Proses kehamilan dan kelahiran setiap anak itu berbeda. Ada yang prosesnya mudah tanpa keluhan. Ada juga yang berat dengan berbagai keluhan yang menyertainya. Setiap ibu yang mempunyai beberapa orang anak rata-rata mengemukakan hal yang sama. Demikian pula dengan saya sebagai ibu dari empat orang anak, dua lelaki dan dua perempuan.
Saya menikah umur 25 tahun, tepatnya 25 November 1999. Waktu itu, saya masih kuliah. Semua mata kuliah sudah kelar, tinggal KKN atau Kuliah Kerja Nyata. Saat menikah, suami masih berstatus pengurus suatu organisasi mahasiswa. Karena status suami sebagai ketua pada waktu itu, kami memutuskan untuk menunda memiliki momongan dulu. Agar suami bisa lebih fokus pada amanah yang diembannya.
Saya menikah umur 25 tahun, tepatnya 25 November 1999. Waktu itu, saya masih kuliah. Semua mata kuliah sudah kelar, tinggal KKN atau Kuliah Kerja Nyata. Saat menikah, suami masih berstatus pengurus suatu organisasi mahasiswa. Karena status suami sebagai ketua pada waktu itu, kami memutuskan untuk menunda memiliki momongan dulu. Agar suami bisa lebih fokus pada amanah yang diembannya.
Setelah
kepengurusan suami selesai, tenyata kami masih belum dikaruniai anak. Namun, kami masih bersabar. Mungkin Allah
memberi kesempatan kepada kami untuk menikmati kebersamaan. Setelah ia lebih
banyak berada di sekretariat dibandingkan bersama istrinya. Saya memaklumi
posisinya. Karena kami berasal dari organisasi yang sama. Dan saya pun menjadi
salah satu pengurus keputrian di organisasi yang sama, walaupun saya sebagai
pengurus tidak maksimal karena waktu itu saya mengikuti KKN di Maros Utara.
Almarhum Bapak
menyarankan agar saya segera berobat. Kata Bapak, siapa tahu saya bucicikang. Melihat kondisi saya yang belum
menampakkan tanda-tanda berisi. Maklumlah kadang orangtua lebih khawatir dengan
keadaan anaknya daripada si anak sendiri. Terima kasih Bapakku, sayang. Al Fatihah
dan sholawat teriring untukmu, selalu.
Saya mengikuti
saran Bapak. Dulu Bapak ingin sekali punya anak laki-laki. Namun dari tujuh
anaknya tidak ada satu pun berjenis kelamin laki-laki. Semuanya perempuan. Ada
sekelumit cerita tentang Bapak yang saat itu menantikan kelahiran anaknya.
Waktu itu Bapak mendapat kabar bahwa adikku yang lahir adalah seorang
laki-laki. Betapa gembira dan bahagianya Bapak waktu itu. Ia lalu
membagi-bagikan uang kepada orang-orang yang berada di dekatnya. Tetapi, ternyata yang lahir adalah seorang
perempuan. Mengetahui hal itu, Bapak cuma ketawa. Merelakan uang yang sudah
dibagi-bagikannya. Tidak mungkin kan
uang yang sudah diberikan diminta kembali.
Sewaktu Bapak
masuk rumah sakit di Rumah Sakit Faisal karena sakit yang dideritanya. Bapak
selama ini menderita penyakit diabetes. Setelah sekian lama berjuang menghadapi
sakit yang dideritanya. Segala pengobatan telah dicobanya. Bapak divonis mengalami gagal ginjal dan
harus melakukan hemodyalisis atau cuci
darah. Tapi, Bapak tidak mau sekali melakukan cuci darah. Ia sudah pasrah.
Sehari sebelum dilakukan cuci darah ia berpulang ke Rahmatullah. Innalillahi wainna ilaihi rojiun….
Sewaktu di rumah
sakit, saya sering ke kamar kecil. Perasaan saya selalu mau buang air kecil.
Sehabis pulang dari rumah sakit, saya memeriksakan diri ke dokter di puskesmas.
Saya dinyatakan positif. Alhamdulillah. Saya tidak menyangka bahwa saya sedang
hamil pada saat itu.
Proses kehamilan
pertamaku lancar-lancar saja. Tidak ada keluhan berarti. Bukan karena ini
kehamilan pertama dan dinantikan. Namun, memang tidak ada masalah dalam
kehamilanku yang pertama ini. Saya tidak mual-mual seperti layaknya orang
hamil, cuma perasaan yang selalu mau buang air kecil yang kurasakan. Sampai
menginjak tujuh bulan usia kehamilan, saya terjatuh di selokan ketika mau
menyeberang ke rumah Ibu. Saya cukup mengkhawatirkan kandunganku pada saat itu.
Tapi, saya pasrahkan kepada Allah yang Maha Kuasa.
Ketika kelahiran
sang bayi semakin dekat, tetap tidak ada masalah yang berarti. Alhamdulillah,
semua lancar-lancar saja. Saya cukup rajin memeriksakan diri ke bidan puskesmas
mengikuti jadwal di buku pink yang diberikan oleh bidan di Puskesmas. Untuk
mengetahui perkembangan janin dalam kandungan. Alhamdulillah semua normal.
