Sabtu, 22 Februari 2020

Dimensi Keteladanan Fatimah Az-Zahra


Ibadah dan Peningkatan Spiritual Fatimah Az-Zahra

Saat ini kita hidup dalam era digital. Dimana dunia terasa dalam genggaman. Dunia ini bagaikan tak selebar daun kelor. Apa yang terjadi di belahan dunia lain, beberapa detik kemudian sudah terdengar di belahan bumi lainnya. Namun, di samping berbagai kemudahan yang dirasakan manusia, berbagai krisis kemanusiaan pun melanda manusia.

Bagi orang yang tidak memiliki teladan, tentunya sangat mudah baginya tertimpa krisis insani. Tidak bagi seorang yang berpatronkan wanita mulia, wanita termulia sejagat dan sepanjang masa, yaitu Fahimah Az-Zahra.

Ada beberapa dimensi keteladanan aplikatif Fatimah Az-Zahra yang jika kita meneladaninya akan mampu membentengi kita dari berbagai krisis kemanusiaan di era modernisasi dan globalisasi. Salah satunya adalah ibadah dan peningkatan spirual.

Dimensi kehidupan Fatimah Az-Zahra yang menyampaikan beliau ke maqam yang tinggi ialah kecintaan beliau as kepada ibadah. Tidak ada seorang pun yang meragukan ibadah beliau dari sisi kualitas dan kuantitas. Karena belau sangat menikmati pertemuannya dengan Sang Khalik.

Hasan Bashri, seorang ulama dan tokoh sufi dalam menggambarkan ibadah Sayyidah Fathimah as dan berkata, “Tidak aku temukan di dunia yang lebih abid dari Fathimah as. Beliau beribadah hingga kakinya membengkak.”

Pada malam pengantin, Imam Ali as melihat Fatimah Az-Zahra dalam keadaan khawatir dan sedih. Beliau menanyakan sebabnya. Fatimah Az-Zahra menjawab, “…Perpindahan dari rumah ayah menuju rumahku yang baru mengingatkanku akan perpindahanku ke alam kubur. Demi Allah, aku mohon kepadamu marilah kita dirikan salat dan beribadah kepada Allah malam ini.”

Fatimah Az-Zahra mengajarkan kepada kita agar senantiasa berhubungan dengan Allah SWT dalam segala kondisi. Terkhusus di zaman modern ini ketika banyak orang mengalami krisis spiritual.

Kendati bergelimang harta, kehidupan terasa gersang. Ketenangan dan kebahagiaan tidak mereka rasakan. Karena, ketenangan dan kebahagiaan tidak bisa diperoleh dengan harta semata. Namun, hanya bisa didapatkan dari hubungan dengan Sumber Ketenangan yaitu Allah SWT.

Seperti termaktub dalam Firman Allah SWT:

Dan dirikanlah salat untuk mengingatku..."
(QS. Thohah: 14)

Dan :

"Ketahuilah bahwasanya mengingat Allah akan membawa ketenangan jiwa.”
(QS. Al Raad : 28)

Kenikmatan dan ketenangan rohani akan didapat dengan senantiasa menjalin dengan Allah SWT. Dan, hal itu tak dapat diganti dengan yang lain.

Agar ketenangan dan kedamaian jiwa bisa kita dapatkan, kita hendaknya berusaha khusyu dalam menjalin hubungan dengan Allah SWT. Lebih dari itu, kita juga dapat mencicipi kenikmatan dari ibadah itu sendiri sebagaimana yang telah diajarkan Fatimah Az-Zahra.

Jika hati dan pikiran Fatimah Az-Zahra khusyu di hadapan kebesaran Allah SWT, semua ikatan dunia dan materi termasuk kecintaan pada kekerabatan seakan terputus darinya. Saat beribadah, rohnya seolah-olah terbang tinggi, sampai Allah mengutus malaikat untuk menggerak-gerakkan ayunan putra-putra beliau yang masih kecil agar tidak terjaga dari tidurnya.”

Sebuah riwayat yang menggambarkan kenikmatan ruhani dan spiritual Fatimah Az-Zahra, bahwa Rasulullah SAW berkata:
“Wahai putriku, apa yang Engkau inginkan? Sekarang Jibril as ada bersamaku. Dia membawa pesan bahwa Allah SWT akan memenuhi semua yang Engkau inginkan.”

Putri Rasulullah SAW menjawab, “Kenikmatan menghadap-Nya mencegahku untuk meminta sesuatu yang lain. Keinginanku hanyalah agar aku senantiasa menghadap dan menatap kegungan-Nya,”

Peningkatan spiritual pun dapat dilakukan dengan senantiasa berusaha bersama Al Qur’an. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Fatimah Az-Zahra. Kebersamaan Fathimah dan Al Quran  menjadi contoh  para muslimah bahwa di era ini , berpegang teguh pada Al Qur’an akan menjadi penyelamat kita dari kegersangan rohani.

Dalam riwayat disebutkan bagaimana Fatimah Az-Zahra, detik demi detik dan dalam kondisi apa pun senantiasa bersama Al Qur’an. Salman Al Farisi, seorang sahabat Rasulullah SAW  berkata, ”Suatu hari aku disuruh Rasulullah SAW untuk pergi ke rumah Fatimah. Saat aku sampai ke rumahnya kudengar dia tengah membaca AL Qur’an.”

Dalam riwayat lain, Salman berkata, “Suatu hari aku masuk ke rumah Fathimah, aku melihat dia tengah menumbuk gandum dan sambil membaca Al Qur’an.”

Fatimah Az-Zahra pun berwasiat kepada suaminya, Imam Ali, agar pada malam pertama sepeninggalnya banyak berdoa dan membacakan al Quran untuknya.

Waktu-waktu Fatimah Az-Zahra senantiasa diisi dengan lantunan ayat-ayat Al Quran, sehingga pelayan beliau, Fidhdhah Hindi, menjadi penghafal dan menguasai Al Quran. Karena, hari-harinya ia selalu mendengar majikannya, Fatimah Az-Zahra melantunkan ayat-ayat suci al Quran dan itulah yang membuat Fidhdhah hafal al Qur’an.

Tidak sampai di situ, Fidhdhah pun, pasca wafatnya Fatimah Az-Zahra tidak pernah berbicara kecuali dengan  ayat-ayat al Quran. Cahaya al Quran telah membuat seorang pelayan menjadi perempuan yang agung.  Berkat kedekatan majikan dengan al Quran, lahirlah perempuan yang luar biasa, seperti Fidhdhah.

Para muslimah pasti dapat berkaca bagaimana dekatnya Fatimah Az-Zahra dengan al Quran. Hari-harinya senantiasa dipenuhi dengan kalam Ilahi. Karena itu, sudah selayaknya kita meneladani kehidupan beliau agar menjadi sahabat dekat kita.

Al Quran tidak hanya sebatas pajangan berdebu yang ada di dalam almari rumah kita. Jangan sampai Al Quran mengadukan perlakuan kita padanya karena kita telah membuatnya terasing.

Bukan hanya semangat memperbarui status atau membaca berita-berita yang ada di media sosial, kita pun harus semangat meng-update bacaan dan pemahaman tentang al Quran. Al Qur’an menjadi teman dalam suka dan duka.

Bukan hanya “one day one status”, yang rutin dalam berfacebook. Minimal “one day one ayat” kita jadikan program harian kita. Alhamdulillah, kalau bisa “one day one juz”. Tiap ayat al Quran yang kita baca akan memberikan ketenangan dan pesan positif bila kita merenungkannya.

Sumber : Buku Muslimah Idol, Napak Tilas Kehidupan Para Perempuan Teladan, karya Euis Daryati, M.A. Hal 108-112

Gambar : http://idhe-purnama.blogspot

Tidak ada komentar:

Posting Komentar