipula saya masih kecewa dengan ketua cabang yang tidak pernah mengklarifikasi masalah yang sudah terjadi. Saya melihat beliau tidak bisa menjaga independensi himpunan. Himpunan berada di bawah cengkeraman paham intoleransi para senior yang mengawal dan bahkan lebih dari itu. Tetapi kondisi himpunan yang tidak stabil dan mengalami krisis membuat sikapnya dapat dimaklumi.

Minggu, 04 Februari 2018

PERTEMUAN PERDANA IBUK-IBUK MENULIS

Pada Sabtu sore yang basah di areal Papirus, di kawasan Pusat Dakwah Muhammadiyah berlangsung pertemuan perdana Ibuk-Ibuk Menulis asuhan Kak Sulhan. Pertemuan ini untuk pertama kalinya diadakan di darat dan selanjutnya akan dilakukan secara online. Beberapa anggota Ibuk-Ibuk Menulis berkesempatan untuk hadir dan sebagian yang lain berhalangan hadir karena berbagai alasan. Ada yang karena tempat mukimnya di luar kota Makassar, ada karena kegiatan yang bersamaan yang tak dapat ditinggalkan, ada juga yang menunggu di sekitar danau Unhas tidak tahu bahwa lokasi pertemuan dipindahkan, ada yang kecapean karena ada beberapa kegiatan yang diikutinya sejak pagi dan alasan lainnya.


Pertemuan yang dijadwalkan ba'da Ashar itu dimulai pukul 16.45 Wita. Kak Sulhan mulai menjelaskan tentang mengapa diadakan Grup Ibuk-Ibuk Menulis. Katanya, beliau terinspirasi status dari seorang anggota Ibuk-Ibuk Menulis. Mengapa dinamakan Ibuk-Ibuk Menulis. Karena adanya istilah bapak-bapak. Unik lah kalau ada huruf  k dibelakang kata ibu-ibu. Hehehe. Mungkin ada pertanyaan, adanya grup ini arahnya kemana? Apakah untuk jadi seorang penulis? Jawabnya tidak. Yang penting di sini adalah bagaimana menulis bisa membahagiakan.

Semua orang di dunia ini pasti ingin bahagia. Ada cara yang mudah dan murah agar kita bahagia yaitu dengan menulis. Dengan menulis hati kita menjadi plong atau lega.

Kak Sulhan kemudian menguraikan tentang manusia yang terdiri dari jiwa dan raga. Mengapa dalam lagu Indonesia Raya, jiwa yang terlebih dahulu disebut. Bangunlah jiwanya bangunlah badannya. Karena sebenarnya kita mesti lebih perhatian terhadap kebutuhan  jiwa ini. Tetapi kita malah lebih memperhatikan kebutuhan ragawi kita.



Jiwa berkaitan dengan literasi dan raga  berkaitan dengan lemoterasi.
Raga atau jasmani untuk bisa hidup diperlukan makanan. Makanan ini diproses oleh perangkat pencernaan menghasilkan energi atau ampas. Makanan yang bergizi akan menghasilkan raga yang sehat sedangkan makanan beracun menyebabkan raga sakit.

Demikian pula halnya dengan jiwa, jiwa atau ruhani juga membutuhkan makanan untuk intelektualnya. Makanannya berupa buku bacaan. Bacaan ini diproses oleh perangkat intelektual menghasilkan energi jiwa berupa omongan dan tulisan. Bacaan yang beracun dapat merasuki diri menghasilkan omongan  dan tulisan yang menghasut atau dikenal dengan nama hoax. Bahayanya adalah menyebarkan racun dengan membagikan berita-berita hoax.

Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Makan banyak-banyak  akan membuat kita memperoleh energi yang banyak. Dan membaca banyak-banyak akan membuat kita bisa menulis banyak. Ketika kita membaca secara “rakus” akan banyak yang bisa kita tulis. Setelah membaca buku kita dapat menuangkan dalam bentuk tulisan dengan bahasa sendiri dan pemahaman kita tentang buku yang sudah kita baca. Ini yang dinamakan mengikat makna menurut Bapak Hernowo Hasim.



Setelah itu, Kak Sulhan menjelaskan tentang makam-makam literasi. Perlu kita perhatikan, kata makam di sini. Bukan makan yah, tapi makam. Tempat atau di mana posisi kita dalam berliterasi. Makam-makam literasi yaitu yang pertama, makam dimana seseorang sekedar bebas buta huruf dan tuna tulis. Yang kedua, berkaitan dengan profesi. Seperti seorang mahasiswa yang membaca dan menulis sesuai dengan jurusan yang diambilnya. Misalnya mahasiswa hukum, ia hanya membaca buku-buku hukum dan menulis yang berkaitan dengan hukum pula. Yang ketiga, makam di mana seseorang membaca dan menulis merupakan kebutuhan jiwa. Dia merasa bahagia ketika dia membaca dan menulis. tApapun profesi kita, kita harus menulis untuk kebahagiaan jiwa.

Jenis tulisan terbagi  menjadi dua, yaitu tulisan fiksi dan non fiksi. Fiksi berupa karya sastra yaitu novel, cerita antara lain cerpen, cerbung, cergam dan lain-lain, dan  puisi. Non Fiksi berupa karya ilmiah, yaitu paper, skripsi, dan berita. Berita, opini, kritik, dan opini juga termasuk tulisan non fiksi.

Dalam grup Ibuk-Ibuk Menulis ini, jenis tulisan yang akan dibuat bukanlah termasuk jenis dua tulisan di atas. Dua jenis tulisan di atas banyak syarat yang perlu dipenuhi. Sedangkan tulisan anggota Ibuk-Ibuk menulis ini tak perlu syarat. Seperti ibu-ibu yang bawa motor  dalam lorong, hanya memakai daster dan tidak pakai helm juga tak perlu SIM. Berbeda dengan ketika mengendarai di jalan umum perlu memenuhi syarat dan aturan yang berlaku.


Jenis tulisan ini yang dinamai tulisan pra atau pemula. Yang ingin dimulai adalah kegiatan menulis supaya para ibu berbahagia. Kiat-kiat menulisnya yaitu yang pertama, menulis diary. Setiap ibu dijamin kemerdekaannya untuk menulis di diary masing-masing. Dalam diary ada privacy. Menulis di diary merupakan terapi karena merupakan curhat. Setelah curhat tertuangkan dalam diary maka akan timbul rasa plong atau lega dalam hati. Ketika menulis di buku  diary, seseorang berkuasa penuh dan tidak memerlukan berbagai aturan. Langkah berikutnya, yaitu menulis bebas atau free writing. Menulis saja secara bebas selama 10 menit. Tanpa mengeditnya selama proses penulisan berlangsung. Dalam hal ini, temanya umum sehingga kita pun bisa memosting di tempat umum.

Tujuan free writing adalah untuk meruntuhkan mitos-mitos kepenulisan dan melatih otot-otot kepenulisan kita. Agar kita berhasil dalam free writing dibutuhkan konsistensi dalam melaksanakannya. Namun yang terpenting dari itu adalah dengan menulis bebas, ada perasaan bahagia yang muncul setelah mempraktikkannya.

Demikian yang saya bisa tangkap dari penjelasan Kak Sulhan pada pertemuan perdana Ibuk-Ibuk Menulis di areal Papirus. Di antara banyaknya buku yang menarik perhatianku selama pertemuan itu. Sayangnya keuangan tidak memungkinkan untuk membeli banyak buku. Cukuplah satu buku novel klasik beralih ke dalam tasku, penanda kehadiranku di tempat itu. Saya yakin banyak kekurangan dari hasil penangkapan inderawi saya terhadap materi yang disampaikan oleh Kak Sulhan. Saya berterima kasih kepada beliau karena sudah bersedia membagi ilmu kepada kami, para ibu yang insya Allah masih bersemangat untuk belajar.

@ Foto-foto dalam tulisan ini adalah koleksi Kak Mauliah Mulkin

Selasa, 23 Januari 2018

Resume Buku

Resume Buku "Free Writing, Mengejar Kebahagiaan dengan Menulis"



Penulis        : Hernowo Hasim
Penerbit      : Bentang Pustaka
Cetakan       : Pertama, November 2017
Jumlah hal. : ××ii -215

Empat pilar komunikasi
1. Reading (Membaca)
2. Speaking (Berbicara)
3. Listening (Mendengar-Menyimak)
4. Writing (Menulis)

Membaca adalah memasukkan kata-kata dalam diri atau pikiran.
Sering membaca kita akan memiliki perbendaharaan kata yang kaya dan beragam.

Kita tidak akan memiliki kata-kata yang kaya jika kita tidak mau dan mampu membaca yang akan berguna nantinya pada waktu kita berkomunikasi atau menulis nantinya. Berbicara di depan umum tersendat-sendat, tidak lancar, akan banyak berhentinya. Demikian pula ketika kita menulis.

Ketika membaca sebaiknya membaca lantang (tetapi lihat dulu sikonnya) karena akan meningkatkan kemampuan komunikasinya. Mengapa?
Karena kedua telinga menyimak secara saksama (aktif listening).

Adapun efek membaca lantang :
1. Cermat memperhatikan susunan kalimat, kata aneh atau sulit dieja dan juga tanda-tanda baca.
2. Dapat merasakan irama membacanya (apakah irama bagus atau sangat buruk atau terbata-bata), tidak enak didengar, telinga lahir mampu mendeteksinya.

Itulah mengapa membaca lantang bisa meningkatkan kemampuan komunikasi.

Membaca ngemil (sedikit) dibarengi dengan membaca lantang dengan irama pembacaan yang dapat didengar oleh telinga lahir, si pelaku kemudian mengikat (menuliskan) pengalaman membacanya. Dan memperoleh gagasan dari apa yang dibacanya.

Kegiatan writing (menulis) adalah penutup yang sempurna dari rangkaian pilar komunikasi ini yang oleh pak Hernowo disebut konsep mengikat makna.

Writing atau menulis adalah mengeluarkan, mengungkapkan atau menyimpulkan pikiran dengan bantuan kata-kata.

Untuk melatih kita dalam menulis, kita bisa melakukan "free writing".
Free writing adalah menulis bebas, membuang pikiran secara blak-blakan. Dengan free writing, menulis menjadi nyaman dan menyenangkan. Kita tidak merasa risau dengan apa yang ditulis.

Menurut Radar Panca Buana :
Menulis bebas adalah disiplin kecil untuk tiap hari menulis tanpa henti. Bukan untuk menghasilkan tulisan yang bagus, melainkan sekedar menulis tanpa prosedur sensor dan editing.
Satu-satunya aturan adalah jangan berhenti menulis.

Penerapan free writing :
- 10 hingga 15 menit setiap hari selama sebulan. Dan seterusnya hingga terbiasa menulis.
- Menulis tanpa diedit selama proses penulisan berlangsung.

Dampak signifikan Free Writing adalah peningkatan kemampuan menulis apabila dilakukan secara terus menerus dan konsisten dalam waktu yang cukup lama.

Jadi kunci keberhasilan free writing adalah pembiasaan.

Bagaimana kalau kita merasa bosan ketika menerapkan free writing?
Ketika sudah terbiasa, kita akan merasa ada yang kurang ketika kita tidak menulis. Sekadar menulis pun sudah seperti dalam surga. Rasanya bahagia.

Ketika kita menulis, kita telah membuka fikiran, mengalirkan fikiran dan merangkai fikiran melalui huruf, kata dan kalimat yang tidak bermaknapun sudah merupakan kebahagiaan.

Kredonya :
Keep your hand (gerakkan saja tangan). Alirkan saja pikiran tanpa kita harus berpikir yang berat. Rasakan kebahagiaan dan rasakan kenyamanan ketika mengalirkan pikiran.

🌹Resume oleh Hamsinah Hamid 🌹