Termasuk letak atau posisi bayi dalam kandungan.
Malam sebelum
kelahiran si bayi, saya sudah merasa sakit di bagian perut. Sakit itu kurasakan
sejak tengah malam. Pada awalnya, rasa sakit itu berjarak cukup lama, sejam dua
jam, semakin lama semakin singkat waktunya, lima menit lima menit. Menjelang subuh saya masih mencoba bertahan
di rumah. Untuk melupakan rasa sakit yang kurasakan, saya masih sempat
melipat-lipat pakaian yang sudah dicuci.
Pagi menjelang,
sakitnya sudah tak tertahankan. Saya memanggil Ibu untuk menemani ke Rumah
Bersalin Masyita. Perlengkapan bayi dan perlengkapanku selama di rumah sakit
sudah lama kupersiapkan. Saya sudah memasukkan semua perlengkapan ke dalam tas.
Tinggal angkat saja ketika waktunya tiba. Sayapun berangkat ke rumah sakit
ditemani suami dan Ibuku. Sesampai di sana saya diperiksa. Kata bidan kalau
tidak salah ingat, “Masih pembukaan tiga, masih lama lahirannya, Bu.” Entahlah,
masih pembukaan berapa waktu itu. Tapi saya berpikir, “Waah, masih lama kalau
begitu.”
Dalam keadaan
sakit yang tak tertahankan itu. Saya berjalan kesana kemari, boleh dikatakan hampir
berlari di koridor rumah sakit. Ada yang bilang, kuatnya ini jalan ibu, na
maumi melahirkan. Mungkin karena si ibu dulu suka pergi demo pada jamannya
rezim Soeharto atau sering jalan kaki bolak balik ke tempat training di Masjid Alauddin, Racing
Centre dari Pampang. Untuk menghemat uang transpor waktu itu.
Tetiba, sakit tak
tertahankan kurasakan. Saya pergi ke ruang tempat bersalin. Tapi saya masih
berusaha berjalan-jalan di samping ranjang rumah sakit. Sambil berpegangan pada
pegangan ranjang. Bidan bilang, “Naikmi Bu ke tempat tidur!” Saya tidak
menghiraukan karena rasa sakit yang kurasakan. Saat itu saya merasa masih kuat
berjalan bahkan melompat-lompat sekalipun. Itu kulakukan dengan harapan, saya
mudah melahirkan. Tiba-tiba ada air yang merembes membasahi sarung yang saya pakai.
Rupanya itu air ketuban. Kata bidan, “Saya bilang memang naik maki ke tempat tidur tadi. Naik maki cepat!”
Sayapun naik ke
ranjang. Tak lepas-lepas lafaz zikir kulantunkan. Tak lupa pula kubaca doa Nabi
Yunus as ketika beliau as berada di dalam perut ikan paus. Laa ilahaa llaa anta subhaanaka inii kuntu minadz dzaalimin. Saya dibantu oleh dua orang bidan untuk melakukan
proses persalinan. Alhamdulillah, Ibu dan suami mendampingi saya melahirkan. Sehingga
bisa memberi semangat kepada saya dalam menjalani proses kelahiran anakku yang
pertama ini.
Sepertinya suami
tak tahan melihat saya merasakan sakit yang luar biasa pada saat melahirkan.
Matanya berkaca-kaca. Akhirnya suami disuruh keluar ruangan.
Tak lama kemudian
bayiku lahir. Ia ternyata terlilit tali pusat. Sehingga saya mesti mendapat dua
jahitan. Kata Ibu bidan, tali yang terlilit menyebabkan bayi agak sulit keluar,
jadi mesti digunting jalan keluarnya sedikit. Walaupun begitu, saya sangat
bersyukur bayiku lahir sehat dan sempurna dengan berat badan 2500 gram. Dan ia
seorang baby boy atau bayi laki-laki.
Alhamdulillah.
Setelah bayi
dibersihkan dan diselimuti, suami lalu mengambil si bayi dan membacakan azan di
telinganya. Kemudian bayinya diletakkan di sampingku. Kemudian, suami memberikan
sebatang coklat Silver Queen kegemaranku. Duh...Bahagianya hati ini. Perhatian
kecil namun sangat berarti bagiku.
Begitulah proses
kehamilan dan kelahiran anak pertamaku, yang bernama Muh. Ersyah Mannuntungi,
delapan belas tahun yang lalu, tepatnya 20 Desember 2001. Setiap proses
kehamilan dan kelahiran bisa saja berbeda untuk setiap anak. Dari keempat anakku,
masing-masing berbeda baik pada proses kehamilan maupun proses kelahirannya. Dan
yang paling ringan adalah anak ketigaku, sedangkan yang terberat adalah anak keempatku.
Kalau ada kesempatan, saya akan menuliskan semua kisahnya, insya Allah.
Bersambung....
Sumber Photo : By Google
Bersambung....
Sumber Photo : By Google

Tidak ada komentar:
Posting Komentar