Senin, 13 Januari 2020

Kehamilan dan Kelahiran yang Berbeda: Anak Pertama



Proses kehamilan dan kelahiran setiap anak itu berbeda. Ada yang prosesnya mudah tanpa keluhan. Ada juga yang berat dengan berbagai keluhan yang menyertainya. Setiap ibu yang mempunyai beberapa orang anak rata-rata mengemukakan hal yang sama. Demikian pula dengan saya sebagai ibu dari empat orang anak, dua lelaki dan dua perempuan.
          Saya menikah umur 25 tahun, tepatnya 25 November 1999. Waktu itu, saya masih kuliah. Semua mata kuliah sudah kelar, tinggal KKN atau Kuliah Kerja Nyata. Saat menikah, suami masih berstatus pengurus suatu organisasi mahasiswa. Karena status suami sebagai ketua pada waktu itu, kami memutuskan untuk menunda memiliki momongan dulu. Agar suami bisa lebih fokus pada amanah yang diembannya.
Setelah kepengurusan suami selesai, tenyata kami masih belum dikaruniai anak.  Namun, kami masih bersabar. Mungkin Allah memberi kesempatan kepada kami untuk menikmati kebersamaan. Setelah ia lebih banyak berada di sekretariat dibandingkan bersama istrinya. Saya memaklumi posisinya. Karena kami berasal dari organisasi yang sama. Dan saya pun menjadi salah satu pengurus keputrian di organisasi yang sama, walaupun saya sebagai pengurus tidak maksimal karena waktu itu saya mengikuti KKN di Maros Utara.
Almarhum Bapak menyarankan agar saya segera berobat. Kata Bapak, siapa tahu saya bucicikang. Melihat kondisi saya yang belum menampakkan tanda-tanda berisi. Maklumlah kadang orangtua lebih khawatir dengan keadaan anaknya daripada si anak sendiri. Terima kasih Bapakku, sayang. Al Fatihah dan sholawat teriring untukmu, selalu.
Saya mengikuti saran Bapak. Dulu Bapak ingin sekali punya anak laki-laki. Namun dari tujuh anaknya tidak ada satu pun berjenis kelamin laki-laki. Semuanya perempuan. Ada sekelumit cerita tentang Bapak yang saat itu menantikan kelahiran anaknya. Waktu itu Bapak mendapat kabar bahwa adikku yang lahir adalah seorang laki-laki. Betapa gembira dan bahagianya Bapak waktu itu. Ia lalu membagi-bagikan uang kepada orang-orang yang berada di dekatnya.  Tetapi, ternyata yang lahir adalah seorang perempuan. Mengetahui hal itu, Bapak cuma ketawa. Merelakan uang yang sudah dibagi-bagikannya. Tidak mungkin kan uang yang sudah diberikan diminta kembali.
Sewaktu Bapak masuk rumah sakit di Rumah Sakit Faisal karena sakit yang dideritanya. Bapak selama ini menderita penyakit diabetes. Setelah sekian lama berjuang menghadapi sakit yang dideritanya. Segala pengobatan telah dicobanya.  Bapak divonis mengalami gagal ginjal dan harus melakukan hemodyalisis atau cuci darah. Tapi, Bapak tidak mau sekali melakukan cuci darah. Ia sudah pasrah. Sehari sebelum dilakukan cuci darah ia berpulang ke Rahmatullah. Innalillahi wainna ilaihi rojiun….
Sewaktu di rumah sakit, saya sering ke kamar kecil. Perasaan saya selalu mau buang air kecil. Sehabis pulang dari rumah sakit, saya memeriksakan diri ke dokter di puskesmas. Saya dinyatakan positif. Alhamdulillah. Saya tidak menyangka bahwa saya sedang hamil pada saat itu.
Proses kehamilan pertamaku lancar-lancar saja. Tidak ada keluhan berarti. Bukan karena ini kehamilan pertama dan dinantikan. Namun, memang tidak ada masalah dalam kehamilanku yang pertama ini. Saya tidak mual-mual seperti layaknya orang hamil, cuma perasaan yang selalu mau buang air kecil yang kurasakan. Sampai menginjak tujuh bulan usia kehamilan, saya terjatuh di selokan ketika mau menyeberang ke rumah Ibu. Saya cukup mengkhawatirkan kandunganku pada saat itu. Tapi, saya pasrahkan kepada Allah yang Maha Kuasa.
Ketika kelahiran sang bayi semakin dekat, tetap tidak ada masalah yang berarti. Alhamdulillah, semua lancar-lancar saja. Saya cukup rajin memeriksakan diri ke bidan puskesmas mengikuti jadwal di buku pink yang diberikan oleh bidan di Puskesmas. Untuk mengetahui perkembangan janin dalam kandungan. Alhamdulillah semua normal. Termasuk letak atau posisi bayi dalam kandungan.
Malam sebelum kelahiran si bayi, saya sudah merasa sakit di bagian perut. Sakit itu kurasakan sejak tengah malam. Pada awalnya, rasa sakit itu berjarak cukup lama, sejam dua jam, semakin lama semakin singkat waktunya, lima menit lima menit.  Menjelang subuh saya masih mencoba bertahan di rumah. Untuk melupakan rasa sakit yang kurasakan, saya masih sempat melipat-lipat pakaian yang sudah dicuci.
Pagi menjelang, sakitnya sudah tak tertahankan. Saya memanggil Ibu untuk menemani ke Rumah Bersalin Masyita. Perlengkapan bayi dan perlengkapanku selama di rumah sakit sudah lama kupersiapkan. Saya sudah memasukkan semua perlengkapan ke dalam tas. Tinggal angkat saja ketika waktunya tiba. Sayapun berangkat ke rumah sakit ditemani suami dan Ibuku. Sesampai di sana saya diperiksa. Kata bidan kalau tidak salah ingat, “Masih pembukaan tiga, masih lama lahirannya, Bu.” Entahlah, masih pembukaan berapa waktu itu. Tapi saya berpikir, “Waah, masih lama kalau begitu.”
Dalam keadaan sakit yang tak tertahankan itu. Saya berjalan kesana kemari, boleh dikatakan hampir berlari di koridor rumah sakit. Ada yang bilang, kuatnya ini jalan ibu, na maumi melahirkan. Mungkin karena si ibu dulu suka pergi demo pada jamannya rezim Soeharto atau sering jalan kaki bolak balik ke tempat training di Masjid Alauddin, Racing Centre dari Pampang. Untuk menghemat uang transpor waktu itu.
Tetiba, sakit tak tertahankan kurasakan. Saya pergi ke ruang tempat bersalin. Tapi saya masih berusaha berjalan-jalan di samping ranjang rumah sakit. Sambil berpegangan pada pegangan ranjang. Bidan bilang, “Naikmi Bu ke tempat tidur!” Saya tidak menghiraukan karena rasa sakit yang kurasakan. Saat itu saya merasa masih kuat berjalan bahkan melompat-lompat sekalipun. Itu kulakukan dengan harapan, saya mudah melahirkan. Tiba-tiba ada air yang merembes membasahi sarung yang saya pakai. Rupanya itu air ketuban. Kata bidan, “Saya bilang memang naik maki ke tempat tidur tadi. Naik maki cepat!”
Sayapun naik ke ranjang. Tak lepas-lepas lafaz zikir kulantunkan. Tak lupa pula kubaca doa Nabi Yunus as ketika beliau as berada di dalam perut ikan paus. Laa ilahaa llaa anta subhaanaka inii kuntu minadz dzaalimin. Saya dibantu oleh dua orang bidan untuk melakukan proses persalinan. Alhamdulillah, Ibu dan suami mendampingi saya melahirkan. Sehingga bisa memberi semangat kepada saya dalam menjalani proses kelahiran anakku yang pertama ini.
Sepertinya suami tak tahan melihat saya merasakan sakit yang luar biasa pada saat melahirkan. Matanya berkaca-kaca. Akhirnya suami disuruh keluar ruangan.
Tak lama kemudian bayiku lahir. Ia ternyata terlilit tali pusat. Sehingga saya mesti mendapat dua jahitan. Kata Ibu bidan, tali yang terlilit menyebabkan bayi agak sulit keluar, jadi mesti digunting jalan keluarnya sedikit. Walaupun begitu, saya sangat bersyukur bayiku lahir sehat dan sempurna dengan berat badan 2500 gram. Dan ia seorang baby boy atau bayi laki-laki. Alhamdulillah.
Setelah bayi dibersihkan dan diselimuti, suami lalu mengambil si bayi dan membacakan azan di telinganya. Kemudian bayinya diletakkan di sampingku. Kemudian, suami memberikan sebatang coklat Silver Queen kegemaranku. Duh...Bahagianya hati ini. Perhatian kecil namun sangat berarti bagiku.
Begitulah proses kehamilan dan kelahiran anak pertamaku, yang bernama Muh. Ersyah Mannuntungi, delapan belas tahun yang lalu, tepatnya 20 Desember 2001. Setiap proses kehamilan dan kelahiran bisa saja berbeda untuk setiap anak. Dari keempat anakku, masing-masing berbeda baik pada proses kehamilan maupun proses kelahirannya. Dan yang paling ringan adalah anak ketigaku, sedangkan yang terberat adalah anak keempatku. Kalau ada kesempatan, saya akan menuliskan semua kisahnya, insya Allah.

Bersambung....

Sumber Photo : By Google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar