Saya lahir dan
besar di kampung. Ya, kampung. Karena, walaupun Pampang terletak di kota
Makassar namun rasanya seperti tinggal di kampung. Itu dulu. ketika Pampang masih punya
banyak sawah, empang dan juga sungai yang cukup lebar. Sungai yang memisahkan
antara Pampang dan sebuah perguruan tinggi, Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Dulu jika kita ingin ke kampus UMI, kita mesti menyeberang sungai terlebih
dahulu dengan menggunakan sampan.
Kini, sungai
itu sebagian besar sudah ditimbuni. Sungai itu sekarang berupa kanal dan
di atasnya dibangun sebuah jembatan penghubung. Jembatan yang menghubungkan antara Pampang
dengan Pabbatangang dan Limbangang. Sebelumnya, kalau kita hendak ke Limbangang
dan Pa’batangang kita melewati jalanan biasa. Tetapi, kemudian jalanan itu
digali dan dijadikan bagian dari kanal yang membentang dari selatan ke utara
Kelurahan Pampang.
Sewaktu kecil saya
dan teman-teman sering bermain di sawah. Di sawah kami sering mencari ikan bale balang. Dulu saya suka makan ikan bale balang. Ikan ini lezat sekali
rasanya kalau dibakar. Apalagi baunya…hhmm…sedaaap.
Di sawah juga
kami mencari telur itik di antara rerumpunan padi. Itik-itik warga dibiarkan
mencari makanan sendiri. Tak jarang teman menemukan telur itik di sela-sela
tanaman padi. Betapa gembiranya hati jika menemukan telur. Kadang sampai
bersorak dibuatnya. Tapi, sayang rupanya saya kurang beruntung. Saya tidak
pernah sekalipun mendapatkan telur itik di sawah.
Sebenarnya nenek
juga memelihara itik di bawah rumah panggungnya. Tempat tinggal saya waktu itu.
Sebelum orang tua saya membangun rumah di depan rumah nenek. Setiap pagi
itik-itik itu bertelur. Dan juga memelihara ayam kampung yang setiap hari juga
bertelur. Namun suatu keasyikan tersendiri, jika pergi mencari telur itik
bersama teman-teman.
Kalau panen
tiba kami kadang pergi memotong padi. Dengan menggunakan ani-ani sebagai alat
untuk memotong padi atau memanen padi. Kalau dalam bahasa Makassarnya 'akkatto'. Seru juga waktu itu. Jika
kita sudah akkatto, kita akan dikasi
imbalan berupa beberapa ikat padi. Besarnya imbalan itu tergantung berapa
banyak yang bisa di-katto atau
dipanen.
Permainan waktu
kecil kami seperti parlos, enggok, main tali, asing dan main tembak-tembak dari bambu. Parlos itu main
sembunyi-sembunyi. Ada seorang yang menutup mata dan menjaga markas. Dan yang
lainnya pergi bersembunyi. Kemudian teman yang menjaga lalu mencari teman-teman
yang bersembunyi. Jika ditemukan teman yang lagi bersembunyi maka yang
ditemukan menjadi penjaganya. Namun kalau ada teman lain yang pergi memegang
tiang markas yang dijaga maka ia kembali yang menjadi penjaganya.
Dulu permainan favoritku
adalah asing. Masih adakah yang ingat
permainan asing? Suatu permainan team
atau melibatkan beberapa orang yang sangat seru. Dan kami sering menang dalam
permainan ini. Mungkin karena tubuh saya yang kecil, lincah dan pandai
berkelit. Hehehe...puji ale.
Setiap siang
habis sekolah saya pergi mengaji. Guruku mengajiku waktu itu bernama Tata Japa.
Tata Japa suka sekali merokok. Setiap pergi mengaji saya selalu membawakan
rokok buat Tata Japa. Kalau bukan rokok
merk Spesial yang berwarna merah, pastilah rokok merek Harum yang
berwarna putih. Merek rokok itulah kegemaran guru mengajiku. Bukan Dji Sam Soe atau Gudang Garam. Kebetulan
orang tua saya punya toko waktu itu. Jadi saya tinggal mengambil di toko kalau
mau pergi mengaji.
Dulu anak-anak
rajin sekali pergi mengaji. Tanpa disuruh setiap pulang sekolah mereka sudah
tahu apa kewajiban mereka. Yaitu pergi belajar mengaji di rumah guru mengaji. Berbeda
dengan anak-anak zaman sekarang, yang agak malas pergi mengaji. Mungkin karena
godaan smartphone yang maha dahsyat
sehingga layar kaca di dalam genggaman itu sangat betah mereka pelototi.
Biarpun berjam-jam tak ada bosan-bosannya.
Setiap hari lebaran,
selepas menunaikan sholat iedul Fitri, saya dan teman-teman selalu ke
rumah-rumah empang. Kami membawa makanan, ketupat dan opor ayam untuk dimakan
di rumah empang itu. Istilah kami waktu itu, mae angnganre-nganre alias pergi makan-makan. Kalau tidak salah, di
rumah empangnya Daeng Mici waktu itu. Sambil memandang ke dalam empang. Berharap
bisa melihat ikan-ikan bolu yang
berenang kian kemari. Namun, yang kami lihat hanya sekumpulan air keruh. Sejuknya
udara di empang membuat kami merasa nyaman berada di sana.
Kehijauan pohon-pohon
nipah di pinggir empang membuat hati terasa teduh. Di sana kami makan-makan
sambil ngobrol, bercerita dengan riang, khas anak-anak. Bahagia sekali rasanya
waktu itu. Entah umur berapa atau sejak kelas berapa, saya dan teman-teman
tidak lagi melakukan kebiasaan kami ke empang Daeng Mici setiap lebaran.
Lambat laun
kami makin besar, kami semakin sibuk bersekolah. Teman-teman kini silih
berganti. Pembangunan pun semakin semarak di Pampang. Sawah dan empang pun dijadikan
rumah-rumah penduduk. Demikian pula dengan pohon-pohon nipah ditebang. Anak-anak
tidak lagi punya tempat bermain yang seru seperti dulu. Permainannya pun tidak beragam
seperti dulu. Tergantikan dengan smartphone dengan aplikasi youtubenya yang sangat digemari oleh anak-anak.
Namun, saya merasa permainan itu tidak seindah dan tidak seseru permainan tempo doeloe. Yang masih terkenang sampai
sekarang.
Namun, mungkin
dunia kita dan anak-anak kita sekarang jauh berbeda. Kini, sudah era digital, kita tidak bisa mengelak dan melarang mereka. Tinggal bagaimana kita
mengatur, mengawasi serta memilihkan konten yang sesuai dengan mereka. Seraya menanamkan nilai-nilai moral dan
kebaikan pada diri anak kita. Semoga anak-anak kita terhindar dari hal-hal negatif
yang bisa menjerumuskan mereka.
Sumber foto : by Google.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar