Selasa, 04 Desember 2018

Intoleransi

Saya pernah mengunfriend seseorang. Alasan saya memutus pertemanan dengannya karena saya menilai dia intoleran. Banyak yang memanggil dia habib saat berkomentar di statusnya. Statusnya bagus-bagus. Kecintaan terhadap Rasul dan keluarga Rasul. Banyak yang like dan share. Saya juga senang membacanya. Tetapi, kalau menyinggung tentang muslimah bercadar, dia sepertinya anti banget.

Pernah teman fbku itu memosting gambar tentang muslimah bercadar yang lagi berendam di kolam renang. Dia beri caption "Ikan Pari Ngambang". Kaget juga melihat statusnya. Kok ada habib postingannya begitu sih. Apa untuk kesenangan semata. Happy fun atau apa? Lalu banyak komentar negatif yang muncul di postingan tersebut. Dia beri emoticon ketawa. Sesekali dia menanggapi dengan ber haha hihi. Betapa senangnya dia dengan cemoohan terhadap saudarinya yang muslimah. Bukankah setiap muslim itu bersaudara? Mau dia berjilbab, bercadar, atau belum berjilbab, tetaplah saudara.

Ketidaksukaan terhadap muslimah bercadar itu memang biasa. Banyak komentar miring terhadapnya. Tetapi kalau seorang habib seperti itu alangkah sayangnya. Karena hasil pembacaan saya tentang bunda Fatimah dan isteri-isteri Rosulullah, mereka itu bercadar. Mungkin tidak seperti model cadar (penutup muka) yang dipakai di Indonesia. Walaupun dikatakan bahwa cadar itu budaya Arab. Atau budaya Yahudi sekali pun. Itu tidak menjadi masalah. Itu pilihan masing-masing person.

Setiap orang punya kebebasan dalam menentukan pilihannya, begitu pula dalam hal berpakaian. Selama masih sopan dan tidak mengganggu orang lain. Begitu juga dengan seorang muslimah. Mau bercadar, berjilbab atau tidak berjilbab sekalipun. Menghargai pilihan orang lain itu lebih baik daripada menghinanya.

By : Hamsinah Hamid

#IbukIbukMenulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar