Ada dua jenis tikus yang paling meresahkan saat ini. Tikus yang pertama, tikus rumah dan tikus yang kedua adalah tikus berdasi. Tikus yang pertama, tikus rumah. Binatang pengerat ini paling menjengkelkan bagi ibu rumah tangga, kalau kelamaan mereka tinggal, makan dan buang kotoran sembarangan. Bahkan menggerogoti pakaian yang masih layak pakai. Pokoknya menjengkelkan deh. Sebenarnya sih menjengkelkan juga buat bapak-bapak, tetapi karena ibu-ibulah yang mesti membersihkan kotoran-kotoran tikus itu. Maka ibu-ibulah yang paling merasakan sakit hatinya setiap menyapu dan melap kotorannya. Membersihkan dengan menutup mulut dan hidung. Baunya itu lho. Hhmmm. Masa setiap hari harus membersihkan kotoran tikus. Harus dicari dong solusinya supaya tikus-tikus itu lenyap di muka bumi. Astaga, betul-betul aku marah nih. Sadisnya... jadi keliatan tuh.
Tapi gimana, yah. Bukan cuma buang-buang kotorannya itu yang menjengkelkan, masa kakiku pernah digigit makhluk pengerat itu. Bayangkan gimana rasanya digigit tikus. Yah, sakitlah, nyeri. Darah menetes tiada henti. Agak lama sih. Sampai aku takut melihatnya. Tapi akhirnya darah berhenti juga. Tau apa obatnya. Dikompres saja pakai air panas. Duh panas nian. Ini resep ajaib lho, kalau luka berdarah sedikit, misalnya tangan kena pisau, dikompres air panas, dijamin tidak nyut-nyut deh. Coba saja. Tapi kalau lukanya parah, bawa dong ke Puskesmas atau rumah sakit. Jangan dikompres, nanti infeksi atau tetanus. Aku lagi yang disalahkan, soalnya pakai resepku lho. Ah..merasanya.
Pernah juga, anak yang digigit tikus. Dia berteriak-teriak. Takut melihat tikus. Aku heran kok ada darah di tanganku. Kuperiksa, tidak ada yang luka. Kulihat tangan dia, tidak ada juga yang luka. Heran, dari mana asal darah itu yah. Selidik punya selidik ternyata tangannya yang kena gigit. Kecil sekali bekas gigitannya. Tapi rasa nyerinya itu lho. Nyeri nian. Saya tau rasanya gimana. Khan aku juga pernah rasakan. Lukanya dikompres juga.
Sebenarnya, sudah pernah dipasang jebakan tikus. Jebakan tikus sperti yang pernah diupload teman di statusnya. Dan banyak juga yang bagikan status itu, lho. Nah, sepertinya yang bagikan status tentang jebakan tikus itu, banyak tikus di rumahnya. Ngaku deh..hehe. Tapi jebakan tikus itu tidak berhasil. Entah, teman-teman yang lain, yang sudah mempraktekkannya. Sudahkah berhasil jebakan tikusnya? Kalau sudah berhasil, upload dong hasil tangkapannya. Tapi diuploadnya jangan pada saat jam makan yah. Nanti selera makan bisa hilang. Kalau tidak ada yang berhasil, jangan-jangan tikus juga ikut facebook-an. Dan kebetulan melihat status-status jebakan tikus itu. Wah terbongkar deh, rencana menjebak tikusnya. Hoho...jadi ngaco deh pikirannya.Masa' tikus facebook-an, tikus gaul kali yah, atau tikus jadi-jadian. Katanya di televisi banyak sinetron yang bertemakan binatang jadi-jadian. Ada Ganteng-Ganteng Serigala, ada Harimau Harimau...apatuh...aku kurang ngerti. Soalnya jarang nonton televisi. Televisi sudah lama rusak, belum ada gantinya.
Pokoknya tikus-tikus itu harus dibasmi, titik. Harus ada cara lain untuk melenyapkan mereka. Apakah dengan racun yah? Tapi aku tak tega sebenarnya. Mereka khan ciptaan Tuhan juga. Mereka layak juga toh untuk hidup. Bagaimana? Sepakat. Sepakat apa dulu dong. Sepakat tikus-tikus itu diracun atau sepakat tikus-tikus itu layak hidup. Maunya aku sih, aku tangkap mereka, lalu kulepaskan di alam bebas. Tapi mereka betul-betul meresahkan. Susah nangkapnya kawan.
