Kamis, 09 Januari 2020

SECUIL KENANGAN



Saya lahir dan besar di kampung. Ya, kampung. Karena, walaupun Pampang terletak di kota Makassar namun rasanya seperti tinggal di kampung. Itu dulu. ketika Pampang masih punya banyak sawah, empang dan juga sungai yang cukup lebar. Sungai yang memisahkan antara Pampang dan sebuah perguruan tinggi, Universitas Muslim Indonesia (UMI). Dulu jika kita ingin ke kampus UMI, kita mesti menyeberang sungai terlebih dahulu dengan menggunakan sampan.
Kini, sungai itu sebagian besar sudah ditimbuni. Sungai itu sekarang berupa kanal dan di atasnya dibangun sebuah jembatan penghubung. Jembatan yang menghubungkan antara Pampang dengan Pabbatangang dan Limbangang. Sebelumnya, kalau kita hendak ke Limbangang dan Pa’batangang kita melewati jalanan biasa. Tetapi, kemudian jalanan itu digali dan dijadikan bagian dari kanal yang membentang dari selatan ke utara Kelurahan Pampang.
Sewaktu kecil saya dan teman-teman sering bermain di sawah. Di sawah kami sering mencari ikan bale balang. Dulu saya suka makan ikan bale balang. Ikan ini lezat sekali rasanya kalau dibakar. Apalagi baunya…hhmm…sedaaap.
Di sawah juga kami mencari telur itik di antara rerumpunan padi. Itik-itik warga dibiarkan mencari makanan sendiri. Tak jarang teman menemukan telur itik di sela-sela tanaman padi. Betapa gembiranya hati jika menemukan telur. Kadang sampai bersorak dibuatnya. Tapi, sayang rupanya saya kurang beruntung. Saya tidak pernah sekalipun mendapatkan telur itik di sawah.
Sebenarnya nenek juga memelihara itik di bawah rumah panggungnya. Tempat tinggal saya waktu itu. Sebelum orang tua saya membangun rumah di depan rumah nenek. Setiap pagi itik-itik itu bertelur. Dan juga memelihara ayam kampung yang setiap hari juga bertelur. Namun suatu keasyikan tersendiri, jika pergi mencari telur itik bersama teman-teman.
Kalau panen tiba kami kadang pergi memotong padi. Dengan menggunakan ani-ani sebagai alat untuk memotong padi atau memanen padi. Kalau dalam bahasa Makassarnya 'akkatto'. Seru juga waktu itu. Jika kita sudah akkatto, kita akan dikasi imbalan berupa beberapa ikat padi. Besarnya imbalan itu tergantung berapa banyak yang bisa di-katto atau dipanen.
Permainan waktu kecil kami seperti parlos, enggok, main tali, asing dan main tembak-tembak dari bambu. Parlos itu main sembunyi-sembunyi. Ada seorang yang menutup mata dan menjaga markas. Dan yang lainnya pergi bersembunyi. Kemudian teman yang menjaga lalu mencari teman-teman yang bersembunyi. Jika ditemukan teman yang lagi bersembunyi maka yang ditemukan menjadi penjaganya. Namun kalau ada teman lain yang pergi memegang tiang markas yang dijaga maka ia kembali yang menjadi penjaganya.
Dulu permainan favoritku adalah asing. Masih adakah yang ingat permainan asing? Suatu permainan team atau melibatkan beberapa orang yang sangat seru. Dan kami sering menang dalam permainan ini. Mungkin karena tubuh saya yang kecil, lincah dan pandai berkelit. Hehehe...puji ale.
Setiap siang habis sekolah saya pergi mengaji. Guruku mengajiku waktu itu bernama Tata Japa. Tata Japa suka sekali merokok. Setiap pergi mengaji saya selalu membawakan rokok buat Tata Japa. Kalau bukan rokok  merk Spesial yang berwarna merah, pastilah rokok merek Harum yang berwarna putih. Merek rokok itulah kegemaran guru mengajiku. Bukan Dji Sam Soe atau Gudang Garam. Kebetulan orang tua saya punya toko waktu itu. Jadi saya tinggal mengambil di toko kalau mau pergi mengaji.
Dulu anak-anak rajin sekali pergi mengaji. Tanpa disuruh setiap pulang sekolah mereka sudah tahu apa kewajiban mereka. Yaitu pergi belajar mengaji di rumah guru mengaji. Berbeda dengan anak-anak zaman sekarang, yang agak malas pergi mengaji. Mungkin karena godaan smartphone yang maha dahsyat sehingga layar kaca di dalam genggaman itu sangat betah mereka pelototi. Biarpun berjam-jam tak ada bosan-bosannya.
Setiap hari lebaran, selepas menunaikan sholat iedul Fitri, saya dan teman-teman selalu ke rumah-rumah empang. Kami membawa makanan, ketupat dan opor ayam untuk dimakan di rumah empang itu. Istilah kami waktu itu, mae angnganre-nganre alias pergi makan-makan. Kalau tidak salah, di rumah empangnya Daeng Mici waktu itu. Sambil memandang ke dalam empang. Berharap bisa melihat ikan-ikan bolu yang berenang kian kemari. Namun, yang kami lihat hanya sekumpulan air keruh. Sejuknya udara di empang membuat kami merasa nyaman berada di sana.
Kehijauan pohon-pohon nipah di pinggir empang membuat hati terasa teduh. Di sana kami makan-makan sambil ngobrol, bercerita dengan riang, khas anak-anak. Bahagia sekali rasanya waktu itu. Entah umur berapa atau sejak kelas berapa, saya dan teman-teman tidak lagi melakukan kebiasaan kami ke empang Daeng Mici setiap lebaran.
Lambat laun kami makin besar, kami semakin sibuk bersekolah. Teman-teman kini silih berganti. Pembangunan pun semakin semarak di Pampang. Sawah dan empang pun dijadikan rumah-rumah penduduk. Demikian pula dengan pohon-pohon nipah ditebang. Anak-anak tidak lagi punya tempat bermain yang seru seperti dulu. Permainannya pun tidak beragam seperti dulu. Tergantikan dengan smartphone dengan aplikasi youtubenya yang sangat digemari oleh anak-anak. Namun, saya merasa permainan itu tidak seindah dan tidak seseru permainan tempo doeloe. Yang masih terkenang sampai sekarang.
Namun, mungkin dunia kita dan anak-anak kita sekarang jauh berbeda. Kini, sudah era digital, kita tidak bisa mengelak dan melarang mereka. Tinggal bagaimana kita mengatur, mengawasi serta memilihkan konten yang sesuai dengan mereka.  Seraya menanamkan nilai-nilai moral dan kebaikan pada diri anak kita. Semoga anak-anak kita terhindar dari hal-hal negatif yang bisa menjerumuskan mereka.

Sumber foto :  by Google.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar