Saat kuketik huruf demi huruf di layar smartphone ini, mestinya aku mengaktivasi kartu demi kartu internet AXIS. Tetapi sayang, godaan untuk mengarungi samudera dunia maya lebih besar. Dibandingkan bayangan lembaran uang yang telah menanti. Ketika kartu internet itu laku terjual lembar demi lembarnya.
Nah, itu tadi salah satu contoh sulitnya beranjak dari pesona dunia maya yang dialami sendiri oleh penulis. Sedangkan pekerjaan yang menghasilkan uang ditinggalkan. Apalagi pekerjaan rumah yang nota bene tidak menghasilkan uang, secara nyata. Demi keasyikan berselancar di dunia maya.
Godaan dunia maya memang begitu dahsyat. Orang rela berlama-lama di dalamnya. Betah berjam-jam duduk, baring ataupun dengan gaya lainnya. Bergumul dengan smartphonenya sampai lupa waktu. Ah.. sudah jam berapa nih. Belum masak ... belum cuci piring, padahal sudah hampir siang.
Lalu ngebutlah ia mengerjakan semuanya. Belum lagi sambil ngintip-ngintip facebook, Whattapps ataupun BBM-nya. Semakin lamalah durasi masak memasak atau cuci mencuci di dapur. Bagi yang punya asisten rumah tangga sih mungkin ndak masalah. Tapi kalau tidak ada yang bantu, maka ini menjadi masalah serius. Karna bisa-bisa seluruh penghuni kelaparan.
Barangkali kita tidak pernah menghitung berapa jam sehari kita memegang ponsel kita. Tapi yakinlah bahwa sebagian besar waktu kita ketika tidak tidur. Adalah mengutak atik smartphone kita. Apakah itu facebook an, Whattapps ataupun BBM-an. Apalagi klo kita jualan online. Klo jualan online tentu saja mesti sering-sering nengok status-statusnya di Facebook, WhattApp ataupun BBM-annya. Jangan-jangan ada koment, dan tentu saja order yang terlewatkan. Demikian pula, ketika menjadi admin di suatu grup WhattApp kita wajib untuk mengikuti setiap saat. Karena kalau tidak kita akan ketinggalan info dari group.
Begitulah, sepertinya kita sok sibuk. Padahal sebagian waktu habis dalam genggaman dunia maya. Kita lebih pentingkan dunia maya dari pada dunia sesungguhnya kita, dunia nyata. Anak berbicara kepada ibu atau ayah. Mata ibu atau ayah tetap tertuju ke ponselnya. Suami berbicara kepada istri. Pikiran istri melantur mencari jawaban komentar di statusnya. Istri berbicara pada suami. Perhatian suami tak lepas dari cincin-cincin permata koleksi seseorang di facebook. Ibu atau ayah berbicara pada sang anak. Sang anak senyum-senyum tak jelas, ternyata lagi baca status-status temannya yang lucu-lucu.
So...bagaimana sebenarnya hidup kita ini. Sepertinya yang jauh lebih dekat. Yang dekat seperti terasa jauh. Gaya komunikasi macam apa ini. Orang-orang yang jauh walaupun kita tidak kenal. Karena medsos terasa akrab sekali. Tetapi anak, suami, istri atau orang tua kita. Hubungan terasa biasa-biasa saja. Bahkan terkesan apa adanya. Terasa kurang kehangatan dalam keluarga. Barangkali ini bagi keluarga yang sudah kecanduan akan dunia maya. Padahal dalam sebuah keluarga yang harmonis dan penuh kehangatanlah. Anak-anak akan tumbuh menjadi manusia yang penuh kehangatan dan punya empati kepada sesama.
Kira-kira apa yang mesti kita lakukan. Untuk mengurangi ketergantungan kita kepada gadget?
Pertama, atur jadwal ber-medsos
Pagi : sekitar pukul 06.00 - 07.00
Siang : sekitar pukul 13.00 - 15.00
Malam : sekitar pukul 23.00 - 01.00
Ini sekedar bayangan saja. Kita bisa mengatur sendiri jadwal sesuai rutinitas kita masing-masing. Mula-mula barangkali terasa berat, tetapi kalau disiplin, yakin bisa.
Yang kedua, ketika keluarga kita berbicara, simpanlah smartphone kita. Agar komunikasi dua arah tercipta dengan baik. Yakinlah keluarga kita, anak kita, suami atau istri kita lebih butuh perhatian daripada orang-orang di dunia maya. Bermain, bercanda bersama anak dan keluarga adalah hal terindah di dunia. So, jangan dilewatkan, karna masa-masa indah itu takkan terulang kembali. Mereka akan tumbuh besar dewasa dan suatu saat akan meninggalkan kita. Maka nikmatilah saat-saat terindah ini.
Masih banyak lagi tips-tips yang bisa mengurangi kadar kecintaan pada dunia maya. Kita bisa memilih dan memilahnya untuk diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi kita masing-masing.
Semoga tulisan ini bermanfaat adanya.
Supeerrr
BalasHapusJgn sampe "menjauhkan yang dekat"
Makasih atas apresiasinya say Mila Nurhayati. Betul itu...kalau sampai menjauhkan yang dekat bisa bahayya 😊
BalasHapus