Tikus yang kedua, tak kalah meresahkan. Tikus berdasi. Sebenarnya sih mereka bukan binatang, apalagi sebangsa tikus rumah atau tikus sawah. Tapi kelakuannya itu lho lebih rendah dari binatang. Tikus ini sangat leluasa bergerak mencari mangsa. Ada kedudukan sedikit, dipakai untuk meraup duit bukan haknya. Apalagi yang kedudukannya sudah tinggi. Tambah banyak kesempatannya. Dan semakin banyak pula duit yang diraupnya.
Tikus berdasi ini, disebut juga koruptor. Sebenarnya menurutku istilah koruptor itu masih halus. Mestinya mereka disebut maling atau begal sekalian. Untuk memberikan efek jera. Pantas pelakunya tidak jera-jera. Kalau ketangkap mereka senyum-senyum di depan kamera. Ada juga yang melambai-lambai, dadah dadah, kepada khalayak yang menontonnya. Seperti selebriti segala. Maklum tikus berdasi itu banyak yang terkenal. Mungkin karena sering nongol di Televisi. Tak tahu malu. Semestinya mereka malu dong tlah mencuri uang rakyat.
Rakyat banyak kelaparan. Bagaimana tidak kelaparan. Kalau bantuan-bantuan sosial diembat juga oleh tikus berdasi itu. Mestinya dananya sampai ke tangan rakyat, eh larinya ke kantong para maling itu. Akses kesehatan sulit terjangkau. Sampai-sampai ada pepatah mengatakan orang miskin dilarang sakit. Aapaa? Dilarang sakit. Di mana-mana itu, tidak ada orang yang mengundang sakit. Tidak ada yang mau sakit. Apa enaknya sakit yah. Tak enak makan tak enak tidur. Uang pun melayang karna tidak bisa kerja. Si miskin pokoknya tidak boleh sakit. Akses pendidikanpun demikian. Hanya orang-orang berduit yang bisa sekolah di sekolah-sekolah favorit. Mengapa? Karena bangku-bangku sekolahpun diperdagangkan. Bisa masuk sekolah tertentu harus bayar uang sekian sekian. Itu lho nilai uang yang banyak nol di belakangnya. Gimana dengan orang tak punya. Mana sanggup dia menyediakan uang segitu gede. Tak mungkin khan.
Begitulah, barangkali masih banyak persoalan-persoalan yang secara langsung dan tidak langsung ditimbulkan maling-maling ini. Eh tikus berdasi ini. Kehadirannya begitu meresahkan. Sama seperti tikus rumah yang slalu meresahkan. Sama-sama meresahkan. Sama-sama menjengkelkan. Tapi tikus rumah cuma binatang. Tikus berdasi itu manusia. Kalau dibandingkan kedudukan manusia dan binatang. Manusia itu lebih tinggi derajatnya dari binatang. Jauh lebih tinggi. Itu kalau manusianya punya akhlak yang mulia. Ini manusia tak berakhlak. Maling uang rakyat. Bisa jadi kedudukan mereka lebih rendah dari binatang. Bahkan jauh lebih rendah.
Seperti halnya, tikus rumah. Tikus berdasi ini perlu dibasmi keberadaannya di muka bumi ini. Tapi bukan dengan jebakan tikus apalagi diberi racun. Tidak manusiawi. Hah. Masih berfikir manusiawi segala. Mereka para tikus berdasi itu yang tidak manusiawi. Mereka mencuri uang rakyat. Mereka pesta pora menikmati hasil jarahannya. Pesiar keluar negeri. Makan-makan di restoran mahal. Pesta ulang tahun yang glamour. Koleksi wanita cantik. Amboi. Sementara rakyat masih banyak yang makan sekali sehari saja sudah cukup. Ada lagi yang tinggal di kandang. Sungguh kehidupan yang sangat kontras.
Pernah rakyat berharap kepada KPK. Banyak yang sudah ketangkap sama KPK. Tapi sayang, hanya kelas terinya. Kelas kakapnya masih aman. Seakan mereka kebal hukum. Yang mengherankan, beberapa pimpinan KPK dituduh dengan berbagai kasusnya masing-masing. Bahkan sudah ada yang dipenjara. Seperti Antasari Ashar. Aku mengikuti kasusnya sampai selesai. Terasa ada yang aneh. Kurasa bukan dia pelaku atau penyuruh pelaku membunuh. Bukan dia. Ini hanya kasus jebakan. Ah mirip-mirip jebakan tikus yah. Mestinya tikus-tikus berdasinya yang ditangkap. Eh ...ini malah yang mau nangkap si maling yang akhirnya terpenjara. Tapi kalau dipikir-pikir. Ngapain itu Antasari Ashar punya hubungan dengan seorang caddy. Barangkali bukan teman istimewa. Tapi inilah yang dijadikan alat untuk menjeratnya.
Lain pula kasus pimpinan KPK yang lain. Abraham Samad. Dia diberhentikan karena kasus kecil. Kasus kecil menurutku. Masa hanya gara-gara ada orang yang masuk Kartu Keluarga dipersoalkan. Biasa itu kali. Contoh, ada orang yang ngontrak di rumah orang lain. Masih kuliah. Karena saking lamanya ngontrak, ia dimasukkan ke dalam kartu keluarga tuan rumah. Kasus yang mengada-ngada, khan. Begitulah. Sepertinya, orang-orang yang duduk di pucuk pimpinan KPK itu mesti bebas dari masalah. Sekecil apapun.
Nah. Karena terjadi pelemahan terhadap KPK, maka para koruptor, tikus-tikus berdasi itu bisa bernafas lega. Terbebas sementara dari intaian KPK. Padahal KPK, harapan kita untuk memberantas korupsi. Jadi, kita mau berharap pada lembaga apa sekarang. POLRI. Tidak mungkin, karena kenapa KPK dibentuk. Karena ketidakmampuan POLRI untuk menangani masalah tikus-tikus berdasi itu.
Tikus rumah dan tikus berdasi ternyata amat sulit untuk diberantas. Perlu cara yang tepat untuk membasmi mereka. Entah bagaimana caranya. Mari kita cari solusi bersama.
Tapi gimana, yah. Bukan cuma buang-buang kotorannya itu yang menjengkelkan, masa kakiku pernah digigit makhluk pengerat itu. Bayangkan gimana rasanya digigit tikus. Yah, sakitlah, nyeri. Darah menetes tiada henti. Agak lama sih. Sampai aku takut melihatnya. Tapi akhirnya darah berhenti juga. Tau apa obatnya. Dikompres saja pakai air panas. Duh panas nian. Ini resep ajaib lho, kalau luka berdarah sedikit, misalnya tangan kena pisau, dikompres air panas, dijamin tidak nyut-nyut deh. Coba saja. Tapi kalau lukanya parah, bawa dong ke Puskesmas atau rumah sakit. Jangan dikompres, nanti infeksi atau tetanus. Aku lagi yang disalahkan, soalnya pakai resepku lho. Ah..merasanya.
Pernah juga, anak yang digigit tikus. Dia berteriak-teriak. Takut melihat tikus. Aku heran kok ada darah di tanganku. Kuperiksa, tidak ada yang luka. Kulihat tangan dia, tidak ada juga yang luka. Heran, dari mana asal darah itu yah. Selidik punya selidik ternyata tangannya yang kena gigit. Kecil sekali bekas gigitannya. Tapi rasa nyerinya itu lho. Nyeri nian. Saya tau rasanya gimana. Khan aku juga pernah rasakan. Lukanya dikompres juga.
Sebenarnya, sudah pernah dipasang jebakan tikus. Jebakan tikus sperti yang pernah diupload teman di statusnya. Dan banyak juga yang bagikan status itu, lho. Nah, sepertinya yang bagikan status tentang jebakan tikus itu, banyak tikus di rumahnya. Ngaku deh..hehe. Tapi jebakan tikus itu tidak berhasil. Entah, teman-teman yang lain, yang sudah mempraktekkannya. Sudahkah berhasil jebakan tikusnya? Kalau sudah berhasil, upload dong hasil tangkapannya. Tapi diuploadnya jangan pada saat jam makan yah. Nanti selera makan bisa hilang. Kalau tidak ada yang berhasil, jangan-jangan tikus juga ikut facebook-an. Dan kebetulan melihat status-status jebakan tikus itu. Wah terbongkar deh, rencana menjebak tikusnya. Hoho...jadi ngaco deh pikirannya.Masa' tikus facebook-an, tikus gaul kali yah, atau tikus jadi-jadian. Katanya di televisi banyak sinetron yang bertemakan binatang jadi-jadian. Ada Ganteng-Ganteng Serigala, ada Harimau Harimau...apatuh...aku kurang ngerti. Soalnya jarang nonton televisi. Televisi sudah lama rusak, belum ada gantinya.
Pokoknya tikus-tikus itu harus dibasmi, titik. Harus ada cara lain untuk melenyapkan mereka. Apakah dengan racun yah? Tapi aku tak tega sebenarnya. Mereka khan ciptaan Tuhan juga. Mereka layak juga toh untuk hidup. Bagaimana? Sepakat. Sepakat apa dulu dong. Sepakat tikus-tikus itu diracun atau sepakat tikus-tikus itu layak hidup. Maunya aku sih, aku tangkap mereka, lalu kulepaskan di alam bebas. Tapi mereka betul-betul meresahkan. Susah nangkapnya kawan.
Tikus yang kedua, tak kalah meresahkan. Tikus berdasi. Sebenarnya sih mereka bukan binatang, apalagi sebangsa tikus rumah atau tikus sawah. Tapi kelakuannya itu lho lebih rendah dari binatang. Tikus ini sangat leluasa bergerak mencari mangsa. Ada kedudukan sedikit, dipakai untuk meraup duit bukan haknya. Apalagi yang kedudukannya sudah tinggi. Tambah banyak kesempatannya. Dan semakin banyak pula duit yang diraupnya.
Tikus berdasi ini, disebut juga koruptor. Sebenarnya menurutku istilah koruptor itu masih halus. Mestinya mereka disebut maling atau begal sekalian. Untuk memberikan efek jera. Pantas pelakunya tidak jera-jera. Kalau ketangkap mereka senyum-senyum di depan kamera. Ada juga yang melambai-lambai, dadah dadah, kepada khalayak yang menontonnya. Seperti selebriti segala. Maklum tikus berdasi itu banyak yang terkenal. Mungkin karena sering nongol di Televisi. Tak tahu malu. Semestinya mereka malu dong tlah mencuri uang rakyat.
Rakyat banyak kelaparan. Bagaimana tidak kelaparan. Kalau bantuan-bantuan sosial diembat juga oleh tikus berdasi itu. Mestinya dananya sampai ke tangan rakyat, eh larinya ke kantong para maling itu. Akses kesehatan sulit terjangkau. Sampai-sampai ada pepatah mengatakan orang miskin dilarang sakit. Aapaa? Dilarang sakit. Di mana-mana itu, tidak ada orang yang mengundang sakit. Tidak ada yang mau sakit. Apa enaknya sakit yah. Tak enak makan tak enak tidur. Uang pun melayang karna tidak bisa kerja. Si miskin pokoknya tidak boleh sakit. Akses pendidikanpun demikian. Hanya orang-orang berduit yang bisa sekolah di sekolah-sekolah favorit. Mengapa? Karena bangku-bangku sekolahpun diperdagangkan. Bisa masuk sekolah tertentu harus bayar uang sekian sekian. Itu lho nilai uang yang banyak nol di belakangnya. Gimana dengan orang tak punya. Mana sanggup dia menyediakan uang segitu gede. Tak mungkin khan.
Begitulah, barangkali masih banyak persoalan-persoalan yang secara langsung dan tidak langsung ditimbulkan maling-maling ini. Eh tikus berdasi ini. Kehadirannya begitu meresahkan. Sama seperti tikus rumah yang slalu meresahkan. Sama-sama meresahkan. Sama-sama menjengkelkan. Tapi tikus rumah cuma binatang. Tikus berdasi itu manusia. Kalau dibandingkan kedudukan manusia dan binatang. Manusia itu lebih tinggi derajatnya dari binatang. Jauh lebih tinggi. Itu kalau manusianya punya akhlak yang mulia. Ini manusia tak berakhlak. Maling uang rakyat. Bisa jadi kedudukan mereka lebih rendah dari binatang. Bahkan jauh lebih rendah.
Seperti halnya, tikus rumah. Tikus berdasi ini perlu dibasmi keberadaannya di muka bumi ini. Tapi bukan dengan jebakan tikus apalagi diberi racun. Tidak manusiawi. Hah. Masih berfikir manusiawi segala. Mereka para tikus berdasi itu yang tidak manusiawi. Mereka mencuri uang rakyat. Mereka pesta pora menikmati hasil jarahannya. Pesiar keluar negeri. Makan-makan di restoran mahal. Pesta ulang tahun yang glamour. Koleksi wanita cantik. Amboi. Sementara rakyat masih banyak yang makan sekali sehari saja sudah cukup. Ada lagi yang tinggal di kandang. Sungguh kehidupan yang sangat kontras.
Pernah rakyat berharap kepada KPK. Banyak yang sudah ketangkap sama KPK. Tapi sayang, hanya kelas terinya. Kelas kakapnya masih aman. Seakan mereka kebal hukum. Yang mengherankan, beberapa pimpinan KPK dituduh dengan berbagai kasusnya masing-masing. Bahkan sudah ada yang dipenjara. Seperti Antasari Ashar. Aku mengikuti kasusnya sampai selesai. Terasa ada yang aneh. Kurasa bukan dia pelaku atau penyuruh pelaku membunuh. Bukan dia. Ini hanya kasus jebakan. Ah mirip-mirip jebakan tikus yah. Mestinya tikus-tikus berdasinya yang ditangkap. Eh ...ini malah yang mau nangkap si maling yang akhirnya terpenjara. Tapi kalau dipikir-pikir. Ngapain itu Antasari Ashar punya hubungan dengan seorang caddy. Barangkali bukan teman istimewa. Tapi inilah yang dijadikan alat untuk menjeratnya.
Lain pula kasus pimpinan KPK yang lain. Abraham Samad. Dia diberhentikan karena kasus kecil. Kasus kecil menurutku. Masa hanya gara-gara ada orang yang masuk Kartu Keluarga dipersoalkan. Biasa itu kali. Contoh, ada orang yang ngontrak di rumah orang lain. Masih kuliah. Karena saking lamanya ngontrak, ia dimasukkan ke dalam kartu keluarga tuan rumah. Kasus yang mengada-ngada, khan. Begitulah. Sepertinya, orang-orang yang duduk di pucuk pimpinan KPK itu mesti bebas dari masalah. Sekecil apapun.
Nah. Karena terjadi pelemahan terhadap KPK, maka para koruptor, tikus-tikus berdasi itu bisa bernafas lega. Terbebas sementara dari intaian KPK. Padahal KPK, harapan kita untuk memberantas korupsi. Jadi, kita mau berharap pada lembaga apa sekarang. POLRI. Tidak mungkin, karena kenapa KPK dibentuk. Karena ketidakmampuan POLRI untuk menangani masalah tikus-tikus berdasi itu.
Tikus rumah dan tikus berdasi ternyata amat sulit untuk diberantas. Perlu cara yang tepat untuk membasmi mereka. Entah bagaimana caranya. Mari kita cari solusi bersama.
Bukan cuma ibu-ibu atau bapak-bapak yang resah tapi anak-anak, remaja, sampe nenek-nenek juga sama resahnya. hehehe.. :D
BalasHapusKalau begitu, mulai dari anak-anak sampai nenek-nenek sama resahnya kalo persoalan tikus rumah yah...hehe...barangkali karna yang menulis ibu-ibu makanya yang paling resah itu ibu-ibu bukan yang lainnya...hehe...
HapusNegeri Para Tikus
BalasHapusBetul ustadz, bagus jadi judul tulisan itu. Ada blogta' di', minta izin ikuti nah, mauka' berguru sama pak doktor, yang insya Allah akan menjadi ulama besar seperti leluhuŕnya, aamiin..
Hapus