Sabtu, 27 Februari 2016

Catatan Sebuah Perjalanan


Perjalanan ke Barru kali ini menyenangkan, sama seperti perjalanan-perjalanan lainnya, karena bukan sekedar perjalanan, tapi perjalanan demi bersua dengan sang buah hati, yang juga sudah menanti dengan penuh kerinduan. Teringat ketika malam sebelumnya mereka menelpon dan saya mengatakan saya tak bisa ikut menjenguknya, jawab mereka, "ma datangki ma". Saya bertanya kenapa mama harus datang, jawabannya begitu polos kudengar,  "karna kita' yang lahirkanka' ". Begitulah, setiap ibu ternyata memiliki tempat yang khusus di hati anaknya.

Perjalanan pagi yang rencananya subuh hari ini, dimulai dengan membangunkan anak-anak yang masih terlelap tidurnya. Merekapun  disiapkan ala kadarnya. Dan kendaraanpun meluncur di jalan raya menuju Tamalanrea yang belum begitu padat. Biasanya, untuk menghindari kemacetan kami memilih lewat jalan tol, walaupun sebenarnya rasa bersalah menyelinap hadir ketika tidak bisa menjemput titipan teman-teman di Tamalanrea. Kemacetan sepertinya sudah menjadi momok bagi mereka yang melakukan perjalanan. Ketika jalan macet, waktu yang ditempuh menjadi smakin lama terasa. Kendaraan tidak bisa bergerak. Maju ogah, mundur lebih-lebih. Jadilah terperangkap di tengah, sulit melepaskan diri. Untung bagi pengendara motor, bisa nyelip-nyelip di antara kendaraan. Tapi kalau mobil bagaimana caranya.

Alhamdulillah, jalan raya  tidaklah macet, seperti biasanya. Tapi jalan menuju pusat kota, macet begitu panjangnya. Di Tamalanrea kendaraan menepi, sepasang suami istri akhirnya menyertai kami dalam perjalanan, saya senang sekali. Perjalanan menjadi seru dengan perbincangan yang mengalir dengan berbagai tema. Sekitar setengah jam kemudian, tibalah kami di sebuah rumah makan di Pangkep, dan wah kami ditraktir sama kak Yati...terima kasih yah kanda, mestinya jangan maki bayarkan kami, lebih banyak khan anggotaku.

Perjalanan yang panjang menjadi tidak membosankan karena kehadiran kak Yati dan kak Amrin. Akhirnya, tibalah kami di pondok anak-anak, ternyata anak-anak lagi kurang enak badan, tetapi alhamdulillah mereka senang sekali melihat kedatangan kami. Mungkin saja, mereka sakit karena rindu ingin ketemu dengan bunda-bundanya. Biasanya sih begitu katanya. Semoga saja kehadiran kami menjadi obat mujarab bagi mereka.

Setelah, berbagi kerinduan bersama anak, sehabis sholat isya, kamipun berpamitan. Keharuanpun menyesak di dada, tapi kami mesti pulang, dan merekapun harus tetap di pondok, belajar mandiri dan belajar tentang kehidupan. Bukan karena kami tak sayang nak, tetapi agar kalian memiliki bekal dalam menghadapi kehidupan di dunia ini, lebih-lebih untuk kehidupan di akhirat nanti.

Perjalanan pulangpun begitu seru, biasanya saya sering tertidur ketika pulang tetapi kehadiran seorang kak Yati mampu mengubah kebiasaanku itu, hehe...malah kak Amrin yang tertidur dan abanya Ersyah yang menyopiri menjadi seorang pendengar yang baik.

Perjalanan ke Makassar tidak terasa, dan jalananpun alhamdulillah tidaklah macet. Mungkin karna sudah malam yah, sekitar pukul 10 malam. Kamipun mesti berpisah dengan kak Yati dan kak Amrin, terima kasih yah kanda berdua. Kamipun melanjutkan perjalanan ke tempat semula kami berangkat, rumah sederhana sekaligus tempat kami mengais rezeki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar