Jumat siang, 3
Januari 2020 saya menyempatkan diri menghadiri reuni kecil-kecilan bersama sahabat dari alumni kohati MPO UNHAS. Undangan reuni ini sifatnya terbatas. Bukan karena
alumni kohati UNHAS itu sedikit. Alumni Kohati UNHAS sangat banyak malah.
Namun, dengan berbagai pertimbangan yang ada. Mengingat terbatasnya waktu dan banyak teman yang berada di luar kota Makassar. Maka hanya
segelintir makhluk manis yang hadir di reuni tersebut. Ceilee..makhluk manis…hehehe…
Pada reuni kali
ini, Mila Nurhayati yang bertindak sebagai tuan rumah. Sebenarnya, bukan hanya
kali ini, di tempat sahabatku yang cantik ini diadakan reuni atau pertemuan.
Tetapi, reuni-reuni sebelumnya pun biasanya diadakan di rumahnya di kawasan
Mannuruki. Yang hadir pada acara ini, selain tuan rumah, Mila Nurhayati, yaitu
Ria Wardani, Niken Hapsarini Dewi, Mumtihanah Razak, Herlina Yunus, Andi
Herlina (Wafiqa) dan Aisyah.
Tuan rumah,
Mila Nurhayati, Ria Wadrani, dan Aisyah adalah alumni Fakultas Ekonomi
Unhas. Mbak Niken Hapsarini Dewi adalah
alumni Fakutas Ekonomi D3 Unhas. Herlina Yunus, Andi Herlina (Wafiqa),
Mumtihanah Razak adalah alumni Fakultas Sastra Unhas. Mohon maaf kalau saya
salah ingat asal fakutasnya masing-masing yah say…silakan diprotes..Sedangkan
saya sendiri adalah alumni Fakultas Pertanian Unhas. Walaupun berasal dari
beragam fakultas tapi himpunan hijau hitam telah menyatukan kami dalam suatu
ikatan persahabatan dan kekeluargaan.
Saya bercerita
sedikit tentang masa lalu, tentang awal mula saya menginjakkan kaki di himpunan yang
mempertemukanku dengan jodohku..hehehe..Awalnya, pada pertengahan 1997 saya diajak oleh Kak Naharia dari Universitas Muslim Indonesia (UMI)
mengikuti basic training di UMI. Awalnya bukan saya yang diajak, tapi temannya
saya. Namun teman saya tidak jadi ikut. Dengan berbagai alasan saya juga menolak untuk ikut basic training. Karena pada waktu itu saya masih aktif di Ikatan
Putri Nahdlatul Ulama. Tetapi karena
kepiawaian membujuk dari senior kohati pada waktu itu, akhirnya hatiku
luluh dan bersedia ikut pelatihan itu.
Pada awal
mulanya acara bastra yang diadakan
oleh Fakutas Pertanian UMI bekerja sama dengan Politani Unhas Pangkep bertempat
di Masjid Alauddin, Racing Centre. Setelah bastra berlangsung dua hari,
dipindahkan ke laboratorium Perikanan UMI. Lumayan banyak pesertanya pada hari
itu. Setelah selesai bastra saya
banyak bertemu dengan anggota dan pengurus HMI dari berbagai universitas.
Termasuk dari universitas tempatku menempuh pendidikan, Universitas Hasanuddin.
Ketika ditawari
menjadi anggota komisariat pertanian di UMI karena di Fakultas Pertanian Unhas
masih saya seorang diri anak HMI MPO. Saya lebih memilih bergabung dengan
komisariat Sastra Unhas karena faktor kedekatan lokasi tempat perkuliahan.
Sehabis mengikuti perkuliahan saya bisa jalan-jalan ke Fakutas Sastra, Sospol dan
Ekonomi untuk menemui teman-teman akhwat di sana. Saya mencatat jadwal
perkuliahan teman di beberapa fakultas itu. Agar bisa ketemu sama mereka.
Terkadang menunggu di luar kelas sambil mengintip mereka yang masih sementara
mengikuti perkuliahan.
Seru juga
mengingat masa-masa itu, masih bisa kubayangkan saat-saat menunggu Herlina
Yunus, Wafiqa, Ningke, atau Mumtihana di luar kelas, di koridor Fakutas Sastra. Juga menunggu Mila Nurhayati di luar kelas di koridor Fakutas Ekonomi. Atau Darmawati Arif di koridor Fakultas Sospol. Menunggu mungkin membosankan tetapi menunggu makhluk-makhluk manis ini seperti tak ada
rasa itu. Saban hari, kalau ada jadwal perkuliahan mereka. Saya pasti bergerak
menuju ke tempat mereka. Menjumpai teman-teman ter—hebohku saat itu…terhebat…tersayangku..hehehe.
Mereka termasuk akhwat penggerak di komisariat mereka masing-masing dan di
Korkom Unhas pada zamannya.
Lanjut ke acara
reuni, sejak semula, Jumat, 3 Januari 2019 ditetapkan sebagai hari H nya.
Kenapa ditetapkan hari itu karena hari itulah yang paling pas. Sobatku Herlina
Yunus yang mukim di Sidrap baru berangkat ke
Makassar pada Kamis, 2 Januari setelah bermalam tahun baru di Soppeng. Sabtu,
04 Januari ada acara reunian Cekgu Herlina dan Wafiqah dengan mantan guru Al
Insyiro dan Mbak Niken mesti balik kampung ke Yogya, Ahad 5 Januari karena sobatku itu tempat mukimnya sekarang di Kota Gudeg, Yogyakarta. Jadi, hanya Jum’at
itu yang kosong dari agenda.
Sebenarnya, Jum'at bagi saya bukan hari yang ideal untuk pertemuan. Karena kalau Jum’at biasanya, pak suami jum’atan di luar sekalian pergi berbelanja kebutuhan konter.
Jadi saya yang bertugas menjaga konter sambil menunggu sales dari beberapa
operator seluler. Namun, karena tak ada hari lain yang lebih baik dan memungkinkan dengan pertimbangan yang ada, maka mau tak mau harus setuju. Daripada gagal dan batal lagi acara kopi daratnya..eh
reuninya. Tapi, istilah kopi darat kayaknya cucok juga.. karena selama ini
kita sudah biasa ber- kopi udara, lewat facebook dan WA..khan??
Beberapa teman
lain di luar Unhas juga rencananya diundang tetapi waktu yang mepet tidak
memungkinkan untuk mengundang mereka. Ukhti Aisyah dan Ria Wardani diundang pas
malam sebelum acara diadakan. Untunglah, mereka tidak tersinggung karena telat
diundang. Soalnya saya mengundang lewat tengah malam via nomor whattsap yang
diberikan oleh tuan rumah. Padahal acaranya akan diadakan hari itu
juga…hehehe…Wah.. .Salut dengan kesigapan kalian merespon panggilan reuni yang
tiba-tiba…
Siang itu, saya termasuk yang terlambat datang. Di tengah hujan yang tak pernah berhenti
tercurah dari langit, saya berangkat ke lokasi acara dengan naik grab bersama
anak perempuanku, Renaisa dan Sabrina. Tumben hari ini sejak subuh hujan tak
pernah reda. Tidak seperti hari kemarin. Di sana sudah berkumpul Mbak Niken, Mumti, Ria dan Wafiqa dan tentunya
sohibul bait, Jeng Mila. Mereka duduk di atas karpet yang hangat. Di depan
mereka terhidang kue-kue bolu yang lezat merek terkenal bawaan Mbak Niken dan
juga tuan rumah, juga buah rambutan yang menggoda selera.
Di atas meja, tampak
ketupat dan temannya, Coto Makassar seperti memanggil untuk segera disantap. Coto Makassarnya disponsori oleh Mbak Niken. Rupanya tamu dari jauh ini mengerti selera teman-temannya....hehehe. Tuan rumah
mempersilakan mencicipi makanan khas Makassar itu. Namun, saya yang belum sholat pamit dulu untuk
menunaikannya. Habis sholat baru saya bergabung dengan mereka. Sambil menyantap
makanan yang disediakan oleh tuan rumah, kami menunggu teman yang belum datang.
Cekgu dari Sidrap belum datang, juga Aisyah.
Tak lama
kemudian, Aisyah datang. Alhamdulillah, sekian lama tak berjumpa dengan
saudaraku yang satu ini. Rasa rindu terlepas sudah. Walau sering bersua di
medsos, tapi rasanya berbeda jika bertemu langsung. Face to face, tatap muka
langsung dan berpelukan dengan sahabat. Alangkah indah silaturahmi. Eeh.. Ibu
Herlina belum datang juga. Tiba-tiba ada telepon masuk. Cekgu Lina yang menelpon. Ia bilang, “Jangan
bubar pertemuannya dulu yah, tunggu saya.” Saya bilang,”Aiih kesinimi cepat,
habismi coto.” Ia tertawa dengan tawa khasnya dan berpesan untuk menunggu
dirinya datang.
Akhirnya Cekgu
Herlina pun datang, suasana pertemuan semakin hangat dan seru dengan berbagai
kisah dan pengalaman Mumtihanah sebagai ibu guru. Kehadiran Mumtihanah yang
baru kali ini hadir di acara reuni benar-benar membuat bersemangat.
Sampai-sampai saya hanya bisa melongo dan menjadi pendengar yang baik. Selain
karena semangatnya membagi pengalaman menjadi seorang guru ditambah dengan
kekocakannya bercerita. Menjadikan pertemuan menjadi hidup.
Eeeh…ternyata
ada ronde kedua makan-makannya tawwa. Mi Titi dihidangkan lagi oleh tuan rumah.
Baik bener dan royal bener ini tuan rumahnya. Semoga Allah
melancarkan rezekimu sayangkuu, Jeng mila…tapi, maafkan kami sudah merepotkan.
Habis makan-makan, kami berfoto-foto mengabadikan momen kebersamaan kami. Yang
entah kapan terulang lagi. Namun, harapan kami semoga momen liburan nanti bisa
reunian lagi. Dan teman-teman yang lain juga bisa bergabung dengan kami.
Dalam sesi
foto-foto, ada kejadian yang lucu. Untuk mendapatkan background foto yang menarik, kami turun ke kolam ikan. Untungnya
kolam ikannya kering, kalau tidak mesti berbasah-basah ria bajunya. Ada juga
yang mau naik ke jembatan buatan di atas kolam. Untung tuan rumah mencegah.
Kalau tidak, jembatannya bisa rumbang
karena dinaiki orang yang berat-berat bobot badannya. Bukan saya yah….hehehe. Tapi
sebenarnya saya juga punya niatan naik ke jembatan itu…hihihi…
Setelah
berfoto-foto, jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WITA, Mumtihanah mengajak
pulang bareng. Karena kendaraan pete-pete ke Pepabri lewat jam itu sudah susah
didapat. Teman-teman yang lain pun berpamitan dengan tujuan yang berbeda.
Pulang ke rumah masing-masing. Saya diajak oleh Mbak Mila nonton bareng di
bioskop bersama Mbak Niken dan Herlina Yunus. Tapi, saya tidak bisa karena ada
anak santriku yang baru datang dari pondok menantiku di rumah. Setiap tanggal
baru ia libur dan pulang ke rumah selama tiga hari.
Sebelum pulang,
Mumtihanah diberi hadiah pohon bidara idamannya. Dengan riangnya, Mumtihanah
menerima anugerah itu. Katanya, sudah berapa kali ia mencoba menanam pohon
bidara dan selalunya mati. Sekarang ia mendapat pohon bidara yang sudah besar
bersama embernya. Bisa dibayangkan bagaimana besarnya pohon bidara itu. Dan betapa
bahagianya Mumtihanah menerima pemberian itu.
Sepanjang
jalan, saya menanyakan keadaan Mumtihanah. Untuk memanfaatkan waktu yang
sempit. Karena kami jarang sekali bertemu. Akhirnya, di depan Graha Pena, Mumtihanah
turun dan menunggu pete-pete yang menuju ke Pepabri, Sudiang.
**************
Masih enggan sebenarnya untuk berpisah dengan Mumtihanah dan sahabat-sahabatku yang lain. Namun, seperti kata pepatah di mana ada pertemuan di situ pasti ada perpisahan. Begitu pula pertemuan hari ini. Semoga suatu saat bisa mengulang momen kebersamaan yang indah seperti ini lagi.
Terima kasih sahabat-sahabatku atas persahabatan yang sudah terjalin. Terkhusus kepada tuan rumah, Jeng Mila Nurhayati, terima kasih banyak sudah menjadi tuan rumah yang baik…Super baik malah…
Semoga persahabatan kita semua diridhai dan diberkahi oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Dan persahabatan kita abadi sampai surga-Nya……..
**************
Masih enggan sebenarnya untuk berpisah dengan Mumtihanah dan sahabat-sahabatku yang lain. Namun, seperti kata pepatah di mana ada pertemuan di situ pasti ada perpisahan. Begitu pula pertemuan hari ini. Semoga suatu saat bisa mengulang momen kebersamaan yang indah seperti ini lagi.
Terima kasih sahabat-sahabatku atas persahabatan yang sudah terjalin. Terkhusus kepada tuan rumah, Jeng Mila Nurhayati, terima kasih banyak sudah menjadi tuan rumah yang baik…Super baik malah…
Semoga persahabatan kita semua diridhai dan diberkahi oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Dan persahabatan kita abadi sampai surga-Nya……..





Tidak ada komentar:
Posting Komentar