Akhirnya bisa menulis lagi setelah sebulan full tidak mengisi blog. Pebruari tanpa tulisan ceritanya. Tapi sebenarnya sempat menulis tapi waktu saya posting, tulisan itu hilang. Entah kemana dan kenapa. Mungkin jaringan kurang bersahabat dan tidak mendukung. Hehe..Rencana menulis lagi tapi tertunda-tunda terus. Barangkali karena capek jadi penjaga warung sekaligus ibu ERTE.
Saat ini saya lagi mau menulis tentang berita heboh yang terjadi hari ini. Soal kedatangan Raja Saudi Arabia, Raja Salman bin AbdulAziz. Sebenarnya yang heboh itu bukan kedatangan Raja Salman sih. Tapi, euforianya pendukung dan marahnya pembenci Ahok. Melihat maraknya foto Ahok sedang bersalaman dengan sang tamu, Raja Salman. Bagi saya, wajar khan klo seorang tuan rumah salaman dengan tamunya. Kok mesti marah sih. Kata yang anti Ahok, fotonya direkayasa, foto editan itu. Mana mungkin Raja Salman, penguasa negara tauhid mau menyalami penista agama. Mungkin saja dongg...secara dia tamu dan Ahok adalah tuan rumah. Tak ada alasan untuk, tidak menyambut uluran tangan Pak Ahok. Lagipula, pernahkah kita tanya pada sang Raja. Pendapat beliau tentang kasus pak Ahok. Tidak pernah khan? Paling beliau bilang,"Itu urusan kalian, selesaikan sendiri. Maaf saya tidak ikut campur." Tanyami. Hayo, siapa berani tanya. Mumpung beliau masih ada di tanah air kita.
Lucu juga jadinya yah. Ketika apa yang kita tidak sukai ternyata itulah yang terjadi. Berharap agar Raja Salman menolak Ahok untuk bertemu beliau. Menolak jabat tangan dengannya. Karena, haram tangan sang junjungan yang suci berjabat tangan dengan tangan haram si penista agama. Tapi kenyataannya. Mereka adalah negarawan-negarawan yang tak luput dari dosa. Dan mereka saling menghormati satu sama lain. Tidak seperti kita yang selalu nyinyir terhadap sesuatu. Walaupun, bisa saja kita awam terhadapnya. Kita hanya mengikuti prasangka kita dan terlalu membesar-besarkan sesuatu. Dan kita juga terkadang, menciptakan ketakutan-ketakutan, seperti melihat hantu di siang bolong.
Tentang Pak Basuki..eh Pak Ahok sendiri, saya tidak pernah menganggapnya bahwa ia telah melecehkan Al Qur'an, khususnya Al Maidah ayat 51. Barangkali dia bersalah telah mengucapkan perkataan yang menyinggung perasaan sebagian umat Islam. Tetapi beliau sudah minta maaf. Bahkan telah berulang-ulang kali minta maaf. Tetapi masih saja telah dianggap menghina Islam dan AlQuran. Saya kira, tidak mungkinlah pak Ahok menghina Islam. Karena beliau dalam posisi calon gubernur yang akan ikut pilkada. Dan mayoritas pemilihnya itu beragama Islam. Dan wajar kok, klo dibilang ada orang yang menggunakan ayat AlQur'an umtuk membodohi umat Islam. Bagaimana dengan kelompok ISIS yang menggunakan dalil berupa ayat Al Qur'an untuk memenggal orang yang tidak sekeyakinan dengan mereka. Bukan Al Qur'annya yang salah, Bro and Sista, tetapi orangnya. Sama saja ketika kita pakai pisau untuk memotong pepaya. Atau kita pakai pisau untuk memotong orang. Kitanya yang salah bukan pisaunya.
Saya ingat juga videonya Pak Habib Riziek yang bilang ada ulama su' yang pakai ayat alQur'an untuk membodoh-bodohi umat. Sepertinya, ucapannya senada yang dengan yang dikatakan Pak Ahok di Kepulauan Seribu. Tapi, kenapa orang berbeda dalam menyikapinya. Apakah karena ada yang beragama Islam dan ada yang nonmuslim. Standar janda itu namanya, eeh standar ganda.
Tentang penistaan agama atau tidaknya Bapak Ahok dalam hal ini, pendapat para ulama terbelah. Sebagian mengatkan Ahok telah menistakan agama. Sebagian lagi mengatakan tidak. Sayangnya, perbedaan ini tidak ditanggapi dewasa. Bagi yang anti Ahok, diklaim bahwa mereka rasis, intoleran dan tidak menghargai kebhinekaan. Tetapi mereka menolak klaim sepihak itu. Buktinya mereka, bersahabat dengan orang kristen, Cina. Hanya Pak Ahok yang mereka benci karena telah menghina ulama dan Al Qur'an. Di lain pihak, ada yang mengklaim orang yang tidak menganggap Ahok telah menista agama itu, munafik. Apalagi yang memilih Pak Ahok. Sampai-sampai, ada mesjid yang tidak mau menyalatkan jenazahnya. Hehe..segitunya deeh..Tapi klo dipikir-pikir benar juga yah. Mana ada mesjid yang menyalatkan jenazah. Khan yang shalat itu jemaahnya. Bukan masjidnya. Hihi...
Klo saya sendiri, tentang Pak Ahok saya mengikuti pendapatnya Buya Syafii Ma'arif, Bapak Quraysh Shihab dan ulama-ulama NU lainnya yang sependapat. Bahwa Pak Ahok tidak menista agama. Bahwa Pak Ahok keliru tapi sudah minta maaf. Yah, dimaafkan. Dan pernah juga dalam sebuah pertemuan dengan kanda Ustadz Dr. Ahmad Mujahid. Sempat ditanyakan mengenai kasus Ahok. Beliau bilang, Ahok tidak menghina Al Qur'an. Saya bilang, "Artinya politikji itu ustadz." Beliau bilang," ah iyya politikji itu." Saya bilang barangkali di sinimi pentingnya kita tahu sejarah turunnya atau asbabun nuzulnya ayat-ayat Al Qur'an itu ustadz. Beliau bilang, betul itu.
Sekarang ini kita menantikan putaran kedua Pilkada DKI. Apakah BADJA atau Anies-Uno yang menang. Apakah semakin mengheboh ujaran-ujaran kebencian, bertebaran hoax-hoax, dan kampanye hitam. Boleh jadi, kedua belah pihak berlomba-lomba memperlihatkan keunggulan jagoannya. Dan menunjukkan keburukan-keburukan lawannya. Tidak semuanya sih pegiat medsos seperti itu. Tapi, masih marak kelihatannya. Barangkali itu bumbu-bumbu penyedap pemilu ataupun pilkada yah.
Saya sebagai warga yang tak berKTP Jakarta. Tak punya hak untuk memilih. Tapi saya punya harapan untuk DKI Jakarta. Sebagai ibukota negara. Semoga pemimpin yang terpilih mampu membawa Jakarta menjadi lebih baik dari sekarang. Utamanya, banjir dan macet, semoga dapat diatasi. Siapapun nanti yang terpilih...
Saat ini saya lagi mau menulis tentang berita heboh yang terjadi hari ini. Soal kedatangan Raja Saudi Arabia, Raja Salman bin AbdulAziz. Sebenarnya yang heboh itu bukan kedatangan Raja Salman sih. Tapi, euforianya pendukung dan marahnya pembenci Ahok. Melihat maraknya foto Ahok sedang bersalaman dengan sang tamu, Raja Salman. Bagi saya, wajar khan klo seorang tuan rumah salaman dengan tamunya. Kok mesti marah sih. Kata yang anti Ahok, fotonya direkayasa, foto editan itu. Mana mungkin Raja Salman, penguasa negara tauhid mau menyalami penista agama. Mungkin saja dongg...secara dia tamu dan Ahok adalah tuan rumah. Tak ada alasan untuk, tidak menyambut uluran tangan Pak Ahok. Lagipula, pernahkah kita tanya pada sang Raja. Pendapat beliau tentang kasus pak Ahok. Tidak pernah khan? Paling beliau bilang,"Itu urusan kalian, selesaikan sendiri. Maaf saya tidak ikut campur." Tanyami. Hayo, siapa berani tanya. Mumpung beliau masih ada di tanah air kita.
Lucu juga jadinya yah. Ketika apa yang kita tidak sukai ternyata itulah yang terjadi. Berharap agar Raja Salman menolak Ahok untuk bertemu beliau. Menolak jabat tangan dengannya. Karena, haram tangan sang junjungan yang suci berjabat tangan dengan tangan haram si penista agama. Tapi kenyataannya. Mereka adalah negarawan-negarawan yang tak luput dari dosa. Dan mereka saling menghormati satu sama lain. Tidak seperti kita yang selalu nyinyir terhadap sesuatu. Walaupun, bisa saja kita awam terhadapnya. Kita hanya mengikuti prasangka kita dan terlalu membesar-besarkan sesuatu. Dan kita juga terkadang, menciptakan ketakutan-ketakutan, seperti melihat hantu di siang bolong.
Tentang Pak Basuki..eh Pak Ahok sendiri, saya tidak pernah menganggapnya bahwa ia telah melecehkan Al Qur'an, khususnya Al Maidah ayat 51. Barangkali dia bersalah telah mengucapkan perkataan yang menyinggung perasaan sebagian umat Islam. Tetapi beliau sudah minta maaf. Bahkan telah berulang-ulang kali minta maaf. Tetapi masih saja telah dianggap menghina Islam dan AlQuran. Saya kira, tidak mungkinlah pak Ahok menghina Islam. Karena beliau dalam posisi calon gubernur yang akan ikut pilkada. Dan mayoritas pemilihnya itu beragama Islam. Dan wajar kok, klo dibilang ada orang yang menggunakan ayat AlQur'an umtuk membodohi umat Islam. Bagaimana dengan kelompok ISIS yang menggunakan dalil berupa ayat Al Qur'an untuk memenggal orang yang tidak sekeyakinan dengan mereka. Bukan Al Qur'annya yang salah, Bro and Sista, tetapi orangnya. Sama saja ketika kita pakai pisau untuk memotong pepaya. Atau kita pakai pisau untuk memotong orang. Kitanya yang salah bukan pisaunya.
Saya ingat juga videonya Pak Habib Riziek yang bilang ada ulama su' yang pakai ayat alQur'an untuk membodoh-bodohi umat. Sepertinya, ucapannya senada yang dengan yang dikatakan Pak Ahok di Kepulauan Seribu. Tapi, kenapa orang berbeda dalam menyikapinya. Apakah karena ada yang beragama Islam dan ada yang nonmuslim. Standar janda itu namanya, eeh standar ganda.
Tentang penistaan agama atau tidaknya Bapak Ahok dalam hal ini, pendapat para ulama terbelah. Sebagian mengatkan Ahok telah menistakan agama. Sebagian lagi mengatakan tidak. Sayangnya, perbedaan ini tidak ditanggapi dewasa. Bagi yang anti Ahok, diklaim bahwa mereka rasis, intoleran dan tidak menghargai kebhinekaan. Tetapi mereka menolak klaim sepihak itu. Buktinya mereka, bersahabat dengan orang kristen, Cina. Hanya Pak Ahok yang mereka benci karena telah menghina ulama dan Al Qur'an. Di lain pihak, ada yang mengklaim orang yang tidak menganggap Ahok telah menista agama itu, munafik. Apalagi yang memilih Pak Ahok. Sampai-sampai, ada mesjid yang tidak mau menyalatkan jenazahnya. Hehe..segitunya deeh..Tapi klo dipikir-pikir benar juga yah. Mana ada mesjid yang menyalatkan jenazah. Khan yang shalat itu jemaahnya. Bukan masjidnya. Hihi...
Klo saya sendiri, tentang Pak Ahok saya mengikuti pendapatnya Buya Syafii Ma'arif, Bapak Quraysh Shihab dan ulama-ulama NU lainnya yang sependapat. Bahwa Pak Ahok tidak menista agama. Bahwa Pak Ahok keliru tapi sudah minta maaf. Yah, dimaafkan. Dan pernah juga dalam sebuah pertemuan dengan kanda Ustadz Dr. Ahmad Mujahid. Sempat ditanyakan mengenai kasus Ahok. Beliau bilang, Ahok tidak menghina Al Qur'an. Saya bilang, "Artinya politikji itu ustadz." Beliau bilang," ah iyya politikji itu." Saya bilang barangkali di sinimi pentingnya kita tahu sejarah turunnya atau asbabun nuzulnya ayat-ayat Al Qur'an itu ustadz. Beliau bilang, betul itu.
Sekarang ini kita menantikan putaran kedua Pilkada DKI. Apakah BADJA atau Anies-Uno yang menang. Apakah semakin mengheboh ujaran-ujaran kebencian, bertebaran hoax-hoax, dan kampanye hitam. Boleh jadi, kedua belah pihak berlomba-lomba memperlihatkan keunggulan jagoannya. Dan menunjukkan keburukan-keburukan lawannya. Tidak semuanya sih pegiat medsos seperti itu. Tapi, masih marak kelihatannya. Barangkali itu bumbu-bumbu penyedap pemilu ataupun pilkada yah.
Saya sebagai warga yang tak berKTP Jakarta. Tak punya hak untuk memilih. Tapi saya punya harapan untuk DKI Jakarta. Sebagai ibukota negara. Semoga pemimpin yang terpilih mampu membawa Jakarta menjadi lebih baik dari sekarang. Utamanya, banjir dan macet, semoga dapat diatasi. Siapapun nanti yang terpilih...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar