Rabu, 26 Februari 2020

Partner Terbaik dan Manifestasi Kelembutan seorang Istri





Pada postingan sebelumnya, telah diuraikan dimensi keteladanan dari Bunda Fatimah Az-Zahra dari segi ibadah dan peningkatan spiritualnya. Kali ini, akan dipaparkan dimensi keteladanan beliau yang lainnya, yaitu sebagai partner terbaik dan manifestasi kelembutan seorang isteri.
Allah SWT telah menciptakan manusia berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan. Pasangan itu menyatu membina rumah tangga menjadi sepasang suami-isteri. Pasangan yang saling melengkapi dan memberikan  kenyamanan. Pasangan ideal adalah teman dalam ketaatan kepada Allah Swt.
Fatimah Az-Zahra dan Imam Ali adalah pasangan yang ideal. Karena itu Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada yang sepadan dengan Fatimah Az-Zahra kecuali Ali.”
Fatimah Az-Zahrah adalah partner terbaik bagi pasangannya dalam ketaatan kepada Allah SWT, seperti yang pernah diucapkan Imam Ali, “Dia adalah sebaik-baiknya penolong dalam ketaatan kepada Allah.”
Sebaliknya, saat Rasulullah saw bertanya kepada Sayyidah Fatimah Az-Zahra tentang Imam, beliau berkata, “Wahai ayahku, dia suami yang paling baik.”
Selama Sembilan tahun masa pernikahannya dengan Imam Ali, Fatimah Az-Zahra menjalankan perannya sebagai isteri dan ibu bagi anak-anak dengan baik. Sehingga Imam Ali dapat berjuang dengan tenang.
Pada masa hidup bersama Fatimah, Imam Ali sering pergi berjihad. Segala permasalahan dan rasa lelah Imam Ali menjadi hilang saat memandang wajah isterinya tercinta, “Tiap kali aku memandang wajahnya, hilanglah semua kegundahan dan kesedihanku. Sumpah demi Allah, Aku tidak pernah membuat Fatimah marah dan sedih…dan Fatimah pun tidak pernah membuatku marah dan sedih.”
Mengenal sejarah kehidupan manusia teladan, bukan sekadar untuk diketahui. Tapi, lebih dari itu, kehidupan mereka harus dieladani untuk kehidupan kita.
Tidak sedikit pasangan suami-isteri yang bercerai atau  rumah tangga dipenuhi pertengkaran, padahal dari segi ekonomi mereka tidak berkekurangan. Karena itru, lihatlah, rumah tangga Fatimah Az-Zahra dan Imam Ali, dengan segala kesederhanaannya, namun menjadi rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah.
Dalam menjelaskan betapa beratnya bunda Fatimah Az-Zahra mengerjakan pekerjaan rumah tangga, namun tetap dilakukan dengan penuh keikhlasan.
Imam Ali berkata, “Apakah harus aku katakana kepada kalian tentang aku dan Fatimah? Fatimah orang yang sangat dicintai Rasulullah dalam keluarganya. Fatimah hidup bersamaku. Karena seringnya menggiling gandum, gilingan gandum itu membekas di tangannya.
Karena seringnya membawa tempat air, ada tanda di badannya. Karena seringnya menyapu rumah, bajunya sering dipenuhi debu. Karena seringnya menyalakan tungku, bajunya pun berwarna kehitaman karena asap. Dia sempat terluka karena mengerjakan pekerjaan rumah.”
Suatu hari, aku mendengar seorang budak dibawa menghadap Rasulullah saw. Aku berkata pada Fatimah, “Tidak ada salahnya engkau pergi ke rumah ayahmu untuk meminta seorang budak yang dapat membantu pekerjaan rumahmu. Fatimah pun pergi menghadap Rasulullah saw. Saat itu dia melihat ayahnya tengah berbincang-bincang.
Karena malu, akhirnya Fatimah kembali ke rumah. Besoknya Rasulullah mendatangi rumah kami. Beliau kemudian duduk di samping Fatimah dan berkata, “Kemarin apa yang Engkau ingnkan dariku?” Fatimah diam tidak menjawab. Rasulullah kembali bertanya namun Fatimah kembali diam, tidak menjawab.
Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sumpah demi Tuhan aku akan mengatakan hal itu padamu. Karena seringnya Fatimah menggiling gandum, sampai-sampai gilingan gandum membekas di tangannya. Karena seringnya membawa tempat air, sampai ada bekas di badannya. Karena seringnya menyapu rumah sampai hitam bajunya. Kami dengar ada seorang budak dibawa kepadamu, karena itu aku menyuruhnya untuk meminta pembantu kepadamu.” (Sunan Abu Daud, jilid 4, hal 315)
Namun demikian, di saat memungkinkan Imam Ali akan membantu Sayidah Fatimah mengerjakan pekerjaan rumah. Imam Ali pergi mencari kayu bakar, mengambil air danmenyapu rumah, sementara Sayidah Fatimah menumbuk gandum dan membuat roti.
Masalah ekonomi bukan segalanya. Permasalahan selalu ada dalam rumah tangga. Namun, jika pasangan suami isteri sejak awal sudah berkomitmen untuk menjadikan rumah tangga sebagai sarana ibadah dan ketaatan kepada Allah swt, maka rumah tangga akan penuh berkah.
Pasangan suami isteri hendaknya saling mengerti kondisi pasangannya, saling memberikan motivasi dan ketenangan, maka itulah spirit yang diajarkan Fatimah Az-Zahra dan Imam Ali kepada semua pasangan suami istri di dunia ini.
Apakah kita merasa nyaman  berada di samping pasangan atau sebaliknya? Apakah lebih senang berada di rumah saat bersama pasangan, atau sebaliknya lebih senang  dan nyamana berada di luar rumah dan jauh dari pasangan?
Jika kita lebih senang dan nyaman saat jauh dari pasangan berarti kita masih jauh dari meneladani kehidupan rumah tangga Sayidah Fatimah Az-Zahra.
Fatimah Az-Zahra pun mengajarkan kepada kita untuk setia kepada pasangan dalam segala kondisi. Karena biasanya, kesetiaan pasangan akan goyah saat kesulitan hidup menimpa, terutama kesulitan ekonomi.
Sehingga tidak heran, sering kita dengar di tengah masyarakat, ungkapan ‘ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang’.
Kesetiaan Sayidah Fatimah Az-Zahra tercermin melalui perkataan beliau kepada Imam Ali, “Wahai Abal Hasan yang rohku sebagai tebusan untukmu, jiwaku sebagai tebusan jiwamu, jika engkau dalam kebaikan, aku bersamamu, begitupula jika engkau dalam kesulitan, aku juga akan tetap bersamamu.”
Seorang isteri yang sholehah akan senantiasa memikirkan kenyamanan suaminya. Ini juga yang dilakukan Sayidah Fatimah Az-Zahra. Beliau senantiasa memikirkan kenyamanan suaminya meski ajal sudah dekat beliau rasakan. Bahkan, beliau pun telah memikirkan kenyamanan suaminya pasca wafatnya.
Detik-detik menjelang ajalnya, Imam Ali melihat Sayidah Fatimah Az-Zahra menangis. Beliau berkata, “Fatimahku sayang, kenapa Engkau menangis?” Sayidah Fatimah menjawab, “Aku menangis karena memikirkan musibah dan kesulitan yang akan menimpamu setelah kepergianku.”
Beliau mewasiatkan kepada Imam Ali untuk menikahi Ummul Banin karena Ummul Banin dekat dengan putera-puterinya. Dan mengatakan kepada Imam Ali bahwa seorang lelaki sulit hidup tanpa isteri.
Karena itu, Sayidah Fatimah dikenal dengan haniyah, yaitu seorang perempuan yang sangat penyayang dan lemah lembut terhadap suaminya. Kasih sayang dan kelembutannya sangat luar biasa ditumpahkan untuk kebahagiaan dan kenyamanan suaminya.
Itulah puncak cinta, kasih sayang dan kelembutan seorang isteri. Itulah manifestasi kelembutan dan kasih sayang seorang isteri.

Sumber : Muslimah Idol, Napak Tilas Kehidupan Para Perempuan Teladan, karya Euis Daryati, MA.  Hal. 112-117

Sumber Gambar: en.alkawthartv.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar