Senin, 05 Maret 2018

Kader dan Independensi

Saya seorang kader. Saya akui itu. Sebagai seorang kader ketika mendapat tugas atau amanah. Maka harus dilaksanakan. Akan tetapi, saya dalam situasi seperti ini merasa tidak sanggup untuk melakukannya. Apa penyebabnya. Karena mungkin saya belum move on dari pengalaman yang saya rasa sangat tidak menyenangkan.

Pengalaman apakah itu? Bagi teman-teman sehimpunan mungkin taulah penyebabnya. Saat di mana kita sebagai seorang pluralis mesti berhadapan dengan beberapa senior yang anti terhadap kelompok tertentu. Berada di antara mereka, di kelilingi oleh mereka yang senantiasa menyuarakan ketidaksukaannya terhadap kelompok lain bagi saya sangat dan sangat tidak menyenangkan.

Saat itu saya ditugaskan memandu di salah satu basic training. Sebenarnya sudah duapuluhtahunan saya tidak pernah turun memandu tetapi karena kondisi cabang yang kekurangan pemandu akhwat sehingga saya pun diturunkan. Agak canggung rasanya memandu untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Namun karena hal itu pernah menjadi kebiasaan di masa lampau maka semua bisa diatasi.

Saya malam itu menginap mendampingi adik-adik peserta dan panitia. Dan paginya memandu materi pertama. Pematerinya adalah teman saya, mantan ketua kohati cabang. Periodenya pasangan saya menjabat ketua cabang pada waktu itu. Saya sangat senang memandunya. Soalnya saya sangat mengenalnya.

Saya pulang dan kembali lusanya karena sebelumnya saya sudah menyampaikan bahwa saya tidak bisa full time di lokasi mengingat status saya sebagai ibu rumah tangga. Dan kebetulan ada tamu saya dari kampung. Ponakan suami menginap selama tiga hari di rumah. Ketika kembali ke lokasi bastra, seorang pemandu senior akhwat menyatakan bahwa pemateri untuk materi akhwat tidak bisa hadir. Maka dia menyebut penggantinya. Lantas saya bilang saya kira yang bisa bawakan materi di bastra itu lulusan Senior Course yang otomatis lulusan LK 2. Beliau menjawab sudah berubahmi dek peraturannya, yang penting komitmen terhadap HMI dan kata Kak N yang penting bukan syiah.

Saya kaget alang kepalang. Saya lantas protes. Saya katakan berubahmi peraturannya? Kapan kak? Kenapa ada larangan seperti itu. Ada apa? saya kira Syiah itu Islamji juga, sama seperti Sunni dan Wahabi. Kalau sunni dan wahabi bisa ceramah di himpunan kenapa Syiah tidak. Kakak senior itu menjawab tanya maki kak N langsung dek. Kenapa saya harus tanya kak N,saya menyangkal. Bukankah dalam khittah perjuangan tak ada larangannya. Dia bilang, justru dalam khittah perjuangan itu tidak ada kata-kata syiah di dalamnya. Saya jawab, memang syiah tidak ada di dalamnya tetapi umat Islam itu apa dan siapa? Yah itu kelompok-kelompok Islam tak terkecuali Syiah pun includ di dalamnya. Senior bilang bicara maki saja sama Kak N. Saya jawab untuk apa Kak? Kak N bukan seniorku. Kak N bukan seniorku. Saking marahku itu sama si pembuat statement "yang penting bukan syiah".

Saya waktu itu bertiga sama sahabatku Mil. Mila menyaksikan aku mencak-mencak ala demonstran. Saking kaget dan terperangahnya aku mendengar pernyataan dari seniorku itu.
Betapa tidak himpunan yang kukenal selama ini adalah rumah besar bagi semua. Beragam pemikiran tumpah ruah di sana. Berdialektika dan sangat dinamis. Sekarang mau dimonopoli oleh segolongan orang laksana mau mengkhalaqahkan himpunan tercinta. Saya syok dan merasa terpukul.

Sebenarnya saya tidak mau mengungkapkan kejadian di ruang pemandu itu ke forum terbuka H3 tetapi saya merasa ini sangat berkaitan dengan kejadian belakangan ini. Di mana seorang mantan ketua kohati dikambinghitamkan menyebabkan krisis kohati. Beliau dituduh melarikan kader untuk aktif di tempat lain. Dan kejadian di sebuah forum alumni, tempat alumni Kohati berhimpun, terdapat pula pernyataan bahwa kalau ada pengurus yang ketahuan AB pecat saja. Selain itu saya merasa harus mengungkapkannya untuk memperoleh klarifikasi secara menyeluruh. Saya ingin mengetahui tanggapan dari para senior, pembuat statement dan pihak cabang tentang statemen yang dampaknya merugikan proses perkaderan di himpunan.

Saya ungkapkanlah masalah itu di forum. Berbagai tanggapan muncul, ada yang pro dan kontra. Ada yang mendukungku dan ada juga yang menyatakan tidak pada tempatnya saya mengungkapkan masalah itu. Tapi saya berpikir, ini adalah masalah krusial jika tidak mendapat perhatian serius, perpecahan di depan mata. Jika tidak mendapat kejelasan tentang masalah ini. Masalah yang terus berlarut-larut, masalah yang semestinya sudah tuntas bagi kader-kader sejati. Masalah yang sangat klasik.

Tak ada tanggapan dari pembuat statement dan terutama dari pemilik otoritas tertinggi yaitu Ketua cabang, dan ini menurut saya mengecewakan. Kalau si pembuat statemen bungkam itu berarti dia mengakui pernyataannya itu. Tetapi pihak cabang yang semestinya mengeluarkan pernyataan di saat genting seperti ini dan butuh penyikapan; diam seribu bahasa. Menyembunyikan dirinya di balik kegelisahan seniornya melihat kenyataan pahit yang terjadi di himpunan. Seharusnya beliau yang terhormat menyatakan menjamin seluruh kader dari berbagai latar untuk memberi kontribusi dalam proses perkaderan di himpunan. Peraturan tidak berubah dan tak ada larangan untuk mazhab tertentu untuk berkiprah di himpunan. Khan menyejukkan kalau seperti itu.

Saya pamit dari grup. Saya berharap permasalahan bisa dicari solusinya. Agar himpunan bisa seperti dulu lagi. Tempat berhimpun untuk semua. Dari berbagai latar, warna warninya beragam namun indah. Tempat pembelajaran, dunia mini masyarakat Islam yang majemuk. Berbeda tapi saling menghormati. Begitu menakjubkan.

Saya dimasukkan kembali dalam grup setelah satu bulan tidak aktif. Saya bilang jangan Kak karena saya tidak tahan melihat hal-hal yang tidak beres. Refleks ja itu komentar. Kakak senior bilang masuk saja, komentar saja. Saya sebenarnya sudah malas ke grup selama masih ada dalam grup yang anti terhadap mazhab tertentu. Tapi saya di add kembali sama senior dan tak bisa kutolak.

Pada suatu sore, seorang pemandu mengirim gambar situasi bastra yang sedang berlangsung. Dan foto itu mendapat banyak jempol dari teman-teman WAG. Sampai seorang seniorku yang terkenal anti syiah, menyoroti sang pemateri yang memakai kaos oblong dalam forum sebagai pelanggaran berat. Dan mengaitkannya dengan jabatannya sebelumnya. Dan Kak Ning pun ikut menimpalinya dengan berbagai komentar. Dan seorang senior yang lain pun ikut memberi tanggapun. Lantas saya bilang saya kira tidak substansialji itu memakai pakaian kaos oblong di forum. Mana pelanggaran yang berat memakai kaos oblong atau melarang pemateri karena mazhab tertentu. Lantas pernyataanku itu ditanggapi macam-macam. Ada yang bilang kadernya siapa ini. Angkatan berapa.Tidak pantas kader setingkat SC bisa mengeluarkan pernyataan seperti itu. Kalau begitu tidak usah pakai jilbab di forum, atau tak usah berpakaian sekalian. Ada yang bilang untung tidak mengikutkan keponakannya bastra kalau pemandunya seperti saya. Berbagai macam tanggapan muncul. Kak Arrang mengakuiku dan Kak Danial berharap saya bukan kadernya.

Kak Taju karena tidak tahan melihat diriku seorang ibu-ibu dibully habis-habisan, ikut berkomentar dengan nada menyejukkan tapi menurut kak Jamaluddin Karim itu juga merupakan tamparan bagi yang lain.

Sampai ada kiriman video pemateri yang sementara dibahas kaos oblongnya. Dibilang menistakan sahabat nabi padahal setelah mendengarnya tidak ada pernyataannya yang menghina sahabat nabi. Beliau cuma mencoba menuturkan kembali sejarah Islam di masa awal sepeninggal nabi.
Pro kontra bermunculan. Para senior mengeluarkan pernyataannya masing-masing. Dan sekali lagi Ketua Cabang tidak pernah muncul memberi komentar.
Sampai titik di mana suasana kembali mulai cair karena para guru turun tangan dengan mengeluarkan pernyataan yang menjejukkan misalnya dari Kak Ahmad Mujahid, Kak Tajuddin Noer, Kak Rajab Sabbarang, Kak Lukman Amir dan Kak Syafi Al Mandary dan yang lainnya.

Begitulah, kenyataan yang terjadi. Dua minggu kemudian saya diminta lewat whatsaap oleh ketua cabang untuk turun memandu. Pas bertepatan dengan malam pembukaan bastra. Saya meminta maaf tidak bisa. Penyampaian begitu mendadak sedangkan banyak kegiatan yang mesti saya ikuti dalam pekan itu. Dan saya sebenarnya belum sanggup berada di lingkungan, di antara orang-orang "intoleran". Saya trauma. Lagipula saya masih kecewa dengan ketua cabang yang tidak pernah mengklarifikasi masalah yang sudah terjadi. Saya melihat beliau tidak bisa menjaga independensi himpunan. Himpunan berada di bawah cengkeraman paham intoleransi para senior yang mengawal dan bahkan lebih dari itu. Tetapi kondisi himpunan yang tidak stabil dan mengalami krisis membuat sikapnya dapat dimaklumi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar